
Tiba-tiba ...
"Kebakaran ... kebakaran!" teriak heboh orang-orang di luar mengejutkan semua penghuni di Paviliun Xia itu.
Kaisar Xiao Zhan sontak keluar dari ruang ganti dan melirik kearah ranjang. "Fung Li!" teriaknya.
Fung Li mematung di tempat melihat Xiao Zhan yang hanya memakai celana bawah dan memampangkan tubuh kekar atasnya.
"Ppfttt." Fung Li mengalihkan pandangannya dari Xiao Zhan dengan menahan tawa.
"Apa? siapa yang berteriak tadi mengejutkan saja," kesal Xiao Zhan. Dia masuk dalam ruang ganti mengambil jubahnya yang tertinggal lalu keluar dari ruang itu sambil memakainya.
Xiao Zhan membuka pintu kamar dan melihat ke sekitaran luar kamar yang tidak tampak ricuh ataupun heboh seperti tadi.
Penjaga banyak di depan pintu kamar membungkukan tubuhnya dengan wajah tampak masam. "Maaf Yang Mulia tadi ada kesalahpahaman, maaf atas ketidaknyamanan Yang Mulia Kaisar," ucap serentak prajurit penjaga khusus itu.
"Ck, kalian pergi dan ganti jadwal menjaga, hukuman kelalaian kalian keliling lapangan sebanyak dua ratus kali, dan di mana orang yang berteriak seenaknya itu di kediamanku?" tanya Xiao Zhan dengan wajah dingin.
"Sudah ditangkap dan dikurung dalam penjara Yang Mulia, orang itu sepertinya bermasalah dengan otaknya," jawab salah satu penjaga dengan kepala tunduk.
Penjaga lainnya hanya terdiam membayangkan hukuman mereka yang hanya dilontarkan santai oleh Kaisar Xiao Zhan.
Kaisar Xiao Zhan langsung menutup pintu kamar kembali dan membalikan tubuh melirik Fung Li yang berdiri tepat di hadapannya.
"Aku ingin keluar," pinta Fung Li.
***
Di sebuah kediaman mewah yang berada di tengah-tengah kota bayangan yang berada di bagian timur Kekaisaran Langit.
Di dalam salah satu tempat di kediaman itu, tampak dua pria paruh baya yang mengenakan pakaian bagusnya. Mereka sedang berbincang dengan duduk di kursi secara berhadapan yang dihalangi meja segi empat.
"Bagaimana bisa Dewa Xiao Zhan memutuskan hal ini pada Putri? kemarin dia bersikap seolah akan menjaga putriku dengan baik, lalu apa yang terjadi?" lontar salah satunya dengan alis berkerut, Yu Gong Ayah Selir Yuwer yang terlihat marah.
"Pimpinan Kota Hui, sepertinya Anda salah mengira akan ini, semua orang di luaran sana membicarakan Yuwer yang berniat buruk ingin membunuh Permaisuri Fung Si, tentu saja hukuman kematian tidak akan lepas dari orang yang berniat apalagi itu adalah seorang Permaisuri," balas Pria di hadapannya dengan wajah masam.
__ADS_1
"Lalu apa ada jalan keluar dari masalah ini?" tanya Yu Gong dengan wajah serius sambil memainkan kumis hitamnya.
Pria di hadapan Yu Gong yang adalah paman Selir Yuwer tampak memutar bola matanya sedang berpikir.
"Bagaimana jika aku meminta bantuan pada salah satu pasukan khusus Raja Xu Kai untuk berpura menculik putriku malam ini? agar selamat dari hukuman kaisar muda itu?" tanya Yu Gong dengan wajah serius menatap saudaranya.
"Menculik? asal kau tau menculik orang yang melakukan kejahatan di bawah Kaisar Xiao Zhan sudah tidak akan selamat lagi sangat mustahil Yu Gong, kaukan tau bagaimana ketatnya penjagaan dan kekuatan pasukan kaisar hebat itu." Lu Fong menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
"Lalu?" tanya Yu Gong, sang ayah Selir Yuwer yang tampak kebingungan dan pusing memikirkan kesalamatan putri semata wayangnya itu.
"Hanya ada satu jalan keluar, mari kita rakyat Kota Hui memohon ampunan secara langsung pada Kaisar Xiao Zhan agar melepaskan Yuwer," jawab Lu Gong memasang tampang yakin.
"Sepertinya Kaisar Xiao Zhan tidak akan memaafkan, meski sekota sekali pun, itu tidak akan akan mungkin," balas Yu Gong.
Lu Gong menghembuskan napas berat. Dia mengetuk-ngetuk atas meja sedang berpikir keras.
"Eh tunggu, bukankah kita seharusnya minta maaf kepada Permaisuri Fung Si? bukankah wanita itu orangnya bodoh dan mudah percaya dengan orang? itu bagus kita bisa meminta maaf pada Permaisuri Fung Si saja, wanita itu pasti akan bermurah hati," lontar Lu Gong tersenyum girang.
"Meskipun permaisuri itu bodoh dan pasti akan memaafkan orang yang berencana jahat padanya, tetap saja masalahnya Kaisar Xiao Zhan tidak mencintai permaisuri itu. Bagaimana bisa akan ikut memaafkan hanya karena Permaisuri Fung Si memaafkan?"
Malam hari, di Paviliun Yui
Dalam ruang rahasia di kamar utama, Fung Li sedang duduk di kursi tepat di samping jendela yang baru dibuka dalam ruang itu.
Di hadapannya berdiri papan lukisan dengan setengah gambar yang digambarnya hanya menggunakan kuas dan tinta hitam.
__ADS_1
Silli yang berdiri di belakang kursi jadi heran sekaligus penasaran melihat lukisan setengah jadi yang sedang Fung Li gambar kembali.
"Lukisan apa itu kak? sepertinya aku tidak pernah melihat hal dalam lukisan itu kecuali gadis kecil itu, rumput hijau dan pohon di samping bangunan itu," lontar Silli penasaran dan bingung.
Fung Li tersenyum tipis dengan wajah tampak sedih sambil sebelah tangan kanannya tergerak melukis. "Gadis kecil yang berada di gendongan itu adalah diriku di masa depan, sedangkan pria yang menggendong aku adalah ayahku, benda yang ku pegang itu adalah senjata berbahaya milik ayahku," tuturnya terdengar sedih.
"Senjata yang ku pegang itu adalah senjata kesayangan milik ayahku yang sering dia bawa bertugas karena seorang ketua tentara militer," ungkap Fung Li lagi yang langsung diangguki Silli.
"Ayah Anda atau paman sangat tampan dan berkarisma terlihat seperti mirip Kaisar Xiao Zhan sungguh," lontar Silli yang membuat Fung Li seketika menghentikan gerakan tangannya.
Sudut bibir Fung Li terangkat membentuk senyum tipis. "Asal bicara saja kau ini, bagaimana bisa kera menyebalkan itu mirip ayahku?" elaknya memandang sosok ayahnya di lukisan.
'*Memang sedikit mirip*,' batin Fung Li.
"Ppfftt, lucu sekali Kak Fung Li menyebut kaisar dengan sebutan kera, hahahaha," tawa Silli tak kuasa menahan tawanya.
"Itu cocok untuknya." Fung ali melanjutkan melukis kembali.
__ADS_1
...*Bersambung* ......