PENDEKAR PULAU ES 2

PENDEKAR PULAU ES 2
MEMILIH ANTARA DUA PILIHAN


__ADS_3

" apa yang kamu pikirkan tuan?mari kita pergi dari sini?"


" mau kemana?"


" ikuti?nanti kamu juga akan mengerti."


" tunggu dulu,jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?"


putri Lao nan memandang cia tong lay,mulutnya cemberut membuat wajahnya semakin manis di lihat.


" Hem...jangan kamu bilang aku mengejar dirimu tuan?"


cia tong lay hanya bisa menggaruk kepalanya,dirinya menjadi sangat serba salah.


" nona..saya bingung,apakah kita harus menikah?saya sudah memiliki dua anak dan seorang istri."


" tuan cia..andai saja ada pilihan lain untuk menyelamatkan orang banyak,mungkin saya akan memilih pilihan lain,tapi sayang aku sebagai seorang putri harus rela menikah dengan orang yang tidak saya kenal."


tampak wajah putri Lao nan murung,matanya mulai berkaca kaca membuat cia tong lay menjadi salah tingkah.


" tuan cia.. terserah pada tuan,keputusan ada di tangan tuan,saya akan tunggu di bukit di ujung sana."


Lao nan pun pergi meninggalkan cia tong lay yang masih di dalam kebingungan,sungguh cia tong lay sulit mengambil keputusan dengan cepat.


cia tong lay merebahkan tubuhnya di sebuah batu besar,dia tidak menyangka perjalanan untuk menyelamatkan sin Yuan Li menjadi sangat rumit seperti ini.


pertanyaan di hatinya tidak bisa di jawab,cukup lama cia tong lay memikirkan keputusan yang akan di ambilnya.


akhirnya dia membuka matanya dan bangkit dan pandanganya ke arah bukit yang di tunjuk oleh putri Lao nan.


dengan perasaan yang masih mengganjal dia pun menuju bukit itu.


tampak lao nan duduk termenung,matanya masih merah dan berkaca kaca.


di usia yang masih dua puluh tahun,dia harus merasakan pengorbanan yang sangat besar,bagaimana tidak dia harus menikah pada orang yang tidak di kenalnya,pukulan batin bagi Lao nan yang awalnya dia frustasi tetapi demi menyelamatkan negrinya,dia harus rela mengorbankan haknya demi kelangsungan negri mereka.


" nona...maafkan aku?"


cia tong lay berdiri tepat di belakang putri Lao nan.


perlahan Lao nan membalikan tubuhnya dan memandang cia tong lay,dia menghapus air matanya yang mulai menetes di pipinya.

__ADS_1


" tuan...mari kita pergi dari sini."


Lao nan langsung membawa Cia Tong lay yang tanpa memberi jawaban.


mereka melesat dengan sangat cepat menuju sebuah negri yang sangat indah,sebuah kerajaan yang menurutnya jauh lebih indah di banding dengan negri asalnya.


sebuah istana yang sangat megah terhampar di padang rumput hijau,yang sangat luas.


tampak di sekeliling istana terlihat bangunan bangunan yang sangat megah yang di kelilingi tembok setinggi 12 meter.


sungguh negri yang sangat makmur,dimana terlihat para penduduk di sekitar istana saling membantu sesama lainya.wajah mereka tersenyum saat telah selesai mengerjakan pekerjaan yang sangat berat dengan cara bergotong royong.


Lao nan dan Cia tong lay terbang menuju sebuah rumah yang sangat besar tepat di samping istana.


tampak para penjaga sangat menghormati Lao nan saat mereka telah menjejakan kakinya didepan rumah megah itu.


para penjaga yang telah mengetahui kehebatan dari ilmu Lao nan,tidak terkejut saat Lao nan dan seorang pria yang mereka tidak kenal hanya bisa memberi hormat pada putri Lao nan.


" dimana ayah?"


