
"Aku tetap menerimanya bagaimanapun, dia adalah wanita yang sangat penting bagiku," jawab Xiao Zhan muncul dari pintu masuk dengan melipat kedua tangan di depan dada.
Yux Si dan Raja Zha Wey termasuk Fung Li seketika melirik asal suara.
Xiao Zhan berjalan dan ikut duduk di samping Fung Li dengan wajah datar. "Aku paling tidak suka jika ada yang menanyakan tentang perasaanku terhadap istriku sendiri, itu sudah pasti aku mencintainya apa yang lagi perlu dibuktikan? aku menikahinya karena aku mencintainya, untuk apa aku menikahi wanita yang tidak aku cintai dan rela hidup membosankan bersamanya?" omelnya dengan wajah serius.
Fung Li tertegun mendengar perkataan sekaligus melihat raut wajah Xiao Zhan. Sedangkan Yux Si dan Raja Zha Wey terbungkam tak mampu bersuara.
Xiao Zhan melempar tatapan tajam pada Raja Zha Wey. "Dan aku tidak suka istriku dilirik terus, sudah memiliki masih saja ingin yang lain, dasar kekanakan," sindirnya begitu menusuk.
Xiao Zhan menggenggam tangan Fung Li. "Ayo kita pergi," ajaknya berdiri diikuti Fung Li.
Fung Li sejenak melirik Yux Si dan melempar tatapan dendam mengerikan lalu sekejap berubah senyum. Sementara Xiao Zhan melempar tatapan membunuh pada Raja Zha Wey dan dibalas tatapan membunuh balik.
"Ayo suamiku." Fung Li bermanja menggandeng lengan Xiao Zhan dan menyandarkan kepala di lengan kekar itu.
Xiao zhan jadi tersentak menerima sikap manja dibuat-buat Fung Li yang membuatnya seketika tersenyum.
Xiao Zhan dan Fung Li pun keluar dari kamar itu tampak sangat akrab dan senang seperti pasangan hidup yang begitu bahagia.
.
.
.
Perjalanan pulang menuju istana kerajaan, jalam begitu padat, Kaisar Xiao Zhan dan Fung Li masing-masing mengendarai kuda sendiri secara beriringan menyusuri jalan kota yang tidak terlalu padat. Memakai cadar menutupi setengah wajah dan topi seakan menyembunyikan jati diri mereka.
Sinar matahari sore mengenai gadis cantik yang berkuda penuh semangat. Angin menerpa hanfu dan rambutnya yang terurai.
Fung Li dan Xiao Zhan berkuda secara beriringan, tidak jarang mereka sejenak saling melirik lalu mengalihkan pandangan kelain.
***
Sepanjang jalan tidak ada obrolan apapun dan kini sudah tiba dan sampai di Paviliun Xia.
Di dalam kamar milik Sang Kaisar dan Permaisuri, di ruangan mandi terdengar suara guyuran air.
Tampak sosok pria gagah bertelanjang dada bersandar di kolam yang airnya setinggi bahu.
"Mengapa kau tidak berani mandi kedalam kolam ini?" tanya Xiao Zhan sambil memainkan rambut hitamnya yang basah.
__ADS_1
Fung Li yang berdiri tidak jauh membelakangi Xiao Zhan menghentikan langkah kakinya.
"Mandilah bersamaku, ingat kau harus menemaniku sepanjang saat bukan? masuklah sini," pinta Xiao Zhan.
Fung Li pun berbalik dan berjalan menuju kolam dengan langkah pelan dan wajah yang tampak melamun.
"Ayo sini," ajak Xiao Zhan tersenyum.
Sesampainya dekat kolam, Fung Li berjongkok tidak jauh dari Xiao Zhan. Dia memandang air kolam yang terlihat begitu tenang dan lama semakin lama memandangnya.
"Hei monyet," panggil Xiao Zhan.
"...." Hening tidak ada sautan sama sekali dari orang yang ia panggil. Xiao Zhan pun menoleh ke samping dan menangkap Fung Li yang terus melamun dengan wajah tampak mucat dan keringat dingin bercucuran banyak.
Melihat itu Xiao Zhan jadi kaget. Dia berjalan dari dalam kolam mendekati Fung Li.
Sesampainya. "Hei, ada apa denganmu?" tanya Xiao Zhan mengulurkan tangan ingin menyentuh wajah Fung Li.
Fung Li langsung berdiri dan membalikan tubuh, ia berlari keluar dari kamar mandi membuat Xiao Zhan memasang wajah begitu heran dan merasa aneh.
