
Lucifer memikirkan apa yang harus dilakukannya. Di rumah mewah tepatnya di ruang kerja, Lucifer mengetuk-ngetukkan jarinya, berpikir. Mana dulu yang harus diselesaikan. Dia memijat pelipisnya, terasa pusing.
Tok….Tok….Tok….
"Tuan,"
"Masuk," seru Lucifer dari dalam ruangan.
Seorang pria masuk, dia adalah asisten sekaligus orang kepercayaan nya di markas.
"Duduklah,"
"Baik tuan." Asisten bernama Rey itu duduk di sofa. Dan lucifer juga bergabung dengannya, duduk di sofa saling berhadapan. "Apa ada yang bisa saya bantu tuan?"
"Tolong selidiki tentang hilangnya keponakan ku, Zahra. Dan juga kau cari tahu dimana dua sahabat ku yang dulu di bengkel, Dion dan Hamdan. Aku merasa ada sesuatu yang aneh disini."
"Baik tuan. Saya akan menyelidikinya. Oh ya tuan, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan."
"Katakan,"
"Dari laporan anak buah kita yang memantau kelompok XLOVENOS, ada pergerakan dari mereka. Beberapa orang dengan jumlah tak banyak saat ini menuju Indonesia,"
"Pantau terus, jangan lengah sedikit pun. Aku ingin tahu mereka bekerja sama dengan siapa di Indonesia sampai tahu aku berada disini secepat ini,"
"Baik tuan,"
"Pergilah,"
Rey pergi meninggalkan Lucifer yang mengepalkan tangan. Geram dengan seseorang yang sangat dibenci nya. Ya, Lucifer kini tahu siapa orang itu. Orang yang tak lain adalah ayah kandungnya, Bobby Albern, seseorang yang tidak bertanggung jawab. Dan kini mencoba mencarinya. Entah apa yang diinginkan pria itu padanya. Tapi Lucifer tidak akan semudah itu untuk luluh dan menganggap Bobby ayahnya. Baginya pria yang tidak bertanggung jawab tidak pantas menjadi ayahnya.
Lucifer tidak tahu siapa penyebab kematian ibunya, karena tidak ada jejak yang tertinggal sedikitpun di kematian itu. Jika Lucifer tahu penyebab kematian ibunya adalah ayah kandungnya sendiri, sudah dipastikan, kelompok XLOVENOS akan diratakan dengan tanah oleh Lucifer.
Untuk ibu nya, Lucifer belum mengetahui informasi lengkap siapa ibunya dan dari mana asalnya. Identitas palsu yang digunakan ibunya membuatnya susah mencari tahu jati diri wanita tersebut. Tapi Lucifer yakin, suatu saat semuanya pasti akan terkuak. Begitupun dengan kematian ibunya yang diketahui dibunuh dengan sangat keji.
"Semoga semuanya cepat selesai," Lucifer menyandarkan kepalanya, mendongak, menatap langit-langit ruangan itu.
__ADS_1
Ting….
Sebuah pesan masuk dalam ponselnya. Nomor asing yang tidak dikenal.
Lucifer membuka pesan itu. Dan alisnya bertaut saat mendapatkan pesan dari nomor tak dikenal.
"Berhati-hati lah. Orang dekat belum tentu baik dimata mu."
Satu pesan yang membuat Lucifer bingung. Lucifer membalas pesan itu, tapi nomornya sudah tidak aktif. Lucifer mencoba menghubungi, tapi tetap tidak aktif. Dan akhirnya terakhir dia mengambil laptopnya dan meretas nomor tersebut. Tapi ternyata nomor itu tidak bisa dilacak, terakhir digunakan berada tak jauh dari rumah Mesya. Dan itu semakin membuat tanda tanya besar di kepalanya.
"Rifky, mungkinkah itu kamu pengkhianat sebenarnya? Dari semua nya, kenapa sikapmu menunjukkan bahwa itu dirimu. Aku tidak ingin salah menilai mu, tapi… hah…..aku berharap itu bukan dirimu,"
.
.
