Permaisuri Rebutan

Permaisuri Rebutan
Pertunangan di Kekaisaran Wexi


__ADS_3

Malam menjelang


Di kamar kecil sosok Fung Si yang berdiam dulu di Kediaman Keluarga Si itu. Tampak tiga orang yang asiknya memandang dalam kamar yang tampak rapi.


"Terima kasih bibi sudah mengantar ke mana tempat permaisuriku berdiam dulu," ucap Xiao zhan melirik Nyonya Si Yen.


"Ah Yang Mulia tidak perlu berterima kasih, sudah kewajiban Saya melayani suami dari putri saya," balas Si Yen. Dia yang berdiri di samping Fung Li mengusap-usap belakang rambut Fung Li sambil melempar senyum senang.


Tidak halnya dengan Fung Li, hanya memasang wajah datar dan dingin tidak ada perasaan sama sekali memandang sekeliling kamar pemilik tubuh yang dia tempati.


Xiao Zhan yang melihat raut wajah Fung Si seperti tidak suka. "Bibi, pergilah aku ingin waktu berdua dengan Fung Si sementara," pintanya.


Nyonya Si Yen pun langsung mengangguk cepat lalu memundurkan diri. "Jika butuh sesuatu katakanlah nak dan jangan memanggil bibi dan panggil saja aku ibu mertua jangan bibi, aku kan ibu istrimu juga," lontarnya sebelum pergi.


Nyonya Si Yen pun keluar dari kamar dengan senyuman santai.


Sementara Fung Li. Dia tampak melamun dengan pandangan lurus mencerna ingatan asing banyak bermunculan di benaknya yang membuatnya tampak aneh di mata Xiao Zhan.


Xiao Zhan menatap wajah Fung Li dengan perasaan heran lalu memandang ke sekeliling kamar sambil melangkahkan kaki mendekati kasur kecil yang berada di samping jendela kecil satu pintu.


Fung Li sadar dari lamunannya, dia melangkahkan kaki mendekati pintu kecil yang berada dalam kamar itu, tepat disebelah lemari. Dia membuka pintu itu dan menampakan kamar mandi kecil namun terlintas ingatan tak mengenakan ketika dia memandang bak mandi yang berada di tengah ruang mandi itu.


Air mata perlahan menetes keluar mengalir di pipi mulus Fung Li. Dia sungguh merasa sedih mengingat lintasan ingatan sang pemilik tubuh yang dipaksa mencuci pakaian sambil ditarik-tarik rambutnya oleh Yux Si dan para pelayan muda.


Bukan hanya itu, terlintas lagi ingatan di benak Fung Li sang pemilik tubuh dilecehkan habis oleh Yux Si beserta kelompokannya. Fung Si yang pakaiannya dirobek-robek di bagian atas, rambutnya digunting jadi pendek lalu kepalanya didorong dan dimasukan dalam bak mandi dibiarkan sampai Fung Si kehabisan napas dan pingsan lalu orang yang melakukan langsung pergi begitu saja.


Belum lagi mengingat ingatan wajah Fung Si yang disayat-sayat secara tak berperasaan oleh Yux Si, pemilik tubuh yang teriak histeris sambil menangis malah ditertawakan oleh Yux Si dan para pelayan bawahannya.


Sungguh air mata tak kuasa Fung Li bendung ketika mengingat banyak ingatan yang terjadi pada pemilik tubuh yang dia tempati, dia sungguh tak kuat membayangkan betapa buruknya kelakuan orang-orang yang melecehkan Fung Si dengan seenak hati.


Tangan Fung Li mengepal begitu erat, bibirnya bergetar dengan menggertakan gigi. Air mata terus mengalir membasahi pipinya memandang ingatan kejadian lama dari sang pemilik tubuh.


Xiao Zhan yang asiknya sudah selesai membuka pintu jendela dan menggulung tirai kembali heran melihat Fungi yang sedari diam berdiri di depan kamar mandi.


"Hei monyet." Xiao Zhan berjalan mendekati Fung Li.


Saat berada di samping Fung Li, Xiao Zhan terkejut melihat air mata banyak yang mengalir di pipi gadis cantik itu.


Xiao Zhan tiba-tiba mendekap tubuh Fung Li dan menyandarkan kepala wanita itu di bidang dadanya.


"Mengapa kau menangis, bukannya kau gadis galak yang suka berani memukulku? membentak-bentak dan wajah datar seperti dinding saja." Dia menundukan kepala sambil mengusap lembut pipi Fung Li dan menghapus air mata yang membasahi pipi wanita itu.


Fung Li seketika sadar dalam dekapan Xiao Zhan. Dia mendorong bidang dada Xiao Zhan lalu menghapus air matanya dengan wajah berubah sangat dingin mengingat ingatan pemilik tubuh yang ia tempati.


"Tidak usah peduli," ketus Fung Li. Dia mendekati lemari kecil yang berada di samping pintu kamar mandi itu lalu membuka dan melihat isi dalam lemari yang terdapat barang-barang peninggalan Fung Si yang belum pernah dia lihat.


Xiao Zhan menghela napas berat memandang Fung Li. Dia memilih duduk kembali di atas kasur dan mengamati gerak-gerik Fung Li.


Fung Li mengambil sesuatu dari dalam lemari. Sebuah kotak peti yang ukurannya lumayan besar, dia berjalan mendekati kasur dan ikut duduk disamping Xiao Zhan.


"Apa itu?" tanya Xiao Zhan. Dia menggeser bokongnya duduk lebih dekat tanpa jarak dengan Fung Li.


Fung Li membuka kotak peti di pangkuannya dan saat terbuka Xiao Zhan pun juga ikut melihat dalam peti itu.

__ADS_1


"Topeng?" tanya Xiao Zhan. Sebelah tangannya masuk dalam peti dan mengambil sebuah topeng setengah wajah yang berbentuk sayap kupu-kupu.


Sementara Fung Li, dia mengambil sebuah jepitan rambut dengan motif kupu-kupu yang hanya terdapat sebelah.


"Apa itu jepit rambutmu saat kecil?" tanya Xiao Zhan melirik ke arah jepitan di tangan Fung Li.


Fung Li hanya menganggukan kepala lalu meletakan jepit itu kembali dan mengotak-atik barang apa aja yang ada dalam kotak peti itu.


'Sepertinya ini adalah barang peninggalan milik Fung Si, apa sebaiknya aku bawa dan simpan?' batin Fung Li.


"Kau bawa saja barang masa kecilmu itu, aku ingin mandi di sini dan mengganti pakaian," lontar Xiao Zhan pada Fung Li. Dia meletakan topeng kembali dalam peti lalu beranjak dari duduknya.


"Apa? ingin mandi? apa kau tidak merasa ...," sahut Fung Li terpotong.


"Merasa tidak enak dan tidak nyaman? aku bukanlah seseorang yang pemilih, bagaimanapun semua kamar mandi sama saja," sela Xiao Zhan. Dia berjalan pelan menuju pintu kamar mandi sambil melepaskan pakaian.


"Hei kera jelek! apa kau biasa melepaskan pakaian di hadapan wanita lajang seperti ini? dasar tidak tau malu," sindir Fung Li dengan kepala ditundukan sambil menyusun rapi barang dalam kotak peti di pangkuannya.


"Pppfftt, mengapa kau marah? itu bukan urusanmu, lagipula ini sudah hal biasa ku lakukan di hadapan para pelayan cantik sekalipun," balas Xiao Zhan terdengar angkuh. Dia masuk dalam kamar mandi dengan senyum menahan tawa.


"Cihh, dasar buaya langit," cibir Fung Li.


"Tidak ada yang pernah melihat tubuh kekarku, terkecuali permaisuriku itu emm, hanya dia yang selalu melihatnya dan hanya kepada dialah aku memamerkannya, lagipula kau tidak lajang lagi statusmu adalah istriku dan sangat beruntung istriku itu!" ucap Xiao Zhan sedikit keras dari dalam kamar mandi.


