
"Wah, aku penasaran bagaimana akhir cerita tentang Permaisuri dan Yang Mulia Kaisar."
"Katanya Yang Mulia Kaisar itu marah ketika membaca cerita itu."
Tampak sosok pria tinggi di tengah sesaknya dalam toko itu, memakai topi bundar dan cadar serba hitam terlihat begitu misterius menguping setiap ucapan-ucapan di sekitarnya.
Pria misterius itu menyela orang-orang berkerumun sambil melihat apa yang terjadi, orang-orang memegang sebuah buku. Dia pun mengangkat kepala tinggi dan melihat meja tukang penjualan yang di penuhi buku bertempukan di atasnya.
***
Di Istana Kerajaan Langit, ruang rapat.
Di dalamnya banyak para pria terhormat mengumpul, mereka masing-masing duduk di tempat khusus berjejer rapi dan saling berlawanan.
Di hadapan dudukan mereka semua, tepat di tengah sosok pria dengan duduk santai dengan sebelah kaki dipangku atas paha.
"Cincin ini, jangan sampai jatuh pada orang yang salah," lontar Xiao Zhan. Lalu menyeruput susu jahe di cangkir yang dipegangnya.
"Tentu Yang Mulia," saut orang-orang yang duduk di dudukan khusus menundukkan kepala.
"Kak, apa sebenarnya kegunaan cincin yang dicoba Panglima Liu Te?" tanya Pangeran Xiao Jei di tempat duduknya melirik Xiao Zhan.
"Benar, aku penasaran juga bagaimana kakak membuat cincin itu, pasti itu sudah lama, mengapa kau tidak memberitahu pada kami?" tanya Xiao Fei tampak kesal.
Xiao Zhan meletakan cangkir di tangannya di atas meja di hadapannya. Dia duduk tegak dan saling mengenggam kedua tangannya.
Tiba-tiba muncul cincin yang melekat di jari telunjuknya dengan permata bewarna merah dan emas, sangat berbeda dari cincin yang dicoba Panglima Liu Te.
"Kegunaan cincin yang aku buat itu adalah bisa menangkis secara individu pada lawan, meski kita tidak berpokus pada cincin itu, cincin itu tetap akan berfungsi tanpa kita minta, lebih pentingnya kita bisa menangkis serangan dari kekuatan Qi elemen di bawah kultivasi tingkat legend," jawab Xiao Zhan dengan tersenyum memperlihatkan cincin di tangannya.
"Wahh." Semua orang dalam rapat melongo dengan wajah kaget sekaligus kagum.
"Itu bagus untuk memperkuat pasukan kita, ini dibagi untuk anggota pasukan yang sering bertugas mejaga keamanan dan mematai musuh kita, cincin ini hanya pasukan kita yang mengetahuinya," tutur Xiao Zhan lagi.
"Pembuatannya tidak lama, sekitar setengah bulan, mengapa aku menbuat cincin perlindungan ini agar pasukan kita semakin kuat, saat melawan musuh kalian tidak perlu terlalu pokus pada cincin dan pokuslah pada perlawanan, karena ada cincin perlindungan jangan menjadi alasan kalian merasa sudah aman, tapi tetaplah menyerang jangan berdiam saja aku sangat tidak suka salah satu anggota pasukanku lemah di bawah cincin perlindungan, cincin ini hanya untuk hal darurat," peringat Xiao Zhan menatap orang-orang yang duduk.
Mendengar tuturan Xiao Zhan, para jenderal menundukan kepala, memang setiap Kaisar mereka berkata selalu saja tajam dan langsung.
"Hmm dengarkan itu!" tegas Xiao Rei yang memasang wajah dingin dengan kedua tangan dilipat.
***
Dapur besar Kerajaan Langit.
Tampak dua gadis cantik berjalan di depan halaman depan dapur, sepatu sandal cantik mereka perlahan menginjak rumput halus halaman itu dengan pelan.
