
"Joice Maven? Kau melihat Joice, dimana?"
"Aku tidak melihat Kak Joice, pa. Tapi ini hampir foto kopiannya Kak Joice,"
"Maksud mu," Jaxon sungguh bingung dengan apa yang di katakan putranya. Barusan dia mengatakan seperti melihat Joice, tapi setelah nya tidak, hanya melihat kemiripan nya. Lalu yang benar yang mana? "Katakan dengan jelas, papa tidak bisa menerka apa yang ada di otak mu,"
"Saat aku datang kesini tadi, aku melihat seseorang yang wajahnya hampir mirip dengan Kak Joice, tapi ini dalam versi pria. Hanya ada perbedaan di iris mata dan bibirnya."
"Lalu?"
"Entah kenapa aku berpikir Jika itu anak Kak Joice,"
"Anak Joice? Benarkah itu anak Joice? Apa kau yakin?"
"Itu hanya tebakan ku saja. Aku akan meminta anak buah ku untuk menyelidiki pemuda itu. Dan semoga dia memang benar-benar anak Kak Joice."
"Jika pemuda itu benar anak Joice, berarti Joice bisa jadi anda di New York. Kau harus mencarinya." George mengangguk.
Selama ini dia mencari keberadaan kakaknya cukup lama. Namun tetap tidak ada hasilnya, dan kini tinggal menunggu kabar dari anak buahnya yang menyelidiki beberapa bulan di kota New York, apakah mereka menemukan keberadaan kakaknya ada di kota ini atau tidak. Jika keberadaannya katanya memang berada di kota New York, mungkin saja pemuda tadi adalah anak kakaknya yang saat pergi masih dalam kandungan.
"Papa tenang saja. Sebelumnya aku sudah memberi perintah pada anak buah ku mencari keberadaan Kak Joice di kota ini. Jika dia benar-benar berada di kota ini, berarti pemuda itu mungkin saja putranya nya,"
"Aku harap secepatnya menemukan mereka. Cukup lama aku menantikannya kembali, tapi sampai saat ini tetap tidak menemukan keberadaannya."
"Papa yang sabar. Kita pasti menemukan Kak Joice dan anak nya." Jaxon mengangguk, dia berharap sangat bertemu dengan putrinya yang telah lama menghilang, setelah di ketahui hamil dari pria yang tidak di kenal.
"Lalu bagaimana dengan pria itu?" Tanya Jaxon tentang pria yang di minta untuk di selidiki, mungkin saja ada kaitannya dengan putrinya di sama lampau.
"Max masih menyelidiki, semoga saja kecurigaannya tentang pria itu benar, bahwa pria itu lah penyebab kakak hamil dan pergi," Jaxon mengangguk, berharap Max segera menemukan apa yang di cari.
.
.
Di kediaman Evan tepatnya di kamar Lucifer. Lucifer membuka laptopnya dan meretas CCTV bengkel. Dia ingin menghubungi temannya, tapi entah kenapa ada rasa ragu di hatinya dan akhirnya hanya memperhatikan apa yang mereka lakukan.
__ADS_1
Lucifer mengambil ponselnya dan menghubungi Pria tua, bertanya apakah yang di minta sudah di urus atau belum.
"Ada apa? Apa kau memerlukan sesuatu yang lain?" Tanya Abraham di seberang telepon.
"Tidak, hanya ingin menghubungi mu saja. Oh ya apa kau menemukan sesuatu tentang siapa yang ingin membunuh ku?"
"Ya, aku menemukan sesuatu hanya saja aku sedikit ragu dengan apa yang anak buah ku temukan."
"Katakan, apa yang kamu temukan," Lucifer ingin mengetahui siapa yang dicurigai oleh pria tua. Mungkinkah seperti dugaannya, orang terdekatnya.
"Anak buah ku selalu melihat salah satu temanmu yang ada di bengkel selalu menghubungi seseorang. Entah kenapa aku curiga mungkin saja dia ikut andil dalam pembunuhan mu. Dari tingkah nya yang aneh membuat ku semakin curiga," jelas Pria tua membuat Lucifer diam. Entah kenapa apa yang di pikirkan sama dengan pria tua, bahwa salah satu temannya ada yang mencoba berkhianat dengan nya.
