
"Apa kau tahu kesalahan mu?" Tanya Pria itu dan Lucifer mengangguk, mengakui kesalahannya.
"Saya tahu saya salah. Karena kecerobohan saya mobil anda menjadi lecet dan anda bisa juga mengalami kecelakaan." Jawab Lucifer membuat pria itu puas dengan jawaban pria muda di depannya. Jika biasanya pemuda yang membuat masalah dengan mereka akan langsung memohon, tidak dengan pemuda ini, malah dengan santai mengakui semua kesalahan tanpa memohon pengampunan.
"Siapa nama mu?"
"Lucifer."
"Lucifer? Hm..nama yang bagus."
"Apa kau akan tetap disana?" Teriak seorang yang ada di dalam mobil.
Pria yang mendengar suara tuannya langsung menoleh dan membuang nafas tidak berani padahal pria itu Saat ingin berbicara banyak dengan pria muda yang menurutnya menarik
"Aku pergi dulu, semoga kita bisa bertemu kembali anak muda." Pria itu melangkah pergi dan membuka pintu. Namun sebelum masuk Pria itu berkata kembali, "Kau tidak perlu ganti rugi,"
Pria itu masuk dan mobil pergi melewati Lucifer yang masih berdiri di tempat. Saat melewati Lucifer, seorang tuan yang berada duduk di kursi penumpang yang melihat ke arah luar jendela, mengerutkan kening.
"Siapa pemuda tadi?" Tanya Pria pada Asistennya.
"Namanya Lucifer. Dia anak muda yang menarik tuan,"
Pria itu memutar bola matanya malas, mendengar asistennya sepertinya menyukai Lucifer.
….
Lucifer mengendarai motornya menuju kediaman kakaknya. Rumah itu rumah milik suami Mesya, tidak besar karena suami Mesya hanyalah orang biasa yang pekerjaannya hanya sebagai karyawan biasa di sebuah perusahaan besar, yang tak lain adalah milik Pria tua atau bisa di katakan perusahaan itu milik Lucifer karena pria tua sudah memberikannya pada Lucifer.
Tin….
Tin….
Tin….
Suara klakson membuat penghuni di rumah langsung melihat siapa yang datang.
Suami Mesya yang bernama Farhat langsung keluar dari rumah melihat siapa yang datang, ternyata adik iparnya.
"Kamu sudah datang?" Lucifer mengangguk dan turun dari motor, masuk.
"Apa mereka bertiga belum datang?" Tanyanya tentang Dion, Hamdan dan Rifky
"Belum, mungkin bengkel lagi ramai," jawab Farhat dan Lucifer mengangguk.
__ADS_1
Lucifer mengikuti kakak iparnya masuk untuk menemui kakaknya keponakan cantiknya. Mesya yang melihat kedatangan adiknya langsung memintanya mendekat.
Sini,"
Lucifer duduk di samping kakaknya dan menyentuh pipi kemerahan keponakan yang ada di pangkuan Mesya.
"Apa sudah menentukan siapa namanya?"
"Sudah, Alifa Zahra Fitriani," jawab Farhat.
"Nama yang bagus," Senyum Lucifer begitu gemas dengan Zahra. Dia menyentuh tangan mungil nan rapuh itu. "Lucu sekali,"
"Apa kamu mau menggendongnya?" Tanya Mesya.
"Tidak! Aku takut tubuhnya patah saat aku menggendongnya," Mesya hanya tersenyum kecil mendengar apa yang di katakan adiknya.
"Oh, ya aku punya sesuatu untuk kalian. Ku harap kakak menerimanya." Lucifer mengambil sesuatu dari tas ranselnya, "Maaf waktu kakak menikah dulu Luci tidak memberi apapun kepada kakak, sebagai gantinya hari ini aku memberikannya," Lucifer menyerahkan sebuah surat rumah dan sebuah surat mobil.
Lucifer tahu kakaknya tidak memiliki mobil, Lucifer membelikannya untuk mempermudah mereka bepergian agar Zahra tidak kepanasan saat mereka bepergian.
Mesya yang melihat mengerutkan kening. "Apa ini? Kakak tidak meminta ini. Cukup kamu yang kakak miliki sudah membuat kakak senang."
"Tapi ini untuk kakak. Terima ya kak,"
"Tidak! Kakak tidak mau,"
"Bawa pulang saja itu atau kamu jual kembali. Kakak sudah nyaman disini," kesal Mesya tidak ingin adiknya menghabiskan banyak uang hanya untuk nya dan keluarganya.
