Permaisuri Rebutan

Permaisuri Rebutan
Kehidupan adalah rahasia


__ADS_3

Fung Li beranjak cepat dari atas tubuh Xiao Zhan. Dia berdiri lalu langsung berjalan pergi menuju ruang ganti dan masuk ke dalamnya kemudian menutup pintu dengan kasar sampai terdengar begitu keras di telinga Xiao Zhan.


"Dia pasti marah besar," lontar Xiao Zhan. Dia perlahan berdiri sambil memegang dadanya bagian kiri yang menyeri sakit.


"Kakak tidak apa-apa?" tanya Pangeran Xiao Fei. Setelah bertanya itu dia membalikan tubuh kembali dan menaikan kedua alisnya heran melihat Fung Li yang sudah tidak ada lagi di tempat.


"Emm." Xiao Zhan mengangguk berjalan mendekati pintu masuk mendekati kedua saudaranya itu.


Pangeran Xiao Jei melepas pegangannya pada pintu yang ingin dia tutup.


Sampai di hadapan kedua adiknya. "Ada apa kalian kesini? cepat katakan kuberi waktu hanya seratus hitungan di mulai dari sekarang," lontar Xiao Zhan yang membuat dua adiknya itu panik.


"Satu ... dua ... tiga," hitung Xiao Zhan memandang kedua adik lelakinya.


"Mengapa kau pisah kediaman dengan kakak ipar? nenek dan ibu yang menanyakan ini," lontar cepat Pangeran Xiao Jei memasang wajah heran bercampur tidak suka.


"Dan juga tidak biasanya kakak memilih selir, mengapa? padahal sepertinya Permaisuri Fung Li cantik dan lebih baik di banding dua wanita manja itu," tanya Pangeran Xiao Jei lagi terdengar ketus


"Sudahlah, aku akan bicara sendiri nanti malam dengan ibu dan nenek, kalian tidak usah khawatir karena aku juga punya alasan sendiri mengapa memilih selir dan pisah kamar," jawab Xiao Zhan tersenyum.


Xiao Zhan beralih menutup pintu masuk kamar memberi tanda agar tidak ada yang menganggunya.


Xiao Fei dan Xiao Jei yang berdiri di luar membuang napas dengan kasar.


"Huh," keluh mereka berdua secara bersamaan saling memandang dengan wajah masam.


Dalam kamar, di depan pintu ruang ganti


"Monyet maafkan aku," lontar Xiao Zhan sambil mengetuk-ngetuk pintu ruang ganti yang tertutup rapat.


"...." Hening tidak ada jawaban sama sekali dari orang yang dipanggilnya.


"Aku salah tadi hanya berpura-pura, maaf," tutur Xiao Zhan lagi. Namun tetap sama tidak ada perubahan sama sekali.


Matahari mulai tenggelam, hari menjelang malam, sampai saat itu Xiao Zhan masih menunggu begitu lamanya tidak ada suatan dari Fung Li.

__ADS_1


Xiao Zhan duduk di lantai dan menyandarkan punggung di pintu.


"Ayolah, maafkan aku, aku tau kau berada di balik pintu ini dan mendengarkanku, setidaknya jawablah monyet." Xiao Zhan menoleh ke belakang menatap pintu yang masih belum terbuka.


Di dalam ruang ganti, Fungi sedang mengunyah buah pisang di tangannya yang dia ambil dari ruang dimensi dengan duduk di lantai dan punggung yang bersandar di pintu.


Tampak wajahnya yang kesal sambil memakan buah pisang yang hanya tinggal satu di tangannya.


'Kera menyebalkan' batin Fung Li.


Fung Li terus mengumpat dalam hati akan kekesalannya pada Xiao Zhan telah membohongi dan membuatnya merasa cemas. Sambil mendengar lontaran-lontaran Xiao Zhan dari balik pintu dia asiknya memakan buah pisang tidak peduli apa yang pria itu katakan.


"Keluarlah monyet cantik," pinta Xiao Zhan. Dia mulai bangkit dari dudukannya dan berdiri.


Xiao Zhan pun membalikan tubuh dan memandang pintu. Senyum tipis tampak di bibirnya mendengar suara kunyahan mulut karena pendengaran tajamnya. Setelah memandang pintu dia pun pergi dari situ karena tidak dibukakan pintu oleh Fung Li sudah berapa lama.


Setelah kepergiaan Xiao Zhan. Fung Li pun beranjak dari duduk dan akhirnya membuka pintu ruang ganti itu lalu keluar.