"Ada apa dengannya?, apa ada yang salah dengan wajahku?" heran Xiao Zhan. Kemudian beranjak dari kolam dan menyudahi acara mandinya.
***
Dalam kamar Paviliun Xia, terdengar suara dentingan sendok dan sumpit yang saling beradu.
Keadaan hening dan sunyi, di meja makan yang berada di tengah halaman kamar yang luas itu tampak dua orang sedang sarapan tenang.
Tidak ada obrolan di sela-sela makan, hanya pokus sendiri-sendiri pada makanan yang sudah hampir selesai.
"Aku sudah selesai." Fung Li mengelap bibirnya dengan sapu tangan.
Xiao Zhan yang ingin mengambil lauk seketika berhenti, dia menatap Fung Li.
'Apa aku perlu bertanya tentang yang terjadi kemarin?' batin Xiao Zhan.
"Kau temani aku setelah makan ini, seharian di ruang kerja," pinta Xiao Zhan.
"Enak sekali mengatur, tapi baiklah karena aku ingin kau memberitahuku luka apa yang kau alami, aku akan menemanimu selama tiga hari dan ini adalah hari kedua," tutur Fung Li menatap Xiao Zhan.
Xiao Zhan mengambil lauk kembali. "Apa pentingnya jika kau mengetahui luka yang kualami?" tanyanya.
__ADS_1
"Siapa tahu aku bisa membantumu sebagai balas budi," jawab Fung Li tersenyum tipis.
Xiao Zhan tiba-tiba menyodorkan sepotong daging sapi yang diambilnya pada mulut Fung Li. "Makanlah," pintanya.
Fung Li memundurkan tubuh. "Tidak, aku sudah membersihkan bibir," tolaknya.
Xiao Zhan tetap menyodorkan lauk itu sampai diterima Fung Li dengan wajah kesal.
"Sangat jelek seperti monyet yang ingin menangis kehilangan pisangnya," ejek Xiao Zhan.
Fung Li mengunyah daging di mulutnya dengan wajah tampak dendam yang membuat Xiao Zhan tersenyum nakal.
'Meski dia memang menyebalkan, tapi aku melihat bahwa orang sepertinya sangat baik, dia bahkan rela menyembunyikan lukanya agar tidak ada yang cemas' batin Fung Li.
"Hahaha," tawa pelan Xiao Zhan.
Dari luar kamar, tampak Permaisuri Xiao Yu dan Ibu suri Mia yang berdiri dekat dinding sedamf tertawa cekikan pelan melihat dua orang yang berada dalam kamar menikmati makanan.
Para pelayan banyak yang mengikuti dua wanita itu hanya bisa menundukan kepala sambil tersenyum diam-diam mendengar obrolan dua wanita terhormat itu.
"Uhh, romantisnya putraku," tutur Permaisuri Xiao Yu tersenyum
"Mereka sangat manis sekali," ucap Ibu Suri Mia menutup mulutnya diiringi tawa cekikan.
"Ibu, kapan kita bisa menggendong seorang bayi? kita sangat menunggunya," lontar Permaisuri Xiao Yu begitu ingin.
"Bersabarlah, mungkin tidak lama lagi anakku, hihihi," balas Ibu Suri Mia diiringi tawa cekikan.
***
Di tempat lain.
Sebuah tempat yang jauh dari wilayah Kekaisaran Langit, dibatasi oleh wilayah perairan laut.
Tempat yang dinamakan dengan sebuah kota yang tidak ada hubungannya dengan Kekaisaran Langit atau daerah asing yang terpisah dari kekaisaran itu.
Tempat itu sangat jauh berbeda dengan Kekaisaran Langit, penghuninya para penghaus darah dan kekuatan besar. Tidak heran setiap harinya banyak terjadi masalah dan tragedi mengerikan di situ.
Bisa disebut dengan nama 'kota kehancuran' itulah nama yang sering di lontarkan di mulut setiap orang yang menyebutnya.
Lingkungan kotanya sama seperti hal biasanya namun di setiap jalan banyak terjadi hal yang tak senonoh. Pembunuhan di tempat, pemerkosaan, perjudian, pemberontakan sudah jadi kebiasaan mayoritas penduduk di situ setiap harinya.
__ADS_1
Di bangunan besar, tinggi beberapa tingkat, tempat kediaman sebuah Raja pemimpin kota kecil itu.
...Bersambung .......