"Kak Fung Li mengapa kita ke dapur sekarang? Anda lapar Saya akan membuatkan Anda makanan banyak," ucap Silli tersenyum memperlihat gigi rapinya.
Fung Li melirik ke samping menatap wajah Silli dengan saksama. "Hmm, mengapa wajahmu sangat berseri setiap saat? pasti ada sesuatu," tanyanya.
Silli melebarkan mata dengan tersenyum cerah, dia meggandeng lengan Fung Li dan menyandarkan kepala.
"Kakak Fung Li, hari-hari setelah Anda menikah, Saya sering bersama Pangeran Xiao Rei, membantu dan menemaninya melakukan sesuatu, Saya sangat senang menjadi pelayannya sesaat, tapi sekarang Saya harus selalu bersama Anda dan menjaga Anda," jawab Silli tersenyum.
Fung Li seketika menghentikan langkah kakinya, dia menyentuh pundak Silli dan menghadapnya.
"Lili, ingatlah perkataanku, jangan mudah tergoda oleh pria sehebat apapun dia, bukannya aku melarangmu untuk jatuh cinta namun kau tahu saat kau percaya pada seseorang dan ketika orang yang kau percaya tidak sesuai yang kau harapkan rasanya akan sangat menyakitkan." Fung Li lalu menyentuh pipi Silli dengan wajah hangat.
__ADS_1
"Akan tetapi, aku sangat senang jika adikku ini merasakan cinta, aku hanya tidak ingin kau terluka nantinya makanya aku mengatakan hal ini," ucap Fung Li yang membuat Silli matanya berkaca-kaca.
Silli langsung memeluk tubuh Fung Li dengan tangis yang tak bisa ditahan.
"Aku sangat menyayangimu, hiksss hikss," isak tangis gadis lugu itu di pelukan Fung Li.
"Dasar cengeng," ejek Fung Li tersenyum tipis menyapu lembut belakang punggung Silli.
Silli melepaskan pelukannya, air mata tampak membasahi pipi mulusnya membuat Fung Li tersenyum.
"Sudahlah, ayo kita melihat-lihat dapur, aku penasaran seperti apa dapur di zaman ini," tutur Fung Li. Dia menghapus air mata yang membasahi pipi Silli.
Silli mengangguk dengan tersenyum hangat. "Kak Fung Li juga ceritakan seperti apa dapur di zaman Anda berasal," pintanya.
"Emm," angguk Fung Li langsung merangkul pundak Silli.
Dua gadis itu kembali berjalan dan masuk dalam dapur yang begitu luas. Nesarnya seperti sepuluh buah rumah.
Saat Fung Li dan Silli menginjak lantai dalamnya. Salah satu pelayan yang sedang sibuk melakukan tugas berada di dalamnya jadi kaget saat melihat seseorang yang berdiri di pintu masuk.
"Permaisuri berkunjung!" teriak pelayan itu langsung melepas pisau di tangannya dan bersujud di lantai.
Semua pelayan yang asik memotong di setiap meja panjang secara berjejer rapi jadi membalikan tubuh secara bersamaan dan melirik kearah pintu.
Fung Li berjalan dengan diiringi Silli yang mengiring d ibelakang.
Semua pelayan langsung bersujud di lantai secara bersamaan.
"Lanjutkanlah," lontar Fung Li membuka suara.
Fung Li berjalan di tengah halaman, ia menengok sebelah kanan lalu kiri para pelayan yang membungkuk.
Tepat berdiri di tengah dari meja panjang yang berada bersebalahan, Fung Li menghentikan langkah kakinya.
"Pokuslah pada pekerjaan kalian!" suruh Fung Li dengan wajah datarnya membuat para pelayan langsung melanjutkan kembali dengan tubuh bergetar takut melakukan hal yang salah.
Silli hanya bisa berdiam di tempat berdiri di belakang Fung Li. Namun ada satu pelayan muda yang ia tatap dari kejauhan terlihat memasang wajah mengejek padanya.
