Permaisuri Rebutan

Permaisuri Rebutan
Ngambeknya Xiao Zhan


__ADS_3

"Ada apa?" Xiao Zhan mendekati perkumpulan para gadis pengikut Putri Wei Wei.


Keadaan jadi serius, para rakyat di sekitar jadi terheran apa yang terjadi sampai Putri itu tersungkur ditembok. Ada yang mengira Fung Li telah mendorong dan ada yang mengira memang disengajakan terjatuh.


Fung Li melangkah maju kehadapan Putri Wei Wei dengan wajah dingin. Dia berjongkok mendekatkan wajahnya pada Putri Wei Wei yang memasang wajah menyedihkan sekali.


"Ck ck ck, menyedihkan." Fung Li tersenyum sinis menatap manik mata Putri Wei Wei.


Para gadis berminggiran memberi jalan sosok pria yang berjalan dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


Fung Li berdiri tegak kembali. Dia menatap lurus melihat Xiao Zhan yang sedang menatapnya dengan wajah tampak cemas.


"Boneka opera," lontar Fung Li dengan sengajanya. Dia berjalan melewati Putri Wei Wei yang masih tersungkur di tembok tanpa membantu terlebih dahulu, untuk apa membantu jika itu hanyalah pura-pura.


"Permaisuri," panggil Xiao Zhan.


Zhan berjalan mendekati Fung Li lalu langsung menarik tangan gadis itu dan membawanya berjalan menuju kereta.


Semua di sekitar heran melihat Kaisar Xiao Zhan berjalan pergi menarik tangan Fung Li. Mereka mengira Kaisar Xiao Zhan pasti marah dengan Fung Li.


Putri Wei Wei yang tersungkur di tembok meremas hanfu yang dipakainya dengan gertakan gigi. 'Awas saja kau gadis ular, tidak akan pernah memiliki Xiao zhan, dia hanya milikku' batinnya.


Fung Li dan Xiao Zhan masuk dalam kereta lalu kereta itu berputar balik dan berangkat pergi menuju jalan bagian selatan untuk kembali karena letaknya Kerajaan Langit berada di kota bagian selatan yang hanya di tempatkan untuk kerajaan besar itu.


*


*


*


Waktu berselang lama, hari mulai senja kelompokan Xiao Zhan dan Fung Li sudah sampai di istana Kerajaan Langit. Memang untuk bisa sampai kesana memerlukan waktu sekitar empat jam-an jika berkereta.


Paviliun Xi, tempat besar dan luas dimana Kaisar Xiao Zhan dan Fung Li tinggal. Bertempat di bagian istana paling belakang yang begitu sunyi. Namun sangatlah indah.


Hanya keluarga, para pelayan, prajurit atau pengawal khusus yang boleh menginjakan kaki disitu. Tempat itu sangat pribadi jika ingin masuk harus izin terlebih dahulu jika tidak mungkin sekejap sudah tidak bernyawa orang yang masuk sembarangan.


Di salah satu tempat tinggi di paviliun itu, berada di tengah-tengah dari tempat lainnya. Tempat untuk bersantai, di dalamnya tampak Xiao Zhan dan Fung Li yang duduk saling berlawanan di hadapan meja.


"Hmm, pagi tadi kau denda sebanyak seribu koin emas." Xiao Zhan menyerahkan buku kehadapan gadis di depannya.


"Denda? ada peraturan denda juga? aku tidak ingin." Fung Li menolak dengan melipat kedua tangannya di depan dada lalu memalingkan wajah memandang ke sekitar kamar.


"Tidak semudah itu, tadi malam juga kau, kau ...," ucap Xiao zhan terpotong.


"Kau ... kau apa?" Fung Li menatap wajah pria di hadapannya.


"Kau menendang ituku, kau tahu malam tadi kau tidur selimutmu jatuh mengenai wajahku dan aku memasangkan selimut itu kembali pada tubuhmu tapi kau malah menarik tanganku sebagai sandaran pipimu makanya aku jadi ikut tertidur, kau pikir ini tidak berlebihan?" omel Xiao Zhan tampak kesal menatap wajah Fung Li.


Fung Li jadi terdiam, dia sedikit kaget mendengar dirinya dikatakan seperti itu oleh Xiao Zhan.


"Dan di kota tengah apa yang kau lakukan pada Putri Wei Wei?" Xiao Zhan menatap Fung Li dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Oh dia kekasihmu? emm aku tidak melakukan apapun, dia pura-pura terjatuh saja," jawab Fung Li. Sesudah itu memalingkan wajahnya mengalihkan pandangan ke lain.


"Bagus, aku hanya cemas nanti kau terluka olehnya, banyak sudah korban terluka olehnya hanya suka denganku," ungkap Xiao Zhan.


"Jadi bukan kekasihmu?"


Fung Li menatap wajah Xiao Zhan kembali.


Xiao Zhan menaikan sebelah alisnya, "ada apa kau bertanya kekasih?" tanya baliknya.


"Tidak ada, mengapa kau tidak menikahinya saja agar dia tidak melakukan hal buruk lagi," jawab Fung Li dengan wajah datar.


"Menikah lagi? kau pikir enak menikah? denganmu saja sudah kesulitan seratus persen, mengurusmu saja sudah seperti mengurus monyet sehutanan, malam aku harus tidur dibawah sedangkan kau," omel Zhan terpotong.


"Kau juga sangat menyebalkan, bisakah kau jangan terlalu muncul di dekatku? aku malas terus berpura-pura denganmu," balas balik Fung Li.


