
Nampan yang dipegang para pelayan jadi terjatuh kelantai, sedangkan wanita yang selesai menghisap teh dicangkir jadi menyeburkan air teh keluar dari mulutnya saking terkejut melihat apa yang terjadi barusan.
Fung Li beranjak dari atas ranjang dan terkejut melihat banyak pelayan dan sosok wanita dikenalnya duduk di kursi tidak jauh dari hadapannya.
Xiao Zhan berusaha bangkit dan berdiri dari jatuhnya. Dia duduk di tepi ranjang dan merenggangkan otot lehernya belum menyadari kehadiran orang lain dalam kamar itu.
"Fung," panggil Xiao Zhan terpotong.
"Zhan, menantuku cepatlah bersiap, ini adalah hari pertama pernikahan kalian sudah seperti pasangan yang ingin bercerai saja. Zhan mengapa membuat istrimu marah? dan kau menantuku mengapa mendorong suamimu sampai jatuh seperti itu?" sindir Permaisuri Xiao Yu memarahi putranya dan Fung Li.
Xiao Zhan terdiam. Dia melirik asal suara dengan wajah seketika terkejut. Pria itu langsung berdiri kembali dan mendekati Fung Li
"Hehehe ibu, kami akan bersiap, janganlah marah." Xiao Zhan melempar senyum paksa kepadanya ibunya.
Sampai di samping Fung Li, Xiao Zhan merangkul mesra pundak gadis itu dengan senyuman tampak baik-baik saja.
Wajah Fung Li sudah memerah padam, sungguh rasanya dia tidak ingin menahan rasa kesal dan marah pada Xiao Zhan karena ada orang lain Fung Li perlu menahan emosinya.
"Awas kalian berdua seperti tadi lagi, jika pagi selanjutnya aku melihat kejadian seperti ini. Emm aku tidak tahu harus memberikan pelajaran apa kepada kalian berdua," lontar permaisuri Xiao Yu dengan tegas.
Permaisuri Xiao Yu berdiri dari dudukannya lalu berbalik. "Pelayan bersihkan lantai bekas teh itu," suruhnya lalu pergi.
"Letakan barang-barang itu di atas meja sana," suruh Xiao Zhan pada pelayan yang memupuk barang-barang jatuh dari nampan.
"Aku tidak ingin melihat barang berjatuhan seperti ini lagi, cepat rapi dan bersihkan!" Xiao Zhan melepaskan rangkulannya pada Fung Li.
Fung Li melirik ke samping menatap wajah Xiao Zhan yang tampak kesal membuat tubuh para pelayan gemetaran hebat tidak berani melihat raut wajah pria pemarah itu.
Dengan cepat, lantai yang kotor sudah dibersihkan serta barang-barang keperluan pakaian baru diletakan di atas meja oleh para pelayan khusus itu.
Setelah menjalankan tugas pada Sang Kaisar dan Permaisuri, mereka pergi dengan cepat. Rata-rata para pelayan yang sering bertugas khusus untuk keluarga kerajaan sudah dijamin orang dewasa, sangat jarang ada pelayan muda kecuali itu memang diinginkan.
***
Di jalan besar kota tengah Kekaisaran Li.
Tampak kumpulan orang-orang ternama sedang melakukan perjalan pulang. Ada yang memakai kuda dan ada yang berkereta. Semuanya diiringi oleh prajurit banyak menjaga dibelakang.
Di dalam kereta yang berjalan paling depan. Tampak sosok pria paruh baya yang duduk bersama istrinya dengan wajah tampak serius asik memikirkan sesuatu.
"Suamiku, mulai malam tadi kau tidak berbicara satu katapun di acara pernikahan besar putri kita Fung Si sampai sekarang, mengapa?" tanya Nyonya Si Yen pada sosok suaminya yang duduk di sebelahnya.
"Iya ayah, mengapa kita harus langsung pergi dari istana besar itu? aku ingin sekali bertemu dengan Kaisar Xiao Zhan secara langsung, dia adalah kakak ipar yang luar biasa," ungkap Tuan Fei Si yang duduk di tempat duduk belakang dengan wajah berbinar kagum.
"Benar ayah, di sana banyak sekali gadis-gadis seksi dan cantik," sambung Tuan Jun Si yang duduk di samping Fei Si. Sedang tersenyum lebar membayangkan sesuatu.
