
Fung Li dan Xiao Zhan sampai di tempat tujuan. Masuk dalam sebuah restoran terkena besar yang bernama 'Restoran enak' di dalamnya banyak sekali orang duduk memenuhi meja makan yang berada di tengah ruangan.
Bukan hanya di tengah ruangan, ruangan atas lantai dua pun ada, meja dekat dengan pagar yang membatasi untuk bisa melihat ke bawah panggung teater untuk para penari cantik menghibur para pelanggan.
Xiao Zhan masih menggandeng tangan Fung Li menaiki tangga menuju lantai atas, lalu memilih duduk di salah meja dan bangku kosong dekat dengan pagar, hingga bisa melihat yang terjadi di lantai bawah.
Mereka duduk secara berlawanan menghadap meja, Xiao Zhan melambaikan tangannya dan pelayan pria langsung ada mendekat ke meja itu.
Fung Li asiknya melihat ke sekitar dan lantai bawah, memandang penari-nari cantik yang mengenakan pakaian yang bisa dibilang kekurangan bahan.
"Dua mangkok hotpot dan sebotol arak," lontar Xiao Zhan pada pelayan pria yang memegang nampan. Menatap pelayan itu dengan mata tajam.
"Ba baik Tuan," balas pelayan itu tergagap. Lalu membungkukan badan dan pergi dengan wajah nampak masam merasakan ada yang aneh.
Fung Li beralih menatap pria di hadapannya. "Jangan menatap orang seperti itu, nanti akan ada yang curiga mengenai identitasmu," jelasnya pada Xiao Zhan.
Xiao Zhan tersenyum dari balik cadarnya mendengar ucapan Fung Li. "Kau bisa waspada juga terhadap musuh?" tanyanya.
Xiao Zhan menyodongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Fung Li dengan tatapan tajam.
Fung Li sedikit merasa kesal dengan Xiao Zhan yang sekarang menatapnya lebih dekat. Namun dia tidak ingin kalah malah menatap tajam balik Xiao Zhan dengan sorot mata dingin.
"Kau tahu, ada banyak hal yang tak bisa di katakan, waktulah yang nanti akan menunjukannya." Fung Li tersenyum simpul menatap manik mata Xiao Zhan yang bewarna hitam.
Melihat bola mata Xiao Zhan bewarna hitam itu sejenak Fung Li heran. Tadinya bewarna biru, sekarang berubah bewarna hitam.
Xiao Zhan tersenyum mendengar lontaran Fung Li memaksudkan jika suatu saat akan ada hal yang mengejutkan tak terduga.
Kembali menjauhkan tubuh, Xiao Zhan melihat ke lantai bawah lalu melihat ke sekitar meja yang di tempatinya mengamati orang sekitar.
__ADS_1
"Mengapa matamu? ..." tanya Fung Li terpotong melihat pelayan pria sudah datang dengan memegang nampan di ikuti banyak pelayan lain di belakangnya yang nampak membawa banyak piring serta alat pemanasan hotpot.
Di meja lain, sekitar meja yang di tempati dua orang itu semua kagum melihat ada yang memesan hotpot karena makanan itu adalah makanan yang sangat mahal di Kekaisaran Wexi dan jarang ada yang mampu membelinya. Namun bagi Xiao Zhan itu hanyalah biasa, bahkan dia bisa membeli berkali-kali lipat restoran yang menjualkan hotpot.
Semua mata di sekitar tentu tidak lepas melihat banyak pelayan yang menyajikan menu mahal itu pada dua orang yang tidak dapat dikenali karena memakai cadar. Mereka sedikit heran melihat pakaian orang yang mampu membeli hotpot hanya biasa-biasa saja.
***
...Paviliun Bunga Melati....
Terjadi keributan besar di luar kamar milik Selir Qian Yu. Para pelayan berkerumun dengan wajah tampak syok dengan yang terjadi di dalam kamar.
"Mengapa ini bisa terjadi?"
"Mengapa beliau malah meminum racun?"
