
Pagi hari semua penghuni di rumah Raka sudah pada bangun, suara anak-anak yang sedang bermain memenuhi setiap sudut ruangan tersebut, mereka sangat antusias ingin di aja jalan-jalan....terlebih selama pandemi ini mereka jarang sekali bermain keluar rumah.
Sedangkan para suami membantu para istri memasukkan semua barang bawaannya ke bagasi mobil.
"Sudah semua belum yang?" tanya Raka.
Alana mengecek satu-satu barang bawaanya terutama milik anak-anaknya jangan sampai ketinggalan. "Sudah semua sayang, lagian kita hanya pergi dua hari saja, jadi tak perlu membawa barang terlalu banyak bukan" jawab Alana.
"Iya sayang, yang penting keperluan anak-anak jangan sampai terlewat, karena kita pergi ke pulau bukan ke kota yang sewaktu-waktu kita bisa beli" ucap Raka.
Mereka memang harus prepare apa lagi membawa anak, karena tak semua makanan yang tersedia di sana belum tentu di sukai anak-anak.
Tanpa mereka sadari dari tadi ada yang mengintai di depan rumah Raka, dia adalah orang suruhan Jessy...untuk kali ini Jessy dan Aldi bergerak cepat. Mereka berfikir semakin cepat mereka bertindak maka semakin cepat pula mereka akan melihat Raka sengsara.
Terlihat satu persatu mobil keluar dari pekarangan rumah Raka, mereka menggunakan tiga mobil, satu mobil berisi satu keluarga masing-masing.
Mereka mengemudikan dengan kecepatan sedang menuju ke pelabuhan. Orang suruhan Jessy masih setia mengikuti mereka hingga ke pelabuhan.
Tiba di pelabuhan Raka dan sahabatnya membawa semua istri serta anak-anak nya menaiki kapal untuk menyebrang ke pulau.
Anak buah Jessy yang melihatnya pun mencoba menghubungi Jessy terlebih dahulu.
"Hallo Nyonya" sapa orang itu menyapa Jessy dari sambungan telponnya.
"Katakan" sahut Jessy dari sebrang telpon.
"Mereka pergi ke pelabuhan, setelah itu menaiki kapal, sepertinya mereka akan pergi ke sebuah pulau" adunya.
"Kamu ikuti terus mereka....ini kesempatan bagus untuk kita menculik salah satu anak mereka. Kamu pantau terus mereka hingga mereka lengah barulah kalian bergerak" ucap Jessy.
"Baik nyonya" sahut orang itu patuh.
__ADS_1
Orang suruhan Jessy pun menyewa kapal untuk mengikuti mereka. Mereka tak boleh gagal karena Jessy membayar mahal mereka untuk pekerjaan ini.
Di kapal Raka semua anak antusias menatap air laut yang nampak ada beberapa ikan yang sedang berenang.
"Woww.....lihat Ala, itu ada ikan na sedang belenang" takjub Nay melihat ikan yang bergerombol.
Semua anak-anak antusias mendekati Nayla yang berada si pinggir kapal bersama papanya.
"Meleka indah cekali" pekik Ara sambil bertepuk tangan melihat ikan.
Para orang tua tersenyum melihat kebahagiaan mereka, tak perlu memberikan barang-barang mewah, hanya melihat ikan berenang di laut saja mereka sudah sangat bahagia.
"Cih, kampungan...lihat ikan saja sampai heboh" cibir Narendra.
Ara yang mendengarpun langsung menoleh dan melototkan matanya menatap Narendra sambil berkacak pinggang "Bialin, mata-mata kita telus tenapa abang lepot" sahut Ara nyolot.
Semua orang tua menepuk dahinya, Narendra selalu menyulut emosi Ara anak Andre.
"Yang aneh itu abang, nda pelnah senyum sepelti nda pelnah bahagia saja" ejek Ara. "tacihan sekali, mana macih tecil" Ara tersenyum miris melihat wajah kaku Narendra.
"Maksud kamu apa ha" galak Narendra.
"Lihat papi, sepeltinya abang Nalen cudah mulai gila" ceplos Ara.
Raka melototkan matanya mendengar ucapan pedas dari putri sahabatnya itu, bisa-bisanya putranya yanh ganteng itu di katai gila.
Andre menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia merasa tak enak dengan ucapan putrinya yang menghina anak tuannya itu.
"Awas kami aku akan membalasmu" ancam Narendra memilih pergi dari pada meladeni mulut pedas Ara karena dia tak akan pernah menang melawannya.
"Siapa tatut, Ala nih boss...senggol dong" tantang Ara tak kalah angkuh.
__ADS_1
Alana menahan tawanya, dia tersenyum geli melihat putranya yang kalah telak dengan Ara.
"Sumpah keberanian putrimu patut di acungi jempol Chik, dia bisa mengalahkan putraku yang datar dan dingin itu" ucap Alana geleng-geleng kepala.
"Apaan sih Al, gimana tidak menang orang tiap hari aja emak nya di ajak berargument terus" kesal Chika kalau teringat putrinya yang suka mengajak ribut.
Alana dan Sherli cekikikan membayangkan Chika yang frustasi menghadapi mulut pedas putrinya itu.
"Sepertinya aku harus menyuruh Ara untuk sering-sering mengajak Nay mengobrol atau baku hantam, putriku itu terlalu pemalu dan pendiam" keluh Alana.
"Jangan lupakan putraku yang selalu nempel sama aku kak, dia kan lepas kalau sudah ketemu temannya seperti saat ini" sahut Sherli.
"Harusnya kalian senang, kenapa kalian malah apda ngeluh, kalian akan pusing jika anak kalian berisik seperti Ara." balas Chika.
Chika merasa aneh dengan keluhan kedua temannya, dia belum merasakan bagaimana pusingnya Chika menghadpai putrinya yang super ngeyel nya itu.
"Bukankah justru akan membuat rumah fame Chik" ucap Alana dengan kening berkerut.
Chika menghela nafas "kamu kalau ingin merasakannya Al?, kau lihat saja tingkah Ara dua hari ini" sahut Chik. Alana dan Sherli mengangguk, mereka berdua penasaran dengan sikap barbar Ara.
Karena saking keasikan mengobrol sambil memperhatikan anak-anak yang edang bercanda dengan di temani oleh ayahnya, tak terasa kapal mulai menepi, tandanya mereka sudah sampai di pulau pribadi milik Raka.
Orang suruhan Jessy hanya bisa memantau dari kejauhan, karena mereka tak bisa masuk ke pulau pribadi milik Raka, pulau itu di jaga ketat oleh orang-orang Raka.
Raka memang sudah menyiapkan orang-orang nya untuk mengamankan acara liburan mereka di pulau pribadinya.
Setelah mendegar cerita Alex dia jadi lebih waspada menjaga keluarganya, dia tak mau sampai kecolongan seperti dulu yang menyebabkan sang istri kecelakaan.
Bersambung
Happy reading guys🙏
__ADS_1