
Ezza memberikan senyum manis, dan mendaratkan kecupan singkat, menggoda kekasihnya. Lucifer yang melihat membuang nafas dengan kasar. Selalu saja wanitanya ini bertingkat nakal padanya. Dia seorang pria, tidak mungkin tidak tergoda, apalagi di depannya terlihat wanita cantik dengan tubuh seksi. Sungguh sangat menggiurkan untuk dicicipi.
Lucifer ingin sekali mengumpat, naf*sunya selalu muncul jika bersama dengan Ezza. Tapi dia yang tidak ingin melakukan hal lebih pada Ezza, takut menyakiti wanita itu dan hanya bisa melakukan hal lain, seperti menumpahkan semuanya pada bagian atas tubuh Ezza untuk meredakan naf*su yang selalu di pancing Ezza.
"Jangan menggoda ku, Baby. Kau tahu akibatnya jika menggoda ku seperti ini,"
Ezza tidak peduli, dia yakin Lucifer tidak akan melakukan hal di luar batas. Karena dia hafal dengan sifat kekasihnya.
"Jika hanya seperti sebelumnya aku tidak masalah."
"Ini di kantor, Baby. Aku tidak ingin tiba-tiba ada yang masuk dan melihat kita,"
"Apa ada yang berani masuk tanpa seizin mu?"
"Mungkin hanya Rey,"
"Jika dia berani, aku akan memukul kepalanya agar amnesia,"
Lucifer tersenyum mendengar itu. Tanpa aba-aba lagi, Lucifer langsung menarik tengkuk Ezza, melu*mat bibir itu dengan rakus. Lucifer juga memasukkan lidahnya, meminta Ezza membalasnya, dan akhirnya lidah itu saling berbelit menikmati rasa manis penuh gairah.
Uh….
Lenguh Ezza sambil mere*mas kepala Lucifer, menikmati ciuman yang diberikan kekasihnya itu. Kini lenguhan itu semakin terdengar lebih keras, lantaran Lucifer yang dengan nakal mere*mas sesuatu yang empuk di bagian depan. (Author tidak tahu apa itu, author masih polos😉😉)
Aaaah….
Lucifer melepas ciumannya dan kini beralih menyusuri leher putih itu, memberikan kecupan dan gigitan kecil di sana, sehingga menampakkan sesuatu berwarna sedikit keunguan.
Aaah…..
Lenguh lagi Ezza saat Lucifer menggigit leher itu.
Tubuh Lucifer sudah panas karena permainan mereka. Tidak tahan dengan apa yang dirasakan, Lucifer mengangkat tubuh Ezza di sofa, dan mengukungnya. Melepas baju Ezza dan membuangnya di lantai. Sedangkan Lucifer yang merasakan lehernya tercekik, melonggarkan dasinya dan setelah itu mencum*bu tubuh atas Ezza dengan nafas memburu karena naf*su.
Aaah…..
Lucifer memberikan kecupan-kecupan di setiap tubuh bagian atas Ezza dengan lembut. Yang terakhir dia membuang sesuatu yang menutupi bagian kesukaannya. Dua buah melon yang bulat, kenyal dan menggairahkan.
Satu tangan digunakan untuk memainkan sebelah melon itu, mere*mas dengan lembut, membuat tubuh Ezza kepanasan dan menggelinjang. Sedangkan mulutnya tidak tinggal diam, mencicipi rasa melon yang tidak pernah matang-matang itu walaupun sering kali di pupuk dan disiram dengan pupuk organik nya, tapi tetap saja masih mentah. Entah kapan buah itu akan matang, atau mungkin selamanya tidak akan matang, hanya bisa kirut termakan usia.
"Apa yang terjadi di dalam ruangan itu membuat tubuh kedua orang panas dingin. Ingin melakukan hal lebih.
"Baby," panggil Lucifer dengan suara parau.
Ezza yang dipanggil hanya mantap dengan sayu, karena baru saja dia mendapatkan pelepasannya karena permainan Lucifer.
Lucifer yang tidak ingin melakukan hal lebih mengecup kening Ezza dan beranjak dari tempat itu menuju kamar mandi yang ada di ruangannya. Dia akan menyelesaikan urusannya di kamar mandi saja karena tahu sebentar lagi ada yang harus dilakukan.
__ADS_1
Ezza yang melihat kekasihnya pergi tersenyum, dia duduk dan menatap tubuh telan*jang dengan sesuatu yang tegak di sana, tapi bukan keadilan. Mengacung sempurna. Tahu jika kekasihnya dalam mode On.
Ezza menyusul, karena tubuhnya juga lengket ulah kekasihnya. Dia masuk tanpa mengetuk pintu membuat Lucifer tidak menyadari karena tubuhnya sedang diguyur air dingin.
Brug…
Ezza memeluk tubuh Lucifer dari belakang. Menghirup aroma tubuh yang sangat disukainya.
Lucifer yang merasakan tubuhnya dipeluk Ezza memejamkan mata.
