
Para menteri, kasim, jenderal yang berdiri di bawah jadi menundukan kepala dengan wajah tampak takut. Mereka tidak berani melihat apa yang akan terjadi jika orang yang duduk diatas singgasana membuka dan membaca buku cerita bergambar itu.
Xiao Zhan mulai membuka buku di tangannya. Rampak sebuah gambaran yang digambar dari tinta hitam. Wajah yang mulanya santai kini berubah serius membuat para penghuni di bawah maupun Pangeran jadi memejamkan mata.
"Hahahaha," tawa Xiao Zhan tiba-tiba membuat semua orang sontak melirik dengan wajah heran.
"Apa yang terjadi?"
"Mengapa Yang mulia malah tertawa?"
"Seharusnya Yang mulia marah? bukankah beliau tidak menyukai Permaisuri? pasti akan marah."
Bisik-bisik para orang-orang di bawah, sedangkan disinggasana ketiga Pangeran heran sekaligus terkejut melihat kakak mereka tertawa keras tanpa sadar.
"Hahaha, ini lucu sekali Fung Si jatuh cinta padaku dan kami sangat romantis," lontar Xiao Zhan dengan renyah dan tawa keras.
"Hahaha, ini cocok sekali dengan gayaku, Fung Si sangat cocok menjadi istriku seperti ini," lontarnya lagi dengan senyuman renyah tampak lesung pipi bersebelahan pipinya.
Para orang yang berada di bawah jadi ikut tersenyum melihat reaksi Sang Kaisar membaca buku cerita bergambar itu.
"Hmm, sungguh membingungkan kakak ini, dia sebenarnya menyukai atau tidak permaisuri Fung Si? lalu kenapa tertawa saat membaca cerita itu?" gumam Pangeran Xiao Rei di tempat duduknya.
Pangeran Xiao Fei dan Xiao Jei jadi ikut tertawa melihat Xiao Zhan tertawa sehingga keadaan begitu renyah baru mendengar Kaisar itu tertawa.
"Apa!!" kaget tiba-tiba Xiao Zhan. Dia berdiri dari dudukannya membuat keadaan seketika tegang dalam sekejap.
Semua orang yang tadinya tersenyum kini berubah kaget setengah mati. Mereka heran pada Kaisar mereka yang tadinya tertawa keras sekejap berubah marah.
"Xiao Fei, ambil buku cerita ini kembali!" pinta Xiao Zhan menutup buku ditanganya dengan wajah tampak marah.
Pangeran Xiao Fei seketika berjalan mendekati kakaknya itu dengan wajah tampak takut kena bentak.
"Cerita macam apa ini? bagaimana bisa kami jadi berpisah setelah memiliki anak? ck membuatku marah saja," kesal Xiao Zhan membuka suara.
Saat sudah sampai di hadapan sang kakak, Xiao Fei langsung mengulurkan tangan mengambil buku yang disodorkan Xiao Zhan.
"Ck, Xiao Fei kau bilang pada pembuat cerita ini bilang ubah akhirnya cerita menjadi bahagia, jangan menyebalkan seperti itu kalau tidak aku akan menghempasnya keluar dari kekaisaran ini." Xiao Zhan langsung melangkah pergi dengan wajah tampak marah.
__ADS_1
Xiao Fei berbalik dan memandang kepergiaan kakanya, ia menghembuskan nafas dengan berat.
***
Di paviliun yang bernama Waele, di mana tempat kediamannya Sang Ibu Suri Mia dan Permaisuri Xiao Yu berdiam.
Di pondok terbuka yang beralas tikar berada di kediaman itu. Tampak tiga wanita mengumpul dan seorang anak gadis kecil.
"Menantuku, malam ini kau tidak boleh gagal, kau tahu lelaki itu sesungguhnya orang yang mudah tergoda, apalagi kau sangat cantik dan sangat dicintai putraku, emmm." Permaisuri Xiao Yu menyentuh dagu Fung Li yang duduk di sampingnya dengan wajah gemas.
Fung Lu langsung menundukan kepalanya dengan tampak tersenyum malu-malu.
Berusaha berakting baik Fung Li, 'maaf kalian berdua nenek dan ibu permaisuri aku harus berbohong seperti ini pada kalian' batin Fung Li.
"Nak, ingatlah pesan kami berdua uhukkk uhukkk," batuk Ibu Suri Mia, si nenek tua.
Fung Li hanya mengangguk-anggukan kepala mendengar perkataan permaisuri Xiao Yu dan Ibu Suri Mia yang berbagi ilmu tentang merayu suami (wkwk, namanya aja ibu mertua, xixixi).