"Pergi saja sana, kera tidak waras itu selalu saja mengikuti, dia pikir dia siapa bagiku? suami? heh itu hanya status palsu," gumam Fung Li tampak masih kesal memandang sekitar kamarnya.


***


Kamar utama milik Ibu Suri Mia, di dalam kamar tampak wanita tua yang rambutnya beruban terbaring di atas ranjang besar dengan ditemani pria yang duduk di pinggirnya.


Dalam kamar itu diterangi banyak lentera yang dipasang di mana-mana agar menerangi sekitar tempat.


"Cucuku, nenek ingin bertanya mengapa kau memutuskan mempunyai selir? ceritakan pada kami," tanya Ibu Suri Mia menatap wajah Xiao Zhan yang menundukan kepala sambil mengusap punggung tangannya.


"Ini karena urusan politik kerajaan nenek dan ibu," jawab Xiao Zhan. Kemudian melirik ibunya yang duduk di kursi tidak jauh dari samping ranjang itu lalu menatap sang nenek kembali.


"Syukurlah," ucap Ibu dan neneknya Xiao zhan secara bersamaan.


"Ibu dan nenek tidak perlu risau, aku sudah dewasa dan aku tau apa yang benar dan apa yang salah," sambung Xiao Zhan tersenyum mencium punggung tangan neneknya.


"Cucuku manis, aku baru ingat kalau dia adalah seorang pemimpin kekaisaran besar tentu saja sudah memiliki tanggung jawab besar." Ibu Zuri Mia tersenyum menatap lembut wajah Xiao Zhan.

__ADS_1


"Nenek memang pelupa," ledek Xiao Zhan secara langsung dengan memasang wajah kesal pada neneknya.


"Hahaha, nenek juga baru ingat jika kau sudah menikah, siapa itu istrimu? Fung Si dia adalah wanita yang sangat baik yakinlah pada nenek, kau jangan pernah menyia-nyiakannya," balas Ibu Suri Mia. Tersenyum lepas memperlihat giginya yang hanya tinggal empat, di atas depan dua dan di bawah.


Ibunya Xiao Zhan yang duduk di kursi tidak jauh dari ranjang tersenyum melihat tingkah dua orang itu sambil membuka sebuah buku kumuh dan tebal di tangannya.


'Sejak gadis itu datang ke kehidupan putraku, keadaan perlahan laun lambat membaik, aku bersyukur anak nakal itu sedikit berubah, semoga dia bisa melupakan masa lalu dengan baik dan membuka lembaran baru' batin ibunya Xiao Zhan.


***


Lama berselang, malam yang semakin sunyi dan gelap.


Di Paviliun Yui, di atas atap kamar utama tampak gadis cantik dengan memakai hanfu sederhana putih polos duduk santai sambil memandang ke atas langit dengan tiga buah buku dipangkunya.


Rambut panjangnya diterpa angin ke belakang, sambil menghitung jumlah bintang di langit. Bibir seksinya tersenyum tipis.


"Kehidupan adalah rahasia," lontar Fung Li.


"Masa lalu memang sudah berlalu, rasa sakit itu sebenarnya masihlah ada namun aku harus bisa melupakannya, aku pasti bisa memulai hidup baru di tempat ini," lontarnya lagi penuh keyakinan.


"Meratapi hanya akan membuang waktu saja, kau pria bajingan di sana yang pernah membuat bahagia, cukup terima kasih," lontarnya menunjuk ke atas langit dengan memasang wajah benci.


Tidak jauh dari bangunan itu, tampak Xiao Zhan yang berjalan santai di tengah lapangan sambil melihat ke sekitar paviliun itu dengan mata tajam.


Asiknya memandang sekitar, sepasang mata pria itu tiba-tiba menangkap sosok gadis yang duduk di atas atap membuat dia terkejut sekaligus heran.


"Sedang apa monyet itu disitu? bukankah dia pasti takut ketinggian?" Xiao Zhan melangkah lebih cepat mendekati perkamaran.


Di atas atap Fung Li mengambil satu buku yang dipangkunya lalu membuka dan membaca isinya dengan wajah serius.


Tiba-tiba tidak jauh dari belakang Fung Li terlihat satu buah anak panah panjang yang melesat cepat dengan ujung kilauan mengkilat tajam.


"Hei ka ...," panggil Xiao Zhan terpotong saat sudah dekat dengan bangunan kamar Fung Li karena tiba-tiba terkejut melihat anak panah yang melesat menuju Fung Li.


"Sialan!" teriak Xiao Zhan.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2