
Lucifer yang ngeliat surat dan rekaman itu begitu marah. Dia tidak menyangka pria tua yang menjadi arahkan akan melakukan hal lucik seperti itu.
Lucifer pergi dari rumah mesya, dia menghubungi Rey, bertanya bagaimana dengan keluarga Bramestyo, apakah mereka kabur atau tidak. Dan ternyata saat Rey sampai disana rumah itu kosong, penghuninya telah pergi.
"Cari keberadaan mereka. Aku yakin mereka belum jauh,"
"Baik tuan."
Anak buah Lucifer menyebar mencari keberadaan Alex, Bram dan Ana ke tempat-tempat yang mungkin saja ada mereka disana.
Di bandara, tiga orang begitu panik, mereka berencana pergi dari Indonesia ketempat dimana mereka bisa berlindung, di Amerika.
Tapi saat mereka hendak membeli tiket pesawat, seseorang yang melihat mereka langsung mengejar. Alex yang melihat ada yang berlari ke arah mereka entah kenapa dia berpikir bahwa itu adalah anak buah Lucifer yang mencoba menangkapnya. Melihat itu Alex memberitahukan pada Bram dan Ana.
Ana dan Bram tentu saja terkejut, mereka menoleh ke arah beberapa orang yang berlari ke arahnya. Dan dengan panik karena tidak ingin di tangkap, mereka berlari berharap bisa lolos dari mereka.
"Pa, ma, kita harus bersembunyi, mencari tempat yang aman untuk kita. Aku yakin mereka anak buah anak haram itu yang mencoba menangkap kita,"
"Cepat kita lari, jangan biarkan mereka menangkap kita," ucap Bram menarik tangan Ana untuk menghindari kejaraan itu.
Anak buah Lucifer yang melihat tentu saja berteriak, meminta mereka untuk berhenti.
"Jangan lari kalian!"
Alex, Bram dan Ana tidak memperdulikan teriakan itu, mereka terus berlari.
Saat melewati sebuah tempat yang menurutnya aman, mereka bersembunyi, berharap tempat itu aman untuk mereka.
"Kenapa secepat ini anak haram itu bertindak? Aku benar-benar membencinya. Sejak adanya dia hidup ku tidak pernah tenang dan damai." Ucap Ana yang sangat membenci Lucifer.
Ana tidak sadar dengan ucapaan. Apa yang di alaminya adalah ulahnya sendiri karna membuat perkara dengan Lucifer. Andai saja dia tidak mengusik dan menyakiti Lucifer, mungkin Lucifer tidak akan melakukan hal ini pada mereka.
Kehidupan mereka yang tidak damai itu di sebabkan oleh mereka sendiri. Dan inilah akibatnya membangunkan singa yang sedang tidur.
"Dimana mereka?"
__ADS_1
Mereka semua melihat sekeliling, mencari keberadaan mereka bertiga. Mereka kehilangan jejak karena banyaknya orang yang ada di tempat itu, membuat pandangan mereka terganggu.
"Berpencar dan temukan mereka,"
"Baik,"
Mereka akhirnya berpencar, menyusuri dan mencari di setiap sudut bandara.
Alex, Bram dan Ana yang melihat mereka telah pergi merasa lega.
"Sepertinya kita tidak bisa pergi sekarang ma, pa. Lebih baik kita cari tempat mengenai lebih dulu yang aman,"
"Kau atur semuanya, jangan biarkan mereka menemukan kita. Jika mereka berhasil menangkap kita, aku tidak yakin apa yang akan di lakukan anak haram itu pada kita,"
Mereka mengganti pakaian agar mereka tidak mengenali. Memakai topi serta kacamata. Sedangkan Ana memakai kerudung untuk menutupi kepalanya. Mereka keluar dari bandara menggunakan taksi, beruntung anak buah Lucifer bisa di kelabuhi dan membuat mereka berhasil lolos.
Alex membawa bram dan Ana ke suatu tempat, tempat yang mustahil bagi anak buah Lucifer menemukannya.
"Apa kita benar akan bersembunyi disini?"
"Lalu jika kita berada di sini, bagaimana dengan perusahaan? Tidak mungkin kita meninggalkan perusahaan?"
"Aku akan meminta asisten ku untuk mengurusnya sementara waktu ini. Yang saat ini lebih penting, kita jangan sampai di tangkap oleh anak haram itu,"
Bram dan Ana mengangguk, menurut saya dengan apa yang di katakan putra mereka, mungkin memang ini jalan yang baik bagi mereka semua.
.
.
Di bandara, anak buah Lucifer yang tidak menemukan keberadaan mereka bertiga begitu kesal, mereka lolos dari kejaran mereka.
"Sialan!"
"Lalu bagaimana? Apa kita akan melaporkan pada tuan?"
__ADS_1
"Ya, bagaimana pun kita harus melaporkannya. Tapi kini kita tahu bahwa mereka masih ada di disini."
Di antara salah satu dari mereka kini menghubungi Rey, mengatakan jika keluarga itu lolos dari kejarannya. Rey tentu saja marah karena kebodohan mereka sampai kecolongan dan membuat mereka kabur. Rey meminta mereka menemukan keberadaan mereka bagaimana pun caranya.
"Temukan keberadaan mereka. Jika sampai kalian tidak menemukannya, kalian akan tahu akibatnya,"
"Baik tuan,"
Salah satu dari mereka meretas setiap sudut CCTV bandara. Satu persatu di ceknya dan mereka menemukan sesuatu yang mencurigakan, tiga punggung yang sepertinya mereka kenal.
"Apa menurut kalian tiga orang itu adalah mereka?"
"Dari cara berjalan dan punggung mereka sepertinya iya. Tapi dari pakaiannya bukan, mereka tidak mengenakan pakaian itu tadi,"
"Mereka bisa berganti pakaian untuk mengelabui kita,"
"Pantas saja kira tidak menemukan nya, yang kita lihat pakaian yang mereka kenakan sih," Bodohnya mereka tidak berpikir sampai disitu.
"Lalu kemana mereka?"
Seorang dari mereka melihat rekaman lain, disana terlihat tiga orang masuk dalam sebuah taksi dan taksi itu pergi meninggalkan bandara.
"Kita retas setiap CCTV yang mereka lewati, pasti kira akan menemukannya,"
Semua mengangguk dan menjalankan tugasnya, mencari keberadaan tiga orang yang menjadi buronnan mereka untuk tuannya.
Mereka meretas setiap CCTV yang ada di jalan yang mungkin saja di lewati taksi itu. Tapi saat mereka sampai di tempat jauh dari kota, mereka kehilangan jejak karena tidak ada petunjuk untuk menemukan keberadaan mereka.
"Tempat ini di pinggiran kota, tidak ada CCTV di tempat ini. Lalu bagaimana, apa kita mencari mereka di desa ini?"
"Ya, bagaimanapun kita harus menemukannya,"
"Baiklah, kita sesuai tempat ini satu persatu,"
Semuanya mengangguk dan muli mencari, berharap target mereka ada disana.
__ADS_1