
Pukul sebelas malam Raka baru pulang dari kantor, dia ada acara makan malam dulu bersama dengan rekan bisnisnya.
Masuk rumah dia langsung mencari keberadaan Alana. Dia kangen dengan Istrinya padahal tadi siang dia juga bertemu dengan Istrinya itu.
Ceklek
Raka masuk kamar, dan ternyata Alana sudah tertidur meringkuk di ranjang. Raka menghampiri Istrinya. Dia mengelus pipi Alana dengan sayang.
"Maaf, aku baru pulang Sayang" ucap Raka lirih kemudian mencium kening Alana.
Alana merasa terusik dengan tindakan Raka, dia mulai mengerjabkan matanya.
"Kamu baru pulang Sayang" tanya Alana dengan suara khas bangun tidur.
"Maaf, aku membangunkan mu" ucap Raka merasa bersalah telah membuat Istrinya terbangun dari tidurnya.
"Tak apa, apa kamu mau mandi terlebih dahulu" tanya Alana sambil bangkit dari tidurnya.
"Aku akan mandi terlebih dahulu Sayang" jawab Raka.
"Biar aku siapkan airnya terlebih dahulu" ucap Alana sambil beranjak dari ranjangnya namun keburu di tahan oleh Raka.
"Biar aku sendiri saja sayang, kamu istirahat saja ya" ucap Raka tidak mau membuat Istrinya lelah, karena takut janin nya kenapa kenapa.
"Kenapa? bukankah seorang istri harus menyiapkan kebutuhan suaminya, kenapa tidak boleh?" ucap Alana.
"Aku tak mau kamu lelah Sayang" ucap Raka.
"Tapi aku tidak lelah Sayang, aku ini cuma hamil bukan penyakitan" ucap Alana kesel.
"Nurut Ok" ucap Raka tegas.
"Baiklah" ucap Alana menghela nafas pelan. Raka tersenyum sambil mencium pucuk kepala Alana.
Raka sudah menghilang di balik pintu kamar mandi, dia menyelesaikan ritualnya.
Tiga puluh menit kemudian dia keluar dari kamar mandi, dia melihat Istrinya sedang selonjoran sambil bersandar di headboard ranjang. Raka memakai pakaian nya setelah itu dia naik ke atas ranjang.
"Gimana Baby nya Sayang?, hari ini dia rewel tidak" tanya Raka mengusap perut Alana yang masih terlihat rata sambil tidur di pangkuan Alana.
" Baby nya baik Sayang" ucap Alana sambil mengusap rambut kepala Raka.
"Syukurlah kalau dia tidak bikin ulah Sayang" ucap Raka tersenyum sambil mendongakkan wajahnya.
"Apa kamu lelah Sayang" tanya Alana.
"Tadi aku lelah, tapi setelah memeluk kamu lelahku hilang" jawab Raka sambil menduselkan wajahnya di perut Alana dan melingkarkan tangan nya di pinggang Istrinya itu.
Kruyuk ....kruyuk.
Bunyi suara perut Alana, sehingga membuat Raka tertawa.
__ADS_1
"Sayang, kamu lapar" tanya Raka sambil tersenyum geli menatap Istrinya.
Alana mengangguk sambil menunduk malu, kenapa perutnya tidak pernah bisa di ajak kompromi, padahal tadi dia sudah makan malam.
"Bumilnya aku mau makan apa" tanya Raka sambil mencubit gemas pipi chuby Alana.
"Mau martabak manis keju Sayang" jawab Alana sambil menepis tangan Suaminya.
"Mau ikut apa mau nunggu di sini" tanya Raka.
"Emang kalau ikut boleh" tanya Alana ragu.
"Boleh, asal perginya sama aku" goda Raka dengan menaik turunkan alisnya.
"Kau yang terbaik" ucap Alana berbinar sambil mencium pipi Raka.
"Yang ini belum Sayang" goda Raka sambil menunjuk bibirnya.
"Nanti kalau sudah di belikan martabak" ucapan Alana sedikit membuat Raka kecewa. Alana terkikik melihat Suaminya tengah merajuk.
Akhirnya Alana memberanikan diri mencium bibir Raka, tak mau melewatkan kesempatan Raka langsung saja menahan tengkuk Alana. Raka memperdalam ciuman nya di bibir Alana.