Fung Li menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman merasa lucu, baru pertama kalinya dia tersenyum karena mendengar ucapan Xiao Zhan.


"Dasar tidak jelas," ledek Fung Li tersenyum.


Sementara Xiao Zhan dari dalam kamar mandi tersenyum manis mengintip dari celah pintu yang di sedikit dibukanya melihat Fung Li tersenyum.


Kini malam yang ramai, di jalan Kota Kekaisaran Wexi dipadati oleh banyak pendatang dan rakyat di situ yang sibuknya mengendarai kuda maupun kereta.


Keadaan begitu ramai di tengah jalan akan para tamu undangan yang menuju Istana Kerajaan Wexi untuk ikut merayakan pertunangan Putra Mahkota Kerajaan itu.


Sedangkan di Istana Kerajaan Wexi itu, dalam aula besar yang berada di istana itu suasana tampak ramai. Suara mulut ke mulut terdengar memenuhi aula itu dari para tamu-tamu yang berdatangan saling menyapa dan bertukar cerita.


Tampak di tengah aula, dua orang berlawanan jenis yang begitu mencolok perhatian sekitar berjalan secara berdampingan.


"Terima kasih Pangeran Huang Li sudah membuatkan salap kulit untukku persiapan musim panas dan semi nanti," lontar Fung Li tersenyum tipis. Dia menyimpan salap yang diberi Pangeran itu saat bertemu dengannya, dia pun agak ragu untuk menerimanya tapi karena tidak nyaman menolak membuatnya harus menerima pemberian itu.


Pangeran Huang Li tersenyum ramah dengan wajah tampak senang menatap Fung Li dari samping yang terlihat sangat cantik dan anggun mengalahkan gadis-gadis yang paling cantik sekalipun.


Tiba-tiba jalan dihentikan dengan kemunculan pemuda tampan dan manisnya ke hadapan Fung Li


"Salam Kakak Fung Su dan Pangeran Huang Li," sapa Tuan Fei Si kakak tiri termuda Fung Si. Dia membungkuk lalu berdiri tegak kembali dan melempar senyum senang pada Fung Li lalu Pangeran Huang Li.


Fung Li memandang Fei Si dengan tatapan menelisik, dia pun tersenyum tipis pada pemuda itu.


"Fei Si dimana Wei si?" tanya Fung Li pada Fei Si yang seketika menundukan kepalanya.


"Emm, Kak Wei Si dia sudah lama bertapa di gunung sekitar perbatasan kekaisaran ini dan Kekaisaran Li, saat Anda terkena hukum diasingkan ke Hutan Kematian waktu itu Kak Wei Si ingin menemani Anda dihukum tapi malah dikirim untuk bertapa ke gunung oleh ayah," jawab Fei Si dengan tampang polos dan jujur.


Huang Li menepuk-nepuk sebelah pundak Fei Si dengan senyuman hangat. "Wei Si pasti akan kembali, kau pasti sangat merindukannya kan?" tanyanya.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara kentongan yang dipukul keras di sudut aula.


"Fei Si ikut ayah," sela Jenderal Si Nian datang dan menarik tangan Fei Si. Dia membawa Fei Si pergi dan menjauh dari Fung Li tanpa sejenak pun melirik Fung Li.


Huang Li memandang wajah Fung Li dengan wajah tampak sedih. "Fung Si, apa ada masalah di antara kau dengan ayahmu?" tanyanya.


Fung ali menggelengkan kepala. "Tidak ada apapun, tidak usah dipikirkan," jawabnya.


Tiba-tiba terdengar teriakan keras menggema di dalam aula. "Diimbuhkan pada tamu terhormat khusus untuk duduk di tempat yang telah disediakan, acara ingin dimulai," teriak kasim yang berdiri di samping dudukan besar Kaisar tua Wexi di singgasana.


Semua tamu terhormat pun duduk di tempat duduk khusus yang telah disediakan untuk para orang-orang ternama, tepatnya di lantai kedua menuju singgasana tempat duduk kaisar kerajaan itu.