Sekelompok orang dengan jumlah 20 orang kini tiba di Indonesia. Mereka menuju suatu tempat untuk mereka tinggal nantinya, sambil memantau targetnya.
"Bagaimana? Dimana tempat tinggalnya, apa kau tahu?" Tanya pada seseorang di panggilan.
"Bagus, kuharap kau bekerja sama dengan baik, jika tidak, kau tahu akibatnya."
"Tenang saja, selagi kalian bisa membunuhnya, dan aku bisa menguasai semua hartanya, aku akan membantu kalian,"
"Hm, kau tenang saja. Ku pastikan badjingan kecil itu akan mati, karena tuan ku tidak akan membiarkan nya hidup,"
"Lalu bagaimana dengan dua orang itu,"
"Mereka tetap bersama dengan kami. Karena mereka adalah aset penting bos kita. Apalagi gadis kecil itu."
Pria itu diam, entah apa yang dipikirkannya saat mendengar kata gadis kecil keluar dari mulut yang menghubunginya. Ada rasa aneh di hatinya. Tapi dengan cepat dia menepis rasa itu. Dia tidak peduli dengan Gadis kecil itu. Yang saat ini dipikirkan nya harus seperti rencana pertama, menguasai apapun yang dimiliki Lucifer.
Pria yang berbicara di telepon itu saat ini sedang bersama dengan wanitanya, memeluk tubuh polos wanita yang baru saja melayaninya.
"Sayang, apa kau tidak takut Lucifer akan tahu tentang semua ini?"
__ADS_1
"Di tidak akan tahu, dan tidak akan curiga. Kau tenang saja. Setelah aku menguasai semuanya kita akan hidup bahagia."
"Kenapa kau sangat menginginkan apa yang dimiliki Lucifer?"
"Karena apa yang dimilikinya adalah hal sangat menggiurkan. Apalagi saat ini, setelah dia kembali aku melihat perubahan padanya. Dia sekarang menjadi orang besar, memiliki perusahaan dan bisnis dimana-mana. Aku semakin gila untuk menguasai apa yang dimilikinya. Aku ingin membunuh dan menghilangkannya dari muka bumi ini agar aku bisa mengambil alih miliknya. Namun karena aku tidak memiliki kekuatan, akhirnya aku hanya bisa bekerja sama dengan seseorang."
"Aku berharap semuanya berjalan seperti yang kamu inginkan." Ucap wanita itu mengelus dada bidang kekasihnya.
.
.
Lucifer mulai melakukan aktivitas, doa pergi ke perusahan yang diberikan Abraham padanya. Tapi sebelum berangkat ke kantor, dia mampir ke bengkel yang dulu didirikan. Lucifer yang melihat tersenyum, bengkel itu semakin lancar dan bertambah besar.
Lucifer berjalan masuk, terlihat Rifky sedang mengotak-atik sebuah mobil. Dilihatnya juga sekeliling, banyak karyawan yang tidak dikenal bekerja seperti Rifky. Rifky yang mendengar suara langkah mendekat langsung menoleh, dan ternyata adalah Lucifer.
"Luci, kau datang? Ayo masuk, aku akan buatkan teh untuk mu,"
"Tidak perlu, aku hanya sebentar saja."
"Oh baiklah." Jawab Rifky sedikit kecewa karena Lucifer menolaknya.
"Ku lihat bengkel semakin maju dan besar. Terimakasih karena sudah mengelolanya selama ini,"
"Kita ini kan sahabat, milikmu juga milikku. Jadi tidak perlu berterima kasih seperti itu. Anggap saja itu memang tugasku,"
Lucifer tersenyum dan menepuk bahu Rifky. Namun dalam hati, ada sedikit keraguan pada sahabatnya itu.
"Tuan, kita harus berangkat ke kantor sekarang," ucap Rey sopan, memberitahukan bahwa sudah waktunya berangkat.
"Baiklah. Rif, aku berangkat dulu. Kau urus baik-baik bengkel ini, jangan kecewakan aku,"
Rifky mengangguk. Dan melihat Lucifer yang kini sudah pergi. Wajah yang semula senyum kini langsung berubah datar, dan dia kembali menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
__ADS_1