
...Kekaisaran Langit...
Istana kerajaan langit, di jalan istana tampak empat sosok pria tampan berjalan secara berdampingan menyusuri halaman jalan istana.
Saat ingin melangkah di persimpangan empat, tiba-tiba secara bersamaan menghentikan jalan.
"Kau baru memberi tahu tentang penyakit itu pada kami, dasar panglima Liu Te tidak punya hati," tutur Pangeran Xiao Rei. Setelah itu membuka kipas dibtangannya.
"Benar, Kak Zhan mengapa juga tidak memberi tahu tentang hal penting ini pada saudaranya, apa penyebabnya sehingga dia terkena serangan panah itu?" tanya Pangeran Xiao Fei tampak cemberut, tapi juga cemas.
Panglima Liu Te yang memakai topeng setengah wajah menyatukan kedua telapak tangannya meminta maaf. Dia sekilas melihat ke sekitar tempat tampak sangat sunyi tidak ada seseorang satupun. Namun salah mengira, ada sosok gadis yang bersembunyi dari balik pohon tidak jauh dari situ dengan wajah tampak penasaran.
Gadis itu sedang memejamkan mata bertelapati pada seseorang.
"Yang Mulia Kaisar terkena serangan panah bayangan itu karena menolong Permaisuri Fung Si yang ingin dicelakai oleh Putri Sian, adik Raja Zha Wey," jawab Panglima Liu Te yang membuat ketiga pangeran terkejut bukan main.
"Apa?!" kaget mereka bersamaan dengan mata terbelalak.
Panglima Liu Te menundukan kepalanya dengan sopan.
"Harap para pangeran menyembunyikan tentang ini, Yang Mulia hanya akan memberi tahu pada kalian, jika ini diketahui oleh musuh di luaran sana pasti akan membahayakan Yang Mulia," pinta Panglima Liu Te dengan suara pelan.
Ketiga Pangeran seakan seperti patung diam tak berkutik mendengar itu, mereka jadi merasa khawatir mengetahui tentang hal itu.
Di atas pagar pinggir jalan istana tampak burung bewarna putih sangat kecil seperti anak itik terbang ke langit.
***
Hari berganti malam. Angin kencang berhembus menerpa rambut sosok gadis cantik yang memakai hanfu putih polos dengan rambut dibiarkan terurai, ia sedang berdiri menghadap kearah dua pintu jendela yang terbuka lebar.
"Serangan itu, aku pasti akan membalasnya lebih parah dari yang kau bayangkan Putri Sian, aku jadi merasa bersalah serangan itu terkena pada Xiao Zhan, mengapa aku baru tahu hal ini, sungguh kali ini aku harus selalu waspada banyak musuh yang mengancam di mana-mana," gumam Fung Li dengan melipat kedua tangan di depan dada dan pupil matanya berubah menyala merah lalu kembali hitam.
Fung Li membalikan tubuhnya, dia menatap sekeliling kamar yang ditempatinya dengan wajah tampak memikirkan sesuatu.
"Ck, di mana dia?"
Fung Li berjalan menyusuri lantai kamar. Sampai dini malam, dia bolak-balik di depan ranjang dengan tangan terlipat di depan dada. Kepalanya tertunduk dengan mata yang sayu.
"Ck, dimana dia? dasar menyebalkan"kesal Fung Li.
Fung Li menepuk-nepuk pipinya agar berkurang rasa kantuk.
***
__ADS_1
Di tempat lain, atas atap bangunan
"Jangan sampai hal ini diketahui oleh ibu dan nenek apalagi Permaisuri Fung Si, aku tidak ingin membuat mereka cemas padaku," tutur Xiao Zhan duduk dengan sebelah kaki diluruskan dan satunya dilipat.
"Tentu Ketua," jawab Panglima Liu Te dengan wajah dingin. Menatap lurus pemandangan bangunan-bangunan dari atas atap itu.
Xiao Zhan meluruskan sebelah tangan dan menampakan telapak tangannya, tampak sebuah cahaya kecil warna-warni bergerak dalam satu lingkaran bulat.
"Elemen-elemen ini aku bisa menggunakannya, namun jurus Qi ku dan kultivasiku jadi tertutup, aku harus bisa menemukan di mana tulang naga yang disembunyikan oleh tua bangka itu." Xiao Zhan menutup kembali telapak tangannya dan cahaya itu menghilang.
"Apapun masalah yang akan terjadi, hamba pastikan ketua baik-baik saja"tegas Panglima Liu Te tersenyum tipis melirik kesamping.
"Hmm"dehem Xiao zhan. Kemudian menatap balik Pria di sampingnya.
"Oh iya, apa Anda tahu tentang rumor yang tersebar di rakyat tentang Anda dan Permaisuri yang akan bercerai?" tanya Panglima Liu Te.
