
Prajurit ikut membantu memisahkan Fung Li yang tangannya tidak mau lepas dari leher Yux Si. Bahkan sampai Yux Si sudah kesulitan menahan napas dengan air mata yang berlinang dan dada yang naik turun.
Keadaan jadi panik dan mencekam merasa hawa yang begitu dingin sekitar membuat bulu kuduk mereka merinding.
Kaisar Xiao Zhan segera beranjak dari tempat duduknya melihat keadaan semakin tak bisa dikendalikan. Dia menghilang tiba-tiba dan muncul di samping Fung Li. Semua orang seketika berminggiran menjauh.
Xiao Zhan menyentuh pipi Fung Li menghadapkan wajah gadis itu padanya. "Liu Te." Tiba-tiba setelah mengatakan itu Kaisar Xiao Zhan dan Fung Li hilang sekejap membuat orang-orang melongo bahkan sampai ada mimisan dan sesak dada karena merasakan tekanan sangat kuat tadi.
Setelah menghilang, tubuh Yux Si hampir ingin jatuh ke lantai.
"Tangkap wanita di hadapan kalian!" perintah Raja Zha Wey dengan wajah begitu dingin.
Prajurit segera mengepung Yux Si, lalu menyeretnya keluar dari aula di hadapan semua orang.
"Ikat dia di tiang tengah lapangan aula ini!" teriak Raja Zha Wey membalikan tubuh.
"Zha Wey lepaskan aku! aku tidak bersalah, kau percaya padakukan? teganya kau malah percaya pada wanita murahan itu!" teriak histeris Yux Si sembari berusaha lepas dari cekan para prajurit yang terus menyeretnya menjauh.
Yux Si tidak berhenti menengok kebelakang melihat Raja Zha Wey yang membalikan tubuh seolah tidak ingin melihatnya.
"Zha Wey bantu aku! hiksss hikss."
"Lepaskan!" Yux Si berusaha ingin lepas tapi tidak mampu karena banyaknya prajurit yang menyeret.
Tidak ada yang berani menghentikan atau berniat menyela karena semua orang berpikir jika itu memang pantas akan wanita itu sudah banyak terungkap melakukan kejahatan berujung kematian orang, hukumannya pun tentu berat.
Lamanya mendung tadi, awan menggumpal sudah semakin menghitam sampai menutupi cerahnya langit. Titisan air dari langit turun secara perlahan, lalu melebat. Hujan pun turun membasahi lingkungan di Istana Kekaisaran Wexi.
*
Sementara di tempat lain, di atas jembatan tampak dua orang yang berdiri di bawah payung yang sama. Sedang memandang pemandangan air bawah jembatan dan hujan deras berada di depan mata.
"Sudah tenanglah," lontar Xiao Zhan yang memegang payung. Sebelah tangannya mengusap-usap atas rambut Fung Li yang sedari hanya berdiam dengab pandangan lurus.
Xiao Zhan menghembuskan napas kasar, dia melihat ke sekitar dan menangkap tidak jauh ada pohon buah-buahan. Dengan senyum tipis dia mengarahkan jari telunjuk pada salah satu pohon jeruk dan seketika satu buah jeruk muncul di tangannya.
Xiao Zhan mengigit kulit jeruk berwarna hijau dengan wajah beridik kepahitan. Dia tidak bisa mengupas kulit dengan sebelah tangan yang memegang payung, jadi dia cuman mengandalkan gigi.
Selesai mengupas, Xiao Zhan langsung memasukan potongan jeruk peras yang bewarna kejinggaan pada mulut Fung Li membuat gadis itu terkejut.
Fung Li seketika mengalihkan pandangan menatap pria di sampingnya dengan mimik wajah kemasaman dan mata yang berkedip-kedip membuat Xiao Zhan menahan tawa melihatnya.
"Kau kera!" Fung Li akhirnya membuka suara mencubit lengan Xiao Zhan dengan perasaan kesal.
"Agar kau sudah sadar sekarang? sudah jangan terlalu dipikirkan kejadian tadi," lontar Xiao Zhan. Dia merangkul pundak Fung Li sambil memandang wajah gadis itu yang sedang mengunyah jeruk masam.