Dari kejauhan datang kumpulan pria tampan berjalan dengan wajah santai menaiki tangga menuju pondok itu. Sesampainya, mereka berjalan menuju meja besar yang terdapat tiga wanita sedang berbicara tampak serius.
"Ibu, nenek, Xian," panggil Xiao Zhan dari jauh.
Xiao Zhan berdiri tepat di sebelah kiri tempat Fung Li duduk. Dia mengulurkan ke bawah sebelah tangannya pada Fung Li.
"Ikut aku," pinta Xiao Zhan memasang wajah tampak masih marah.
Fung Li berdiri dari dudukannya lalu menghadap Xiao Zhan. Saat melihat raut wajah Xiao Zhan yang tampak marah dia jadi menaikan sebelah alis.
Xiao Zhan langsung merangkul pundak Fung Li tampak mesra. "Ibu, nenek kami pergi dulu," ucapnya.
Xiao zhan dan Fung Lu berbalik lalu berjalan pergi melewati para pangeran yang memasang wajah tampak tegang karena melihat raut wajah kakakmereka yang masih saja terlihat marah.
***
Di salah satu pondok kecil yang berada di Paviliun Xia. Keadaan sunyi di sekitar tempat bagus itu. Namun tampak dua orang yang sedang mengobrol serius dipondok kecil itu.
Dua orang itu saling duduk sila dan menghadap berlawanan di hadapan meja kecil.
__ADS_1
"Cepat katakan kau setuju atau tidak? jika tidak maka aku tidak akan pernah memberitahumu luka tubuh yang kualami," tutur Xiao Zhan dengan wajah tampak marah.
"Baik aku setuju, namun ada satu hal yang perlu kau ingat, jangan menyentuhku," tegas Fung Li menyunggingkan senyum sinis.
"Menyentuh? tidak akan, itu sudah aturan dalam nikah sandiwara kita, namun jika di depan orang peraturan itu sama sekali tidak berlaku karena kita harus bersandiwara," jelas Xiao Zhan tersenyum.
Fung Li menghembuskan napasnya dengan kasar. Kedua tangannya yang berada di bawah meja muncul sebuah buku kecil lalu ia letakan ke atas meja kehadapan Xiao Zhan.
Xiao Zhan yang melihat buku ditunjukan Fung Li jadi heran. "Apa ini?" Dia mengambil buku itu lalu membolak-balikannya.
"Terima kasih." Satu kata itu keluar dari bibir manis Fung Li seakan membuat Xiao Zhan terkejut.
"Mengapa ka ...?" tanya Xiao Zhan terpotong.
"Aku berterima kasih karena resep yang kudapatkan dari buku kontrak nikah kita, resep membuat pil serbaguna, aku sangat membutuhkannya dan aku menyalin resep itu dalam buku lain," ungkap Fung Li dengan senyuman tipis tulus.
Xiao zhan membuka buku di tangannya lalu membaca dalamnya dengan tersenyum, selesai membaca ia menutup kembali buku.
"Aku tahu kau sangat membutuhkan ini untuk seseorang bukan? apa berhasil? tapi setahuku kau tidak memiliki kemampuan kultivasi bukan? bagaimana bisa kau ingin membuat pil seperti itu? hahaha." Xiao Zhan diiringi tawa pelan meletakan buku kembali di atas meja.
Xiao Zhan tertawa pelan menatap raut wajah Fung Li yang tadinya tampak santai berubah dingin.
"Hahaha, bukan urusanmu Yang Mulia Kaisar Xiao Zhan yang terhormat." Fung Li tertawa pelan balik mengambil buku.
Xiao Zhan melempar senyum, ia tiba-tiba berdiri dan keluar dari lingkaran meja lalu mendekati Fung Li.
"Ikut denganku, mulai sekarang ikuti aku ke manapun aku pergi selama tiga hari bukan?" lontar Xiao Zhan. Kemudian menarik tangan Fung Li yang masih berduduk.
Fung Li pun berdiri. Dia mengangguk pelan.
'Tidak ada salahnya aku mengikutinya, pasti banyak hal penting yang tersimpan dari dirinya, buktinya resep itu? darimana dia tahu tentang pil itu untuk seseorang, pasti pria ini bukanlah orang biasa,' batin Fung Li.
Xiao Zhan tersenyum melepas pegangannya. Dia berbalik dan berjalan menuju tangga dan turun dikuti Fung Li.
"Ingatlah jadi istri yang baik jika berada di sampingku, kita akan pergi," ajak Xiao Zhan.
Fung Li hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah kaki Xiao Zhan.
__ADS_1
...Bersambung ......