Xiao Zhan seketika memalingkan wajahnya. "Siapa yang berani menyebarkan berita ini?! apa jangan-jangan ini ulah monyet lagi, mengapa dia harus memberitahu hal ini tanpa izin terlebih dahulu padaku karena pagi tadi?" lontarnya tampak marah.
Xiao Zhan tiba-tiba berdiri dengan menarik napas dalam-dalam.
"Aku akan pergi, Liu Te pergilah ke markas kita," suruhn Zhan.
Xiao Zhan melompat turun dari atas atap dengan gerakan gesit.
Liu Te melamun sejenak. 'Siapa monyet yang di sebut Yang Mulia yah?' batinnya heran.
***
Dalam kamar yang di tempati Fung Li.
Kreekk ...
Pintu terbuka, sosok pria tinggi masuk dan menutup pintu kembali. Dia berbalik lalu melihat sekeliling kamar dan menangkap sosok gadis yang berbaring di atas ranjang tanpa selimut.
'Bukankah katanya semua berakhir? mengapa tetap disini?' batin Xiao Zhan.
Xiao Zhan berjalan menuju ruang ganti. Dia masuk ke dalamnya lalu mengambil sesuatu. Dia keluar dari ruang ganti kembali membawa dua selimut yang terlipat rapi dan berjalan mendekati ranjang.
Xiao Zhan merangkak naik ke atas ranjang lalu memasangkan selimut menutupi setengah tubuh Fung Li yang berbaring menyamping menghadapnya.
Selesai memasangkan selimut, dia meletakan guling di tengah lalu berbaring di ranjang itu.
Xiao Zhan memasangkan selimut untuknya lalu sekilas melirik ke samping menatap wajah Fung Li yang tertidur pulas. Dia mengalihkan pandangan ke atas, matanya mulai sayu dan tidak lama tertidur.
__ADS_1
Sepasang suami dan istri dalam hubungan palsu itu tidur dalam satu ranjang namun di batasi oleh satu buah guling.
***
Pagi yang begitu dingin. Hujan turun sangat lebat membasahi atap, jalan dan lainnya.
Dalam kamar, tampak dua orang berlawanan jenis yang saling berpelukan nyaman dengan mata terpejam sedang tidur di atas ranjang.
Salah satu orang yang tertidur mulai terusik karena mendengar derasan hujan lebat, ia menggeliat merentangkan tangan dengan mata perlahan terbuka.
Merasakan pergerakan seseorang, yang satunya jadi terusik juga, matanya mulai terbuka.
Saat penglihatan sudah sama-sama jelas, dua orang itu saling menatap dari jarak dekat dengan wajah agak kaget. Mereka berdiam tak berkutik memandang wajah sesama.
"Kau sudah kembali?" Fung Li langsung menjauhkan tubuhnya dan duduk.
Xiao Zhan ikut duduk dan melihat ke sekitar sambil merapikan pakaian dengan wajah sedikit canggung.
"Mengapa kau masih disini? bukankah kau ingin kita cerai? kau mengatakan tentang apa yang kita bicarakan pagi kemarin pada orang lain?" Xiao Zhan dengan wajah datar menatap Fung Li yang memalingkan wajah.
'Aku harus bisa membicarakan hal ini' batin Fung Li.
Fung Li mengalihkan pandangannya menatap Xiao Zhan dengan wajah datar.
"Aku, aa ... aku minta maaf," gagap Fung Lu berucap.
Xiao Xhan seketika menyodongkan tubuhnya pada Fung Li dan mendekatan wajahnya yang heran mendengar gadis itu meminta maaf.
Fung Li mengeratkan genggamannya meremes selimut. "Aku tidak pernah memberitahu apa yang kita katakan pagi kemarin, tapi aku meminta maaf karena sikapku yang membuatmu marah akhir-akhir ini dan aku ingin mengatakan sesuatu penting padamu," ucapnya dengan wajah datar.
Xiao Zhan menatap saksama wajah Fung Li dengan rasa penasaran. Sebelah tangannya terulur tiba-tiba mengentuh atas rambut Fung Li lalu mengelus-elusnya dengan lembut.
Fung Li jadi kaget, tubuhnya mematung menatap manik mata Xiao Zhan.
"Apa yang ingin kau katakan? masalah saat itu memang salahku, aku terlalu mudah marah padamu," ucap Xiao Zhan dengan tatapan lembut.
"Mengapa kau menolongku dari Putri Sian?" tanya Fung Li langsung pada intinya.
Xiao Zhan tersentak, dia terkejut mendengar pertanyaan gadis di depan matanya saat ini.
...Bersambung😙 ......
Love you semua, sampai jumpa lagi
__ADS_1