
" Ayah..ibu...maafkanlah anakmu ini,yang tidak berbakti dan tidak dapat menjaga keluarga sehingga kakak Li tewas dengan carara mengenaskan."
sein Bu berlutut,dia tidak dapat memandang ayahnya yang sedang duduk bersama cucunya yang kini berusia 3tahun.
" Bu er..apa yang kau lakukan?berdirilah.."
jendral sein ji mengerutkan keningnya,tiba tiba anak bungsunya yang telah membanggakan dirinya berlutut merasa bersalah.
nyonya Cong Li yang baru saja keluar dari kamarnya pun terkejut melihat putranya berlutut merasa bersalah atas kematian putrinya yang sangat misterius itu.
" Bu er...berdirilah nak,apa kamu tidak merindukan ibu saya ini?"
Sein Bu pun melihat ibunya yang mulai tampak garis penuaan,walaupun masih tampak cantik dan anggun,tetapi umur tidak dapat di pungkiri,rambut yang mulai memutih membuat sein Bu berdiri langsung memeluk ibunya.
" ibu.."
walau pun sein Bu kini menjadi pendekar yang sangat di segani,murid dari penghuni pulau es,tetapi dia juga manusia dia sangat terharu melihat ibunya yang sudah lama tidak bertemu.
anak dan ini tampak meneteskan air mata tanda mereka sangat bahagia,sedangkan jendral sein ji hanya terharu tampak matanya berkaca kaca melihat putranya yang kini berpengaruh di dunia persilatan.
setelah puas memeluk ibunya sein Bu pun menuju ayah ya,kembali sein Bu memeluk ayahnya,yang juga sudah mulai menua.
jendral sein ji sangat merindukan putranya,walaupun demikian jendral sein ji tetap mendukung putranya untuk berpetualang membasmi para golongan hitam yang membuat masyarakat resah.
" Ayah.. siapakah pembunuh kakak Li?apakah ayah sudah menemukanya?"
" Bu er..apakah gurumu tidak menceritakannya padamu?"
" tidak ayah?"
__ADS_1
" Hem...Bu er ketahuilah kakakmu telah di bunuh oleh orang yang membuat resah dunia persilatan serta keturunan keluarga kita."
mendengar penjelasan ayahnya Sein Bu yang terbakar emosi mengepal kedua tanganya,dia sangat marah walaupun gurunya sudah menasehati dia dan kakak seperguruanya.
" Hem..tidak bisa di biarkan manusia iblis itu,saya harus membuat perhitungan denganya."
tampak wajah sein Bu yang terbakar emosi membuat ayahnya hanya bisaenggelengkan kepala.
" apakah ini yang kau dapat dari pamanmu Bu er?"
jendral sein ji berjalan dengan kepala di atas,dia memandang wajah anaknya yang masih terbakar emosi.
walau nadanya halus dan berwibawa,sein Bu tersentak,perlahan emosinya menurun dia sangat malu terhadap ayahnya,tanpa di sengajanya emosinya tersulut karena kehilangan kakak satu satunya yang sangat dia sayanginya.
" ayah maafkan saya,ayah benar guru tidak pernah mengajarkan kami untukembalas dendam."
" sudahlah Bu er,lupakanlah ayah tau kamu sangat menyayangi kakakmu,tetapi inilah yang sudah di gariskan oleh sang pencipta kakakmu tewas dengan cara seperti ini."
tampak mata jendral sein ji berkaca kaca,tetapi tidak dengan nyonya Cong Li,dia melihat ketabahan suaminya atas kematian anak sulungnya menangis tersedu sedu,bagaimana pun kerasnya seorang wanita,Cong Li adalah seorang ibu,yang sangat menyayangi putri sulungnya itu.
melihat ibunya menangis,sein Bu tidak kuat hati walaupun dia seorang pendekar yang sangat di segani dia berlari ke arah ibunya dan memeluk sangi ibu yang mengis dengan sangat memilukan hati.
" ibu..benar kata ayah, dan nikah jalan kakak Li agar dia tenang di alam sana,berhentilah menangis ibu,"
" anaku..ibu hanya terharu nak,kakakmu adalah prajurit sejati,ibu sangat bangga pada almarhum kakakmu."
" ibu...besok saya akan berjiarah ke makam kakak Bu."
" baiklah Bu er,ibu akan temani dirimu."
__ADS_1
kembali anak dan ibu berpelukan,walau mereka adalah keluarga pejabat tetapi dengan kerendahan hati mereka,seluruh masyarakat yang mengenal mereka sangat kagum dan segan pada keluarga jendral sein ji.
**
" untuk apa kita berkumpul,bukankah ini hanya sebuah pekerjaan yang sia sia?"
" hem..patriak long...sepertinya kamu tidak membaca isi surat yang di kirim oleh ketua cia?"
" saya membacanya dengan sangat teliti patriak ying,tetapi sudah dua hari ini ketua cia belum juga menampakan batang hidungnya."
" patriak long,bersabarlah lihatlah patriak dari bebrapa perguruan lain juga belum hadir."
" baiklah patriak ying,saya pergi dulu saya ingin berjalan jalan di kota ini,untuk menentramkan hati saya yang sedang bosan menunggu."
" apa perlu saya temani patriak long?"
" terima kasih patriak ying,saya masih ingin sendiri dulu."
" baiklah patriak long,hati hatilah."
patriak long pun pergi meningalkan patriak ying di penginapan di kota langsen,kota dimana Cia tong lay mengadakan pertemuan dengan beberapa ketua perguruan untuk membahas pendekar pencabut nyawa.
kota langsen kota kecil dimana kota ini memiliki sebuah sekte yang lumayan besar,sekte naga api,sekte yang di bangun oleh pendekar naga api beberapa ratus tahun yang lalu.
sekte naga api,memiliki murid yang lumayan besar,bahkan konon kota Langsen di bangun oleh para murid sekte naga api.
cia tong lay memilih kota langsen untuk pertemuan,karena sesepuh dunia aliran putih pendekar we sedang berada di sekte naga api.
seperti yang di ketahui,pendekar we adalah mantan ketua aliran putih.
__ADS_1
walaupun umurnya kini sudah 150 tahun lebih,kemampuan pendekar we tidak di ragukan oleh dunia persilatan.
walau cia tong lay kini menjadi ketua aliran putih,tetapi dia masih terlalu muda dia juga masih perlu bimbingan dari ketua terdahulu pendekar we.