"Aku melakukan ini karena aku sayang dengan kakak. Jika kakak tidak menerimanya baiklah, aku akan memberikannya pada Zahra. Kakak tidak bisa menolak, karena ini untuk Zahra," Lucifer menyerahkan dan tidak ingin mendengar bantahan. Farhat yang melihat hanya diam, tidak ingin ikut campur.
Mesya yang mendengar menghela nafas. Sebenarnya dia tidak ingin menyakiti hati adiknya dengan penolakannya. Tapi Mesya, berpikir panjang. Daripada Lucifer memberikan mereka rumah dan mobil, lebih baik uang ditabung untuk masa depannya. Karana tahu Lucifer bekerja mencari uang sendiri dengan keringatnya.
"Hah, baiklah. Kakak akan menerima."
"Nah gitu dong," Lucifer memeluk kakak tersayangnya. "Besok kita akan langsung ke rumah itu, Tasyakuran Zahra akan dilakukan disana," Baik Mesya dan Farhat hanya mengangguk, terserah adiknya saja.
.
.
.
Keesokan hari nya, Lucifer dan tiga sekawannya membantu Mesya dan Farhat pindah rumah di kediaman baru milik mereka. Saat sampai, semua mata melotot karena apa yang di lihatnya. Semuanya tidak percaya dengan bangunan megah dan besar di hadapannya.
__ADS_1
"Apa kita salah rumah?" Tanya Mesya pada Farhat.
"Tidak tahu. Tapi Lucifer membawa kita kesini. Tidak mungkin salah alamat," jawab Farhat masih tidak percaya dengan rumah besar yang di sebut Mansion itu.
"Tapi rumah ini terlalu besar. Dari mana Luci dapat uang sebanyak ini?"
"Aku juga tidak tahu,"
Mobil berhenti di halaman, seorang pelayan datang dan membukakan pintu untuk mereka.
"Selamat datang tuan," sapa pelayan pria dan Lucifer mengangguk.
Semuanya turun masih dengan kekaguman mereka. Mereka tidak percaya akan berada di rumah besar seperti ini.
Rifky yang banyak bicara langsung memberondong banyak pertanyaan pada Lucifer dan itu membuat Lucifer kesal, mengabaikan dan membawa keluarga Mesya masuk.
"Jadi ini benar-benar___"
"Ya, ini tempat tinggal kakak, kakak ipar dan Zahra," jawab Lucifer masih membuat Mesya tidak percaya akan tinggal di rumah megang tersebut.
"Aku juga sudah menyewa beberapa pelayan untuk membantu mengurus rumah. Jadi kakak tidak perlu sibuk, hanya cukup merawat Zahra saja," sambungnya membuat Mesya terharu. Dia tidak menyangka adiknya akan melakukan hal itu padanya.
Mesya menangis, Lucifer mengusap air matanya tidak ingin melihat kakak tersayang menangis di depannya.
"Jangan menangis, aku melakukan ini karena aku menyayangi kalian." Mesya dan Farhat memberikan pelukan mereka membuat semua yang melihat menangis haru dengan pemandangan itu.
Setelah tasyakuran Zahra selesai, Mesya dan Farhat tinggal di Mansion tersebut, tak lupa Lucifer juga memberikan satu kartunya untuk keperluan Mesya dan Zahra. Walaupun tahu kakak iparnya mampu mencukupi kebetuhan mereka, tapi entah kenapa Lucifer ingin memberikannya. Sedangkan Lucifer lebih memilih tinggal di luar karena menurutnya itu lebih nyaman dan aman tanpa harus di ketahui oleh Mesya bahwa dirinya sering keluar malam karena pekerjaan.
Seperti saat ini, Lucifer akan pergi ke markas untuk pengambilan barang di pelabuhan. Sebelum berangkat entah kenapa perasaan Lucifer sangat tidak nyaman. Dia merasa akan terjadi sesuatu, tapi entah itu apa.
Lucifer membuang perasaan dan firasat buruknya. Dia melakukan motornya menuju markas untuk bertemu teman-temannya. Namun saat sampai disana terlihat begitu sepi. Kening Lucifer berkerut, namun tidak membuat kakinya berhenti. Dia tetap masuk kedalam bangunan yang menjadi tempat selama ini mereka beroperasi.
Saat baru membuka pintu sebuah peluru melesat dan menembus dada Lucifer. Lucifer menunduk melihat tubuhnya tertembak, dan darah mengalir merembes di pakaiannya. Dia mendongak melihat siapa yang berani menembakan senjata itu padanya. Ternyata semua temannya tersenyum menyeringai ke arahnya.
"Ka…lian penghi.....,"
Brug…..
Tubuh Lucifer ambruk dan tak sadarkan diri.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung