
Empat tuan muda saudara pemilik tubuh yang di tempati Fung Li, memeluk Fung Li dengan erat.
"Cukup!" Fung Li tiba-tiba mendorong semua kakak tiri Fung Si.
Tuan Luw Si, Tuan Jun Si, Tuan Yang Si dan Tuan Fei Si kaget mendapat respon Fung Li.
"Apa kalian baru sadar sekarang hah?" tanya Fung Li yang seolah membuat mereka semua terdiam terkecuali Tuan Fei Si, yang di kenal akrab dari dulu dengan Fung Si.
Tiba-tiba
Brukk! ... Jenderal Si Nian yang sedari berdiri tidak disadari pingsan di tempat. Sontak semua mata melirik asal suara, para tuan muda seketika mendekati sang ayah mereka dan merasa cemas langsung mengangkat tubuh sang ayah dan membawa pergi.
Xiao Zhan mendekati Fung Li yang memandang sang ayah pemilik tubuh dibawa pergi. "Apa sekarang kita pergi?" tanyanya.
Fung Li hanya menganggukan kepala lalu berbalik. 'Sekarang baru menyesal,' batinnya.
***
Dalam ruang perobatan
Jenderal Si Nian yang terbaring di kasur belum sadarkan diri di periksa oleh salah satu tabib.
Para tuan muda hanya bisa berdiri di luar menunggu kabar dan berjalan mondar mandir karena merasa cemas. Mereka tidak lagi memikirkan Yux Si, adik yang paling mereka manjai, tapi sebetulnya mereka juga merasa sedih atas yang terjadi pada Yux Si. Namun di sisi lain juga marah akan perilakunya.
Asiknya mondar-mandir, pintu seketika terbuka dan mereka langsung menerobos maksud mendekati Jenderal Si Nian yang belum sadar juga.
"Bagaimana keadaan ayah saya tabib?" tanya Fei Si. Dia duduk di tepi kasur sambik mengenggam tangan sang ayah yang terasa dingin.
Tabib menjawab. "Maaf tuan muda semua, Jenderal terkena demam tinggi," jawabnya menganggetkan.
"Tidak!"
"Cepat rawat ayah!" Luw Si sang kakak tertua memerintah para adiknya mempersiapkan obat dan peralatan rawat pada zaman itu.
***
Sementara di tempat lain, keramaian kota Kekaisaran Wexi itu juga terjadi keributan besar.
Keributan itu berasal dari wanita yang tengah berduduk dengan kaki lurus ke depan di atas gerobak dorong. Tubuhnya dililit tali sepenuhnya mengundang perhatian para rakyat yang berada di keramaian itu.
Gerobak itu di dorong oleh dua prajurit kerajaan diikuti di belakang banyaknya prajurit lain yang berjalan dan salah satu Jenderal menunggangi kuda berada di tengah-tengah. Tentu itu mengundang perhatian semua orang di sepanjang jalan apalagi melihat sosok wanita yang berada di atas gerobak itu tiada lain adalah Yux Si, yang membuat orang kaget setiap melihatnya.
"Di di dia adalah Permaisuri Yux Si? wajahnya yang cantik mengapa mengerikan seperti itu?"
"Woeekkk."
"Apa wajahnya dicakar oleh harimau atau macan? iiii mengerikan sekali."
"Dia memang wanita keji pantas mendapat karma seperti itu."
"Menjijikan sekali wajahnya."
"Buruk rupa, peuhhh!"
"Mati saja kau!"
Segala umpatan keluar dari mulut para rakyat yang tentu tertuju pada Yux Si yang telah di temukan dalam jurang. Tubuh Yux Si yang terikat terlihat begitu lemah. Wajahnya sungguh mengerikan sekali akan sayatan luka tipis, tapi banyak membekas darah bahkan ada yang membenjol bernanah. Sungguh membuat setiap orang yang melihatnya bergidik jijik ingin muntah.
__ADS_1
Sepanjang jalan, para rakyat yang berjejeran melempar batu pada Yux Si karena benci pada wanita itu.
Yux Si sudah tak mampu lagi mendongakan kepala sembari menghindari lemparan batu padanya, tapi itu sulit karena tubuhnya terikat hingga lemparan batu dari para rakyat sepanjang jalan melukai tubuhnya. Sungguh wanita itu merasa yang namanya ketakutan, tertekan bahkan merasa malu sekarang juga apalagi dengan kondisi wajahnya karena ulah Fung Li.
Bagaimana rasanya merasakan bagaimana seperti yang di alami Fung Si ketika wajahnya dilukai sudah sekarang dia rasakan. Hancur sudah dia sekarang merasa tidak tahu arah dan inginnya mati saja sekarang dibanding nanti wajahnya di lihat lebih banyak orang.
Dalam perjalanan, umpatan tak berhentinya terdengar di telinga Yux Si. Membuat wanita itu berteriak histeris dengan wajah tampak stres. Dia rasanya ingin lepas dari ikatan dan ingin mencekik orang saking mauk mendengar lontaran-lontaran buruk dari rakyat yang tertuju padanya.
