Permaisuri Rebutan

Permaisuri Rebutan
Sebuah jepit rambut


__ADS_3

Usai kematian Permaisuri Yux Si, semua orang telah kembali ke tempat masing-masing. Tidak mampu bersuara lagi, rasa terkejut akan kenyataan membuat mereka bungkam.


***


Malam hari


Di depan gerbang kediaman Jenderal Si Nian, tampak Kaisar Xiao Zhan dan Fung Li sedang berdiri di samping kereta sambil bercakap-cakap dan melihat para prajuritnya yang membawa barang-barang bekas peninggalan Fung Si.


"Apa kau tidak ingin menemui ayahmu sama sekali?" tanya Xiao Zhan.


Fung Li memandang gerbang kediaman yang terbuka dengan raut wajah seolah memikirkan sesuatu. "Menemui? tidak, lebih baik kita pergi secepatnya," jawabnya tidak bersemangat.


Xiao Zhan mengangguk mendengar itu dan mencoba mengerti situasi.


Tiba-tiba dari gerbang yang terbuka, sosok pria dengan wajah tampan yang kelihatan bersedih berjalan menuju Fung Li diikuti lainnya.


Bersamaan keluarnya pria itu, salah satu prajurit dengan membawa kotak peti berlari menyela dan saat melewati samping pria tampan itu karena tergesa-gesa dia jadi oleng dan jatuh.


Kotak peti yang dibawanya jadi melayang dan juga jatuh tepat di muka kaki Fung Li. Terbuka hingga barang-barang dalam kotak peti jadi keluar berhamburan.


Segera prajurit yang terjatuh itu beranjak dengan wajah khawatir.


Fung Li berjongkok memperbaiki kotak peti dan memupuk benda yang berhamburan dimasukan dalam kotak peti itu sambil sejenak memandang benda yang dimasukinya.


Pandangan pria tampan yang berdiri di samping prajurit tadinya terjatuh sontak melirik ke arah Fung Li dengan tampang sedikit terkejut.


"Jepit rambut itu?" Pria tampan tidak lain adalah Raja Zha Wey itu melangkah cepat mendekati Fung Li.


Xiao Zhan jadi mengerutkan dahinya melihat sosok pria itu. Ada rasa ketidak sukaan terpasang di wajah Xiao Zhan.


Raja Zha Wey langsung merebut sebuah jepit rambut yang hanya terdapat sebelah digengaman tangan Fung Li dan berdiri tegak kembali.


Tiba-tiba jepit rambut itu langsung di bantingkan ke tembok jalan hingga hancur berpatahan tepat di depan mata Fung Li.


Semua orang jadi kaget mengapa jepit rambut itu dibanting keras oleh Raja Zha Wey, dan rasa penasaran mengundang semua orang di situ.


"Mengapa benda itu masih ada?!" bentak Zha Wey membuat Fung Li seketika berdiri meninggalkan barang-barang yang belum selesai dipupuknya.


"Benda apa maksudmu? mengapa kau merusak jepit rambutku?!" Fung Li berlari mendekati jepit rambut yang berpecahan dan memupuknya dengan wajah menahan marah.

__ADS_1


Raja Zha Wey seketika tersentak mendengar lontaran Fung Li. Dia sontak menoleh ke arah Fung Li yang mendekat ke hadapannya.


"Kau pria bajingan!" Fung Li memperlihatkan pecahan jepit rambut kupu-kupu di telapak tangannya itu ke hadapan Zha Wey.


Xiao Zhan mendekat ke dua orang itu, dan langsung menarik sebelah tangan Fung Li agar segera pergi dari situ. Sebelum itu dia melempar tatapan tajam pada Zha Wey.


"Lepaskan, aku bisa berjalan sendiri" pinta Fung Li yang diseret Xiao Zhan masuk dalam kereta.


Zha Wey mematung di tempatnya berdiri dengan tatapan tak bisa lepas dari Fung Li yang sudah berada dalam kereta terlihat dari jendela kereta itu.


Prajurit yang tadinya terjatuh langsung kembali membereskan barang dari dalam peti belum sempat Fung Li pupuk.


Raja Zha Wey bertambah bungkam melihat prajurit itu memegang sebuah topeng kupu-kupu dengan meniup-niupnya supaya bersih dari debu lalu dimasukan dalam peti itu.


'Topeng itu?' batin Zha Wey.


Rasa kaget, dan bingung mengenai apa yang dilihatnya membuat dia bagai patung berdiri sangat lama di situ, sampai tidak sadar lagi kereta Xiao Zhan dan Fung Li sudah berlalu pergi.


***


Malam yang terasa begitu sunyi, hembusan angin menerpa dedaunan. Terdengar suara riuh angin yang menggoyangkan dahan dan ranting pohon.


