
pejabat itu yang tidak laian adalah pejabat bagian logistik dia bernama Pong Kao,atau lebih di kenal tuan Pong Kao.
dirinya menjadi gagu setelahvjalan darahnya di totok oleh sein Bu.
matanya melotot seakan ingin menelan sein Bu bulat bulat,apa lagi saat sein Bu melepaskan topeng yang ada di wajahnya,ingin rasanya tuan Pong berteriak sekuat tenaganya tetapi tidak sedikitpun suara keluar dari mulutnya.
" tuan Pong...apakah kamu terkejut dengan kedatanganku?"
sein Bu sengaja membuat tuan Pong menjadi gagu,karena aksinya tidak ingin di ketahui oleh pihak kerajaan.
tuan Pong Kao hanya bisa mendesis bagaikan ular,matanya melotot rasa ketakutanya seakan membuat dirinya ingin segera kabur tetapi sedikitpun tubuhnya tidak dapat di gerakan.
" mari ikut saya.."
sein Bu pun membawa tuan Pong kau ketempat rncananya akan di lakukan.
**
di sebuah rumah yang sudah sangat usang,jauh dari kota raja sein Bu meletakan tubuh tuan Pong Kao,pakaian yang sangat mahal pun menjadi kotor saat sein Bu meletakannya di lantai yang terbuat dari tanah.
totokan tuan Pong Kao di bebaskan oleh sein Bu,sehingga tuan Pong kao akhirnya terbebas.
saat totokannya telah terbebas,tuan Pong Kao mencoba untuk kabur.
tetapi dia sangat heran,sekuat tenaga dia berlari langkahnya masih saja di tempatnya,sehingga tuan Pong bagaikan berlari di tempat saja.
nafasnya terengah engah,saat dia melihat kebelakang sein Bu tersenyum sambil menarik bajunya.
" lepaskan aku..jangan sakiti aku.."
" Hem..silahkan tuan berlari sekuat tenaga tuan,itu akan membuat tuan kelelahan."
menyadari itu tuan Pong Kao akhirnya menyerah,dia pun memandang sein Bu sambil nafasnya kian memburu,tampak keringat sebesar jagung membasahi keningnya.
" apa yang kau inginkan,di mana aku sekarang?"
__ADS_1
" tuan Pong,sebaiknya tuan Pong bekerja sama dengan saya atau."
sein Bu mengeluarkan pisau dari balik jubahnya,dan menggoresakannya pada baju tuan pong,sehingga baju tuan Pong sobek sedikit memanjang akibat ketajaman pisau itu.
" jangan menakuti komandan sein,kau bawahanku seharusnya kau melindungiku,bukan seperti ini."
" ha ha ha...bawahanmu?bukankah saya sudah di pecat dan kalian tuduh saya seorang penghianat?kelicikan kalian membuat kami yang ingin mempertahankan negri ini,harus berakhir menjadi penghianat akibat ulah kalian yang serakah dengan harta."
sein Bu pun kembali menggoreskan pisau itu ke wajah tuan Pong,sehingga wajah tuan Pong terluka akibat goresan pisau itu.
darah mengalir dari luka rasa perih membuat tuan Pong Kao menjerit kesakitan.
" ********...bunuh saja aku,kau pikir aku takut mati."
" Hem...baiklah kalau itu maumu,saya akan membuatmu mati dengan perlahan dan mayatmu aku potong potong lalu aku berikan pada binatang buas di hutan ini."
mendengar ancaman dari seinn Bu,awalnya tuan Pong hanya menggertak akhirnya dia luluh,sein Bu mengancam akan membunuhnya bulu kuduknya berdiri,nyalinya ciut mendengar ancaman sein Bu.
" tuan sein...maafkan aku,ampunilah aku,jangan bunuh aku kasian dengan nasib keluargaku."
" baiklah..asal tuan mau bekerja sama denganku,saya akan melepaskan tuan."
" apa yang ingin tuan inginkan?"
" apakah tuan Pong mengenal tin feng?"
" saya tidak mengenalnya tuan sein?"
" Hem..tuan Pong ternyata tidak jujur,apakah saya akan memaksa tuan."
" jujur tuan sein,saya tidak mengenalnya."
" tuan Pong,tin Feng menyebut nama tuan Fong,dan tuan Pong mengetahui siapakah dalang semua ini."
" ampun tuan sein,jangan paksa saya,nyawa keluarga saya terancam karena mereka akan menghabisi keluarga saya tuan sein."
__ADS_1
" apakah tuan Pong tidak menyayangi nyawa tuan?"
sein Bu berusaha menakutinya dan kembali memainkan pisau yang ada di tanganya.
melihat itu tuan Pong kau semakin ketakutan.
sein Bu perlahan mendekatinya,tuan Pong Kao yang masih merasakan perih di pipinya akibat goresan pisau itu kini mengeluarkan keringat dingin.
" tuan sein jangan mendekat,tolong jangan mendekat?"
" kenapa tuan Pong?bukankah kamu tidak takut dengan kematian? aku akan meloloskan permintaanmu aku akan membuatmu mati dengan perlahan agar tuan Pong dapat merasakan bagaimana menikmati kematian itu tuan Pong."
sein bu yang semakin berdetak jantungnya,karena hanya tuan pong kao lah satu satunya kunci bagaimana dia mendekati siapakah dalang sesungguhnya,sehingga mereka membalikan fakta bahwa kalau dirinya adalah penghianat negara.
mendengar ancaman sein Bu,tuan pong Kao gemetar,ancaman sein Bu sungguh membuatnya menjadi sangat ciut,terbukti wajanhya di iris dengan pisau sehingga menimbulkan luka yang memanjang yang masih mengeluarkan darah segar.
tuan pong kao yang masih ketakutan,dia bingung antara memilih nyawanya apa nyawa keluarganya,keduanya sangat berharga baginya.
waktu yang semakin berjalan,membuat sein Bu semakin tidak sabar,akhirnya dia pun akan memberi pelajaran pada tuan Pong Kao.
" baiklah tuan,kalau masih tidak ingin berbicara."
crash.....
teriakan menyayat dari mulut tuan Pong Kao,membuat suasana hutan yang hening dan membuat burung burung yang sedang beristirahat dan burung itu pun kabur dengan menjahui rumah tempat tuan pong Kao di tawan sein Bu.
darah mengucur dengan sangat derasnya,sebuah jari kelingking tangan kanan tuan Pong menggelinding di tanah,matanya tidak percaya, sein Bu berbuat sangat kejam padanya,ancamanya ternyata benar.
" bagaimana rasanya tuan Pong Kao?sebentar lagi sembilan jari tuan akan saya potong agar tuan merasakan bagaimana mana penderitaan rakyat karena para komplotan tuan Pong lakukan."
tuan Pong Kao semakin pucat dengan ancaman sein Bu,dengan kehilangan satu jari saja,dia merasa kan sakit yang sangat luar biasa, bagaimana bila jarinya akan di potong satu persatu,sungguh tuan Pong tidak dapat membayangkan rasa sakit yang akan menyiksanya.
" tuan ampunn....jangan siksa saya lagi,saya akan mengaku."
sein Bu tersenyum,usahanya membuat tuan Pong Kao akan mengakhiri ini semua.
__ADS_1