
Terdengar suara detakan jantung di telinga Fung Li yang kepalanya menempel di bidang dada Xiao Zhan karena pria itu yang sengaja menyandarkannya.
Wajah Fung Li tampak memerah. Dia menarik nalas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. "Xiao zhan brengsek!" teriaknya kencang sampai terdengar seluruh tempat di istana Kerajaan itu.
Buukkkk! Suara pukulan yang terdengar keras.
Xiao Zhan menyentuh wajahnya yang penuh babak belur oleh Fung Li. Sungguh dia tidak menyangka mendapatkan respon pukulan dari wanita itu.
Fung Li berdiri dan berlari keluar dari kamar dengan wajah sangat kesal. Sedangkan Xiao Zhan mengelap sudut bibirnya yang berdarah.
"Benar-benar gadis ini berbahaya, tidak ada gadis yang seberani dia memukulku?" gumam Xiao Zhan memandang pintu masuk yang terbuka lebar.
Besoknya
Siang hari, di keramaian jalan tengah kota tampak sangat ramai dari para rakyat yang berlalu lalang di situ menggunakan kuda, kereta dan ada juga yang hanya berjalan dengan kaki. Mereka tengah sibuknya dengaan urusan masing-masing.
Keramaian pun bertambah ketika terdengar suara kerusuhan yang berasal dari rumah makan tradisional di pinggir jalan besar itu.
Buukkk! broammm!
Suara runtuhnya tembok dinding depan bangunan itu membuat terkejut orang-orang di sekitarnya maupun dalam rumah makan tradisional itu.
Sosok Pemuda terbanting jauh keluar dari dalam bangunan itu dan jatuh terbaring tepat di hadapan sebuah kereta besar yang tiba-tiba menghentikan jalannya.
"Yang Mulia Kaisar, mohon maaf terjadi kerusuhan di sini jadi menghentikan jalan Yang Mulia, tolong kalian semua minggir! " teriak salah satu pengawal yang bertugas sebagai kusir kereta besar itu.
Mendengar teriakan itu sontak rakyat yang ingin berkumpul melihat pemuda yang terbanting tadi seketika berhenti dan meminggirkan tubuh mereka menjauh.
Keadaan begitu heboh, para rakyat saling berbicara dan bertanya-tanya dengan apa yang terjadi di depan mata mereka melihat kerusuhan rumah makan tradisional yang terkenal itu.
"Apa yang terjadi sampai pemuda itu terbanting keluar dari rumah makan itu?"
"Ada apa yang sebenarnya?"
"Mengerikan sekali sampai runtuh seperti itu."
Tiba-tiba tampak sosok pria tampan dengan tubuh tegap kekar yang mengenakan jubah hitam panjang terhormatnya berjalan keluar dari dalam rumah itu. Sontak semua mata terpusat padanya dengan wajahnya yang tampak terkejut.
"Berani sekali kau menggoda Permaisuriku! "teriak pria itu. Dia melangkah cepat mendekati pemuda yang terbaring di tembok jalan tampak kesakitan penuh luka parah di sekitar tubuhnya.
Semua orang yang mendengar itu melebarkan matanya merasa kaget sekaligus penasaran apa maksud pria yang tentu sudah dikenal itu tampak marah sekali pada pemuda yang tak kuasa beranjak di tempat.
"Mengapa membuat keributan kecil seperti ini di wilayah kekaisaranku?" Sosok pria membuka suara dalam kereta yang memunculkan setengah kepalanya di jendela kereta.
Seketika bertambah terkejut lagi mendengar suara yang berasal dari kereta itu. Para rakyat di sekitar sudah tak berkutik di tempat lagi meski hanya melihat setengah wajah pria dalam kereta itu.
"Kaisar Xiao Zhan," sebut Raja Zha Wey.
Raja Zha Wey seketika menghentikan langkah kakinya tidak jauh dari hadapan pemuda yang ingin didekatinya. Dia melirik ke arah Kaisar Xiao Zhan dengan senyuman palsu.
"Pasukanku keluarlah, cepat tangkap orang ini dan bawa Kekaisaran Wexi sekarang juga!" perintah Zha Wey. Pandangan tak lepas masih melirik Xiao Zhan yang juga meliriknya dari jauh.
Setelah mengatakan itu muncul beberapa pria berpakaian prajurit langsung menjalankan perintah Raja Zha Wey kemudian mereka hilang secara bersamaan di tempat membawa pergi pemuda yang terluka itu.
"Jalankan keretanya," titah Xiao Zhan yang berada dalam keretanya.
"Tunggu kaisar terhormat." Raja Zha Wey berjalan mendekati kereta tepatnya di depan jendela kereta itu yang tirainya setengah terbuka.
"Ada apa Raja Zha Wey?" tanya Xiao Zhan tersenyum memandang pria yang sudah berada di depan matanya itu.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara panggilan wanita. "Suamiku." Wanita itu berlari mendekati Raja Zha Wey dengan wajah tampak sedih.
