Permaisuri Rebutan

Permaisuri Rebutan
Pertunangan II


__ADS_3

Xiao Zhan mengalihkan pandangannya dari Fung Li dan menatap Selir Wei Wei dengan menahan pergelangan tangan wanita yang ingin menyuapinya itu.


Fung Li sejenak melirik ke samping kanan dan memandang Xiao Zhan dengan wajah terlihat kesal karena seseorang yang duduk di samping pria itu.


'Dasar buaya langit, katanya akan duduk bersamaku tapi malah duduk bersama wanita ulat keket itu,' batin Fung Li.


"Aku tidak ingin makan." Xiao Zhan melepaskan tangan Wei Wei dengan tatapan datar pada wanita itu. Dia memalingkan kepalanya kembali kesamping dan menangkap Fung Li yang juga sedang menatapnya.


Bola mata cantik dua orang itu saling bertabrakan dan seolah-olah memberi isyarat di antara keduanya. Xiao Zhan agak merasa kaget melihat raut wajah Fung Li yang seperti merasakan cemburu akan dirinya yang duduk bersama wanita lain.


"Fung Si, apa kau ingin buah merah ini?" Huang Li menyuguhkan ke hadapan Fung Li semangkok isi buah yang ternyata adalah strawberry.


Fung Li seketika mengalihkan pandangan menatap semangkok buah di hadapannya dengan senyuman tipis. "Terima kasih Huang Li," lontarnya yang dapat di dengar Xiao Zhan.


'Tidak kusangka di jaman ini ada buah strawberry,' batin Fung Li.


Di bangku lain yang di duduki tamu terhormat lainnya. Mereka saling berbisik dengan mata yang tertuju pada empat orang yang menjadi pusat perhatian sedari tadi.


"Lihat itu Dewa Xiao Zhan, dia duduk dengan selirnya, apa rumor kemarin itu memang benar jika dia tidak mencintai permaisurinya sendiri."


"Padahal permaisuri itu lebih jauh cantik dari pada Selir Wei Wei."


"Tampang cantik jika bodoh dan tidak berbakat sama saja, lebih baiknya Selir Wei Wei dia pun berbakat dan wanita paling kuat, pintar dan kultivasi sudah berada di tingkat langit tahap akhir, Permaisuri Fung Si tidak ada apa-apanya dibanding Selir Wei Wei."


"Sssttt, jangan berbicara lagi, nanti terdengar oleh Dewa Xiao Zhan."


Bisik-bisik para pangeran, putri maupun raja yang duduk di bangku khususnya masing-masing. Di lantai dasar aula pun terdengar lontaran mulut ke mulut dari rakyat yang membuat suasana tadinya hening kini kembali ricuh.


Sang kaisar tua yang duduk di singgsananya tampak marah, keningnya mengkerut dan bibir mulai terangkat.


"Tolong diam semuanya!" Kaisar Tua Wexi tak tahan lagi harus berteriak keras agar semuanya berdiam. Alhasil pun keadaan kembali hening.


Kaisar Wexi melirik ke samping menatap ke arah Kasim yang berdiri dengan buku tebal ditangannya. "Mulailah Katua Kasim Lu," perintahnya.


Kasim yang memakai jubah hijau tua itupun menundukan kepala lalu menatap ke bawah melihat para rakyat yang berkerumunan semakin membanyak sudah berdatangan. Dia pun mulai membuka buku tebal dan membacanya.


"Salam hormat pada hadirin semua tamu yang berdatangan, berkenan dengan acara pertunangan Putra Mahkota Xu Kang dengan Putri Mahkota Sin Yu anak dari Kaisar Qui yang akan segera dimulai." Kasim Lu mengucap dengan lantang sambil menatap buku di tangannya.


Keadaan hening, semua mata tertuju pada kasim itu dan mendengarkan apa yang diucapkannya.


"Sebelum memulai acara pertunangan, Saya akan menyambut satu persatu tamu terhormat yang datang hari ini." Kasim itu melihat daftar nama di lembaran buku yang tertampang.