"Hmm, bukannya menenangkan dengan yang manis-manis kau malah menyuapiku jeruk masam." Fung Li menatap wajah Xiao Zhan dengan tatapan kesal.
__ADS_1
Xiao Zhan tersenyum cengiran menampakan lesung pipinya bersebelahan. "Kau tahu aku tidak pernah menenangkan seseorang, saudaraku atau siapapun itu makanya aku hanya bisa memberimu jeruk dan itu masam," balasnya.
"...."
Fung Li mengalihkan pandangannya lurus memandang alam dan hujan yang turun. "Terima kasih," lontarnya.
"Untuk apa?" Xiao Zhan ikut memakan jeruk masam yang menyisa di tangannya.
"Itu, kau telah membantuku, kau juga membantu mencari tahu dan menangkap si penjual racunnya. Terima kasih." Fung Li mengambil sisa jeruk di tangan Xiao Zhan lalu melahapnya dengan tersenyum.
Xiao Zhan tiba-tiba merangkul pundak Fung Li dan mendekatkan tubuhnya. "Tadi kau memang pantas marah, wanita itu memang licik sekali dan berkata seenaknya tentangmu, dari dulu semenjak kita menikah aku sudah curiga pada Yux Si," lontarnya dengan pandangan lurus.
Fung Li mengulurkan kedua tangannya, membuka telapak tangan menyangga air hujan. "Setidaknya aku agak lega kejahatannya terungkap, setiap aku mengingat kejadian mengerikan tahun lalu, rasanya sudah seperti mayat hidup. Ketentraman dan kebahagiaan tidak ada lagi waktu itu, seperti neraka," lontarnya teringat akan memori ingatan pemilik tubuh yang diperlakukan seenaknya oleh Yux Si.
"Sabarlah Fung Li, mulai sekarang jangan terlalu memikirkan apa yang membuatmu terluka. Hidup ini kita mencari kebahagiaan, habiskanlah waktu kita melakukan apa yang membuat bahagia, berlarut dalam kesedihan hanya akan membuatmu semakin tenggelam." Ucapan Xiao Zhan membuat Fung Li seketika menatapnya.
"Kenapa kita semakin mendekat?" tanya Fung Li yang membuat Xiao Zhan tersentak.
"Karena aku adalah suamimu dan kau adalah istriku," jawab Xiao Zhan dengan simple.
Fung Li hanya terdiam dengan langsung memalingkan wajah dan memandang langit sambil tangannya menyangga air hujan.
"Jadi kau juga semakin dekat dengan Selir Wei Wei? dia juga istrimu kan." tanya Fung Li begitu jujur.
"Tidak seperti itu juga permaisuriku, aku tidak dekat. Kau juga tahu itu." Setelah mengatakan itu Kaisar Xiao Zhan menyeret Fung Li dengan merangkul lebih dekat agar tidak kena air hujan.
Mereka berdua berjalan di atas jembatan itu, berteduh di bawah payung yang sama. Sambil berjalan mereka berdua saling menyipratkan air hujan ke wajah dan tersenyum.
"Masalah baru saja selesai, kau mau mengajakku bermain lagi? nanti saja"
"Baiklah, tunggu musim panas, kita akan bersiap melakukan perjalanan panjang."
"Hmm."
Dua orang itu berjalan sambil menyangga air hujan dengan tangan dan mengobrol tidak jelas.
Dekat dan semakin dekat, cinta memang sulit untuk ditebak dan kita tidak akan menyangka itu. Kenyamanan mulai tumbuh di antara mereka, perlahan-lahan. Namun pasti.
***
Di tempat yang jauh, Istana Kekaisaran Langit.
Paviliun Hu. Salah satu kamar yang bagus, rapi dan tercium aroma wangi berasal dari dalam kamar mandi.
Suara gemercakan air terdengar berasal dari seorang wanita yang sedang berendam dalam bak mandi besar masa zaman kuno itu yang berwarna keemasan.
Di pijat oleh beberapa pelayan di belakangnya yang duduk di dudukan pendek agar sejajar dengan wanita yang berendam di bak mandi itu.
__ADS_1
Wanita itu tiada lain ialah Selir Wei Wei dengan perasaan senangnya meniup busa di atas telapak tangannya sambil menikmati pijatan para pelayan.
