PERJODOHAN DENGAN CEO

PERJODOHAN DENGAN CEO
BAB 72


__ADS_3

Sore hari waktu sudah menunjukan pukul lima sore, tiba waktunya jam pulang kerja.


Sherli membereskan semua berkas yang berserakan di depan mejanya. Ia akan mengerjakan beberapa berkas yang belum selesai esok hari, dia takut kalau pulang kemaleman nanti tidak mendapatkan angkot.


Sherli sudah tidak mendapatkan fasilitas dari kedua orang tuanya, karena hasutan dari kakak kandung nya yang bernama Sera, dia iri dengan kecantikan serta kecerdasan adik nya.


Sherli berpamitan dengan Alex terlebih dahulu, sebelum ia keluar dari ruangan Alex.


"Pak, saya pulang duluan ya" ucap Sherli. Alex mengangkat wajah nya menatap ke arah Sherli, Alex melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, dia tak menyadari kalau sudah waktunya pulang.


"Iya, hati-hati di jalan" sahut Alex. Sherli mengangguk kemudian melangkahkan kakinya beranjak dari ruangan Alex.


Sedangkan di ruangan Alex. Alex juga siap-siap untuk pulang, ia akan berkunjung ke rumah sahabat nya yaitu Andre. Dia sudah di kabari kalau sahabat nya itu sudah tiba di tanah air.


Alex merapihkan berkasnya, kemudian mematikan laptop. Ia beranjak dari tempat duduk nya sambil membawa tas kerja nya .


Alex keluar ruangan nya, dia akan turun ke basment dengan menggunakan lift. Pintu lift terbuka, Alex pun masuk kedalam. Setelah pintu lift tertutup Alex memencet tombol yang akan membawanya ke basment.


Ting


Lift tiba di basment, Alex keluar dari lift kemudian berjalan menuju mobil nya, Alex jarang menggunakan sopir kecuali kalau dirinya sedang capek atau gak sedang malas menyetir, baru dia akan menggunakan mobil.


Alex membuka pintu mobil nya, kemudian ia duduk di kursi kemudi. Kaki Alex mulai menginjak pedal gas untuk melajukan mobilnya.


Alex melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, Mobil Alex sudah keluar dari basment perusahaan, ia melihat Sherli berdiri di halte seperti sedang menunggu angkutan umum.


Alex terkadang bertanya pada dirinya sendiri, bukankah Sherli anak orang kaya, kenapa dia selalu pulang pergi dengan menggunakan angkutan umum, Alex sangat tahu kondisi ekonomi keluarga Alana istri sahabat nya itu.


Bip


Bip


Bip


Sherli melihat mobil mewah yang mendekati dirinya yang sedang berdiri di halte, Sherli sudah lumayan lama berdiri di halte, akan tetapi angkot yang di tujunya tak kunjung datang.


__ADS_1


Alex menghentikan mobil nya tepat di depan Sherli, Alex menurunkan kaca jendela mobilnya.


"Masuklah, jam segini biasanya sudah jarang angkutan umum lewat." ucap Alex.


"Tak apa pak, saya menunggu angkot saja" sahut Sherli sedikit membungkuk melihat Alex yang berada di kursi kemudi.


"Masuk atau aku akan memaksamu" ancam Alex. Sherli akhirnya patuh kepad perintah Alex, ia tak mau mencari gara-gara pada bos galak nya.


Alex kembali melajukan mobilnya menyusuri jalanan kota yang lumayan ramai orang beraktivitas.


"Dimana alamat rumahmu" tanya Alex.


"Di perumahan Xx" sahut Sherli, Alex mengerutkan dahinya. Alamat yang di sebutkan Sherli termasuk kawasan elit, lantas kenapa keadaan Sherli berbanding balik. Sepertinya ada yang tidak beres yang terjadi dalam kehidupan sekretarisnya itu.


Alex akan mencari tahunya nanti, ia akan bertanya kepada Alana terlebih dahulu, siapa tahu dia tahu dengan kehidupan sepupunya ini.


Alex melajukan mobilnya ke alamat yang sudah di tujukan oleh Sherli.


