Permaisuri Rebutan

Permaisuri Rebutan
Surat dari Pangeran Huang Li


__ADS_3

Fung Li berjalan menuju depan sebuah lemari lalu membukanya. Dia mengambil sebuah peti emas dari dalam situ lalu menutup pintu kembali.


Silli, Tutu, Kucing putih dan rubah memandang Fung Li jadi tahu apa yang ingin dilakukan wanita itu memegang sebuah peti.


Fung Li berjalan menuju pintu masuk lalu keluar dari ruang itu diiringi pengikutnya. Mereka pergi ke sebuah muara air suci yang berada di ruang dimensi itu.


Sesampainya ...


"Ketua apa ini sudah waktunya?" tanya Tutu terbang di sekitar Fung Li yang terus berjalan mendekat keperairan dengan membawa peti emas tadi.


Tiba-tiba Fung Li menghentikan langkah kakinya membuat Silli, Kucing Lutih dan rubah ikut berhenti.


"Ini sudah waktunya untuk melihat hasil jadi atau tidak pil itu, aku akan membutuhkan kekuatan kalian bertiga dan Silli bisakah kau agak menjauh dari tempat ini agar tidak kena dampak pengutuhan pil ini," pinta Fung Li.


"Tentu Kak, tapi semoga berhasil dan semuanya baik-baik saja," jawab Silli. Lalu berlari pergi menjauh.


Kucing Putih dan rubah berdiri dibsamping bersebelahan Fung Li dengan wajah serius memandang Fung Li.


"Hitungan ketiga gunakan kekuatan yang kalian miliki untuk memasang fortal terjadinya masalah penekanan," titah Fung Li dengan wajah serius.


Tutu, kucing dan rubah pun mengangguk cepat.


Fung Li perlahan membuka peti dipegangannya. Saat peti itu mulai terbuka keluar cahaya berkilau warna-warni semakin besar.


Sesuatu kecil keluar dari peti itu dan melayang tinggi, angin berhembus sangat kencang, udara semakin menekan membuat Tutu, kucing dan rubah pun serentak mengeluarkan kekuatan mereka.


Tutu membuka paruhnya dengan lebar mengeluarkan kekuatannya. Kucing Putih menajamkan matanya sedangkan rubah mengarahkan ekornya pada benda yang melayang.


Whusss ... whusss


Angin semakin kencang bertiup menekan udara sekitar. Keluar cahaya emas menyilaukan dari benda yang melayang bersamaan dengan angin sangat kencang yang membuat tubuh ketiga hewan terbanting jauh.


Benda yang melayang jatuh kembali kedalam peti yang masih terbuka dipegang oleh Fung Li. Keributan angin pun sekejap menghilang bersamaan cahaya tadi.


Di tanah, kucing dan rubah bangkit dari jatuhnya, sedangkan Tutu merentangkan kedua sayap tebalnya dan terbang mendekati Fung Li yang tidak bergerak sama sekali di situ.


"Apa berhasil ketua?" tanya Tutu dengan wajah penasaran dan berbinar.


Tiba-tiba datang Silli berlari cepat mendekati Fung Li dengan wajah cemas bercampur penasaran. Begitu pula Kucing Putih dan rubah juga mendekati Fung Li.


Fung Li berjongkok dan memperlihatkan dalam peti pada Silli. Dua Hewan Sprit dan Burung Phoenix.


Semua mata melihat ke dalam peti, tampak zat padat bulat seperti telur burung puyuh ukuran besarnya. Bewarna putih polos. Bamun mengeluarkan cahaya putih sekitarnya.


"Wahhh, benar ini adalah pil serbaguna," kagum Tutu dengan mata berbinar melihatnya.


"Berhasil, sepertinya bentuknya agak berbeda dari biasanya sedikit kecil karena waktu itu menggunakan banyak tumbuhan ji ji makanya jadi agak besar," lontar Fung Li.


"Syukurlah akhirnya berhasil Kak," ucap Silli tersenyum senang.


Kucing Putih dan rubah asiknya melongo melihat dalam peti.


Fung Li mengambil pil itu dan memperlihatan pada semuanya dengan jelas.


"Berhasil," ucap semuanya saling melirik dengan melempar senyum senang.


