PERJODOHAN DENGAN CEO

PERJODOHAN DENGAN CEO
BAB 85


__ADS_3

Empat tahun kemudian.


Twins kini sudah berumur 4,5 th, mereka sudah masuk sekolah paud.


Pagi hari di mansion mewah milik keluarga Wijaya tengah terjadi keributan. Narendra mengejar Nayla adiknya karena membawa lari sepatunya.


Nayla kesal karena abang nya sudah ngumpetin sepatunya ntah kemana, Nayla yang tak terima langsung saja mengambil sepatu abangnya.


"Nayla berhenti...bawa sini sepatuku" pekik Narendra yang terus mengejar Nayla memutari meja makan.


"Nda mau, abang caliin dulu sepatu Nayla" sahut Nayla dengan suara cadelnya. Nayla belum bisa mengucapkan huruf "R" berbeda dengan Narendra.


"Abang tidak tahu, bukan abang yang ngumpetin sepatu kamu" bohong Narendra.


Mereka terus saling mengejar, hingga tiba-tiba Raka mengangkat tubuh putrinya.


"Jangan lari-lari baby. Nanti kamu jatuh" peringatnya dengan suara lembut penuh kasih sayang.


"Papa Nayla sudah mengambil sepatuku, tapi tak mau mengembalikannya" ucap Narendra dari belakang dengan nafas ngos-ngosan.


"Bukan Nay pa, tapi abang yang lebih dulu ngumpetin sepatu Nay" kekeuh Nay sambil memegang sepatu Narendra tinggi-tinggi.


Raka menghela nafas sabar, kedua anaknya itu kalau di rumah tak pernah akur, tapi kalau salah satu dari mereka pergi maka akan saling menanyakannya.


Raka menjadi pribadi yang lain ketika berada di rumah, dia akan lembut dan penuh kasih sayang untuk keluarganya. Berbeda dengan Raka yang berada di luar Ruamah, dia akan memasang wajah datar tanpa ekspresi.


"Benar begitu bang? Kalau benar maka kembalikan dulu sepatu adeknya, baru nanti papa akan menyuruh Nay untuk mengembalikan sepatumu" ucap Raka lembut namun tegas.


"Wlee....sukulin, siapa suluh ngumpetin sepatu Nay" ejek Nayla.


"Dasar manja, biasanya cuma ngadu" kesal Narendra yanh di ejek adiknya itu.


Narendra berjalan ke ke dapur mengambil sepatu Nayla yang ia masukkan kedalam tong sampah. Setelah itu dia menghampiri adiknya itu yang masih di gendongan papanya.


"Nih sepatumu, sekarang mana sepatu abang" ucap Narendra sambil mengulurkan sepatu Nayla, sedangkan tangan satunya menutupi hidungnya karena sepatu Nayla yang bau sampah.


"Huwaaaa....Nay nda mau papa, sepatu Nay bau sampah, hiks hiks" Nay menangis karena sepatu kesayangannya bau sampah.


"Sudah jangam menangis baby, Nay kan masih punya sepatu yang lain, sementara Nay pakai sepatu yang lain dulu ya, nanti yang itu di cuci dulu" ucap Raka menenangkan putrinya.


Alana sedang mandi di kamarnya, karena dia telat bangun akibat ulah suaminya semalam.

__ADS_1


"Tulunin Nay papa, tulunin" Nayla memberontak dalam gendongan papanya. Dengan perlahan Raka menurunkan putrinya itu.


"Nay mana sepatu abang" pinta Narendra.


Nayla tak memperdulikan abangnya, setelah papanya menurunkannya Nayla langsung lari ke taman belakang sambil membawa sepatu abangnya, lalu melemparkannya ke kolam renang.


"Nayla..." pekik Narendra memenuhi mansion.


"Lasain, siapa suluh abang buang sepatu Nay ke tempat sampah" ketus Nayla. Setelah itu dia berjalan memasuki ruang makan.


Narendra masuk ke ruang makan sambil menekuk wajahnya, ia marah sepatu kesayangan nya di lempar ke kolam renang.


"Ada apa ini bang, masih pagi wajahnya sidah di tekuk begitu" tanya Alana yang baru tiba di ruang makan.