"Mungkin Selir itu sudah tidak waras karena kehilangan anak dikandungannya waktu itu."
"Terlalu lemah, hanya seperti itu memutuskan untuk bunuh diri, padahal Permaisuri Yux Si lebih memprihatinkan tidak bisa mengandung. Namun masih kuat dan tidak menyakiti diri sendiri, aku salut akan ketegeran Permaisuri Yux Si, patut di contoh."
Bisik-bisik para pelayan muda maupun tua di luar kamar itu mengenai Selir Qian Yu yang barusan ditemukan tidak bernapas lagi di dalam kamar.
Hentakan kaki banyak terdengar, berasal dari kumpulan Raja Zha Wey beserta prajuritnya yang menuju kamar Selir Qian Yu.
Para pelayan yang mengumpul seakan menjauhkan diri pemberi jalan pada sosok Raja itu masuk dalam kamar. Sementara prajurit berdiri di luar.
Saat masuk, Raja Zha Wey semakin melangkah cepat melihat sosok wanita yang terbaring di atas ranjang dengan sosok Panglima Zen berdiri tegak di samping ranjang dan juga tabib wanita yang tak ingin mendekat.
"Apa yang terjadi tabib?" Raja Zha Wey langsung ingin mendekati Selir Qian Yu. Namun langsung di halangi Panglima Zen.
__ADS_1
"Yang Mulia Raja, racun itu sangat berbahaya. Sebaiknya Anda tidak boleh mendekat." Panglima Zen kembali menarik tangannya yang menghalangi Raja Zha Wey lewat.
Raja Zha Wey menarik napas berat. "Aku hanya ingin melihatnya, kau berani melarangku? dia sudah melakukan kebaikan padaku dan Permaisuri Yux Si."
Setelah mengatakan itu, Raja Zha Wey langsung saja mendekat. Tidak ada yang bisa melarang dan menghentikannya.
Rasa prihatin sedikit merasuk di hati pria angkuh itu. Entah mengapa dia sedih melihat sosok wanita yang tubuhnya lemas sudah tak berdaya. Bibir yang membiru mengalir keluar busa dari mulutnya mengotori sekitar lehernya.
"Zen cepat arahkan pasukan untuk mencari tahu siapa yang melakukan ini! semua penjaga di sini tidak becus! cepat kalian pergi. Qian Yu tidak mungkin melakukan hal seperti ini!" Raja Zha Wey mengibaskan tangannya memberi perintah.
Para prajurit pun dengan serentak pergi dengan dipimpin oleh Panglima Zen. Sementara para pelayan bubar untuk melakukan tugas penghormatan
Tabib wanita melangkah mendekati Raja Zha Wey. "Yang Mulia sepertinya Selir Qian Yu bukan bunuh diri, melainkan dipaksa diracuni seseorang," ucapnya dengan tubuh kaku dan kepala yang tak berani mendongak.
Raja Zha Wey sontak menolehkan pandangan pada tabib dengan dahi mengerut.
"Benar, ini tidak mungkin jika Selir meminum racun sendiri." Raja Zha Wey melihat sekeliling, mengamati sekitar ranjang.
Raja Zha Wey menangkap segelas cangkir kosong berdiri tegak seperti umumnya. Berada di atas meja makan yang berada dalam kamar itu.
Melihat itu, rasa heran dan penasaran timbul ketika mengamati dengan serius atas meja itu yang hanya terdapat satu gelas itu di atasnya. Sisanya tidak ada satupun barang lagi.
Lalu pandangan Zha Wey beralih mengamati tubuh Selir Qian Yu, terutama wajah dan sekitaran tangan wanita yang sudah tak bernyawa itu nampak bekas air keringat. Melihat itu Zha Wey heran sekaligus penasaran.
...Bersambung ......
Penasaran gk dengan selanjutnya? tetap stay terus yah dan follow akun Noveltoon author. Makasih...
Tau gk umur author brp? sini author ksih thu yh 16😇
__ADS_1