***
Tengah lapangan Jstana Kerajaan Wexi, keadaan begitu serius akan orang-orang yang menunggu kedatangan sang pelaku yang akan dihukum.
Semua sudah mengumpul berbaris di tengah lapangan itu sesuai jabatan masing-masing.
Orang-orang tampak berbisik pada orang di sampingnya mengenai hukuman yang belum di umumkan. Ada yang menebak-nebak hukuman yang akan diberikan hanya di penjara saja karena mengingat statusnya seorang permaisuri dan ada juga menebak jika hukumannya diasingkan selamanya.
Tampak Kaisar Wexi beserta para pangeran duduk di kursi tengah lapangan itu. Raja Zha Wey juga duduk di kursinya dengan kepala ditundukan menyembunyikan raut wajah sedih yang di simpannya juga sangat frustasi. Seperti yang dia katakan jika hari ini dia tidak tahu harus bagaimana dan tidak sanggup menatap orang-orang.
Beberapa lama kemudian, setelah menunggu kedatangan si pelaku yang sudah datang. Kini dari arah masuk kelompokan prajurit yang menyeret sosok wanita yang tubuhnya terikat tali.
Semua pandangan teralihkan pada sosok wanita itu yang terlihat sangat berbeda membuat kaget mereka. Melihat wajahnya seolah keadaan jadi ramai, orang-orang melontarkan rasa keterkejutan dan syok mereka.
"Apa dia Permaisuri Yux Si?"
"Wajahnya menyeramkan sekali?"
"Wohh."
"Wanita jahat itu datang dari mana? mengapa wajahnya bisa jadi seperti itu?"
"Katanya di temukan dalam jurang kematian, mungkin dicakar hewan buas karena ingin kabur."
"Menyiksa adiknya juga bukan Permaisuri Fung Si? yang kita kira gadis bodoh padahal itu karena penyiksaan wanita tak punya hati itu. Menjijikan sekali!"
"Sampah memang sepantas dibakar saja, hangus menjadi abu dan hilang tertiup angin. Lebih baik secepatnya wanita itu mati."
Yux Si sudah tidak bisa bersuara lagi, dia pasrah akan tubuhnya yang diseret bahkan baginya ingin menatap orang sudah tak ada ruang keberanian lagi. Dia sungguh merasa malu bahkan rasanya lebih baik mati sekarang dari pada dipermalukan seperti ini.
Mendengar lontaran-lontaran buruk orang padanya rasanya sangat menusuk sekali, rasanya menyakitkan sekali sangat sakit lebih dari sakitnya ditusuk-tusuk pedang.
Yux Si berdiri di tengah-tengah, di hadapan semua orang. Tali yang melilit tubuhnya di lepaskan.
Kemudian diganti dengan dipasangkan papan yang bolong tengahnya, kepala Yux Si dimasukan dalam bolongan itu sampai sebatas lehernya, jadi lehernya terkunci oleh lingkaran papan itu. Sedangkan kedua tangan di ikat dengan rantai yang terhubung pada baja yang tertanam di tanah juga kedua kakinya.
Keadaan wanita itu begitu memprihatinkan. Namun tidak ada seorang pun yang merasa sedih akan dirinya karena orang-orang menganggap itu memang pantas untuk dirinya.
Sementara Raja Zha Wey di tempat duduknya sudah tidak bisa menahan air mata melihat wanita yang dicintainya itu sambil menghapusnya.
Kini sungguh sangat menyedihkan melihat keadaan Yux Si sekarang, tapi mengingat kejahatan Yux Si membuat dia beradu dengan pikirannya. Rasanya dia ingin mendekati Yux Si, tapi rasa sakit hati membuatnya mengurung apa yang ingin dia lakukan.
Semua tidak sabar menunggu hukuman apakah yang akan diberikan pada wanita itu. Hingga banyak mata tertuju pada Raja Zha Wey yang akan mengumumkan hukumannya, tapi melihat pria itu tampak merasa frustasi membuat orang-orang tak yakin jika hukumannya tidak seberat itu.
"Zha Wey percayalah padaku!" teriak histeris Yux Si mengumpulkan keberanian membuka suara.
Zha Wey berusaha melawan kesedihan dalam dirinya. Dia berdiri dari kursinya lalu melirik ke samping sejenak menyatukan kedua tangannya di depan memberi hormat pada sang ayah.
"Salam Ayah. Izinkan aku memutuskan hukuman yang sepantasnya atas apa yang terjadi pada pelaku kematian Selir Qian Yu dan juga atas penghinaan terhadap Permaisuri Fung Si." Zha Wey kembali menatap lurus dan menurunkan tangannya setelah mendapat anggukan dari Kaisar Wexi, sang ayah.
__ADS_1
"Aku memutuskan hukuman yang pantas pada permaisuriku sendiri adalah hukuman mati sekarang juga," lontar Zha Wey membuat semua orang kaget, di luar pemikiran mereka.
Mata Yux Si terbelalak mendengar keputusan Zha Wey, membuat dadanya sesak dengan mata berkaca-kaca.