Brakk! suara gebrakan meja dipukul oleh Xiao Zhan.


Fung Li sedikit kaget melihat pria di hadapannya sepertinya sedang marah.


"Gadis tidak tau diri." Xiao Zhan langsung berdiri dan berlalu pergi meninggalkan Fung Li setelah mengatakan itu.


"Kau," geram Fung Li kesal mendengar dirinya dikatai seperti itu.


***


Malam hari


Dalam kamar, Fung Li duduk bersila di atas ranjang dengan wajah berpikir. Di tangannya terdapat satu buah buku yang terus dia pandang.


"Ahh, untuk apa aku peduli, dia yang salah." Fung Li beranjak dari atas ranjang dan berjalan mendekat ke jendela.


Fung Li membuka tirai jendela dan melihat pemandangan luar. Angin berhembus menerpa rambutnya yang terurai.


Teringat lagi ingatan perkataan Xiao Zhan di benaknya.


...Kau menendang ituku, kau tahu malam tadi kau tidur selimutmu jatuh mengenai wajahku dan aku memasangkan selimut itu kembali ketubuhmu tapi kau malah menarik tanganku sebagai sandaran pipimu makanya aku jadi ikut tertidur, kau pikir ini tidak berlebihan?...


...Gadis tidak tau diri...


Fung Li memandang kembali buku di tangannya, jauh dari lubuk hati dia seakan merasa bersalah dengan Xiao Zhan.


"Aku salah, benar aku berbuat berlebihan, seharusnya aku sepakat melakukan drama dengannya dan aku malah bilang malas akan itu, aku juga lupa untuk berterima kasih kepadanya tentang buku membuat resep pil serbaguna itu," gumam Fung Li tampak kecewa dengan dirinya.


Dia merasa bersalah berucap kasar seperti itu pada Xiao Zhan.


Tiba-tiba terdengar suara gerakan pintu yang dibuka oleh seseorang.


Fung Li langsung berbalik dan melihat orang yang masuk. Melihat orang itu dia pun berlari mendekatinya.


"Xiao Zhan," panggil Fung Li. Kemudian menghalang jalan Xiao Zhan.

__ADS_1


Xiao Zhan menatap Fung Li di hadapannya dengan wajah tampak masih menyimpan marah.


"Ma ...," ucap Fung Li terpotong.


"Jangan ganggu." Xiao zhan langsung mendorong tubuh Fung Li dari hadapannya dan berjalan pergi melewati Fung Li.


Fung Li jadi termundur dengan memegang depan dadanya. Melirik Xiao Zhan yang berjalan masuk dalam kamar mandi lalu menutup pintu dengan kasar.


Fung Li pun memilih keluar dari kamar memutuskan untuk jalan-jalan melihat sekitaran paviliun itu.


***


Angin bertiup menerpa rambut cantik Fung Li, gadis itu sedang duduk santai di gazebo yang berada di tengah-tengah perairan teratai sekitarnya, berada di paviliun itu juga.


Duduk bersama seorang gadis dan juga pemuda tampan, mereka sedang sibuk memperhatikan Fung Li dengan wajah melongo yang sedang melakukan sesuatu.


"Selesai." Fung Li menyerahkan kecapi berukuran sedang pada pemuda yang duduk di hadapannya.


"Apa?" kaget Pangeran Xiao Fei tiba-tiba. Dia melongo mengambil alat musik kecapi yang diserahkan gadis cantik di mukanya.


"Kakak ipar bisa memperbaiki senar kecapi secepat dan semudah itu?" Xiao Fei memandang saksama kecapi yang di pegangnya dengan wajah kagum.


"...." Hening.


Fung Li hanya berdiam, dia tiba-tiba berdiri.


"Silli, ikuti aku." Fung Li melangkah pergi dari gazebo itu.


Silli menundukan kepala terlebih dahulu pada Pangeran Xiao Fei lalu berdiri dan pergi mengejar Fung Li yang menuruni tangga yang menghubungkan pada gazebo itu.


"Terimakasih!" teriak Pangeran Xiao Fei pada Fung Li yang sudah berlalu pergi.


"Aku harus menunjukan ini pada kakak," gumamnya tersenyum memandang kecapi.


***


Di lapangan luas.


"Kak Fung Li, mengapa Anda keluar malam-malam seperti ini? seharusnya anda sudah istirahat."


Silli memeluk Fung Li dari samping sambil berjalan pelan.


Fung Li mengangkat sudut bibirnya. "Hanya mencari angin saja," jawabnya singkat lalu melangkah dengan cepat.


Silli melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Fung Li dengan wajah berpikir. "Sepertinya Anda menyembunyikan sesuatu?" Kemudian dia mengejar Fung Li. yang berjalan cepat.


"Sudahlah, kau kembalilah dan istirahat aku ingin mengurus sesuatu," jawab Fung Li pada Silli.


Silli menghentikan langkah kakinya, dia pun mengangguk. "Baik kak, istirahat dan semangat," lontarnya tersenyum.


Fung Li sejenak berbalik dan melempar senyum tipis. 'Perlahan-lahan aku bisa melupakannya di sini' batinnya.

__ADS_1


Fung Li berbalik kembali. 'Dan aku harus mengurus kera brengsek itu, perkataanku mungkin melukai hatinya, seharusnya aku bekerja sama karena dia telah membantuku, tapi apa yang harus kulakukan? mengajaknya bicara?' batinnya.


...Bersambung😙 ......


__ADS_2