Permaisuri Rebutan

Permaisuri Rebutan
Persiapan Tahun Baru


__ADS_3

Dua hari kemudian setelah kembalinya Putri Xian, adiknya Xiao Zhan. Semua terlihat baik-baik saja.


Menjelang Festival Tahun Baru dan Pameran keadaan tampak ramai di penjuru seluruh kekaisaran. Menyambut hari yang begitu penting bagi mereka semua.


Para rakyat dengan sibuknya mengurus hal-hal untuk keperluan menyambut tahun baru dan pameran besar-besaran yang selalu diadakan setiap tahun oleh Kekaisaran.


Di istana Kekaisaran Langit yang sangat luas dan besar itu, para pelayan, prajurit, kasim, menteri, dan semua penghuni istana sibuknya mondar-mandir menjalankan tugas mereka. Keadaan jalan istana tampak begitu ramai karena itu.


Ada yang bertugas menghias tempat sekitar dengan menggantung bola merah sebagai tanda hari penting yang akan datang. Banyak juga hiasan lainnya sebagai memeriahkan hari yang ditunggu-tunggu mereka setiap tahunnya.


***


Di Paviliun tempat Selir Wei Wei, bertempat di pemandian kamar. Selir Wei Wei sedang asiknya berendam dalam kolam pemandian di zaman itu. Sambil ditemani beberapa pelayan yang khusus melayaninya.


"Selir terhormat, saat malam nanti Anda harus menjadi wanita yang paling cantik malam ini," ucap salah satu pelayan yang terlihat masih muda. Pelayan yang sedang menggosok pelan bagian punggung Selir Wei Wei itu tersenyum menggoda pada junjungannya.


"Hmm tentu, tidak ada yang lebih cantik dari aku di sini. Tentu para pria di luar sana banyak yang kagum, tapi sayang aku hanyalah milik Yang Mulia Kaisar Xiao Zhan, dan hanya dia pria yang pantas untukku," saut Selir Wei Wei dengan wajah angkuh dan tersenyum bangga akan dirinya.


"Benar Selir, Yang Mulia Kaisar pasti akan jatuh cinta pada Anda."


"Apalagi Selir malam ini akan tampil sangat cantik mengalahkan Permaisuri Fung Si yang lemah itu."


"Jangan bandingkan Selir dengan Permaisuri, semua tidak ada apa-apanya dibanding Selir yang lebih hebat, juga cantik."


Selir Wei Wei semakin senang mendengar pujian dari para pelayannya. Dia semakin merasa bangga dan tersenyum puas mendengar Fung Li dijelekkan.


"Pasti Selir Wei Wei nanti yang akan memenangkan penghargaan wanita tercantik dan berbakat tahun ini seperti tahun sebelumnya."


"Itu sudah pasti, aku sudah beberapa kali mendapat penghargaan itu dari tahun ke tahun, tentu tahun ini mendapatkannya lagi," lontar Selir Wei Wei dengan percaya dirinya.


Pelayan di situ semua tersenyum mengangguk-angguk. Percaya akan ucapan Selir karena memang sedari dulu, Selir itu sudah sering mendapat penghargaan wanita tercantik dan berbakat di Kekaisaran, dan yang kedua adalah Yux Si.


***


Sementara di Paviliun Xia, kediaman Kaisar Xiao Zhan. Pria itu tampaknya sedang sarapan bersama Fung Li maupun Ibu Suri Mia dan Permaisuri Xiao Yu ibunya.


Mereka sarapan bersama di dalam ruang kamar Kaisar Xiao Zhan sendiri yang memang sangat luas. Dengan duduk saling berhadapan Fung Li dan Xiao Zhan yang menghadap nenek dan ibu mereka.


Hening terasa, hanya terdengar dentingan sumpit dan piring yang beradu. Asiknya makan, sesekali Xiao Zhan melirik gadis di sampingnya dengan tersenyum tipis.


"Makan yang banyak yah sayang, hari ini akan menjadi hari yang melelahkan." Tidak sadar Xiao Zhan menyapu-nyapu atas kepala Fung Li membuat sang empunya yang asiknya mengirup air sup dalam mangkuk hampir tersedak.


Fung Li pun membiarkan pria itu menyapu rambutnya, lalu menyudahi kegiatannya dan memandang lurus melihat Ibu Suri Mia dan ibu mertuanya yang tidak lekat menatapnya sedari tadi bersama Xiao Zhan.


"Kira-kira jika hamil, kau mau anak perempuan atau lelaki menantuku?"