Xiao Zhan yang duduk di sebelahnya terus memandang Fung Li dengan wajah seperti tidak rela melihat gadis itu tampak sedang bersedih. Di luar dugaannya, baru pertama kali dia melihat gadis itu tampak sedih.


"Kau baik-baik saja?" tanya Xiao Zhan mencoba membuka suara.


"Tidak, aku baik-baik saja. Jangan pedulikan aku, urus saja dirimu jangan terus melihatku seperti itu." Lontaran Fung Li membuat Xiao Zhan langsung mengalihkan pandangan lurus dengan wajah dingin.


"Baiklah, bersedihlah sesukamu dasar monyet cengeng,"


Fung Li seketika melirik ke samping dan melempar tatapan membunuh pada Xiao Zhan.


"Kau tidak mengerti, jangan berkata sembarangan." Fung Li memandang kembali pecahan jepit rambut di tangannya.


Xiao Zhan berdiam dan matanya mengekori apa yang dipandang gadis di sampingnya itu. Dia menatap saksama pecahan jepit rambut yang seolah membuat pria itu heran akan gadis itu tampak bersedih.


"Ini adalah benda milik ...," ucap Fung Li terpotong seketika mengingat sesuatu. Dia teringat jika mengatakan benda pemilik tubuh, Xiao Zhan pasti akan curiga padanya.


"Iya aku tahu itu milikmu, itu sudah rusak buang saja," suruh Xiao Zhan.

__ADS_1


"Ck, mengapa juga Zha Wey itu membantingnya? apa dia sudah tidak waras karena kehilangan wanita yang sangat-sangat dicintainya itu?"


Xiao Zhan tersenyum tipis dan perlahan merangkul bahu Fung Li. "Sudahlah," lirihnya.


"Apa yang kau lakukan?" Fung Li menggeser duduknya ke samping menjauh dari dekat Xiao Zhan.


"Berhenti saat di hutan kematian, kita bermalam di sana dan akan kembali melanjutkan perjalanan pagi." Perintah Xiao Zhan yang sontak membuat Fung Li menengok ke arahnya dengan wajah heran.


"Mengapa? langsung saja kembali," saut Fung Li.


"Tidak, diam saja, ikuti perkataanku dan ingat perjanjian nikah kita kau harus menurutiku kan, asalkan kita tidak menganggu kehidupam pribadi masing-masing tidak masalah."


Fung Li menyunggingkan bibirnya dengan perasaan kesal. Namun dia segera memalingkan wajah kembali dan mengingat tentang perjanjian kontrak nikah palsu mereka.


***


Sesampainya di hutan kematian, kelompokan Kaisar Xiao Zhan dan Fung Li mulai memasangkan beberapa tenda kemah untuk bermalam sementara serta keperluaan lainnya.


Di tengah pertendaan, tampak Xiao Zhan dan Fung Li yang duduk bersila secara berdampingan tidak jauh dari hadapan api unggun.


Keadaan mulai terasa hening, semua anggota prajurit sibuk dengan urusan masing-masing.


"Terima kasih." Fung Li tersenyum tipis memandang sebelah jepit rambut di telapak tangannya yang telah diperbaiki oleh pria di sampingnya.


Xiao Zhan tersenyum diam-diam dengan wajah yang dialihkan ke samping mendengar itu.


Fung Li melirik ke samping memandang sosok Xiao Zhan seraya memikirkan sesuatu.


"Kau tahu kera, dulunya aku menyangka kau pria brengsek yang suka memerintah seenaknya, memaksa menikah dan selalu menyuruhku untuk bisa menurutimu. Sekarang aku mengerti apa artinya komitmen, kita sudah sepakat bekerja sama dalam nikah palsu ini hingga sampai saat waktunya semua sudah berakhir. Aku berterima kasih kau pernah membantuku banyak."


Ucapan panjang lebar Fung Li membuat Xiao Zhan mengalihkan pandangannya kembali dan dua insan itu jadi saling bertatapan.


"Hmm, selamat malam," lontar Xiao Zhan. Dia segera berdiri lalu membalikan tubuh dan berdiri setelah hanya mengatakan itu.


Fung Li tersenyum memandang punggung Kaisar Xiao Zhan yang sudah pergi dan masuk dalam tenda kemah.


Fung Li menghirup udara yang terasa segar, dia perlahan berdiri sambil memandang jepit rambut bekas diperbaiki Xiao Zhan seraya mengibas-ngibaskan belakang hanfunya yang sedikit kotor.


Asiknya mengibaskan dan kembali memandang jepit rambut kupu-kupu dan tiba-tiba terasa sentuhan tangan seseorang menutup mulutnya. Kemudian sebelah tangan Fung Li satunya langsung ditarik dan Fung Li dibawa pergi seseorang menjauh dari situ.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2