Permaisuri Rebutan

Permaisuri Rebutan
Dibilang gadis gila


__ADS_3

Sore hari


Kota depan Kekaisaran Li, Kekaisaran besar dan luas yang mencakup puluhan kota. Wilayah kekaisaran ini semua kebanyakan pedataran dan jarang ada kawasan perairan.


Satu buah kereta berjalan memasuki kota itu dengan kecepatan sedang. Tampak para rakyat berlalu lalang yang berada di sekitar jadi berhenti dan memarhatikan kereta besar yang dikenal mereka itu.


Para rakyat jadi berbisik-bisik mengenai orang yang berada dalam kereta sudah tentu mereka ketahui.


"Mengapa Pangeran kita kembali lagi secepat itu,"


"Apa yang terjadi di Kekaisaran Wexi?"


"Kata orang-orang pesta topeng malam tadi dibubarkan dengan cepat karena kemunculan Putri Fung Si yang lepas dari hukuman pengasingan dan masalah keguguran kandungan Selir Qian Yu," bisik-bisik para rakyat yang berada disitu.


Tiba-tiba kereta kuda tadi berhenti tepat di depan bangunan besar yang memiliki tiga tingkat lantai. Tiga orang keluar dari kereta itu secara bergantian.


Saat semuanya sudah keluar, para rakyat yang melihatpun jadi heboh karena menangkap sosok gadis memakai cadar hitam dan satunya tidak terlalu mereka pedulikan.


"Ayo," ajak Huang Li langsung merangkul pundak Fung Li dari samping membuat gadis itu sedikit terkejut.


Semua rakyat sekitar yang melihat bertambah terkejut. Mereka begitu penasaran siapa gadis memakai cadar yang membuat Pangeran mereka rela merangkulnya di depan umum.


Aku harus bersabar sampai mencapai tujuanku, batin Fung Li.


Fung Li pun terpaksa menerima perlakuan Pria yang membawanya berjalan masuk dalam bangunan besar. Silli hanya bisa mengikuti dari belakang kemana perginya sang junjungan.


***


Kekaisaran Wexi


Di sebuah kamar mewah yang di lengkapi dengan perabotan serba emas. Di dalam kamar itu terdapat dua orang yang berbicara tampak serius.


"Kau lakukan rencana dengan baik, jangan sampai gagal," lontar sosok gadis


yang berdiri di depan jendela sedang menatap pemandangan luar.


"Tentu saja Putri, sesuai keinginan anda salah satu anak buah kita sudah berada di sana," sambung orang yang berada di belakang gadis itu.


"Bagus, aku ingin gadis jelek itu musnah saja dari dunia ini, sungguh menganggu," ocehnya menyunggingkan senyum sinis.




Di bangunan bertingkat tiga yang berada di Kekaisaran Li, tiga orang keluar dari dalam situ dengan penampilan semulanya.



Mereka bergantian masuk dalam kereta yang berada depan bangunan itu. Namun saat gadis yang memakai cadar ingin mengangkat kaki naik kekereta tiba-tiba berhenti.



"Pangeran, apa tempat Kerajaanmu masih jauh dari sini?" tanya Fung Li menghentikan gerakan sebelah kakinya yang ingin naik kekereta.



Sontak Pangeran Huang Li yang sudah berduduk di dalam kereta kembali memunculkan dirinya dan turun dari kereta.



Silli yang sudah masuk dalam kereta jadi heran dengan junjungannya itu.



"Emmm, sedikit," jawab Huang Li yang sudah berdiri di samping Fung Li.



"Aku ingin berkuda saja menuju sana," pinta Fung Li dengan wajah datarnya dibalik cadar yang dipakainya.



Para prajurit yang bertugas mengusir, Silli termasuk Huang Li terkejut mendengar lontaran itu. Mereka berpikir itu tidak mungkin gadis itu ingin mengendarai kuda.



\*\*\*



Di lain tempat



Tengah jalan besar yang dipenuhi kerumunan orang-orang, keadaan begitu rusuh di situ.


__ADS_1


Tampak kelompokan wanita sesama wanita dengan pakaian mencoloknya saling beradu mulut seperti seekor anak bebek.



"Cih, hanya mantan tunangan sudah sesombong itu, Putri Wei Wei," cibir wanita yang berdandan begitu menor dengan rambut dibiarkan terurai.



"Mengapa jika hanya mantan tunangan? daripada kau sok sekali mengaku-ngaku calon istrinya, cih." Putri Wei Wei dengan tubuh seksi memegang kipas menutupi setengah wajah cantiknya.



"Menyebalkan sekali dia," geram wanita yang berada di depan Putri itu. Ia melangkah maju dan mendorong tubuhnya dengan gertakan gigi.



Sontak tubuh wanita cantik itupun jadi terhuyung kebelakang karena didorong wanita dihadapannya.



"Hahahaha," tawa lepas wanita yang mendorong Putri itu.



"Ada apa ini?" tegur seseorang yang baru keluar dari bangunan di pinggir jalanan itu berjalan dengan santainya menyela kekerumunan.



Sontak mendengar lontaran itu semua orang yang mengumpul berminggiran secara bersamaan dengan wajah melongo.



"Wah,"



"Apa saat ini aku sudah berada di surga?"



"Aku tidak yakin jika melihat secara langsung tidak akan pingsan"



"Darah di hidungmu keluar," bisik-bisik orang yang berada di sekitar begitu hebohnya melihat sosok Pria tinggi dengan memakai jubah hormat dan setengah wajahnya ditutupi cadar.




Saat Pria itu sudah berada di hadapan dua kelompokan wanita yang membuat keributan di tengah jalan itu semuanya langsung bersujud di tembok dan diikuti lainnya yang berada disitu.



"Yang Mulia Kaisar," seru mereka semuanya yang bersujud ditembok.



Tiba-tiba terdengar suara hentakan kaki kuda begitu cepat dari jauh.



"Minggir!" Sosok gadis menunggangi kuda itu dengan wajah datar di balik cadar yang dipakainya.



Mendengar suara teriakan dan langkah kaki kuda, orang-orang yang bersujud sontak berdiri dan meminggirkan tubuh mereka.



Dengan cepat kuda yang ditunggangi oleh gadis itu kini melewati para masyarakat yang melongo melihatnya.



Langkah demi langkah kuda itu terus maju. Namun tiba-tiba kejadian tidak terduga terjadi.



Pria yang berdiri sedari tadi melayangkan cambuknya mengenai kaki kuda yang dikendarai gadis itu.



Kuda itupun jadi tidak seimbang, gadis yang menunggangi kuda melebarkan matanya dengan wajah tampak marah. Alhasil tubuh kuda itupun jadi miring dan terjatuh.



Pria yang melayangkan cambuk langsung melepaskan cambuknya, ia berlari secepat kilat mendekati gadis yang melayang ingin terjatuh. Dia terbang meraih tubuh gadis yang ingin terjatuh dari kuda dan memeluknya lalu berputar dengan indah.

__ADS_1



Bruukkk!



Dua orang itu terjatuh di tembok jalan dengan posisi saling tumpang tindih, bola mata mereka bertabrakan saling menatap.



"Beraninya kau!" Fung Li langsung memukul kepala Pria yang menindih tubuhnya dengan wajah sangat marah.



Semua orang yang melihat membelalakan mata mereka dengan wajah terkejut bukan main melihat sosok Pria itu berani dipukul oleh seorang gadis asing.



Orang yang dipukulnya pun merasa marah langsung berdiri dan memperbaiki pakaiannya.



Merasa tidak terima, Fung Li juga berdiri dan memperbaiki pakaiannya dengan wajah dingin.



"Dasar tidak punya kerjaan, mengapa malah mencari masalah?!" sindir Fung Li dengan sengajanya.



Orang-orang yang mendengar itu bertambah terkejut, darimana datangnya gadis yang tidak ada takutnya bicara di hadapan Pria yang menatapnya dengan kilatan marah.



"Bodoh," ejek Pria yang memakai cadar itu. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dengan lagak dingin.



Sontak Fung Li mendongkan kepalanya menatap manik mata Pria di hadapannya dengan kilatan benci, "karena kau aku terjatuh, apa kau tidak punya otak? mengapa mencari masalah, hah!" bentaknya tanpa takut.



Pria yang memakai cadar itu terkejut mendengar lontaran gadis di hadapannya.



"Sengaja sekali menjatuhkan kuda dan ...," cibir Fung Li lagi terpotong.



Pria yang memakai cadar itupun langsung membungkam mulut Fung Li dengan sebelah tangannya.



Mereka saling menatap dengan kilatan sama-sama marah, tiba-tiba Pria itu menarik tangannya kembali. Ia meloncat terbang keatas atap rumah dan melesat pergi tanpa sepatah kata apapun membuat semuanya heran.



Fung Li memayunkan bibirnya di balik cadar yang dipakainya, setelah itu mendekati kudanya kembali dan membantu kudanya berdiri kembali sambil berkomat-kamit tidak jelas.



"Pengecut, malah melarikan diri, dia pikir dia siapa, jika aku bertemu dengannya sekali lagi akan aku patahkan tangannya, berani sekali mencari masalah dan bahkan memelukku di depan umum," gumam Fung Li merasa sangat kesal.



Orang-orang yang berada di sekitar berbisik-bisik mengenai Fung Li yang mereka anggap gadis gila.



"Gadis gila, berani sekali mengatakan itu tentang Yang Mulia,"



"Aku yakin beberapa hari lagi nyawanya akan melayang,"



"Dia pasti membuat Yang Mulia sangat marah." Para Rakyat sekitar yang berbisik seraya menatap Fung Li dari atas sampai bawah.



Fung Li tidak memedulikan bisik-bisikan orang sekitar terhadapnya, dia langsung saja menaiki kuda kembali dan memacunya melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan Li.



*Bersambung* ...

__ADS_1


__ADS_2