" maaf tuan putri,panglima Lao saat ini sedang tidak di rumah karena sepertinya ada hal sesuatu yang terjadi sehingga panglima dengan tergesa-gesa pergi menuju arah selatan tuan putri."


" baik tuan putri."


cia tong lay begitu kagum pada Lao nan,walaupun masih sangat muda Lao nan mampu memberikan motivasi buat anak buah ayahnya,tidak seperti putri putri lain yang selalu menganggarkan jabatan dari orang tuanya.


mereka kembali melesat ke arah selatan,tampak seorang pria paruh baya sedang membantu para prajurit membersihkan puing puing sisa kehancuran sebuah desa.


entah apa yang terjadi,desa itu hancur dan mayat berserakan dengan sangat mengenaskan.


para prajurit pun mengumpulkan mayat mayat itu,mereka tanpa lelah bergotong royong.


" ayah..."


Lao nan memanggil ayah pada seorang pria paruh baya yang tubuhnya di penuhi keringat,bahkan wajahnya tampak sangat bersedih."


" putriku..kemarilah bantu yang lain untuk mengumpulkan mayat mayat ini,agar segera di kremasi."


" apa yang terjadi ayah?"


" dia telah datang nak,sebaiknya kita segera mengkremasi mayat mayat ini agar tidak menimbulkan penyakit buat warga yang lain."

__ADS_1


Lao nan pun ikut membantu ayahnya,mengumpulkan mayat mayat yang tertimbun puing puing rumah mereka.


" apa yang kau lihat tuan?apakah dengan berdiri di situ pekerjaan ini akan selesai dengan cepat?"


lamunan cia tong lay buyar,dan cia tong lay akhirnya membantu mereka mengumpulkan mayat-mayat yang jumlahnya sangat banyak


sungguh perbuatan yang sangat keji,sebuah desa harus kehilangan semua warganya di bantai tanpa satupun tersisa.


berkat gotong royong mereka,pekerjaan mereka telah selesai, ratusan manusia harus kehilangan nyawa,bahkan anak bayi yang baru lahirpun harus kehilangan nyawa tanpa mereka tau siapa pembunuhnya.


" nona..apa yang terjadi? siapakah yang tega membantai para penduduk seperti ini?"


" ini adalah perbuatanya,andai ilmuku cukup untuk membunuhnya aku akan mencari Sampai ke lobang semut pun akan aku cari dirinya."


wajah sedih Lao nan berubah memerah,tampak dia menahan rasa kemarahanya.


sehingga Cia tong lay tidak ingin bertanya lebih lanjut pada Lao nan.


" tuan putri,panglima Lao memanggil tuan putri segera menemuinya."


" terima kasih prajurid,katakan padanya saya akan segera kesana."


Lao nan pun pergi meninggalkan cia tong lay,yang hanya memandang kepergian Lao nan.


' tuan Cia..apa yang kamu tunggu di situ?mari temui ayah?''


cia tong lay kembali tersadar, entah mengapa sejak bertemu dengan Lao nan kini Cia tong lay menjadi sering melamun.


entah apa yang terjadi dengan Cia tong lay yang bijak sana kini harus hanya diam dan mengikuti takdir yang ada.


beban pikiran cia tong lay membuat dirinya serba bingung,dari segi tanggung jawab untuk menyelamatkan sin Yuan Li kini harus menyelamatkan kaum tiga negri dari serangan iblis yang saat ini meneror bangsa tiga negri.


" ayah...dialah orang yang selama ini kita cari ayah."


panglima Lao Tze memandang wajah cia tong lay yang berusaha tenang pada calon mertuanya.


" Hem...bolehkah saya melihat kepala anda?"


cia tong lay hanya bisa mengangguk,dan hanya diam saja saat Lao Tze memeriksa kepala cia tong lay.


setelah panglima Lao Tze selesai memeriksa kepala cia tong lay,panglima Lao Tze segera berlutut memberi hormat dan di ikuti oleh putri Lao nan dan para prajurit tiga negri.

__ADS_1


__ADS_2