"Kalian diam, ayah sedang pusing sekarang, kita harus cepat pulang dan kembali, jangan pernah sebut Fung Si lagi, dia bukan anggota keluarga kita lagi paham?" tegur Tuan muda pertama Luw si pada kedua adik yang duduk di sebelahnya karena posisi dia duduk paling ujung.
"Meng ...," saut Fei Si terpotong.
"Cukup, jangan ada di antara kalian berbicara lagi," tegur Luw Si dengan wajah datar.
__ADS_1
Mendengar itu, Fei Si yang sangat menyayangi Fung Si sejak kecil hanya bisa terdiam. Rasanya dia ingin sekali terus-terusan membela saudara tirinya itu.
"Ck." Tuan Jun Si melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya yang tampak kesal tiba-tiba berubah, terlintas pikiran sesuatu di benaknya.
'Hahaha, aku harus bisa lebih dekat dengan adik Fung Si agar mendapatkan banyak harta dan bisa melihat gadis-gadis cantik di Kekaisaran Langit, jika ada waktu aku pasti akan kabur dan mencoba dekat dengan dewa ketampanan' batin Jun Si.
Tuan Luw Si memandang ayahnya dari belakang dengan wajah datar. 'Sebenarnya aku ingin sekali bisa bertemu dengan adik kecil, tapi apalah dayaku harus bisa mengikuti ayah agar aku bisa menjadi calon penerus Jenderal langsung ditunjuk tangan oleh ayah' batinnya.
***
Kekaisaran Langit
Tengah kota yang sangat ramai di kekaisaran itu, tampak sebuah kereta mewah yang terparkir tepat di tengah jalan yang memiliki empat jalur jalan besar lainnya.
Para rakyat jelata berkerumunan seperti semut mengelilingi kereta itu. Terdengar lontaran-lontaran keluar dari mereka melihat sosok orang yang asiknya mengulurkan tangan membagikan sesuatu.
"Kalian pakailah pakaian ini, jangan lupa manfaatkan koinnya dengan baik." Kaisar Xiao Zhan menyerahkan banyak bingkisan satu persatu kekerumunan rakyat yang mengumpul dengan senyum tulus.
"Terimakasih Yang Mulia, hamba sangat bersyukur, koin ini bisa digunakan untuk putra hamba yang membutuhkan pendidikan," seru salah satu rakyat.
Kaisar Xiao Zhan tersenyum hangat begitu nampak lesung di kedua pipinya terlihat begitu manis. "Untuk pendidikan, aku sudah memperluas bantuan bagi para rakyat yang kurang mampu, kalian tidak perlu risau, generasi muda akan merasakan setiap pendidikan di sekolah kerajaan," ungkapnya membuat para rakyat seketika bersujud di tempat.
Fung Li yang membawa sepuluh bingkisan di tangannya dari dalam kereta berjalan menuju Xiao Zhan dengan wajah datar.
"Kalian berdirilah semua," pinta Xiao Zhan. Tersenyum hangat menatap para rakyatnya.
Para rakyat pun berdiri dengan wajah tampak sangat haru memandang Xiao Zhan.
Xiao Zhan melirik ke samping melihat Fung Li yang sudah berdiri di sebelahnya dengan memegang bingkisan menutupi depan tubuhnya. Senyum tampak di bibirnya melihat gadis itu seperti kelinci penurut di matanya.
Xiao Zhan mengambil setengah bingkisan di tangan Fung Li.
"Bagikan sisanya pada rakyat di sana," pinta Xiao Zhan tersenyum menatap wajah datar Fung Li.
Xiao Zhan langsung pergi kekerumunan rakyat dengan membawa bingkisan itu tanpa merasa malu sama sekali dekat dengan para rakyatnya.
Fung Li jadi tersentak. Dia mematung di tempat mendengar suruhan pria yang selalu membuatnya kesal itu.
Mau tidak mau Fung Li pun menjalankan permintaan itu. Dia berjalan ketengah kerumunan rakyat lain dan membagikan bingkisan pada rakyat yang kurang mampu.
"Terimakasih Permaisuri, Anda sungguh sangat cantik, semoga putri saya bisa menjadi cantik dan hebat seperti Anda kelak di masa depan," ucap salah satu wanita paruh baya yang berada di hadapan Fung Li.
Fung Li tersenyum hangat memandang para rakyat yang berpakaian kumuh. Baru kali ini dia menampakan senyum begitu tulus.
"Kakak, apa Saya bisa memanggil Anda kakak?" lontar seorang anak kecil lelaki. Ia menarik-narik hanfu yang dipakai Fung Li.