"Sepatu abang di lempar ke kolam renang sama Nay mama, hiks" adunya kepada Alana.


Alana menghela nafas, dia pusing dengan tingkah kedua buah hatinya, tiada hari tanpa baku hantam.


"Abang duluan yang membuang sepatu Nay ke tong sampah mama" sahut Nay tak terima.


"Gelud saja terus, lama-lama mama buang semua sepatu kalian" ancam Alana.


"Jangan" teriak mereka bersamaan.


"Makanya jangan berantem terus, mama pusing kalau kalian berantem terus, bisa-bisa mama cepet tua karena sering marah-marah" omel Alana.


"Masih pagi jangan ngomel terus sayang" ucap Raka. lalu menarik lengan Alana supaya duduk di sebelahnya.


Sejak dua tahun yang lalu Raka memutuskan untuk tinggal di mansionnya sendiri, meskipun berat tapi mama Ella akhirnya mengijinkannya, karena Raka kekeuh ingin bisa mandiri menjalani rumah tangganya dengan Alana dan juga twins.


"Makan makanan kalian sayang, setelah itu mama akan mengantarkan kalian kesekolah" titah Alana.


"Baik mama" sahut mereka bersamaan.


Sedangkan di rumah Chika dan Andre juga terjadi perdebatan, bedanya ini Chika dengan anaknya, karena merka masih memiliki satu putri yang di beri nama Arabella baru berumur tiga tahun.


"Sayang bangun, kamu harus sekolah nanti telat" Chika berusaha membangunkan putrinya yang tak mau bangun.


"Ala hali ini libul mami, Ala malas belajal telus" sahut Ara yang masih memjamkan matanya.


"Terus kalau ngga mau sekolah maunya apa? Anak kecil itu ya kerjaanya sekolah" omel Chika.

__ADS_1


"Anak kecil itu keljaanya belmain mami, bukan cekolah" balas Ara membuat Chika makin kesal. Ara memang sedikit ngeyel kalau di kasih tahu.


"Bangun, atau mama akan membuang semua mainanmu" ancam Chika yang sudah tidak bisa sabar lagi sama anaknya.


Ara langsung membuka matanya setelah mendengar ancaman maminya.


"Janan mami, ini Ala cudah banun" pekik Ara yang sudah membuka matanya lalu bangkit dari tempat tidurnya.


"Sekarang masuk ke kamat mandi, mami akan membantumu mandi" ucap Chika dengan senyum penuh kemenangan, ia sudah tahu kelemahan putrinya yang pemalas itu.


"Cekolah lagi, cekolah lagi, bica nda cih sehali aja libul, Ala malas belajal" dumal Ara sambil berjalan memasuki kamar mandi. Chika menggelengkan kepalanya melihat putrinya yang pemalas.


Chika membantu Ara menggosok gigi, lalu membantunya mandi, setelah selesai Chika memakaikan seragam sekolah putrinya yang dari tadi memanyunkan bibirnya.


Usai selesai semua Chika menggendong Ara dan membawanya turun ke ruang makan, terlihat Andre sudah duduk di meja makan.


"Celamat pagi papi" sapa Ara kepada papinya.


"Selamag pagi girls, kenapa manyun hmm" sahut Andre sambil mengecup puncak kepala putrinya.


"Anakmu ngga mau bangun, katanya malas pergi ke sekolah" adu Chika kepada suaminya.


"Ala bukan malas papi, Ala cuma mau ijin nda macuk sehali" kilah Ara.


"Yee...apa bedanya" protes Chika sambil mengambilkan makan untuk Andre.


"kenapa ijin, memangnya Ara sakit" tanya Andre.


"Ala cuma takut pintal papi, kan nda enak cama teman Ala" sahut Ara asal.


"Cih, pintar apaan....satu tambah satu saja mikirnya sejam" ledek Chika.


Andre hanya tersenyum melihat perdebatan mereka, seru saja melihat perdebatan anak dan maminya itu.


"Ya kan halus di pikilkan matang-matang, cupaya jawaban Ala nda salah" ngeyel Ara sambil mengunyah roti nya.


Andre terkekeh melihat wajah kesal Chika.


"Ngeles aja terus kek bajai," kesal Chika.


Bersambung

__ADS_1


Happy reading guys🙏


__ADS_2