
Fung Li sudah merasa muak terus berdebat. Tidak ingin memperpanjang, dia langsung saja mendorong bidang dada Xiao Zhan dan pergi melewatinya.
Xiao Zhan sontak membalikan tubuhnya, tampak raut wajahnya yang jelas kesal dan memandang Fung Li sedang membuka pintu.
Kreekk, pintu terbuka. Saat sepenuhnya sudah terbuka, Fung Li dan Xiao Zhan sontak melebarkan mata tampak kaget melihat dua wanita yang berdiri di luar.
"Ada dengan kalian berdua?" tanya Permaisuri Xiao Yu yang berada di sebelah Ibu Suri Mia. Menatap pasangan muda itu dengan wajah mengintimidasi.
Xiao Zhan sontak melangkahkan kaki dan berdiri dekat di samping Fung Li dengan memperlihatkan senyum manis pada ibu dan neneknya.
"Ibu dan nenek ada apa kalian ke sini?" tanya Xiao Zhan. Dia tersenyum manis sembari merangkul pundak Fung Li dari samping.
'Semoga ibu dan nenek tidak mendengar tadi, aish' batin Xiao Zhan. Jauh dalam hati dia cemas, takut akan tadi pertengkarannya dengan Fung Li terdengar.
Melihat Fung Li yang hanya berdiam dengan kepala di tundukan demi menyembunyikan rasa kesalnya pada Xiao Zhan, Permaisuri Xiao Yu jadi heran hingga melangkah masuk dengan langsung mengelus lembut atas kepala Fung Li.
"Menantuku kau baik-baik sajakan? Si nakal ini tidak menganggumu kan?" tanya Permaisuri Xiao Yu. Dia sejenak melirik pada putranya sendiri dengan wajah curiga.
"Ibu dia baik-baik saja, ibu tidak perlu khawatir. Ada aku di sini suaminya, aku tentu akan senantiasa menjaganya ... dari pria manapun juga." Xiao Zhan melempar senyum manis pada Fung Li yang sontak mendongakan kepala menatapnya.
'Akting yang bagus sekali,' kesal Fung Li dalam hati mendengar lontaran Xiao Zhan.
"Apa kalian tidak melihat nenek di sini?" Mendengar suara wanita tua yang rambutnya sudah beruban itu, Xiao Zhan segera melepaskan rangkulannya pada Fung Li.
"Nenek cantik," panggil Xiao Zhan tersenyum manis mengedip-ngedipkan matanya. Dia mendekati Ibu Suri Mia dan langsung mendekap erat tubuh wanita tua itu.
"Anak nakal ini, kapan kau membuatkan ibumu cucu dan hadirnya penghuni baru? Kau tidak lihat nenek sudah semakin tua, pokoknya mulai malam ini aku dan ibumu akan mengawasi kalian berdua," ucap Ibu Suri Mia seketika membuat kaget Xiao Zhan dan Fung Li yang barusan saja bertengkar.
Tidak dengan Permaisuri Xiao Yu tersenyum diam-diam mendengar ucapan ibunya yang begitu blak-blakan pada pasangan itu. Dia sejenak menatap lembut Fung Li lalu kembali mendekati Ibu Suri Mia.
__ADS_1
"Ayo kita pergi, prajurit akan memindahkan barang keperluaan untuk tinggal di sebelah kamar ini." Ibunya Xiao Zhan mengajak wanita yang sudah lanjut usia itu untuk pergi.
Mereka pun pergi dan keadaan jadi hening. Xiao Zhan dan Fung Li mematung di tempat dengan saling menatap dari jauh sambil mencerna ucapan nenek tadi.
Fung Li tersadar langsung berjalan keluar, tapi langkahnya dihentikan Xiao Zhan yang berdiri di tengah pintu. Menghalangi dirinya untuk bisa keluar.
"Jangan biarkan ibu dan nenek curiga pada kita," bisik Xiao Zhan dengan tatapan tajam.
Fung Li hanya memasang wajah datar membuat Xiao Zhan segera menyampingkan tubuhnya ke pinggir.
"Tenang saja, selagi kau tidak mengangguku sekarang. Aku ingin pergi ke suatu tempat, dan soal masalah tadi kita akan bicarakan nantinya. Jangan pikir aku akan melupakan apa yang kau lakukan padaku. Catat itu." Fung Li segera melangkah pergi keluar dari kamar setelah mengatakan itu.
Bukannya kesal mendengar lontaran judesnya gadis itu, Xiao Zhan malah tersenyum tipis diringi kekehan pelan.