Deg, Xiao Zhan dan Fung Li saling memandang dengan rasa canggung. Mendengar nama anak di setiap bibir dua wanita itu, rasanya mereka ingin sekali menghilang.


"Nenek dan ibu ingin yang mana?" tanya Xiao Zhan berusaha terlihat santai.


"Itu harusnya kau tanyakan pada istrimu, bukan kami yang patut kamu tanyakan cucuku."


Xiao Zhan tersenyum getir, lalu memandang Fung Li meminta jawaban.


"Aku ingin keduanya," jawab Fung Li membuat terkejut ketiganya di situ.

__ADS_1


Xiao Zhan tidak bisa menahan senyum manisnya mendengar jawaban Fung Li yang tidak terduga.


Fung Li tersenyum malu menatap Ibu Suri dan ibu mertuanya. 'Maafkan Fung Li berbohong, nenek dan ibu, jangankan ingin punya anak, kami saja tidak saling mencintai dan pernikahan ini hanyalah sebuah status palsu' batin Fung Li.


"Itu bagus menantuku, aku sungguh tidak sabar menunggu kehadiran seorang cucu," sumpal Permaisuri Xiao Yu tersenyum senang.


Xiao Zhan dan Fung Li hanya bisa mengangguk-anggukan kepala mendengar setiap ucapan Ibu Suri dan Permaisuri.


***


Siang hari yang begitu cerah, jalanan kota besar dipadati akan para rakyat, maupun tamu kerajaan yang kini menuju ke Istana Kekaisaran Langit.


Panas terik, suara kaki kuda, maupun ramai-ramai suara rakyat yang menambah suasana ricuh sekitaran jalan dan tidak lupa membuat kemacetan.


Bukan hanya disitu, bahkan di istana juga sama, tempat yang besar dan luas menampung jutaan ribu orang bahkan lebih, tidak sedikitnya.


Di lapangan, tampak Xiao Zhan serta pengawalnya berjalan mengiring di belakang. Sang Kaisar itu mengamati setiap barang jualan yang sudah siap di pamerkan dari awal sekali.


Di jejeran barisan untuk para pedagang masyarakat menengah, seperti bangsawan. Tidak ada satupun barang yang berhasil membuat Xiao Zhan melirik sepanjang jalan melewatinya. Bahkan pria itu hanya memasang wajah dingin dan sedikit bosan.


Salam Yang Mulia, di bagian masyarakat biasa, ada salah satu pedagang yang memamerkan sebuah topeng Yang Mulia, topeng gadis yang telah pernah membantu menyerang Klan Vampir dan disini sudah begitu ramai karena topeng itu. (Telepati Liu Te)


Xiao Zhan menaikan sebelah alisnya menerima  telepati dari pengawal khususnya itu yang mengamati di bagian jejeran rakyat biasa.


Memang pameran sudah dimulai, tapi belum memasuki acara puncaknya, dimana akan terjadi menjelang malam nanti, tepatnya malam tahun baru. Namun keramaian sudah memenuhi istana besar dan luas itu.


Di Paviliun Xia


Permaisuri Xiao Yu dan Ibu Suri mulai meninggalkan Paviliun Xia, kini mereka berada di muka gerbang Paviliun Xia dan bersiap pergi diikuti para pelayan.


Fung Li berbalik masuk setelah mengantarkan hanya sampai depan. Dia tersenyum mengingat dua wanita yang sangat perhatian padanya semenjak berdiam di Kerajaan itu. Sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang sebaik mereka itupun cukup baginya.


"Mulai sekarang, aku harus meninggalkan kamar ini, dan aku juga tidak ingin ada hal yang tidak di inginkan terjadi jika terlalu lama bersama dengan Zhan apalagi sekamar dengan kera sialan itu."


Fung Li seketika teringat akan lintasan kenangan dirinya berada dalam kamar itu bersama Xiao Zhan.


Saat malam pertama dimana mereka kejar-kejaran, saat tidur malam bersama yang tidak sengaja berciuman setengah tidur dan bermimpi dan paginya tertangkap basah oleh ibu mertua, dan lebih banyak lagi.


'Mengapa aku jadi teringat itu? Seolah aku akan meninggalkan tempat itu selamanya,' batin Fung Li heran.


Asik bergelut dengan pikirannya tidak sadar terdengar ketukan pintu sudah beberapa kali.


Fung Li pun menuju pintu, dan membukanya.


"Kakak!" teriak Putri Xian memekik di telinga Fung Li.


Putri Xian langsung masuk dan berhambur memeluk Fung Li dengan wajah senang.


Fung Li langsung mengendong anak itu dan mencium pipinya karena gemas.


