
"Anak ku,"
Lucifer yang mendengar kata itu ingin sekali muntah, menurutnya Bram mengatakan kata 'anak ku' sungguh menjijikkan. Entah kenapa dia tidak senang. Jika dulu harapannya Bram menyayangi dan menganggapnya anaknya, memanggilnya dengan sebutan Anak, tidak untuk saat ini, dia tidak membutuhkan nya dan sangat membencinya.
.
.
"Papa tahu dulu papa salah pada mu. Tapi papa melakukan itu karena terpaksa," jelas Bram tidak masuk akal. Terpaksa? Terpaksa karena apa, pikir Lucifer.
Bram berpikir Lucifer tidak tahu segalanya kenapa Bram membencinya selama ini, itu karena dia bukanlah anak kandung Bram.
Lucifer diam, dia ingin mendengar apa lagi yang akan di katakan Bram padanya.
"Papa diancam keluarga jika papa menyayangimu,"
"Bulshit! Di ancam, heh…yang ada memang dia sendiri yang tidak menyukai.
"Oh benarkah, kau tidak membohongiku kan?" Selidik Lucifer dengan mata memicing.
"Tentu saja, papa tidak akan berbohong pada mu," jawab Bram. Tapi dalam hati dia mengumpat kesal, Bram berdoa Lucifer dapat percaya dengan apa yang dikatakannya agar tidak di bunuh oleh anak haram. "Jika tidak dalam keadaan seperti ini, tidak sudi aku berbicara pada mu, seolah memohon dan mengemis," ucap nya dalam hati semakin membenci Lucifer yang melakukan hal seperti ini pada mereka.
"Lalu katakan pada ku, bagaimana kau bisa menikahi ibu ku?"
Bram menceritakan semuanya, namun dalam cerita itu sangat menyudutkan ibu Lucifer, membuat Lucifer yang mendengar, mengeram kesal, marah.
Brak…..
Tatapan Lucifer begitu tajam. Lucifer tahu jika ibunya juga salah karena hadir dalam hubungan mereka. Tapi tidak bisakah mereka berbuat baik sedikit saja pada wanita tersebut, bukan malah menyiksanya.
"Apa kau tidak punya rasa kasihan sedikit pun?"
"Bagaimana aku memiliki rasa kasihan, sedangkan dia menghancurkan ku karena hadir dalam hidup ku,"
"Tapi dia ibu ku,"
"Dia wanita murahan dan jala-ng sialan!"
"Kurang ajar!"
Door….
Satu tembakan melesat ke paha Bram, membuat Bram berteriak keras karena merasakan sakit akibat timah panah menembus dagingnya.
Bram tidak sadar telah menghina siapa, tentu saja Lucifer marah. Padahal sebelumnya Bram berniat untuk membuat Lucifer mengampuninya, tapi apa yang di katakan malah menggali kuburannya sendiri.
"Berani nya kau menghina ibu ku dengan sebutan itu. Apa kau ingin mati sekarang juga," Lucifer dengan gerakan cepat mencekik leher Bram dengan kuat, membuat Bram kesakitan dan susah untuk bernafas.
"Le…lepas..kan a…aku," pintanya dengan nada terbata-bata.
__ADS_1
"Kau meminta ku untuk melepaskanmu tapi kau telah menghina ibu ku. Apa kau pikir aku akan melepaskan mu begitu mudah pria sialan!"
"Ma…aafkan aa…ku,"
Bukannya Lucifer melepaskan, tapi Lucifer semakin mencekik dengan kuat, membuat mata Bram mendelik ke atas, karena kehabisan oksigen.
Lucifer yang melihat Bram hampir mati melepas tangan itu dengan kasar membuat tubuh Bram lemas.
Uhuk….uhuk….uhuk….
Bram menghirup nafas banyak-banyak untuk mengisi paru-parunya yang seakan kosong.
Hah….hah…hah….
Lucifer tidak menghentikan begitu saja. Dia mengambil sebuah cambuk dan mencambukkan nya ke tubuh Bram.
Ctaar….
Argh…..
Bram kira ini sudah selesai, tapi ternyata kemarahan Lucifer tidak mereka begitu saja. Dia terapi marah saat mengingat Bram menghina ibunya sebagai wanita jala-ng dan murahan.
Ctaaar…..
"Ini karena kau menghina ibu ku,"
Ctaaar…..
Ctaaar…..