"Selir Wei Wei cantik, jika Permaisuri Fung Si di penjara dan kena hukuman karena dituduh meracuni selirnya Raja Zha Wey. Maka, ini membawa kebaikan pada Anda, apa Anda juga memikirkan itu?" tanya salah satu pelayan bernama Ti yu. Wanita paruh bayah pelayan setianya selir itu.
Selir Wei Wei menyunggingkan bibirnya tersenyum sinis. "Lalu aku akan menjadi calon permaisuri baru Yang Mulia Kaisar Xiao Zhan. Hahaha," jawabnya diiringi tawa.
"Benar, Anda lebih cocok menjadi permaisuri di Kekaisaran terbesar ini. Pasti tidak akan ada yang berani melawan perintah Anda," lontar pelayan lainnya tersenyum. Sembari memijat kulit lengan Selir Wei Wei
Selir Wei Wei tersenyum merekah mendengar ucapan pelayannya. "Kasihan sekali dia dituduh, permaisuri bodoh," ejeknya secara tidak langsung.
"Pasangkan aku mahkota itu," suruh Selir Wei Wei dengan wajah angkuhnya.
Salah satu pelayan yang berdiri dengan memegang sebuah mahkota emas pun mendekat memasangkan mahkota pada majikannya itu.
Rasanya sudah seperti seorang permaisuri, mahkota telah melingkar di atas kepalanya membuat wanita angkuh itu tersenyum senang. Menjadi permaisuri memang impian semua wanita, apalagi permaisuri yang akan mendampingi kaisar yang ketampanan dan kehebatannya tak bisa ragukan lagi.
Tiba-tiba pintu masuk kamar mandi itu di ketuk oleh seseorang.
"Katakanlah informasi apalagi yang kau dapatkan sekarang," lontar Selir Wei Wei dengan suara agak lantang agar terdengar oleh prajurit yang berada di luar itu.
Prajurit yang tadinya mengetuk berhenti mengetuk lagi. "Sa sa say ya mendapatkan informasi ba ba bahwa Pe Pe Permaisuri Fung Si tidak bersalah dan Permaisuri Yux Si adalah pelaku kejahatannya. Semua terungkap atas bukti yang membenarkan dan Yang Mulia Kaisar Xiao Zhan juga membantu menemukan bukti membela Permaisuri Fung Si," lontarnya agak gagap karena takut bagaimanakah respon wanita itu yang sudah tadinya senang mendengar kabar tuduhan Fung Si.
Selir Wei Wei seketika melepaskan mahkota di atas kepalanya lalu membantingnya jauh membentur dinding.
Para pelayan menutup mata begitu kaget akan reaksi majikannya.
"Akhhh!," teriak Sekir Wei Wei memekik telinga.
"Keburuntungan selalu memihaknya, tunggu saja mulai saat ini aku akan mencari tahu kelemahannya, lihat saja Fung Si apa yang akan kulakukan padamu."
...Bersambung ......
Hai semuanya, author mau promo nih cerita bagus, keren dan tak kalah seruuu. Kalian semua jangan lupa mampir yahh, jangan sampai kelewatan. Baca dulu, masukan dalam rak, kalau kalian gak baca kalian gk bakal tahu kan.
Berjudul : Our Voice (cari di kolom pencarian yh)
Penulis : Damnjo
Genre : Fantasi, Romantis.
Ini sinopsisnya: Seorang pemuda bernama Hiro Sato sedang berusaha mencari arti dari kehidupan yang pernah dikatakan ibundanya. Saat itu, untuk suatu alasan Hiro terpaksa harus keluar dari kota kelahirannya dan pergi untuk menyusuri kota-kota lain sebagai tempat hidupnya sementara.
Sedangkan gadis bernama Yuna Aoki adalah seorang 'Gadis Pengendali Angin' yang baru saja terpilih satu tahun yang lalu. Ini bukanlah anugerah, melainkan kutukan yang harus dia hadapi hingga akhir hayatnya.
Suatu ketika, takdir mempertemukan mereka di sebuah halte bus. Itu akan menjadi titik awal dari perjalanan keduanya demi mencapai tujuan masing-masing.
__ADS_1
Namun, hanya saja 'ujian' yang besar telah menunggu mereka di akhir, dan itu perlahan semakin mendekat.
Mampir Yah😉😚