***


Luar dari ruang dimensi


Paviliun Waele tempat kediaman Ibu Suri Mia dan Permaisuri Xiao Yu. Di dalam kamar utama milik permaisuri Xiao Yu atau Ibunya Kaisar Xiao Zhan, tampak empat wanita berkumpul.


Mereka duduk bersila di lantai bersih dibatasi oleh meja segi empat yang jadi penghalang. Duduk di atas karpet dari sutra lembut. Di pinggir dekat dinding kamar itu para pelayan banyak bersusun rapi dengan kepala menunduk.


Empat wanita yang duduk itu adalah Selir Wei Wei, Selir Yuwer, Ibu Suri Mia dan Ibunya Kaisar Xiao Zhan.


"Salam Ibu suri dan Permaisuri Xiao Yu." Kedua selir itu dengan serentak menyatukan kedua tangan ke depan dan kepala menunduk.


"Hmm," dehem Ibu suri dan Ibunya Kaisar Xiao Zhan secara bersamaan dengan memasang wajah suka tidak suka.


Kedua selir menarik tangan mereka kembali dan meluruskan kepala. Mereka jadi tegang melihat raut wajah wanita tua di hadapan mereka.

__ADS_1


"Hahaha," tawa tiba-tiba Permaisuri Xiao Yu tersenyum.


"Tidak kuduga cucuku menambah dua istri, sebenarnya apa yang dipikirkan anak nakal itu?" tanya Ibu Suri Mia melirik ke samping menatap Permaisuri Xiao Yu.


Mendengar ucapan Ibu suri, Selir Wei Wei membuka suara. "Maaf nenek menyela, sebenarnya Yang Mulia Kaisar mencintai Saya makanya dia menjadikan Saya selir, semenjak kecil pun kami selalu bersama benar bukan? "lontarnya penuh percaya diri.


Mendengar lontaran selir Wei Wei semua orang dalam kamar jadi terkejut betapa beraninya wanita yang hanya menyandang status selir berkata seperti itu.


Permaisuri Xiao Yu menghentikan tawa pelannya. Dia melirik ke arah Selir Wei Wei lalu Selir Yuwer yang belum membuka suara.


"Karena kalian sudah berlaku sopan dan mengunjungi kami maka aku akan memberi hadiah," ucap Permasiuri Xiao Yu tersenyum.


Mendengar itu seketika kedua selir.dan para pelayan jadi terkejut.


"Pelayan, kalian semua antarkanlah Selir Wei Wei dan Yuwer kembali ke kediamannya, hadiahnya aku akan menugaskan prajurit mengantarnya," titah Permaisuri Xiao Yu tersenyum.


Selir Wei Wei dan Yuwer pun sontak berdiri dan membungkukan tubuh. "Terimakasih," ucap mereka serentak.


Permaisuri Xiao Yu dan Ibu suri melempar senyum memandang dua wanita itu.


'Biar mereka cepat pergi' batin Permaisuri Xiao Yu.


Selir Wei Wei dan Yuwer pun pergi dari dalam kamar diiringi banyak pelayan di belakangnya.


***


...Di Paviliun Yui...


Kamar utama, di ruang rahasia


Fung Li keluar dari ruang dimensi bersama Silli. Mereka hanya berdua dalam ruang rahasia itu.


"Kak Fung Li, Saya heran mengapa Kaisar Xiao Zhan tidak keberatan jika Anda telah menyalin resep membuatnya pilnya?" tanya Silli yang duduk di kursi meja dekat jendela memandang wanita cantik yang sedang mengotak-atik sesuatu dari dalam lemari.


Fung Li pun menutup lemari dan membalikan tubuhnya.


"Aku dan kera itu terhubung kerjasama, aku berhutang budi padanya karena menolongku," jawab Fung Li yang membuat Silii seketika berdiri dengan wajah terkejut dan heran.


Fung Li sampai dekat meja, lalu dia duduk di salah satu kursi, sedangkan Silli dia menarik kursi mendekat kesamping kursi yang diduduki Fung Li.


"Cepat ceritakanlah kak," mohon Silli dengan mata berbinar pada Fung Li.


Fung Li menarik napas dan menghembuskannya. "Saat itu ...."


***


Kekaisaran Li , di Istana Kerajaan Li


Kediaman Pangeran Huang Li, di ruang kerja di kediaman itu


Tampak Pangeran Huang Li yang duduk di kursi kehormatannya, dia sedang menulis sesuatu di atas meja di hadapannya.


