
"Apa itu XLOVENOS? Aku tidak tahu apa yang kalian maksud?" Ucap pria itu memang tidak tidak mengenal Mafia XLOVENOS.
"Jadi kau bukan dari XLOVENOS?"
"Tidak! Aku tidak mengenal apa itu XLOVENOS. Sekarang lepaskan aku,"
"Jika kau tidak mengenal XLOVENOS bukan berarti kami akan melepaskan mu,"
"Apa!" Pria itu melotot, pikirnya dirinya akan di lepaskan oleh mereka, tapi kenyataannya dirinya tetap di tahan.
"Katakan, apa alasanmu membuntuti ku tadi?"
"Aku tidak membuntutimu, jadi lepaskan aku,"
Pikir Addy pria itu membuntutinya. Tapi salah, sebenarnya yang dia buntuti adalah Lucifer. Jelas saja pria itu tidak menjawab dengan jujur, karena memang bukan Addy yang dia pantau.
"Jika kau bukan membuntuti ku, lalu apa kau membuntuti Tuan Muda?"
"Tuan muda?" Gumamnya dalam hati. "Apa maksudmu Lucifer?"
Benar dugaannya, jadi alasan pria ini ada di sana karena Tuan mudanya. Lalu kenapa pria itu membuntuti, sedangkan Tuan mudanya belum lama berada di Negara Amerika.
"Sebenarnya apa tujuan mu, katakan. Jika kau mencoba berbohong aku benar-benar akan membunuh mu," Addy menempelkan pistolnya dan sedikit pendorong moncobg pistol tersebut, siap menembak kepala pria itu jika di ketahui berbohong.
Pria itu gelagapan. Karena kesalahan tadi menyenbut Lucifer, sudah memperjelas bahwa dirinya mengenal Lucifer. Dan yakin mereka tidak akan melepaskan diri.
"Cepat katakan!" Bentak Addy membuat pria itu gemetar, keringat menetes dari kening. Takut akan kematiannya yang dekat.
"A…aku ha…hanya di perintah untuk mencari keberadaannya." Dengan gagap pria itu menjawab, berharap jawabannya di terima oleh mereka. Namun sialnya tidak semudah itu Addy dan lainnya percaya. Pertanyaan demi pertanyaan terus di berikan oleh Addy membuat Pria itu mengakui semuanya karena terus di paksa dan ancam dengan kematian.
Setelah mendengar semuanya Addy meyakini orang ini tidak memiliki niat baik. Sudah di pastikan orang yang memerintah menginginkan kematian Tuan mudanya.
"Aku sudah menjawab semua yang kalian inginkan. Sekarang lepaskan aku,"
Senyum seringai tersungging di bibir Addy dan tanpa berkata, Addy mengangkat senjatanya dan menarik pelatuk pistol itu. Dua tembakan menembus isi kepala pria tersebut.
Door….
Door….
"Lebih baik mati dari pada membawa masalah di kemudian hari," Addy menyimpan kembali senjatanya. "Buang ke tempat anak-anak, biarkan mereka memakannya,"
__ADS_1
Empat rekannya pergi membawa pria tersebut untuk di berikan kepada hewan peliharaan Evan, beberapa anak singa yang masih tahap pertumbuhan.
Setelah membunuh pria itu, Addy kembali ke kediaman tuannya, tak lupa dia juga menghubungi dan mengatakan semua nya pada Tuannya. Evan yang mendengar cerita dari anak buahnya memiliki pemikiran bahwa pria itu mungkin saja ada sangkut pautnya tentang pembunuhan terhadap Lucifer.
.
.
.
Di kamar Lucifer.
Lucifer menyalakan Laptop nya, dan setelah itu membuka Alamat IPnya. Mengotak-atik laptop tersebut dengan gerakan jari yang begitu lincang. Lucifer ingin meretas CCTV di kediaman Mesya, ingin tahu keadaan keluarganya. Apakah baik-baik saja atau tidak.
Klik..
Rekaman CCTV berhasil dia akses.
Lucifer membuka dan memplay. Terlihat rekaman setiap harinya keluarga kakaknya. Lucifer merasa lega saat melihat keluarga kakaknya baik-baik saja selama dirinya tidak ada bersama mereka. Setelah memastikan keluarga kakaknya baik-baik saja. Kini Lucifer beralih meretas CCTV bengkel miliknya. Terlihat seperti biasanya, semuanya bekerja dengan giat dan rajin. Namun saat melihat satu rekaman CCTV, keningnya berkerut, terlihat satu temannya bertelepon dengan sembunyi-sembunyi.