"Ini karena kau membiarkan ibu ku mati,"
Ctaaar…..
"Ini karena kau membenci dan selalu menyiksa ku,"
Ctaaar…..
Cambukan terus menghantam tubuh Bram dengan kuat, membuat kulit tua robek dan berdarah. Lucifer tidak peduli, dia sudah terlanjur marah.
Amarah dan kebencian Lucifer yang di pendam sejak kecil kini di keluarkan semuanya, melampiaskan apa yang di tahannya dulu.
Bram lemas, dia tidak memiliki tenaga lagi. Bram terlihat memprihatinkan dan mengenaskan, tidak ada yang namanya Bram berwibawa, yang ada menyedihkan.
Senyum seringai muncul di bibir Lucifer saat melihat betapa kacaunya Bram di depannya. Darah mengalir di setiap sela-sela tubuh yang terluka.
Lucifer membuang cambuk itu di lantai. Dengan nafas yang memburu karena habis melampiaskan amarahnya, Lucifer bersedekap dada masih dengan pandangan menatap Bram dengan tatapan permusuhan.
"Bagaimana? Ini balasan selama ini kau menyiksa ku dan menghina ku. Sekarang apa kau tahu bagaimana anak haram ini jika sudah marah. Apa kau masih kurang? Dan masih ingin membunuh dan menyingkirkan ku,"
__ADS_1
Bram tidak menjawab, mulutnya terasa berat untuk menjawab satu pertanyaan saja, dia hanya diam mendengar apa yang di katakan Lucifer terus menerus. Sebenarnya dalam hari Bram ingin sekali membunuh, tapi mengingat dirinya ada di tangan Lucifer, Bram tidak berlatih. Lagian sekarang dia sudah lemah dan tak berdaya akibat Lucifer si anak haram itu.
Bram sedikit mengangkat kepalanya, menatap Lucifer dengan tatapan beratnya, tapi dari sorotan mata itu terlihat jelas jika Bram begitu membencinya. Lucifer yang melihat menyunggingkan senyumnya.
"Apa lebih baik aku membunuh mu sekarang agar tidak ada yang perlu di khawatirkan,"
Lucifer mengambil pisau yang ada di meja sampingnya mengelusnya dengan lembut, sambil melihat apakah pisaunya masih tajam atau tidak.
Glek….
Bram menelan ludah. Tidak, dia tidak ingin mati sekarang.
"Ja…"
Bram tidak bisa berkata, tidak ada tenaga untuk melanjutkan ucapannya. Lehernya terasa kering, susah untuk berbicara.
Lucifer kembali berjalan mendekati Bram sambil membawa pisau tajam nya.
"Bagaimana jika aku menusuk dada dan perut mu?"
Bram menggelengkan kepala dengan pelan, "Jangan lakukan itu," ucapnya dalam hati.
Lucifer tidak melihat gelengan itu, dia menempelkan pisau itu di pipi Bram, terasa dingin di rasakan nya. Tiba-tiba…..
Sing…..
Pisau itu merokok pipi Bram hingga mengeluarkan darah segar, membuat Bram kembali menjerit keras.
Ana yang tadi pingsan di samping Bram, kini langsung bangun saat mendengar teriakan suara suaminya.
Ana menoleh, dan di lihatnya Lucifer sedang bermain pisau di pipi suaminya.
"Apa yang kau lakukan anak haram?"
Lucifer yang mendengar langsung menoleh.
"Hoo…ternyata kau telah sadar wanita tua? Karena kau telah sadar, maka setelah ini akan giliran mu merasakan seperti apa yang di rasakan suami mu ini,"
"Tidak, jangan lakukan itu."
"Tunggu giliran mu."
Sing…..
Argh…..
Jerit lagi Bram. Ana yang melihat tidak tega saat suaminya benar-benar di siksa. Dia begitu ketakutan dengan apa yang di lakukan Lucifer, ternyata anak haram yang dulu sering mereka siksa kini begitu menakutkan dan membalas apa yang mereka lakukan waktu dulu.
Setelah puas membuat dua orang yang sangat dibencinya tidak berdaya, Lucifer meminta anak buahnya mengurung mereka berdua di sebuah gudang. Dan tidak ada yang diizinkan untuk menengok atau membantunya, Lucifer ingin Bram dan Ana mati secara perlahan dan menyesali perbuatannya karena berani padanya selama ini.
__ADS_1