Sesampainya, wanita itu langsung memeluk Raja Zha Wey dari samping dengan wajah sedih.
Raja Zha Wey menghadapkan tubuhnya pada wanita itu dan membalas pelukannya dengan penuh kasih sayang.
"Yux Si, jangan sedih lagi aku sudah menangkap pemuda yang berani menggodamu itu, kau tenang saja selagi ada aku tidak ada yang bisa menyakiti wanita yang kusayangi," lontar Zha Wey.
Yux Si yang berada dalam pelukan Zha Wey menganggukan kepalanya. "Terima kasih sayang," balasnya.
"Lanjutkan jalannya," perintah Xiao Zhan. Dia ingin menutup tirai kembali.
"Eh," sela Yux Si merasa kaget mendengar suara yang berasal dari dalam kereta. Dia melepaskan pelukannya lalu berlari membuka tirai jendela kereta itu dan tampak jelas orang di dalamnya.
"Berani sekali kau membuka tirainya tanpa izinku?" tegur Xiao Zhan menatap Yux Si dengan wajah dingin.
"Maaf Kaisar Xiao Zhan." Raja Zha Wey berdiri di samping Yux Si dan melihat ke dalam kereta.
Yux Si dan Zha Wey agak terkejut melihat sosok wanita cantik yang duduk di samping Xiao Zhan sedang tidur pulas dengan menyandarkan kepala di bahu pria itu.
"Cukup, dilarang menatap lebih lama istriku." Xiao Zhan menutup tirai kembali sambil melempar senyum meremehkan pada Zha Wey.
Atas perintah Xiao Zhan, kereta pun dikendarai kembali oleh empat prajurit yang bertugas. Di belakang kereta tidak ada pengikut atau penjaga lainnya karena dia tidak menugaskan siapapun untuk berjaga.
Para rakyat sepanjang jalan melambaikan tangannya pada kereta besar yang berlalu lalang baru mereka ketahui sosok kaisar mereka sendiri di dalamnya bersama permaisuri.
Sementara Yux Si dan Zha Wey saling menatap. "Apa kita akan menghadiri pertunangan adik ipar Xu Kang?" tanya Yux Si.
'*Pasti ada sesuatu, jangan sampai kembalinya Fung Si menginjakan kaki di Kekaisaran Wexi malah membawakan masalah padaku, tapi tenang saja itu tidak akan pernah terjadi, wanita bodoh itu juga begitu lemah dan tidak tau apapun, cihh*,' batin Yux Si.
Kota Kehancuran
Di istana kerajaan kecil di kota yang jauh terpisah dari Kekaisaran Langit itu bernama Kerajaan Bayangan. Tampak Sang Raja muda pemimpin kota kecil itu duduk di tengah ruangan besar dengan dinding beton yang begitu kokoh.
Keadaan dalam situ begitu gelap. Hanya ada cahaya merah kejinggaan dari dua lentera hidup yang melekat di dinding samping kanan dan kiri pada pintu masuk.
"Hahahaha." Tawa keras Sang Raja yang duduk di bangku tengah terdengar menggema dalam ruangan itu.
Tawa itu membuat orang-orang yang berada dalam tempat situ ketakutan. Terutama beberapa gadis remaja yang terkurung di jeruji besi yang besarnya mencakup setengah dari luasnya ruangan gelap itu.
"Tolong kami!"
"Tolong!"
"Aku tidak ingin terkurung disini!"
"Siapapun lepaskan aku!"
Teriak beberapa gadis remaja itu dengan perasaan takut, panik dan cemas sekaligus. Mereka menggoyang-goyangkan tiang-tiang jeruji dengan isak tangis sambil berteriak sekencang-kencangnya.
Pranggg!
Suara pecahan gelas kaca yang dibanting ke sembarang arah oleh raja itu membuat para gadis yang sedari ribut di telinganya berhenti.
Tak terduga pecahan gelas itu mengenai salah satu penjaga yang menjaga depan jeruji besi. Penjaga itupun sudah terkapar di lantai berlumuran banyak darah dan tancapan kaca di sekitar tubuhnya begitu mengerikan.
"Bereskan!" titah raja itu dengan gertakan gigi.
Seketika masuk banyak pria serentak mengenakan ninja hitam menghadap raja itu. Para gadis remaja hanya bisa berdiam dan menonton apa yang ada di depan mata mereka.
Sesampainya di hadapan pria yang duduk di bangku itu, kumpulan pria berpakaian hitam serentak menyatukan kedua tangan ke depan.
"Salam Yang Mulia Raja Xu Kai." Mereka serentak memberi salam lalu menarik tangan kembali ke posisi semula.
"Hmm," dehem raja itu yang memasang wajah dingin, kulitnya dengan putih pucat dengan bibir tipis merah seakan memberi kesan dingin dan menggodanya.
Raja Xu Kai pun beranjak dari dudukannya dan kelompokan pria tadi berminggiran. Dia memperbaiki kerah jubahnya sambil menatap lurus memandang para gadis yang terkurung.
"Aku ingin kalian pilih salah satu di antara mereka yang paling cantik dan menggoda lalu antarkan ke kamarku," perintah Raja Xu Kai.
Raja Xu Kai pun membalikan tubuh lalu mengibaskan tangannya ke arah bangku sehingga bangku itu terbanting menjauh. Dia pun melangkahkan kaki dengan wajah dingin.
"Aku harus sarapan manis dulu, mempersiapkan berkunjung untuk mengetahui kabar si cunguk itu dan mencari tau seperti apa rupa permaisurinya itu," lontar Raja muda itu tersenyum licik dengan mata menyala merah.
__ADS_1
Kekaisaran Wexi
Sore hari menjelang malam, beberapa jam lamanya Kaisar Xiao Zhan beserta kereta kudanya dalam perjalanan sudah sampai didepan sebuah kediaman besar. Di gerbang kediaman itu tertulis nama 'Kediaman Besar Keluarga Si'.
Keadaan di sekitar situ tampak sunyi, ada beberapa pengawal yang sepertinya bertugas menjaga. Mereka berdiri di tengah gerbang masuk yang sudah terbuka.
Beberapa pengawal itu seketika kaget melihat kereta yang begitu besar sampai memenuhi lebarnya jalan berhenti di depan kediaman yang mereka jaga.
Dalam kereta, Xiao Zhan asiknya menepuk pelan pipi Fung Li. Gadis itu masih tertidur pulas begitu lamanya dengan menjadikan bahu Xiao zhan sebagai sandaran tanpa dia sadari.
"Monyet bangunlah, lihat air liurmu sudah mengalir membasahi lengan jubahku," lontar Xiao Zhan dengan suara pelan.
Tidak ada pergerakan sama sekali. "Fung Li!" teriak Xiao Zhan sudah tidak tahan lagi.
Fung Li yang sedang tidur pun sontak membuka mata dan menjauhkan duduknya sambil mengucek-ngucek matanya.
"Lihat ini." Xiao Zhan menunjuk ke arah lengannya, tampak cairan putih sedikit membasahi pakaiannya di bagian itu.
"Ck, berisik." Fung Li melirik ke arah lengan Xiao Zhan.
"Emmm," gumam Fung Li. Dia tiba-tiba melebarkan matamya memalingkan wajah ke samping langsung mengelap pipi dan sudut bibirnya dengan sapu tangan.
"Ppfttt." Xiao Zhan menahan tawa melihat reaksi gadis yang baru bangun itu dengan wajah malu-malu disembunyikan.
"Maaf aku sempat tertidur tadi," lirih Fung Li. Dia menggeser bokongnya kembali duduk lebih dekat ke samping Xiao Zhan.
Fung Li menarik lengan Xiao Zhan dan berniat ingin membersihkan bekas liurnya yang mengotori pakaian pria itu dengan sapu tangan.
"Terima kasih, tidak perlu Fung Li, tidak usah mencoba merayu agar aku mengikuti keinginanmu," tukas Xiao Zhan. Dia tersenyum menahan tangan Fung Li dengan tangan kirinya.
"Cih, siapa yang juga yang ingin merayumu? aku hanya ingin membersihkan ii ... i ini," gagap Fung Li. Dia menarik tangannya kembali dari tahanan Xiao Zhan dengan wajah tampak cemberut.
"Hahaha," tawa pelan Xiao Zhan. Kemudian langsung mencubit pipi sebelah kiri Fung Li.
"Kau!"
Fung Li menyentuh pipi kirinya dengan wajah tampak kaget akan kelakukan Xiao Zhan.
"Sudahlah, hahaha, aku tau kau sangat mengantuk karena malam tadi sepuluh ronde, jadi aku berbaik hati membiarkanmu mulai dari penjalanan tidur begitu lama seperti badak saja," canda Xiao Zhan.
Xiao Zhan melepaskan jubahnya hingga hanya bertelanjang dada di hadapan Fung Li dengan memasang wajah santai memamerkan tubuh kekarnya yang memiliki perut eightpack itu.
"Apa yang ingin kau lakukan hah?" tanya Fung Li. Dia menggeser bokongnya kembali menjauhkan diri.
"Seandainya aku meminta lebih dari sepuluh ronde malam tadi, pasti hal ini tidak akan terjadi," gumam Fung Li.
"Boleh, lebih dari seberapa yang kau inginkan, asalkan saja kau tidak mengantuk," sahut Xiao Zhan membalas gumaman Fung Li.
Fung Li sontak menatap ke arah Xiao Zhan dengan tatapan mengintimidasi. Sedangkan Xiao Zhan membalas tatapan Fung Li dengan senyuman remeh.
...*Bersambung*......
__ADS_1
Apa yah yang sepuluh ronde? ada yang tau gk malam tadi mereka ngapain setelah Fung Li mukulin wajah Xiao Zhan? pfftt😶😂