"Mungkinkah itu benar-benar dia. Tapi kenapa dia melakukan itu? Apa kurangnya aku selama ini padanya?" Gumam Lucifer seakan tidak percaya jika itu benar kenyataannya.
"Selidiki lebih lanjut. Jika memang terbukti itu dia, jangan biarkan dia lepas,"
"Hm, aku terus meminta anak buah ku untuk memantaunya."
Panggilan pun berakhir, Lucifer menatap tiga temannya di bengkel yang sibuk bekerja, tatapannya sangat dingin. Pikirannya kacau, berharap apa yang dipikiran tidak benar.
"Ku harap bukan salah satu di antara kalian,"
Baru saja berpikir bukan salah satu dari mereka, Lucifer melihat rekaman CCTV, salah satu temannya pergi dan mengangkat telepon dengan menjauh. Kening Lucifer berkerut. Kenapa setiap kali dia melihat satu temannya mengangkat panggilan pasti pergi menjauh dari kedua temannya. Sebenarnya apa yang dibicarakan sampai berbuat sembunyi-sembunyi seperti itu.
Sedangkan di bengkel, seorang dari mereka kini berdiri tak jauh dari temannya mengangkat satu panggilan masuk dari seseorang.
"Bagaimana?"
"Sangat sulit menemukan nya tuan."
"Lakukan dengan pelan saja dan hati-hati. Jangan sampai dia melihat keberadaan mu dan menangkap mu,"
"Baik tuan, akan saya lakukan."
Pria yang baru saja berbicara lewat telepon itu yang tak lain adalah Rifky menoleh ke arah dua temannya yang bekerja dengan giat. Dia menghela nafas, semoga saja semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
Dion dan Hamdan menoleh ke arah Rifky, "Siapa, Kekasih mu?"
"Tentu saja. Disini kan hanya aku yang memiliki pacar. Tidak seperti kalian yang Jones,"
"Sialan lo, mentang-mentang sudah punya pacar seenaknya saja ngehina kita," Dion kesal dan melempar sebuah kunci ke arah Rifky. Rifky tertawa melihat wajah kesal mereka berdua.
Saat mereka asyik bercanda, seorang datang menyapa mereka bertiga. Farhat kakak ipar Lucifer yang hampir setiap hari menyempatkan diri datang ke bengkel untuk menyapa dan melihat apakah bengkel baik-baik saja atau semakin ramai.
"Wah, semangat sekali kalian hari ini."
Dion dan Hamdan menoleh dan mengangguk. "Ya seperti ini lah kak. Tidak adanya Lucifer harus tetap semangat,"
Rifky hanya diam saja, tidak menjawab. Farhat yang melihat menoleh ke arah Rifky, dan menepuk bahunya.
"Ada apa dengan mu, kau baik-baik saja kan?"
Rifky mengangguk, mengatakan jika dia baik-baik saja. Melihat Farhat datang kebengkel entah kenapa membuat Rifky tidak senang. Belum lama ini Rifky mencoba menjaga jarak dengan Farhat. Untuk alasannya hanya Rifky yang tahu.
"Syukurlah jika kau baik-baik saja. Oh ya, istri kakak membawakan makanan untuk kalian, aku taruh di dalam ya. Tangan kalian terlihat kotor,"
"Wah makasih. Maaf selalu merepotkan,"
"Tidak masalah. Kalian sudah seperti adik ku juga,"
Farhat pergi masuk kedalam bengkel, menaruh makanan yang dibawa nya ke dalam. Ruangan untuk mereka istirahat dan bersantai jika tidak ada pelanggan. Cukup luas. Ada ruang tamu dan dua kamar, serta dapur juga.
Mata Rifky tidak lepas dari Farhat yang masuk. Wajahnya berubah dingin dan tidak suka.
Lucifer yang memperhatikan semua itu mengerutkan kening, kenapa ia melihat seolah Rifky tidak menyukai Farhat, mungkinkah Rifky memiliki niat buruk pada kakaknya. Atau takut Farhat mengambil alih bengkel miliknya dan itu membuat Rifky tidak senang. Banyak pemikiran negatif terlintas di otak Lucifer. Ia merasa rumit untuk mengurai semuanya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung