Permaisuri Rebutan

Permaisuri Rebutan
Malam pertunangan


__ADS_3

Pagi hari menyapa, begitu cerah, burung-burung bertebangan di langit.


Kekaisaran Li


Di halaman kosong berada antara jembatan besar kekediaman keluarga besar Li, keadaan di situ tampak ramai.


Para Pelayan Prajurit berlalu lalang membawa wadah bunga, bakul, meja besar beserta keperluan persiapan tunangan lainnya.


Ada yang merapikan halaman rumput halus, ada yang menyapu, ada yang mengelap jembatan secara bersamaan dan beserta sibuk dengan tugas mereka sendiri.


Di atas jembatan yang besar namun tidak terlalu panjang. Dua gadis berjalan dengan santai sambil melihat para pelayan yang bertugas mengelap pagar pendek yang hanya sebatas setengah dari lutut kaki.


Angin menerpa rambut dua gadis yang berjalan berdampingan itu.


"Kakak, apa yang selanjutnya akan kau lakukan?" tanya Silli melirik kesamping menatap Fung Li yang setengah wajahnya ditutupi cadar.


"Selanjutnya akan bertunangan dan tiga hari kemudian menikah, setelah itu hanya butuh satu hari aku bermalam dengan Pangeran Huang Li aku harus bisa mendapatkan resep untuk membuat pil serbaguna itu," jawab Fung Li dengan pelan.


Silli mengangguk mendengar jawaban Fung Li, seketika teringat sesuatu di benaknya.


"Kak Fung Li mengapa kemarin sore Anda memilih berkuda dan juga saat sampai di Istana kekaisaran ini kaki kuda milik Pangeran jadi terluka?" tanyanya lagi.


Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Fung Li seketika berubah tampak marah, tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun dia langsung berjalan cepat meninggalkan Silli.


Silli menaikan sebelah alisnya jadi merasa heran dengan junjungannya itu. Diapun berlari mengejar Fung Li sambil berpikir mengenai pertanyaan yang ditanyakannya apa ada yang salah.


***


Kekaisaran Wexi, Istana kerajaan di Kekaisaran itu


Paviliun Feiying milik Putri Sian


Di belakang kamar di Paviliun itu, tampak sosok gadis yang sedang memanah dengan wajah marah.


Para anak buahnya yang berdiri di sekitar hanya bisa menundukan kepala mendengar celotehan Putri Sian yang tiada hentinya.


"Kenapa bisa gagal?, siapa Pria yang berani sekali menangkis panah angin itu yang sudah kubuat mulai dari kecil?!" Putri Sian menarik dan mengencangkan anak panah.


"Erggghh!"


Tsuuttt ...


Begitu emosi, anak panah yang di lepaskannya meleset tidak kena sasaran kebatang pohon.


"Lihat saja saat pertunangan yang dikabarkan malam ini, aku akan membuat gadis jelek itu bertekuk lutut di bawah kakiku di hadapan semua orang memohon agar aku memaafkannya hahaha, Pangeran Huang li hanya milikku," lontar Putri Sian lagi menyunggingkan senyum sinis.


***


Kediaman Jenderal Si Nian

__ADS_1


Di depan kediaman itu keadaan begitu ramai. Semua penghunii rumah kediaman itu mengumpul bersiap melakukan perjalanan.


Tampak puluhan kuda berdiri dan dua buah kereta yang terparkir di depan kediaman itu.


Keadaan hening hanya terdengar langkah kaki yang menginjak tembok jalan dan seorang pemuda masuk dalam kereta secara bergantian dan diakhiri dengan Pria paruh baya beserta wanita paruh baya yang dandanannya begitu menor.


Kuda yang berbaris di belakang dua buah kereta itu ditunggangi satu persatu prajurit yang bertugas.


Di sekitar luar kediaman itu Para rakyat jelata yang melihat hanya bisa berdiam dengan wajah melongo melihat banyaknya petugas istana secara langsung.