"Tidak akan melupakan? Berarti dia tidak akan melupakan bahwa aku menciu ... Tadi hahaha," tawa pelan Xiao Zhan. Entah mengapa dia agak senang jika Fung Li merasa kesal dan galak.
Sejenak terlintas ingatan di mana tadinya bertemu Pangeran Huang Li, seketika wajah Kaisar Xiao Zhan berubah dingin.
***
Air sungai yang bewarna biru mencerahkan sekitaran tempat itu.
Angin bertiup menerpa rambut dua gadis cantik yang duduk di atas batu-batu besar yang berada pinggir sungai.
Keadaan yang sunyi membawa rasa tenang. Hanya terdengar suara orang mengobrol dengan asiknya di atas bebatuan pinggir sungai itu.
"Terima kasih ketua, Anda telah membantu mencarikan dan juga membuat obat untuk penyembuhan penyakit Tutu," ucap Si Burung Phoenix yang terbang di depan muka Fung Li.
"Tidak perlu, sudah sewajarnya aku melakukan ini. Aku juga perlu berterima kasih pada Xiao Zhan, dia yang sebenarnya membantumu," balas Fung Li tersenyum tipis.
__ADS_1
Silli yang duduk di samping Fung Li hanya mengangguk dengan tersenyum sudah tahu sedari awal.
"Bagaimanapun Saya tetap berutang budi pada Anda, tapi ketua ada yang membuat saya penasaran tentang Dewa Xiao Zhan," lontar Tutu dengan wajah serius. Burung itu duduk di atas pangkuan Fung Li karena bentuk tubuhnya yang masih kecil jadi bisa saja duduk.
Mendengar lontaran Tutu, Rubah Putih dan Kucing Putih yang asiknya bekejar-kejaran di tempat taman bunga dalam ruang dimensi seketika melesat hilang dan muncul di samping Fung Li dan Silli yang duduk di atas bebatuan besar itu.
"Huh mengagetkan saja." Silli mengusap-usap dadanya akan kemunculan Rubah Putih sebelahnya.
Tidak dengan Fung Li tidak terkejut sama sekali akan kemunculan Kucing putih. Dia memasang wajah heran sedari tadi akan apa yang membuat Tutu penasaran tentang Kaisar Xiao Zhan.
"Apa maksudmu Tutu?"tanya Fung Li.
"Emm, Kaisar Xiao Zhan apa dia tidak curiga tentang Anda? Kaisar Xiao Zhan kan adalah pria yang cerdas. Apalagi kekuatannya yang tidak bisa diremehkan, ataukah dia berpura-pura tidak tahu apapun tentang kemampuan Anda?" bingung Tutu tampak berpikir dengan wajah seriusnya.
Fung Li mencerna ucapan Tutu dengan wajah serius. Sementara Silli dan kedua lainnya juga ikut berpikir.
***
Di ruang rapat yang berada di Istana Kerajaan Langit. Mengumpul para anggota pengurus kerajaan dan besertanya.
"Tiga hari lagi, kita akan mengadakan pameran tahunan dan juga tahun baru. Mulai sekarang kita harus mempersiapkannya. Para kasim segera kirim undangan pada kekaisaran lain," titah Xiao Zhan yang duduk di singgasana. Memerintahkan pada anggota-anggota penting.
Anggota seisi ruang rapat segera berdiri lalu membungkukan tubuh secara bersamaan.
"Baik Yang Mulia terhormat," jawab serempak semuanya. Lalu mereka berdiri kembali.
Panglima Liu Te yang berdiri di samping tempat duduk Kaisar Xiao Zhan segera menepi dan mendekati kaisarnya itu ingin membisikan sesuatu.
"Yang Mulia, sesuatu penting. Si kunyuk itu sudah mulai membawa kerusuhan, dia menculik beberapa gadis dan dikurung sebagai pemuas nafsu," bisik Panglima Liu Te. Topeng tak pernah lepas menutupi setengah wajahnya.
__ADS_1
"Apa bajingan itu tidak ada kerjaan?" Xiao Zhan langsung berdiri dari bangkunya. Dia berjalan keluar menginjak karpet merah melewati semua orang dalam ruang rapat itu.
...~Assalamualaikum semuanya, maaf yah author baru mau update nih karena hari ini hari spesial ulang tahun author ke-17, untuk semua pembaca jangan lupa baca terus yahh, maaf banget kalau author jarang update karena author juga sibuk banget dalam sekolah yah, tapi semoga di kasih waktu luang bisa nulis lanjut cerita ini. Ada gak nih yang kangen sama author hahaha, gk ada mungkin yah, btw kasih selamat dongg nihh author yg kecil ini ultah lohh dan author minta doa nya yah. Terima Kasih bay bay~...