
Sherli keluar dari rumahnya dengan muka cemberut, ia kesal dengan tingkah Sera tiap harinya, yang membuat kesal lagi mamanya selalu membelanya sudah jelas-jelas kakanya itu salah, masih saja di bela gimana kaka nya ngga makin nglunjak.
Sherli membuka pintu mobil Alex, kemudian ia duduk di sebelah kursi kemudi.
Bugh
Sherli menutup pintu mobil dengan begitu keras, membuat Alex terlonjak kaget mengelus dadanya.
"Hai, kalem nona" tegur Alex sambil menatap Sherli heran.
"Jalan pak" titah Sherli, ia tak peduli sudah menyuruh nyuruh bos nya itu, mood ia pagi ini sangat buruk.
Alex hanya mengangguk menurut, percuma juga bertanya sama wanita yang sedang marah. Yang ada mah ntar dirinya yang kena getahnya.
Di sepanjang perjalanan tak ada obrolan sama sekali di mobil itu, Sherli hanya sibuk melihat ke arah jendela kaca mobil.
Hingga tiba di kantor pun Sherli masih saja diam. Sherli membacakan agenda harian Alex, dan memberikan berkas yang perlu tanda tangan Alex. Sherli hanya bicara seperlunya saja.
Alex yang sudah tidak tahan pun menarik lengan Sherli yang hendak keluar dari ruangannya. Sherli pun berbalik menghadap Alex.
"Kamu kenapa? dari tadi kau mendiamkan ku apa aki mempunyai salah sama kamu hm" tanya Alex lembut sambil melihat wajah cantik Sherli.
"Tidak, saya hanya kesal saja dengan kak Sera" jawab Sherli.
"Terus kenapa kamu dari tadi mendiamkanku" cecar Alex.
"Memangnya saya harus berbicara apa? lagian saya lapar makanya malas berbicara" lirih Sherli lalu menunduk malu. Dia memang lapar karena tadi tak sempat sarapan, jadi dia malas ngomong. Alex terkekeh dengan tingkah konyol Sherli.
"Kenapa dari tidak bilang," ucap Alex
"saya malu pak, aelah" ketus Sherli bos nya ini tidak tahu apa kalau dirinya malu, ya kali harus bilang kalau dirinya lapar. Alex mengangkat dagu Sherli sehingga membuat wajah Sherli mendongak menatap Alex.
"Pesan makan dulu gih, karena aku tak mau kau mendiamkan aku terus" titah Alex.
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau saya mendiamkan bapak?" tanya Sherli polos. Dia memang tak mengerti maksud Alex.
"Dasar tak peka" kesal Alex lalu berjalan menuju kursi nya kembali. Sherli melongo melihat tingkah kekanakan Alex, memang apa salahnya ngomong langsung.
"Kenapa bapak tak ngomong langsung saja, supaya saya nya tahu pak, bapak selalu bilang kalau saya tak peka terus" Sherli memberanikan diri mengomeli Alex.
"Kamu mau tahu yang sebenarnya hmm" tanya Alex menatap intens mata Sherli. Sherli mengangguk karena memang dirinya penasaran apa yang di maksud Alex.
"Aku mencintaimu honey" ucap Alex serius. Sherli mematung mendengar pernyataan Alex.
"Hah, jangan bercanda pak, ini masalah hati seseorang jadi bapak jangan ngaco" sahut Sherli tak percaya, soalnya bos nya itu belum terlalu lama mengenal dirinya, masak iya tiba-tiba menyatakan cintanya.
"Siapa yang becanda sih, aku serius mencintai kamu" ucap Alex dengan penuh penekanan.
"Sejak kapan" tanya Sherli memastikan. Sherli tak mau gagal lagi seperti dulu.
"Sejak pertama kali kau masuk kesini aku sudah tertarik denganmu, bukankah aku juga sudah mencuri ciuman pertamamu honey" jawab Alex dengan sedikit menggoda Sherli.
"Memangnya kenapa?, aku sangat menyukai bibirmu itu" ucap Alex sambil mengusap bibir tebal Sherli dengan menggunakan ibu jarinya. Sherli merinding merasakan usapan jari Alex di bibirnya.
*
*
*
Di kantor Raka orang tua Jessy kembali mendatanginya, kalau kemarin mereka datang ke rumahnya, sekaramg datang langsung ke kantor Raka.
Sepasang psangan paruh baya itu menghampiri meja resepsionist.
"Ada yang bisa di bantu tuan, Nyonya" sapa resepsionist.
"Kami ingin bertemu dengan tuan Raka" jawab papa Jessy.
__ADS_1
"apa sebelumnya tuan sudah membuat janji dengan beliau? Tanua resepsionist.
"Belum, tapi kami ada keperluan yang sangat penting dengan nya" desak papa Jessy.
"Maaf tuan, kalau belum ada janji anda tidak bisa bertemu dengan beliau" ucap reseptionis. Resepsionist hanya menjalankan perintah yang di berikan oleh Andre sebelumnya, Raka hanya ingin bertemu dengan orang-orang yang memang mempunyai kepentingan dengan nya saja.
"Kenapa tidak bisa, coba situ tanyakan saja dulu dengan beliau" maksa papa Jessy menyuruh reseptionist untuk menghubungi Raka. Resepsionist menghela nafas sabar, akhirnya dengan sangat terpaksa ia menghubungi Andre Asisten Raka.
"Hallo pak, ada orang tua nona Jessy yang mau bertemu dengan tuan Raka" ucap resepsionist setelah panggilanya tersambung.
"Suruh tunggu di bawah teelebih dahulu, saya akan menanyakan nya dengan tuan Raka" jawab Andre dari sebrang telpon.
"Baik pak" ucap resepsionist kemudian menutup panggilannya.
"Tunggu sebenar pak, Asisten tuan Raka akan menanyakannnya terlebih dahulu kepada tuan Raka, kalian tunggu saja di sebelah sana terlebih dahulu" ucap resepsionist lalu menunjuk sofa yang ada di ruang tunggu.
Andre keluar dari ruangannya menuju ke ruangan Raka, karena Raka tak mengangkat panggilan telponya.
Ceklek...Andre membuka pintu ruangan Raka.
"Ka, di bawah ada orang tua Jessy yang ingin bertemu denganmu" ucap Andre setelah masuk kedalam ruangan Raka.
Raka menghela nafas panjang lalu berkata "Bisa ngga sih di usir aja Ndre, bilang dengan nya aku tetap tidak akan melepaskan Jessy" sahut Raka, dia tidak mau ambil resiko.
"Kau serius tak akan menemuinya dia orang tua lho Ka" tanya Andre memastikan. Bagaimanapun juga sebelumnya Raka sudah mengenal orang tua Jessy dengan baik.
"Tidak, kau saja yang menemui mereka, bilang saja kalau aku sedang sibuk." kesal Raka.
Andre pun patuh, begitulah Raka kalau sudah tidak menyukai seseorang ia tidak akan bersikap pura-pura baik pada orang itu.
Bersambung
Happy reading guys🙏
__ADS_1