"Beri hormat pada Yang Mulia Kaisar Xiao Zhan, tamu paling terhormat yang kami undang!" teriak Kasim Lu dengan suara lantang, menggema penuh dengan semangat.

__ADS_1


Kaisar Xiao Zhan berdiri dari tempat duduknya dan semua orang pun bertepuk tangan dengan meriahnya sembari tersenyum lebar melihat sosok pria yang begitu mempesona itu.


Semua tamu menyatukan tangannya ke depan dan memberi hormat pada Kaisar Xiao Zhan dengan kepala ditundukan. Berbeda dengan Fung Li, dia asiknya memandang Xiao Zhan yang tersenyum kepada semua orang menampakan lesung pipinya yang bersebalahan begitu manis.


Xiao Zhan sempat menangkap pandangan Fung Li yang sedang memandangnya. Dia tersenyum mengetahui jika wanita itu sedang memandangnya.


Acara penyambutan satu persatu pun berjalan begitu lama.


Sedangkan di tempat lain, di Kekaisaran Langit tepatnya istana kerajaan itu tampak dua orang berlawanan jenis yang sedang duduk secara berhadapan dengan dibatasi meja berdiri segi empat dalam satu ruangan.


"Pangeran, saya harus kembali, ini sudah malam," pinta Silli pada pria yang duduk di hadapannya.


"Tidak bisa, kau tetap temani aku, dan aku punya kewajiban menjagamu, kakak ipar pergi bersama Kak Zhan Kekaisaran Wexi jadi aku berhak menjagamu," jawab Pangeran Xiao Rei memasang wajah datarnya tanpa menatap gadis yang duduk dihadapannya. Dia sibuknya mencap simbol kerajaan pada buku-buku yang bertumpukan seperti gunung di atas meja itu.


Silli memayunkan bibirnya mendengar ucapan pria di hadapannya. 'Kapan aku bisa keluar dari sini, pangeran ini sangat keras kepala juga,' batinnya.


"Apa kau bilang?" tanya Xiao Rei menatap Silli dengan tatapan tajam.


Silli kaget. "Aa ... aaa apa maksudmu?" Dengan salah tingkah dia mengambil salah satu buku lalu membuka dan membacanya dengan wajahnya yang sengaja ditutupi buku itu.


Silli merasa begitu gugup berdekatan dengan pangeran itu, apalagi dengan statusnya yang sangat berbeda jauh sungguh membuatnya tidak ingin berlama-lama dengan pria itu, takut para pelayan lain akan berpikiran yang tidak-tidak padanya.


"Hmmm, bukunya terbalik." Xiao arei menarik buku yang dipegang Silli lalu meletakannya ke meja sembari menatap gadis itu yang menundukan kepalanya dengan wajah tampak masam.


'Bagaimanapun aku harus pergi, pelayan lain kan banyak, kenapa dia harus memilih aku yang terus menemaninya selama tinggal di istana ini,' batin Silli.


"Jika kau ingin mengatakan sesuatu katakanlah." Xiao Rei beranjak dari dudukannya dan berjalan ke samping kursi yang diduduki Silli.


Silli pun berdiri, dia berniat ingin keluar dari lingkaran kursi malah dihalangi Xiao Rei.


Xiao Rei menyodongkan tubuhnya pada Silli sembari memutar kursi menghadap ke arahnya membuat tubuh gadis itu jadi menjatuhkan bokongnya kembali ke kursi.


"Pangeran ap ... pa yang ingin ...," gagap Silli. Dia ripleks menutup depan dadanya dengan mata melotot.


Bukannya menjauh, Xiao Rei dengan wajah datar yang tidak dapat terdeteksi malah semakin menyodongkan tubuh dan mendekatkan wajahnya pada Silli.


Semakin dekat dan dekat. "Pangeran aku hanya seorang pelayan dan ini tidak layak ba ...." Silli memejamkan keduanya matanya.


Xiao Rei tersenyum tipis memandang gadis di bawahnya yang memejamkan mata seperti bersiap menerima sesuatu.


"Xiao Rei, ada hal aneh ditemukan," sela seseorang. Dengan membuka pintu dan masuk ke dalam situ secara tidak terduga.


Orang itu seketika menghentikan langkah kakinya tepat sudah memasuki kamar karena melihat dua orang yang posisinya tampak dekat.

__ADS_1


"Kalian sedang apa?" tanya Pangeran Xiao Jei menyipitkan matanya. Dia menunjuk kearah Xiao Rei dan Silli.


Dua orang itu seketika menengokan kepala secara bersamaan melirik asal suara dengan wajah terkejut.


***


Perayaan pertunangan di Kekaisaran Wexi, setelah penyambutan para tamu terhormat dan pembuka lainnya, kini acara utamanya pemasangan cincin tunangannya pada sepasang calon yang akan bertunangan.


Semua mata tertuju pada dua orang yang jadi bintang acara yaitu Putra mahkota Xu Kang dan Putri Sin Yu yang tampak serasi berdiri secara berdampingan dengan menghadap dudukan besar Kaisar Wexi.


"Salam Yang Mulia." Pasangan yang akan bertunangan itu memberi salam terlebih dahulu pada Kaisar itu lalu pada tamu-tamu terhormat yang duduk di bangku masing-masing.


Sementara di tempat lain sekitaran luar aula, tampak gadis bersembunyi dibalik pohon dengan menggendong kucing putih. Ia tampak berpikir dengan wajah terlihat serius sembari mengelus bulu kucing.


"Ayo ketua, kita harus secepatnya pergi dari sini, tidak lama lagi akan ada penyerangan, Saya merasa cemas jika nantinya Anda terluka bagaimana?" lontar kucing putih yang dapat berbicara itu.


"Tidak, kita tidak akan pergi, aku harus kembali ke aula sekarang, kau masuklah dalam ruang dimensi bahaya jika ada yang merasakan kehadiran makhluk sepertimu di sini." Fung Li mencubit hidung kucing di gendongannya.


Di dalam aula, keadaan hening. Semua perhatian tertuju pada pasangan yang bersiap memasangkan cincin. Tidak dengan satu orang yang sedari menengok kearah kekerumunan rakyat maupun sekitar aula dalamnya.


Xiao Zhan merasa gelisah dengan Fung Li yang belum kembali setelah pergi dari aula tadi.


'Katanya masalah darurat buang air kecil, tapi mengapa belum kembali juga?' batin Xiao Zhan.


Sepasang mata Xiao Zhan menelisik ke sekitar dengan wajah tampak serius.


Putra Mahkota Xu Kang dan Putri Sin Yu selesai memasangkan cincin dengan cepatnya. Semua orang seisi aulapun bertepuk dengan meriahnya meramaikan suasana dalam aula.


^^^'Lapor Ketua, terjadi keributan di luar dari aula, ini berhubungan dengan pria ingusan itu ketua, Anda jaga diri,' telepati dari Panglima Liu te sampai telinga Xiao Zhan.^^^


Xiao Zhan seketika berdiri dari dudukannya mendengar itu. Berdirinya Pria itu membuat semua orang terkejut dan heran.


Bersamaan selesainya pemasangan cincin pada kedua mempelai yang bertunangan, Tiba-tiba terdengar suara kerusuhan berasal dari pintu besar aula.


"Akhhhhhh!" teriak histeris salah satu wanita.


Semua mata jadi tertuju menuju ke pintu masuk dan mereka langsung melebarkan mata melihat beberapa manusia mengerikan bersimbah darah banyak di pakaiannya.


"Akhhhhh!"


Teriakan histeris terdengar secara bersamaan menggema di aula itu, membuat keadaan seketika tegang, panik, heboh dan kerusuhanpun terjadi.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2