Melihat itu para rakyat jelata jadi terkejut, mereka takut sosok permaisuri akan marah jika pakaian bagusnya disentuh seinci pun, apalagi oleh rakyat jelata yang tidak ada apa-apanya.
Tiba-tiba Fung Li menggendong anak kecil itu dengan tersenyum membuat semua orang terkejut bukan main.
"Berapa umurmu? kau tinggal sendiri?"
__ADS_1
Fung Li mengusap-usap pipi anak kecil yang pakaiannya begitu kotor itu di gendongannya.
Anak kecil itu tersenyum memperlihatkan gigi rapinya. "Saya berumur lima tahun Permaisuri dan saya hanya tinggal bersama kaka perempuan saya," jawabnya.
Xiao Zhan yang selesai membagikan bingkisan pada rakyat berbalik dan berjalan menuju kereta. Namun langkahnya tiba-tiba berhenti karena sesuatu. Dia terkejut melihat dari jauh Fung Li menggendong anak kecil dengan senyuman hangat.
"Bagaimana kau harus kuat mulai sekarang yah!" Fung Li mengangkat sebelah tangan dan memperlihatkan telapak tangannya pada anak kecil yang dia gendong.
"Siap Permaisuri," jawab anak kecil itu menyatukan telapak tangan kecilnya pada telapak tangan Fung Li dengan tersenyum bertos santai.
"Kalian juga semua, jangan takut jika ada yang berani menindas meski seorang rakyat biasa. Selama apa yang kalian lakukan tidak salah jangan pernah mundur," lontar Fung Li.
Fung Li menurunkan anak kecil di gendongannya.
"Benar." Semua rakyat berseru diiringi tepuk tangan meriah.
"Sampai jumpa."
Fung Li melambaikan tangan pada para rakyat yang tersenyum lebar melihatnya. Dia membalikan tubuh dan berjalan menjauh dengan sudut bibir terangkat tersenyum.
Para rakyat melambaikan tangan balik pada Fung Li yang berjalan menjauh.
Di tengah jalan menuju kereta tiba-tiba ada yang menghalangi langkah jalan Fung Li. Beberapa gadis-gadis cantik dengan hanfu yang begitu ketat menampakan sisi lekukan tubuh.
"Salam Permaisuri," seru semua gadis yang berdiri di hadapan Fung Li. Kemudia membungkukan setengah tubuh mereka.
"Pppftt," tahan tawa salah satu gadis yang membungkuk.
Secara bersamaan mereka berdiri kembali dan menatap Fung Li dari atas sampai bawah.
Dari jauh Kaisar Xiao Zhan menaikan sebelah alisnya melihat kumpulan gadis menghentikan jalan Fung Li. Dia menyandarkan punggung di kereta dengan melipat kedua tangan.
"Wah wah, kita bertemu Permaisuri, sungguh beruntung, dia tidak kalah cantik dari ketua kita Putri Wei Wei," tukasnsalah satu gadis.
Fung Li memalingkan wajah, senyum tipis tampak di bibir seksinya mendengar ucapan itu.
"Hai Permaisuri Fung Li, aku lupa memperkenalkan diri, aku adalah Putri Wei Wei mantan tunangan Kaisar Xiao Zhan." Gadis paling depan melangkah maju dengan lagak anggunnya mengibaskan rambut cantik panjangnya.
Putri Wei Wei berdiri di hadapan Fung Li, dia mengulurkan tangan ingin menyentuh pakaian hanfu yang dikenakan Fung Li.
Fung Li menahan pergelangan tangan Putri Wei Wei dengan wajah dingin. Atmosfer di sekitar seketika jadi menekan.
"Awwww," ringis Putri Wei Wei. Dia menarik tangannya lalu memundurkan tubuh dan sengaja menjatuhkan tubuh di tembok.
"Sakit, apa yang Anda lakukan pada saya Permaisuri?" tanya Putri Wei Wei yang tersungkur menyentuh lututnya tampak menyedihkan.
'Cih, mencoba memperburukku di depan umum? gadis pintar' batin Fung Li.
"Ada apa?" Xiao Zhan mendekati perkumpulan para gadis pengikut Putri Wei Wei.
Keadaan jadi serius, para rakyat di sekitar jadi terheran apa yang terjadi sampai putri itu tersungkur di tembok. Ada yang mengira Fung Li telah mendorong dan ada juga yang mengira memang di sengajakan terjatuh.
__ADS_1
...Bersambung😙......
Jgn lupa Like, komen, anda vote, itu semua sangat berharga bagi author.