"Apa?! Zha Wey apa kau tidak kasihan padaku? ingatlah cinta kita hikss hikss." Yux Si jadi menangis menambah wajahnya semakin jelek dan terlihat menyeramkan. Dia merasa sangat perih karena air mata yang membasahi wajahnya yang tersayat banyak.
"Cinta? kau tidak pernah percaya pada cinta bahkan kau tidak mengerti apa itu cinta!" bentak Zha Wey. Dia langsung membalikan tubuh tidak ingin melihat Yux Si.
"Cinta? apa kau tahu itu cinta Xiao Zhan?" ucap Fung Li yang baru datang langsung mendekati Yux Si dengan berjalan santai bersama Xiao Zhan.
"Tentu," jawab Xiao Zhan tersenyum.
Semua orang jadi membungkukan tubuh memberi hormat dulu pada Kaisar itu.
"Kau gadis ja'lang! dia yang telah melukai wajahku malam tadi! dia bukan Fung Si adikku!" teriak Yux Si dengan sengaja.
Semua tidak ada yang percaya, malah merasa wanita itu sudah gila berkata kasat di depan sosok kaisar yang permaisurinya di hina secara langsung.
"Sudah salah masih berani mengatakan hal buruk pada permaisuriku? hukumannya lamban dan payah sekali. Cepat penggal saja kepalanya sekarang!" suruh Kaisar Xiao Zhan.
Mendengar suruhan Xiao Zhan, datang pria dengan perawakan besar dengan wajah galaknya dan otot-otot besar yang begitu jelas. Membawa pedang panjang dan juga lebar, mengkilat terpantul sinar cahaya matahari.
Semua jadi merasa tegang dan ketakutan melihat sosok pria bertubuh besar itu yang tentu mereka ketahui.
"Dia kan salah satu pendekar legend hebat? Pendekar Feng"
"Iya, Kaisar Xiao Zhan memanggilnya apa untuk memenggal kepala wanita itu?"
"Salam," ucap Pendekar Feng saat berada di samping Kaisar Xiao Zhan. Menjabat tangan pria itu dengan sebelah tangan yang kosong karena satunya memegang pedang.
"Cepat laksanakan," perintah Xiao Zhan yang membuat semua orang terdiam.
Pendekar Feng melirik pada Kaisar Wexi yang berduduk, saat melirik langsung diangguki kaisar tua itu pertanda setuju.
Sudah tidak ada lagi yang protes akan hukuman yang diputuskan pada Yux Si, bahkan ayah, para saudaranya saja tidak terlihat batang hidungnya.
Keadaan hening bercampur tegang kini Pendekar Feng mulai mendekati Yux Si yang seolah-olah berusaha ingin lepas dari rantai, itu sangat mustahil jika bisa terlepas kecuali orang itu sangat kuat sekali.
Pendekar Feng berhenti saat sudah berada di hadapan Yux Si dengan sorot mata sangat tajam menusuk. Sementara Yux Si tubuhnya bergetar dengan bibir yang juga bergetar dan wajahnya yang tampak ketakutan.
Detik demi detik berlalu, Pendekar Feng mulai mengangkat pedang panjangnya membuat keadaan semakin tegang saja.
Yux Si menutup kedua matanya seolah tidak berani lagi melihat. Sedangkan Raja Zha Wey yang berduduk memalingkan wajahnya ke samping dengan mata berkaca-kaca akan air mata yang ingin keluar.
Detik selanjutnya pun, Pendekar Feng menarik napas dalam sambil memajukan pedang tajamnya dan crasss! Suara tebasan pun terdengar membuat semua orang menutup matanya dengan tubuh bergidik ngeri.
Kepala Yux Si terpenggal berpisah dengan tubuhnya. Kepala itu jatuh ke tanah menggelinding dan berhenti tepat di hadapan kaki Fung Li.
Fung Li seakan menarik napas lega memandang kepala dan wajah Yux Si, sedangkan Xiao Zhan langsung merangkul pundak Fung Li dan menutup mata gadis itu agar tidak melihat.
Yang hanya menyisa tubuh Yux Si yang kedua tangan dan kakinya masih terikat rantai. Detik itu juga kematian telah menjemput wanita itu. Semua atas hukum dan aturan yang sudah ditetapkan.
Semua orang perlahan melihat apa yang terjadi di depan mata. Mereka bergidik ngeri melihat darah bersimbah banyak di tubuh wanita yang sudah tak bernyawa itu dan saat melihat kepala yang terpisah jadi merasa merinding.
...Hidup di dunia ini tidaklah biasa, kita harus bisa menjaga perkataan, perilaku terhadap orang-orang. Bagaimanapun, sekuat apapun, kebaikan akan selalu menang dan benar. Sementara sekeras-kerasnya kejahatan pasti terungkap sebisa apapun kau menyembunyikannya. ...
...Tuhan tidak pernah tidur, apapun yang ingin kau lakukan itu adalah pilihanmu. Namun ingatlah satu hal seperti apa yang kau lakukan, itu juga yang akan kau dapatkan. ...
__ADS_1
Bersambung ...