"Masih manis Sayang" goda Raka sambil mengusap bibir Alana yang terkena saliva dengan ibu jarinya.
"Kau selalu saja mengambil kesempatan dalam kesempitan" ucap Alana sinis. Raka cuma tersenyum mengejek.
Akhirnya mereka turun kebawah, mereka melihat Arga yang akan ke dapur.
"kalian mau kemana" tanya Arga.
"Arga sekalian nitip dong kak, Arga lapar" ucap Arga memelas sambil memegangi perutnya.
"ya sudah, tunggu kakak akan membelinya" jawab Alana.
"Huh, menyusahkan" dengus Raka kepada Adek nya. langsung saja dapat cubitan dari Alana.
"Rasain, yang kencang kak Alana" ucap Arga mengompori Alana.
"Awwww.... sssshhh, sakit Sayang" desis Raka mengusap usap bekas cubitan Alana di lengan nya.
"Jangan begitu lagi sama Adiknya" ucap Alana tegas. setelah melepaskan cubitannya
"Wleee" ejek Arga.
"Awas kau" sengit Raka sambil menatap tajam Arga.
"Udah ayo kita jalan Sayang" Ajak Alana.
*
*
__ADS_1
*
Raka sudah menjalankan mobilnya mencari penjual martabak.
"Sayang, nanti aku mau kamu yang membuat martabaknya ya" ucap Alana. Raka mengernyit.
"Mana aku bisa Sayang, biar abangnya aja yang bikin ya" ucap Raka.
"Tapi baby mau papa nya yang membuatkan nya." ucap Alana kekeh. Raka menghela nafas panjang, kalau sudah begitu mau tidak mau dia harus menuruti keinginan istrinya itu.
"Cih, masih di kandungan saja sudah ngerjain papa nya mulu, punya dendam apa sih kamu sebenarnya nak" dumel Raka dalam hati.
Raka cuma berani ngedumel dalam hati, kalau ngomong langsung bisa bisa singa betina ngambek.
"Baiklah, kau menang baby" ucap Raka pasrah.Alana tersenyum senang.
"Makasih papa" ucap Alana menirukan suara anak kecil. Raka tersenyum sambil mengusap kepala Alana.
Mobil mereka sudah sampai di depan gerobak penjual martabak. Mereka berdua turun dari mobil.
"Pak, saya mau beli martabak manis rasa keju, tapi saya mau suami saya yang bikin, boleh ya pak" ucap Alana memohon.
"Boleh ya pak, istri saya lagi ngidam"Raka ikut menimpali ucapan Alana.
"Iya mas, silahkan" ucap penjual martabak.
"Makasih pak" ucap Alana.
Kini Raka sudah berdiri di depan pen, dia menuangkan adonan sesuai arahan dari penjual martabak. Kemudian Raka menunggu hingga keluar lubang kecil kecil, setelah keluar lubang kecil kecil ia menaburkan dengan gula pasir dan ia diamkan hingga matang.
Setelah matang Raka mengolesi martabak dengan margarin, lalu ia kasih dengan parutan keju di atasnya sesuai keinginan Alana.
Raka mengelap keringatnya yang ada di dahi. Cukup melelahkan bagi seorang yang tidak pernah berkutat dengan dapur.
"Sudah Sayang" ucap Raka sambil menyodorkan tiga bungkus martabak ke Alana.
"Terima kasih Sayang, ayo kita pulang" ajak Alana.
Raka menyodorkan beberapa lembar uang kertas merah ke penjual.
"Ini kebanyakan tuan" ucap penjual mencoba mengembalikan uang Raka.
"Tak apa Pak, itu buat Bapak karena sudah mengijinkan saya membuat martabak pesanan Istri saya" ucap Raka sambil tersenyum tulus.
"Terima kasih tuan, Semoga bayi nya sehat sampai lahiran nanti" ucap penjual mendoakan Raka sebagai ucapan terima kasih.
"Amin" ucap Raka mengaminkan doa tersebut.
Raka dan Alana pergi meninggalkan lapak penjual martabak.
Bersambung
__ADS_1
***Yang sabar dengan keinginan baby nya Raka, semoga penderitaanmu cepat berlalu.๐
Jangan lupa banyakin koment guys๐***