"Ada apa dengannya? Tidak seperti biasanya dia menghubungi seseorang dengan sembunyi-sembunyi seperti itu. Ah, mungkin itu panggilan penting, tidak ingin mereka berdua mendengar," Lucifer berpikir positif, tidak ingin curiga sedikitpun dengan salah satu temannya.
Setelah memastikan semuanya baik-baik saja. Kini Lucifer membuka Email, mengirim pesan kepada Pria Tua. Lucifer yakin Abraham pasti tidak tahu jika dirinya hampir mati sebelumnya.
Bunyi notifikasi Email masuk di ponsel Abraham. Abraham yang saat itu sedang memegang ponselnya langsung membuka, saat melihat ternyata itu Email dari Lucifer, dengan cepat Abraham membacanya.
"Hai pria tua, bagaimana kabar mu? Aku yakin kau pasti merindukan ku bukan?"
Abraham yang membaca mengumpat kesal, bagaimana bisa Lucifer begitu santai, padahal sebelumnya ia tahu Luciger tiba-tiba menghilang.
"Kau kemana saja selama ini? Aku tidak bisa menemukan mu. Bahkan kata kakak mu kau menghilang entah kemana? Katakan pada ku apa yang terjadi?"
Lucifer yang membaca, mengerutkan kening. Jadi Pria tua tahu jika dirinya selama ini tidak ada di Jakarta.
"Kirim nomor ponsel mu, aku akan menghubungi mu,"
Abraham yang membaca langsung mengirim nomor ponselnya, tahu jika Lucifer tidak hafal dengan nomornya.
Tut…
Tut…
__ADS_1
Tut…
Panggilan tersambung. Dan Abraham langsung mengangkatnya saat ada panggilan masuk di ponselnya.
"Katakan pada ku dimana kau sekarang?" Tanya Abraham langsung memberikan pertanyaan.
"Aku berada di Amerika?"
"Amerika!" Pekik Pria tua kaget karena tidak menyangka Lucifer berada di Amerika. "Bagaimana bisa kau berada di sana? Sebenarnya apa yang terjadi?"
Lucifer menceritakan semuanya yang telah terjadi padanya. Dari mulai dirinya di hianati temannya dan di bunuh serta di tolong oleh seseorang yang berkunjung di jakarta dan berasal dari Amerika dan kini tinggal bersama dengan penolongnya itu. Abraham yang mendengar tidak menyangka jika Lucifer mengalami hal seperti itu. Abraham benar-benar marah, dia ingin membuat perhitungan pada teman Lucifer itu dan menghancurkan nya.
"Katakan dimana penghianat itu berada? Aku akan membunuh dan mencincangnya,"
"Aku yakin mereka telah pergi. Sebelum mereka membunuh ku, aku sempat mendengar bahwa mereka akan pindah markas. Tapi kau bisa membantu ku, tolong lacak siapa yang bekerja sama dengan mereka. Saat terakhir kesadaran ku hilang, aku sempat mendengar mereka bekerja sama dengan seseorang yang juga menginginkan ku mati. Dan dia adalah orang yang ada di sekitar ku."
"Orang yang ada di sekitar mu, siapa?"
"Aku tidak tahu. Banyak yang dekat dengan ku dan menginginkan ku mati, terutama keluarga Bramestyo. Tapi aku tidak yakin jika mereka yang melakukannya. Setelah aku keluar dari keluarga itu aku putus komunikasi. Tapi tidak membuat kemungkinan mereka tetap ingin membunuh ku."
"Lalu menurut mu siapa?"
"Aku tidak tahu."
"Baiklah, aku akan membantu mu untuk menyelidikinya. Aku akan mengutus beberapa anak buah ku untuk menyelidiki siapa dalang di balik semua ini,"
Lucifer mengangguk, menerima niat baik Pria tua. "Lakukan dengan pelan saja. Tidak perlu buru-buru. Lagian aku belum akan kembali ke Jakarta. Mungkin dengan disini aku bisa mencari keberadaan pria badjingan itu,"
Lucifer sebelumnya berpikir orang tuanya bukanlah orang dari Indonesia. Di lihat dari wajahnya, dia yakin orang tuanya berasal dari Luar negri. Namun bagian Negara mana, dia masih harus menyelidiki.
"Baiklah jika itu mau mu,"
"Oh ya, jangan katakan pada siapapun tentang diri ku yang masih hidup. Aku yakin jika orang yang menginginkan ku mati tahu, mereka akan mencari ku dan bisa saja keluarga ku dalam bahaya,"
Abraham menyetujui permintaan Lucifer. Bagaimana pun Abraham tidak ingin Lucifer terjadi sesuatu. Tidak ingin penerus semua hartanya mati dengan cepat di tangan orang-orang yang kejam.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung