
Lucifer yang mendengar semakin menyeringai. Seringai itu sungguh sangat mengerikan. Rifky yang baru melihat tentu saja menelan ludah, dadanya berdetak dengan cepat. Entah kenapa dia begitu takut melihat tatapan tajam itu, seolah tatapan itu benar-benar mengintimidasinya.
.
.
"Kau pikir bisa membodohi ku sekarang? Rifky-Rifky, mungkin sebelumnya aku memang bodoh tapi tidak untuk saat ini. Aku hanya tidak menyangka jika kau begitu bang-sat dan badjingan sekarang,"
Rifky yang mendengar bingung. Dia mengeritksn kening. Sebenarnya apa yang terjadi kenapa Lucifer berkata seperti itu padanya.
"Aku sungguh tidak mengerti apa maksud mu?"
"Jangan tunjukkan wajah pura-pura mu di hadapan ku, aku begitu jijik melihatnya," Lucifer dengan kasar melepas cengkramannya sampai membuat kening Rifjy terbentur di lantai.
"Tunjukkan rekaman itu apdany agar dia bisa membuka mata dan menghentikannya dramanya,"
Rey memutar rekaman itu di depan Rifky, sebuah rekaman saat Dion dan Hamdan di bawa masuk kedala rumah besar itu, dan Rifky bertemu dengan Bram dan Alex.
Mata Rifky langsung melotot. Dia sungguh sangat terkejut dengan rekaman itu. Dari mana Lucifer mendapatkannya. Sial, pasti Lucifer mendapatkannya dari CCTV jalanan tempat itu yang katanya sudah di matikan oleh Bram.
"Dasar kalian badjingan sialan!" Umpat Rifky pada orang-orang itu.
Rifky menatap Lucifer yang wajahnya sudah gelap. "Luc, dengarkan aku. Aku bisa jelasin semuanya,"
Lucifer yang seakan tidak ingin mendengar penjelasan yang sudah jelas-jelas terbukti Rifky berkhianat dan bersekongkol dengan Bram untuk membunuhnya bahkan kedua temannya, Lucifer tidak akan memberi ampun. Dia mengangkat tangannya, memberi perintah anak buahnya yang ada disitu untuk membawa Rifjy ke tempat berlatihnya.
"Bawa dia,"
"Baik tuan,"
Rifky panik saat dua orang mendakatinya dan membawanya secara paksa.
"Mau kalian bawa kemana aku? Lepaskan aku!"
Rifky memberontak, mencoba lepas dari mereka berdua. Lucifer lebih dulu, sedangkan Rifjy terus di seret paksa oleh anak buah Lucifer.
"Luci, katakan pada mereka untuk melepaskan ku,"
Rifjy terus berteriak, meminta untuk di lepaskan. Namun semuanya tidak peduli dan akhirnya mereka sampai di tempat latihan Lucifer berada.
Bugh,
Tubuh Rifky di dorong dengan kasar, membuat Rifky terjatuh.
Tubuhnya merasakan sakit di tangan dan lulutnya. Rifky menatap Lucifer yang kini sedang memakai sarung tangannya, dimana dia selalu memakai itu untuk latihan kekuatan pukulannya.
"Luci,"
__ADS_1
Rifky berdiri tak jauh dari Lucifer, menatap dengan pandangan sedih. Entah kenapa Rifky yakin Lucifer akan menghajarnya, mungkin saja sampai mati.
"Mana keberanian mu sebelumnya ha..? Bukankah kau ingin membunuh ku? Sekarang aku ada di hadapan mu, ayo lakukan seperti yang kau rencanakan bersama mereka,"
"Luci, aku tidak ingin membunuh mu. Percayalah. Aku akan menjelaskan pada mu, ini hanya salah paham."
"Salah paham? Apa semua bukti itu tidak jelas, bahwa kalian bersekongkol untuk membunuh ku. Bahkan aku juga yakin kau dan mereka dalang pembunuhan yang terjadi pada ku waktu itu,"
"Tidak, tidak. Aku tidak melakukan itu. Percayalah. Aku bisa menjelaskannya,"
"Aku tidak butuh penjelasan dari mu,"
Lucifer maju dan langsung memukul perut Rifky hingga membuat pria itu terpental dan jatuh hingga membuat Rifky memindahkan seteguk darah dari mulutnya saking kuatnya pukulan Lucifer.
Uhuuk….Uhuuk….
"Luci aku bisa jelaskan semuanya pad mu,"
Lucifer tidak ingin mendengar penjelasan itu, menurutnya Rifky sudah keterlaluan dan tidak tahu terimakasih.
Bugh….
Bugh….
Bugh….
Rifky sudah terkapar tidak berdaya, tubuhnya lemas dan hanya bisa pasrah, menatap Lucifer yang menatapnya tajam. Rifky yang tidak memiliki tenaga hanya bisa menatap sayu saat Lucifer mendekatinya dengan membawa sebuah pisau di tangannya.
"Lebih baik kau mati dari maya membuat mata ku sakit melihat mu,"
Lucifer mengangkat tangannya tinggi-tinggi, siap mengharuskan pisau itu di dada Rifky. Rifky yang melihat hanya pasrah dengan nasibnya. Mungkin ini jalan yang terbaik untuknya, mati di tangan Lucifer, temannya.
Jleb. . .
Pisau itu menancap di samping wajah Rifky. Lucifer tiba-tiba tidak tega membunuh Rifky dengan tangannya. Ingatkan pertemanan mereka membukanya ragu.
Rifky yang melihat Lucifer tidak jadi membunuhnya menatap punggung yang sedang membelakanginya.
:Kenapa?" Tanya Rifky dengan suara lemah.
"Aku tidak ingin mengotori tangan ku dengan darah mu. Beruntung karena kau tidak mati hari ini, tapi setelah ini nikmati kematian mu,"
Lucifer meninggalkan Rifky yang lemah dan setelah itu pingsan karena tidak bisa menahan rasa sakit akibat di hajar habis-habisan oleh Lucifer. Sedangkan Lucifer memberi perintah untuk mengepung tempat dimana Dion dan Hamdan di sekap. Namun saat mereka sampai disana, tempat itu sudah kosong tidak berpenghuni.
"Tuan rumah ini sama sekali tidak ada orang satu pun. Namun sebelumnya memang ada orang disini. Saya melihat tali dan juga beberapa putung rokok. Saya rasa mereka pergi sebelum kita sampai."
"Mereka pasti belum jauh. Cari mereka sampai dapat,"
__ADS_1
"Baik tuan,"
Lucifer begitu geram mengetahui itu. Lucifer yakin mereka mengetahui dirinya membawa Rifky. Mereka yang tidak ingin ketahuan, akhirnya pergi sebelum di serang oleh anak buahnya.
"Benar-benar sialan!"
"Rey, pantau bandara. Jangan biarkan mereka keluar dari Indonesia,"
"Baik tuan."
"Dan satu lagi, tangkap keluarga rubah itu. Aku ingin mengakhiri mereka sekarang juga,"
Rey mengangguk dan melakukan tugasnya, memberi perintah anak buahnya untuk memantau bandara, siapa tahu ada pergerakan dari orang yang membawa Dion dan Hamdan. Sedangkan Rey sendiri pergi ke kediaman Bramestyo di temani dengan beberapa bawahannya.
Lucifer merasa lelah dengan semua masalah ini. Dia ingin bertemu dengan kakak nya dan bercerita.
"Kak, aku akan datang 15 menit lagi," Pesan Licifer di kirim pada Mesya. Namun di lihatnya tanda centang itu tetap satu, menandakan nomor Mesya tidak aktif.
"Tumben tidak aktif," gumam Lucifer dan melajukan mobilnya semakin cepat.
Setelah sampai di kediaman Mesya, Lucifer mengerutkan kening saat pintu gerbang tidak di kunci. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak. Lucifer keluar dari mobil dan masuk dalam rumah, lagi-lagi pintu tidak di kunci.
"Kak, Kak Mesya…!!" panggil Lucifer keras, tapi tetap tidak ada yang menyahut.
Lucifer semakin bingung kenapa tidak ada yang menyahut panggilannya, begitupun dengan para pelayan. Lucifer melihat semua ruangan dan betapa terkejutnya dia melihat semua pelayan dan anak buahnya yang di tugaskan menjaga rumah itu mati di halaman belakang dengan tubuh tertembak.
Lucifer yang melihat mengepalkan tangan, marah. Badjingan mana yang melakukan semua ini.
Lucifer berbalik, akan meninggalkan tempat itu. Tapi saat dirinya hendak pergi, sesuatu yang ada di tas meja, tempat dimana biasanya Mesya bersantai di halaman belakang menyita perhatiannya.
Lucifer mengambil sesuatu itu, sebuah surat dan sebuah ponsel. Lalu dia membaca surat tersebut.
"Jika kau ingin mereka selamat datanglah ke Amerika,"
Lucifer yang membaca, mnegeraksan rahangnya dan setelah itu memutar sebuah Vidio dimana Mesya dan Farhat di bawa paksa oleh sekelompok orang yang di yakini adalah anak buah Bobby, ayahnya.
"Dasar tua bangka sialan! Aku tidak akan melepaskan mu!"
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1