Sementara untuk para rakyat jelata yang berdatangan berdiri di lantai dasar aula memenuhi tempat itu.


Keadaan jadi hening mendengar suara kentongan tadi sudah berbunyi.


Semua tamu khusus sudah berduduk di bangku mewah yang disediakan. Bangku itu saling berhadapan dengan letaknya jauh dan tengahnya kosong.


Di bangku tempat Xiao Zhan duduk..Pria itu kini jadi pusat perhatian karena tampangnya yang begitu mempesona semua orang melihatnya. Apalagi melihat sosok wanita cantik yang duduk di sampingnya tersenyum-senyum senang setiap ada yang melirik ke arahnya dan Xiao Zhan.


'Ck, mengapa juga wanita manja ini jadi bisa datang ke sini, padahal aku ingin Fung Li yang duduk bersamaku,' batin Xiao Zhan.


"Zhan, aku sangat bersyukur bisa datang kesini tepat waktu, aku senang sekali duduk bersamamu," lontar Selir Wei Wei tersenyum. Sebelah tangannya dia sengajakan melingkar di lengan Xiao Zhan sambil menatap wajah tampan pria yang jadi pusat perhatian itu.


Sementara Fung Li, dia menaiki tangga pendek menuju lantai dua tempat duduknya orang-orang terhormat. Di belakangnya mengekor Pangeran Huang Li yang terus tersenyum ramah melihat orang-orang sekitar.


"Lihat, itu Permaisuri Fung Si!" teriak Pangeran Hang Kang dengan wajah melongo di tempat duduknya.


Sontak mendengar itu, semua mata jadi terpusat kepada Fung Li yang begitu anggun dan penuh karisma. Semua mata ara pangeran maupun putri lain melotot dengan mulut terbuka lebar.


Xiao Zhan yang duduk bersama Selir Wei Wei ingin beranjak dari dudukan niat ingin mendekati Fung Li malah ditahan oleh selirnya itu.


"Tetaplah duduk, kau ingin kemana?" Wei Wei menggandeng tangan Xiao Zhan dengan lagak manja menahan pria itu pergi.


Xiao Zhan terpaksa duduk kembali, dia mendengus kesal sambil membuang muka ke samping dan memijat pelipisnya akan tingkah manja wanita yang duduk bersamanya.


Fung Li melirik ke arah bangku-bangku yang di duduki orang-orang ternama yang sedang menatapnya. Dia menangkap Xiao zhan yang duduk di bangku mewah paling ujung bersama Selir Wei Wei tampak dekat.


"Duduk bersamaku saja." Huang Li menarik tangan Fung Li di depan semua orang menuju tempat bangkunya yang tepat berada di samping bangku Xiao Zhan.


Fung Li pun tak menolak, dia duduk bersama Pangeran Huang Li dengan wajah tampak menahan kesal. Namun dia sembunyikan dengan baik.


Terasa begitu canggung, Xiao Zhan melirik ke samping kiri menatap Fungi dengan tatapan tampak sangat kesal. Apalagi melihat Fung Li jadi pusat perhatian dari banyak para pangeran maupun raja lain.


'Katanya akan kembali sebentar, tapi begitu lama berduaan dengan Huang li, sampai dudukan jadi di tempati wanita manja ini, Selir ini juga,' batin Xiao Zhan.


"Zhan, apa kau ingin anggur ini?." Selir Wei Wei mengarahkan satu bulat anggur pada bibir Xiao Zhan dengan senyuman manis.


Xiao Zhan mengalihkan pandangannya dari Fung Li dan menatap Selir Wei Wei dengan menahan pergelangan tangan wanita yang ingin menyuapinya itu.


Fung Li sejenak melirik ke samping kanan dan memandang Xiao Zhan dengan wajah terlihat kesal.


'Dasar buaya langit, katanya akan duduk bersamaku tapi malah duduk bersama wanita ulat keket itu,' batin Fung Li.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2