Salah satu pelayan yang tampak tua dari lainnya menghadap Fung Li lalu menundukan kepalanya memberi hormat.
"Salam Permaisuri Fung Si. Saya adalah ketua pengurus dapur, tidak Saya sangka Anda menginjakan kaki ke tempat yang tidak layak untuk orang yang sangat terhormat seperti ini, kami semua akan melaksanakan perintah permaisuri berkunjung ke sini adalah salah satu keberuntungan besar bagi kami," ucap ketua pelayan itu yang berdiri di hadapan Fung Li.
"Tidak masalah, aku ingin kalian hanya bantu aku mempersiapkan bahan-bahan yang aku sebutkan sekarang juga, aku akan membuat sesuatu," ungkap Fung Li dengan tegas. Kemudian melihat ke sekeliling tempat termasuk para pelayan yang menghentikan kegiatannya kembali.
"Dan aku tidak ada yang boleh memberitahu siapa yang membuat apa yang aku buat, kalian semua ingat dan mengerti itu," tegas Fung Li dengan tatapan tajamnya.
Para pelayan seketika menundukkan kepala dengan wajah tampak terkejut melihat sikap Sang Permaisuri yang sangat berbeda dari rumor yang dikisahkan dengan yang aslinya.
Semua orang jadi penasaran apa yang ingin diperintahkan dan dibuat oleh Permaisuri.
Sore hari
__ADS_1
Di ruang rapat. Kini hanya tersisa lima pria yang masih sibuknya berbincang-bincang urusan tentang kerajaan.
Sambil berbincang mereka menyantap makanan yang tersaji di piring atas meja di hadapan mereka masing-masing.
"Emmm, makanan apa ini?" Pangeran Xiao Jei yang keheranan mengigit makanan di tangannya kembali dengan wajah tampak candu.
"Benar kue apa ini? mengapa aku merasa baru melihatnya? apa resep makanan di dapur kerajaan digantikan?" tanya Panglima Liu Te yang tidak memakai topeng setengah wajah hanya mulutnya yang tampak mengunyah makanan.
Lima Pria itu saling menatap sesama sambil mengunyah masing-masing kue di hadapan mereka sambil memandang bentuknya yang melingkar agak tebal seperti gelang dan di tengahnya bulat kosong yaitu kue donat yang atasnya ditaburi gula campur selai coklat dan kacang-kacangan.
"Kak apa kau tau kue apa ini?" tanya Xiao Fei yang melirik kearah Xiao Zhan langsung kaget.
Kaget melihat Xiao Zhan yang sedang mengunyah langsung telan kue yang sama terlihat seperti orang kelaparan saja.
Pangeran Xiao Rei, Xiao Fei, Xiao Jei dan Panglima Liu Te melongo melihat sosok pria yang dikenal anggun dan bermartabat itu makan seperti itu.
"Apa dia benar-benar kakak kita?" tanya Xiao Rei, Xiao Fei dan Xiao Jei secara bersamaan melihat Xiao Zhan.
"Ahhh." Xiao Zhan selesai memakan habis kue donat di atas piring dengan senyum lega dan senang. Dia mengambil sapu tangan dan mengelap bibirnya.
"Kuakui koki yang membuat kue ini hebat, karena berhasil membuatku senang maka koki dan pelayan di dapur akan akan dinaikan gajinya," tutur Xiao Zhan tersenyum.
Keempat pria yang masih melongo melihat Xiao Zhan tersadar, mereka mengunyah kembali donat dengan memasang wajah enak.
"Benar, kue bentuk seperti gelang ini sangat enak, aku baru pertama kali merasakan kue seenak, lezat dan menagih seperti ini." Xiao Fei tersenyum mengunyah sambil memandang sisa donat di tangannya.
Xiao Zhan, Xiao Rei, Xiao Jei dan Liu Te mengangguk secara bersamaan.
...*Bersambung* ......
__ADS_1