"Pangeran, apa ini tidak apa?" tanya Panglima Fu, panglima setia Pangeran Huang Li yang berdiri di hadapan meja tempat Pangeran Huang Li menulis sesuatu di titah.


Pangeran Huang Li memasukkan kuas di tangannya kembali ke dalam botol tinta kecil, lalu dia menggulung titah yang selesai dia tulis.


"Tidak apa, dia adalah permaisuri di kerajaan langit apa salahnya jika menerima surat dari seorang Pangeran? aku juga sedikit kesal mendengar jika Kaisar Xiao Zhan menambah selir di haremnya, apa yang dipikirkan guru itu sebenarnya? jika dia tidak mencintai Permaisuri Fung Si mengapa harus mempunyai selir?" omel Pangeran Huang Li sambil mengikat tali pita pada titah.


Panglima Fu menahan tawa mendengar omelan majikannya. "Pangeran apa ini benar Anda? mengomel dan kesal seperti ini bukanlah seperti Anda, baru Saya melihat dan mendengar Anda mengomel, dan ini lebih normal daripada Anda terus tersenyum," lontarnya.


Pangeran Huang Li mendengus kesal. "Ini antarkanlah surat kedua yang kukirim pada Permaisuri Fung Si," suruhnya menyodorkan titah yang selesai diikat rapi dengan pita.


Panglima Fu mengambil titah itu lalu membungkuk dan memundurkan diri.




Sore Hari, Kekaisaran Langit.


__ADS_1


Di kerajaan langit, Paviliun Xia dalam ruang bersantai di paviliun itu, tampak sosok Pria tampan yang duduk di lantai menghadap meja besar. Dia sedang membaca titah di tangannya dengan wajah tampak marah.



Di hadapan meja besar itu, terdapat pria berdiri dengan memakai topeng setengah wajah.



"Ketua, sepertinya Pangeran Huang Li menyukai Permaisuri Fung Si," ucap Panglima Liu Te memandang Pria yang duduk itu.



Brakkkk! Suara meja digebrak keras oleh Xiao Zhan yang langsung berdiri dari dudukannya.



Panglima Liu Te jadi kaget melihat respon sikap Xiao Zhan.



Xiao Zhan melempar titah di tangannya kesembarang arah dengan wajah tampak marah. "Eergghhh," geramnya menggertakan gigi.



"Dia adalah permaisuriku! mengapa si kodok itu mencampuri urusan kami? lagipula dia tidak ada hubungannya dengan ini, polos-polos genit," oceh Xiao Zhan dengan dada naik turun napas tak beraturan.



Panglima Liu Te bungkam mendengar ocehan pria yang tampak marah itu.



'*Aduh, apa ada kesalahan yang kukatakan? mengapa ketua jadi marah mendengar Pangeran Huang Li menyukai Permaisuri Fung Si, dan itu sepertinya memang benar*' batin Panglima Liu Te.



"Memang mengapa jika aku mempunyai selir? semua itu juga hanya palsu demi tulang naga." Xiao Zhan melirik kearah Liu Te yang mematung di tempat.



"Ketua, tenanglah Saya akan mengurus hal ini," ucap Liu Te membuka suara.



Xiao Zhan turun dari tangga pendek dari lantai yang didudukinya itu menuju lantai dasar. Dia mendekati Liu Te dengan wajah tampak sangat kesal.



"Berani sekali dia mengirim surat pada wanita yang sudah menyandang status istri dan lebih jelasnya istriku!" omel Xiao Zhan lagi berkacak pinggang sambil melihat sekitar kamar.



"Memang suratnya tentang apa ketua?" tanya Liu Te.



Xiao Zhan menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan Liu Te. "Tentang kisah pertemanan masa kecil dirinya dengan Fung Si," jawabnya dengan suara berubah pelan tidak keras-keras seperti tadi.



"Ppfttt." Panglima Liu Te menundukan kepala menahan tawa dengan sebelah tangan menutup mulutnya.



Xiao Zhan menaikan sebelah alisnya. "Mengapa kau menahan tawa seperti itu?" tanyanya heran.



'*Apa ini bisa dibilang cemburu*?' batin Liu Te.


__ADS_1


...*Bersambung* ......


__ADS_2