"Ale, aku ada pertemuan hari ini dengan Klien ku. Jangan memancingku,"
"Aku tidak memancing mu. Aku ingin membantumu,"
.
.
.
Ulah nakal dari kekasihnya membuat Lucifer telat 10 menit. Rey yang melihat rambut basah tuannya tersenyum kecil. Tahu apa yang baru saja dilakukan tuannya. Pasti itu, iya kan?
Lucifer yang melihat senyum Rey memukul kepala itu dengan berkas yang di pegangnya.
"Apa yang kau tertawakan?"
Rey hafal dengan tuannya yang pasti tidak sampai melakukan hal itu, karena menurutnya melakukan setelah menikah lebih mantap dan enak.
Plak….
"Sialan! Kau menyindirku?"
"Mana berani tuan saya menyindir anda,"
"Jika kau berani berkata seperti itu lagi, aku potong gaji mu 80%,"
"Jangan tuan. Jika 80% sama saja anda mengambil gaji saja semuanya. Lalu bagaimana saya membelikan tas branded untuk pacar saya," Wajah sedih ditunjukkan oleh Rey, membuat Lucifer mendengus dan memutar bola matanya malas.
Kini mereka telah sampai di tempat yang dituju, sebuah restoran yang sudah dipesan oleh Alex untuk mereka bertemu. Alex begitu antusias menunggu kedatangan CEO Abraham Group tanpa tahu siapa itu. Dia tidak sabar untuk bertemu dan membahas kerjasama ini. Berharap pemimpin perusahaan itu menerima perusahaannya sebagai partner kerja.
Namun semuanya sirna lantaran siapa yang muncul di depannya. Seseorang yang sangat dikenal dan sangat di bercinta. Lucifer, seorang anak yang dulu tinggal bersamanya. Anak haram yang diadopsi oleh papanya.
"Kau….!"
Lucifer hanya menunjukkan senyum seringainya.
"Apa anda tidak mempersilahkan kami untuk duduk Tuan Alex?" Ucap Lucifer, tapi disambut dengan wajah kesal Alex yang tidak suka dengan anak haram di depannya.
__ADS_1
"Silahkan duduk." Ucap Alex mempersilahkan dengan nada dingin.
"Apa seperti ini anda menyambut tamu anda Taun Alex?"
Alex menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.
"Mari kita langsung bahas kerjasama ini saja. Saya masih ada urusan setelah ini." Alex tidak ingin berlama-lama satu ruangan dengan Lucifer. Lucifer yang mendengar tersenyum menyeringai. Lucifer sebaliknya, malah ingin berlama-lama disana, agar Alex kesal dan muak melihat wajahnya.
"Kenapa buru-buru sekali, bahkan anda tidak menawarkan kamu minum. Padahal kami sangat haus setelah perjalanan menuju kemari,"
Alex yang mendengar mendengus. Ingin segera pergi tapi tidak bisa. "Baiklah. Sajikan minum dan makanan untuk kami." Perintahnya pada seorang pelayan.
"Baik tuan," pelayan itu pergi dan melakukan tugasnya.
Setelah tersaji di meja, tiba-tiba Lucifer mengatakan jika dia sedang tidak berselera untuk minum dan makan, dan itu benar-benar membuat amarah Alex meledak. Namun sebisa mungkin dia tahan. Asisten yang bersama dengannya mencoba meredakan amarah tuannya, berharap semuanya tidak kacau.
"Tuan Lucifer, bagaimana jika kita bahas kerjasamanya. Saya sudah mengirim proposalnya pada anda, saya harap anda sudah membacanya dan menerima kerjasama yang kami ajukan,"
"Aku memang sudah membacanya. Dan tidak ada yang bermasalah di proposal itu, cukup menjanjikan jika berkerja sama dengan perusahaan anda," Alex san asiatennya tersenyum lega, berharap bisa di terima. "Tapi….."
"Tapi apa tuan? Jika ada yang kurang, saya bisa memperbaikinya,"
Alex yang mendengar memicingkan mata, perasaannya tiba-tiba tidak enak. Entah kenapa Lucifer ingin mempermainkannya.
"Tidak ada yang kurang sama sekali. Hanya saja saya tidak tertarik dengan perusahaan anda," jawab Lucifer dengan seringainya, menatap Alex.
Alex yang sedari tadi menahan amarahannya langsung menggebrak meja dengan kuat.
"Badjingan sialan kau anak haram! Aku tahu kau sengaja melakukan iki. Lihat saja, apa yang kau lakukan pada ku hari ini, kau akan mendapatkannya setelah ini,"
"Oh benarkah? Aku menunggunya."
Sialan!" Alex ingin memukul wajah Lucifer. Namun Rey yang melihat langsung menghentikannya begitupun dengan Asisten Alex.
.
.
.
Hari ini 4 bab aku tulis, rasanya keriting jari ku. Tolong pencet Like dan tulis komentar ya, agar lelah author terobati. Karena hanya itu yang menbuat otor semangat.😁😁😁
__ADS_1