"Kau ingin bermain dengan kakak?" ajak Fung Li tersenyum lebar. Sangat manis dan cantik.


"Iya Kakak, dimana Kakak Zhan?"


"Kakakmu sepertinya sibuk mengurus pameran, apa kau tidak ingin jalan-jalan melihat?"

__ADS_1


"Hmm nanti saja kak, lagian Xian ingin bersama kakak saja."


"Baiklah, bersiap kakak akan membawamu ke tempat sangat indah." Fung Li mengusap-usap pipi anak kecil di gendongannya lalu tiba-tiba mereka menghilang di tempat dengan sekejap.


~~


Di sebuah tempat yang gelap, hanya terlihat beberapa lentera yang menyala di dinding sedikit menerangi tempat. Namun tempat itu sebenarnya sangat mewah, dengan setiap perabotan yang terbuat dari emas.


Tampak sosok pria berjubah hitam dan dengan kepala ditudungi sedang asiknya berdiri memandang pemandangan luar dari dekat jendela.


Seorang pria yang lebih muda datang menghampiri pria itu. Namun bedanya dia tidak memakai tudung. Sepertinya itu adalah salah satu anak buah dari pria bertudung itu.


"Yang mulia Raja, apa Anda tidak berniat pergi?" tanya pria yang lebih muda itu.


"Hmm, nanti malam. Kita juga akan membuat keributan besar di sana. Setelah rencanaku yang di hancurkan oleh pria sialan itu, tidak akan kubiarkan dia tenang," ucap pria bertudung itu dengan senyum sinis terlihat di bibirnya. Wajahnya tertutupi setengah oleh tudung.


"Baik Yang Mulia."


"Bagaimana dengan identitas permaisuri si kunyuk itu?" tanya sambil tersenyum.


"Menurut rumor, mereka tidak saling menyukai. Dan menariknya Yang Mulia, permaisuri itu sepertinya menjadi incaran Raja Zha Wey dan Pangeran Huang Li."


Mendengar informasi yang didapatkan dari pengawal khusus bayangannya. Raja itu tersenyum.


"Sepertinya dia bukanlah gadis biasa."


\~\~\~


Putri Xian melongo dengan wajah berbinar melihat pemandangan di depan matanya.


Sebuah taman yang sangat indah. Bunga-bunga cantik yang menghampar, kupu-kupu cantik bewarna-warni bertebangan. Kelinci-kelinci putih yang berlarian kesana kemari, membuat Xian merasa gemas.


Gadis kecil itupun berlari memasuki taman dan menangkap salah satu kelinci lalu berteriak.


"Kakak! Xian ingin kelinci ini! Boleh? " teriak Xian.


Fung Li yang berdiri tidak jauh segera mendekati anak kecil itu dengan senyum hangat. Dia berjongkok mengelus rambut Xian.


"Xian, itu tentu boleh. Bahkan Xian tidak perlu segan jika ingin bermain di sini bersama kakak."


Xian yang mendengar itu tersenyum bahagia. Namun wajahnya tiba-tiba terlihat bingung membuat Fung Li yang melihatnya heran.


"Tapi kakak, kita sebenarnya berada dimana? Xian tidak pernah melihat tempat seindah ini, itupun Kak Zhan tidak pernah mengajak Xian seperti yang kakak cantik lakukan sekarang," ucap Xian tampak cemberut mengingat kakak lelaki pertamanya itu.


Fung Li tersenyum mendengar keluhannya gadis kecil yang sudah dia anggap adiknya.


"Xian sayang, mungkin Kak Zhan sangat sibuk, kau tau kan dia adalah sosok Kaisar yang mempimpin wilayah besar. Pasti kakak sulit mengatur waktu kosongnya. Tapi Kak Zhan tentu sangat menyayangi Xian."


"Baiklah, tapi sebenarnya kita dimana Kak?" tanya Xian, gadis kecil itu penasaran sedari tadi.


"Janji jika kau tidak akan memberi tau pada siapapun nanti yah? Apalagi pada Kak Zhan. "


Xian menganggukan kepala antusias dengan senyum tak pernah lepas.


"Ini di ruang dimensi," jawab Fung Li dengan tenang.

__ADS_1


"Apa?!" Xian kaget dengan mulut melebar dan mata melotot. Setahu gadis kecil ini, ruang dimensi sangat sulit untuk bisa dimiliki seseorang di zaman itu, kecuali orang itu benar-benar memiliki kekuatan yang sangat kuat. Dan juga sangat jarang ada yang seperti itu.


Bersambung...


__ADS_2