Tak lama mobil Alex tiba di halaman pekarangan rumah Sherli yang cukup luas. Alex melihat ada sebuah mobil terpakir di halaman itu, sepertinya sedang ada tamu.


"Terima kasih pak" ucap Sherli kepada bos nya sebelum ia turun dari mobil.


"Memangnya bapak mau mampir" tanya Sherli ragu. Sherli tak mau nanti kakak nya itu akan buat ulah lagi.


"Jika di perbolehkan dengan senang hati saya akan mampir honey" jawab Alex dengan senyum jenaka. Sherli mencebikan bibirnya, bos nya ini terlalu banyak mau nya.


"Ya sudah ayo" ajak Sherli ketus.


*


*


*


Sedangkan Andre di rumah nya begitu kesal kepada sahabatnya yang satu itu. Dia sudah berjanji mau datang tapi sudah pukul jam tuujuh malam tak juga kelihatan batang hidung nya.


"Alex kemana Ndre, bukankah kau sudah menyuruh nya untuk kesini" tanya Raka sambil memangku baby Narendra yang sedang memainkan air liur nya

__ADS_1


"Tidak tahu, katanya tadi dia sudah keluar kantor, tapi sampai sekarang belum juga datang dia" kesal Andre.


"Coba kau telpon, takutnya nanti terjadi sesuatu dengan nya" saran Raka. Andre menuruti saran Raka, ia mengambil ponsel dari sakunya.


Andre menghubungi Alex sebanyak tiga kali namun tak kunjung di angkat.


"Sial, dia tak juga mengangkatnya" gerutu Andre.


"Sudahlah biarin saja, nanti juga ia mengabari kita" sahut Raka sambil sesekali menggoda putra nya yang tengah tertawa itu.


"Anak papa ngantuk ya sayang" ucap Raka kepada putranya yang sudah beberapa kali menguap. Andre gemes melihat wajah tampan putra shabatnya itu.


"Ka boleh tidak aku menggendong nya" pinta Andre dengan tatapan memohon, ia ingin mencoba menggendong bayi tampan itu.


"Tidak boleh, kau buat saja sendiri" jawab Raka dengan tingkah posesifnya itu.


"Kau itu pelit sekali, awas saja nanti jika aku mempunyai baby, kau tak akan aku perbolehkan untuk menggendongnya" Andre merajuk, ia kesal dengan Raka yang tak diperbolehkan menggendong putranya.


"Tidak akan, kalau twins sudah besar aku akan membuat baby lagi, jadi aku tak akan meminjam bayimu, karna setiap tahun aku akan menyurih Alana melahirkan benihku" ceplos Raka yang dapat lemparan bantal dari Alana.


Dari tadi Alana dan Chika membiarkan kedua suaminya itu mengobrol, sedangkan Alana memilih mengobrol bersama Chika, sekalian bermain dengan baby Nay.


"Enak saja aku di suruh hamil terus, memangnya kau kucing, kamu sih enak tinggal buat tanpa merasakan mengandung dan melahirkan" omel Alana. Membuat Raka menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.


Raka niatnya hanya bercanda saja dengan Andre, tapi sialnya istri cantiknya itu mendengar ucapan nya.


"Iya sayang, tapi nambah dua lagi tak masalah kan mam" ucap Raka. Ia ingin mempunyai banyak anak, supaya nanti mansion nya rame dengan celotehan dan aktivitas putra putrinya itu.


"Tak ada nambah nambah" sungut Alana.


"Kau bisa bilang gitu sayang, tapi nanti di kamar juga kau nurut dan menikmati" ceplos Raka tanpa filter. Alana malu mukanya sudah memerah seperti kepiting rebus, kebiasaan suaminya itu kalau bicara suka asal.


"Sumpah, itu bukan suamiku" ucap Alana yang seolah tak mengakui suaminya. Raka mendelik mendengar penuturan istrinya, sedangkan Andre dan Chika sibuk menahan tawanya supaya tidak pecah.


**Bersambung


Jangan lupa follow akun author ya guys🙏

__ADS_1


Happy reading🙏**


__ADS_2