Mereka asiknya memandang sambil berkata dalam hati mengenai tentang keluarga Marga Si atau Jenderal kerajaan Wexi itu.


***


Di sebuah kamar yang sangat mewah dan indah. Keadaan yang begitu sunyi tercium aroma dupa dari luar.


"Liu Te cukup menyalakan dupanya, uhukkk uhukk," tegur sosok Pria yang berada dalam kamar sampai terbatuk-batuk. Ia sedang menulis sesuatu di atas meja di hadapannya.


Pria yang berjalan kesana kemari memegang lidi dupa seketika menghentikan aktivitasnya, ia meletakan dupa lidi kembali lalu duduk di hadapan sosok Pria yang menegur.


"Hmmm," dehem Pria yang menulis itu kini selesai dan menggulung titahnya.


"Ketua, apa perlu kita memberitahu jika akan datang?" tanya Liu Te dengan wajah datar.


"Tidak perlu, aku ingin membuat si kodok itu terkejut," jawab Pria yang selesai menggulung titah.


"Lalu apa Pangeran yang lainnya akan datang? menurut tingkat kesibukan mereka tidak akan datang hanya demi acara pertunangan, benarkan ketua?" Liu Te tersenyum tipis menyodongkan tubuhnya.


Suara pukulan titah mengenai kepala Liu Te.


"Bodoh, jika aku datang maka yang lainnya akan malu jika tidak datang," omel Pria yang memukul kepala Liu Te dengan titah.


Liu te seketika menundukan kepala, "pemarah sekali, Ya tuhan kapankah Sang Ketua bisa jatuh cinta dengan seorang gadis, mengapa hari semakin hari dia seperti seorang biksu tua," gumamnya terpotong.


"Liu Te antarkan titah ini pada pemilik rumah pelelangan yang berada di Kota Bubei kekaisaran Li ini." Pria yang duduk di hadapan meja itu menyodongkan titah bekas memukul kepala Liu Te.


"Baik Ketua," jawab Liu Te. Dia langsung mengambil titah itu dan berdiri.




Malam hari



Bulan di langit bersinar begitu terang, bintang-bintang kecil juga bersinar menghiasai langit di malam hari.


__ADS_1


Di halaman luas yang berada di Istana kerajaan Li, dekat jembatan penghubung keadaan begitu ramai.



Orang-orang berkumpul dengan pakaian terbagus mereka. Mereka asiknya berbincang-bincang dengan sesama mengenai topik dari segela topik.



Pertunangan diadakan di tempat dekat jembatan itu, mempelai Pria yang akan bertunangan sudah begitu siap di tempat duduknya hanya menunggu mempelai wanita.



Keadaan begitu ramai menunggu acara dimulai. Mereka asik sendiri berbincang sampai tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar.



Di atas jembatan dekat halaman luas itu juga keadaan begitu ramai dipenuhi orang-orang yang berlalu lalang.



"Wah, kerajaan ini benar-benar indah,"



"Bintang malam ini sangat banyak wah wah,"



"Hei! Nona muda jangan kabur,"



"Weee,"



"Aku tidak sabar menunggu acara dimulai dan melihat secara langsung wajah mempelai wanita, katanya rupanya buruk rupa, xixixi,"



"Aku merasa yakin saat pemasukan cincin tunangan, dia pasti akan malu menatap Pangeran Huang li yang begitu tampan apalagi menatap orang-orang dengan wajah buruknya itu, ck ck ck,"



"Lihat saja, mempelai wanitanya saja sudah lama ditunggu,"



Bisik-bisik para tamu undangan yang begitu seenaknya melontarkan kata. Mereka bergosip dari mulut kemulut mengisahkan betapa buruknya sosok gadis yang akan bertunangan terkenal bodoh dan buruk rupa itu.

__ADS_1



*Bersambung* ...


__ADS_2