PERJODOHAN DENGAN CEO

PERJODOHAN DENGAN CEO
BAB 76


__ADS_3

Andre pun patuh, begitulah Raka kalau sudah tidak menyukai seseorang ia tidak akan bersikap pura-pura baik pada orang itu.


Andre pun patuh dengan perintah Raka, ia turun ke lobby untuk menemui ke dua orang tua Jessy. Andre sebenarnya juga malas mengurusi masalah Raka dan Jessy yang gak kelar-kelar, sudah di penjara masih ada aja masalahnya.


"Selamat siang tante om," sapa Andre menyapa kedua paruh baya tersebut.


"Selamat siang nak. Apa kami bisa bertemu dengan Raka" sahut mama Jessy kemudian bertanya kepada Andre.


"Maaf tante, Raka tidak mau mencabut berkas kasusnya terhadap Jessy" jawab Andre to the point, Andre tak tega melihat wajah ibu sambung Jessy yang terlihat sedih mendengar ucapan Andre.


"Apa tak bisa di pertimbangkan lagi nak" pinta ibu Jessy dengan tatapan memohon. Andre pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Ibu Jessy menghela nafas sabar, ia tak bisa memaksa Raka jika itu terjadi dengan nya mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama dengan Raka.


Beda dengan papa Jessy yang tak terima dengan keputusan Raka. Dia merasa terhina karena Raka tak mau turun langsung menemuinya, ia malah menyuruh asistennya.


"Terus dimana Raka, bawa saya menemui dia" sahut ayah Jessy tak terima.


"Raka tak bisa di temui om, dia lagi sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Lagian keputusan Raka sudah bulat kalau dia tidak akan mencabut berkas kasus Jessy." jawab Andre tagas.


"Aku tetap tidak terima, kalian sudah memperlakukan putriku dengan cara tidak adil" sentak papa Jessy.


"Tidak adil bagaimana sih om, putrimu sudah merencanakan pembunuhan terhadap istri Raka. Saya rasa penjara sudah cukup adil sebagai hukumannya. Kalau anaknya tak mau di hukum harusnya om bisa lebih tegas dalam mendidik putri om" sarkas Andre dengan senyum remeh sambil menatap papa Jessy.


"Sudah pa, ini memang sudah menjadi konsekuensi dari tindakan Jessy" ucap mama sambung Jessy sambil mengelus bahu suaminya.


"Tapi hanya Jessy putri papa satu-satunya ma" lirih papa Jessy dengan raut wajah menyesal.


"Tapi kita juga tidak bisa memaksa kehendak kita ke Raka pa, bagaimanapun di sini Raka lah yang tersakiti" sahut mama sambung Jessy yang masih waras.


"Aku masih tidak terima" ucap papa Jessy kemudian mengajak istrinya pergi meninggalkan perusahaan Wijaya.


"Terserah, sudah tahu anaknya salah masih saja di bela, dasar orang tua nda punya otak" umpat Andre.


Andre berjalan memasuki lift, ia memilih kembali ke ruangan nya untuk mendinginkan otak nya yang sempat panas akibat ulah dari orang tua Jessy.


"Dasar nenek lampir, sudah di penjara masih saja menyusahkan" gerutu Andre.


Ting

__ADS_1


Lift tiba di ruangan Andre. Kemudian ia keluar dari lift dengan muka di tekuk, semua karyawan yang bekerja di lantai itu tak ada yang berani menegurnya.


Brakkk


Andre mendobrak pintu ruangan Raka, membuat Raka yang sedang fokus mengerjakan berkasnya terlonjak kaget.


"Kau apa-apan sih Ndre, ngagetin saja" kesal Raka melihat tingkah Andre.


"Tentu saja aku sedang kesal dengan pak tua itu" sahut Andre seraya menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


"Pak tua siapa? Kau itu kalau bicara yang jelas" ucap Raka.


"Tentu saja mantan calon mertuamu itu, untung kau tidak jadi menikah dengan mak lampir itu, kalau jadi aku akan mencoret dari daftar sahabatku" ucap Andre dengan menggebu-gebu.


Raka melempar gulungan kertas ke wajah Andre.


"Silahkan saja kau mencoretku, aku tinggal memecatmu saja, gampang bukan" sahut Raka.


"Tak masalah, aku bisa bekerja di perusahaan papa" balas Andre dengan senyum menyeringai. Ia tahu kalau Raka tak semudah itu melepas dirinya., mana ada orang yang betah bekerja dengan Raka yang arogan.


"Sialan" umpat Raka, sedangkan Andre tertawa mengejek.


Menjelang sore Alex membereskan pekerjaannya, ia akan mengantar Sherli pulang, dan sekalian akan meminta restu kepada kedua orang tua Sherli. Alex sudah lelah bermain perempuan, ia akan mengikuti kedua jejak sahabatnya yang sudah menikah terlebih dahulu.


Alex pergi meninggalkan ruangannya, ia masuk ke dalam ruangan Sherli.


Ceklek.... Alex membuka pintu ruangan Sherli, ia melihat Sherli yang sedang berbenah.


"Ayo kita pulang" ajak Alex kepada Sherli.


"Tunggu sebentar" sahut Sherli yang masih merapihkan tumpukan berkas yang ada di atas mejanya.


Setelah selesai baru ia mengambil tas nya kemudian beranjak dari meja kerjanya.


"Ayo" ajak Sherli. Alex merangkul pinggang ramping Sherli, kemudian membukakan pintu untuk Sherli.


Sherli merasa risih di perlakukan Alex seperti itu, terlebih masih di area kantor, dia takut jadi bahan gu jingan karyawan kantor.

__ADS_1


"Jangan seperti ini pak" ucap Sherli seraya menyingkirkan tangan Alex yang ada di pinggang nya.


"Memangnya kenapa" tanya Alex.


"Tidak enak pak di lihat karyawan lain" jawab Sherli.


"Biarin saja, kenapa mesti tidak enak" sahut Alex cuek. Alex tidak pernah mengurusi omongan orang, apa lagi itu karyawannya. Kalau berani membuat ulah tinggal Alex pecat saja.


Begitulah Alex, tak jauh beda dengan sifat Raka yang sama-sama arogan dan juga sombong


Tiba di basment Alex langsung membukakan pintu mobil buat Sherli, setelah itu ia memutari mobilnya lalu membuka pintu tepat di kursi kemudi.


Alex menjalankan mobilnya pergi meninggalkan perusahaan nya. Ia menjalankan mobilnya dengan sedikit lambat, ia ingin menikmati waktu kebersamaan dengan Sherli berdua di mobil.


Alex menyetir sambil menggengam tangan Sherli, sesekali ia menciuminya. Sherli menurut saja protes pun percuma ia selalu kalah dengan Alex.


"Aku akan meminta restu kepada kedua orang tuamu untuk menikahimu secepatnya" ucap Alex tiba-tiba.


Dhuarr


Sherli kaget mendengar ucapan spontan Alex, dadanya bersebar lebih kencang dari biasanya. Ia menatap kosong ke depan.


Sherli merasa ini semua hanya mimpi, bagaimana mungkin bosnya akan langsung menikahinya.


Bersambung


Happy reading guys🙏


Jangan lupa


Like


Koment


Vote


Biar othor semangat up nya🙏

__ADS_1


__ADS_2