Permaisuri Rebutan

Permaisuri Rebutan
Kunjungan Selir Wei Wei


__ADS_3

Xiao Zhan menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan Liu Te. "Tentang kisah pertemanan masa kecil dirinya dengan Fung Si," jawabnya dengan suara berubah pelan tidak keras-keras seperti tadi.


"Ppfttt." Panglima Liu Te menundukan kepala menahan tawa dengan sebelah tangan yang menutup mulutnya.


Xiao Zhan menaikan sebelah alisnya. "Mengapa kau menahan tawa seperti itu?" tanyanya heran.


'Apa ini bisa dibilang cemburu?' batin Liu Te.


"Anda cemburu?" tanya Liu Te tersenyum tipis.


Xiao Zhan tersentak, dia memutar bola matanya. "Cemburu apanya? aku saja tidak ada perasaan apapun pada Fung Si, cih,"decihnya. Kemudian langsung melangkah pergi menuju luar.


Sebelum keluar dari pintu, Xiao Zhan menghentikan langkah kakinya.


"Kau bilang pada Huang Li, jika berani mengirim surat lagi siap-siaplah terima kiriman bendera merah." Peringat Xiao Zhan langsung melanjutkan jalan kembali keluar dari kamar dengan wajah ditekuk.


Panglima Liu Te membalikan tubuhnya ke arah pintu dengan mata melebar. "Bendera merah," kagetnya.


***


...Paviliun Yui...


Dalam kamar utama, ruang tamu.


Di situ tampak Selir Wei Wei yang duduk bersila di lantai menghadap meja dan sosok wanita cantik.


"Hei wanita bodoh, jangan berani mendekati Kaisar Xiao Zhan, sekarang dia juga adalah suamiku dan kau jangan sok hebat karena menyandang gelar Permaisuri, kau itu hanya seorang Putri Jenderal Kekaisaran Wexi, sedangkan aku Putri dari perdana menteri keuangan kekaisaran ini," ucap Selir Wei Wei sambil memainkan rambut panjangnya dengan lagak sombong.


Fung Li berdiam memandang wanita di hadapannya. 'Seperti cacing kepanasan wanita ini, bagus jika disiram dengan air dingin' batinnya.


"Silli, apa sudah selesai menyapu di halaman depan kamar?" tanya Fung Li dengar suara lantang.


"Cih, pembantunya saja cuman itu, kasihan." Selir Wei Wei melirik ke sekitar kamar dengan lagak sombong sambil memperbaiki rambut hitam panjangnya.


"Sudah kak!" saut Silli yang asiknya merapikan sepatu sandal milik Selir Wei Wei di depan kamar.


"Pelayan lebih kencang mengipasnya! di sini sangat panas dan banyak nyamuk, kalian lemah sekali," pinta Selir Wei Wei pada beberapa pelayan miliknya yang duduk di belakang sedang bertugas mengipas dengan kipas besar.


Fung Li melirik ke arah Selir Wei Wei yang duduk di depannya hanya terhalang oleh meja dan makanan cemilan tersaji di atasnya.


Sambil mengetuk-ngetuk atas meja dan mengunyah makanan. "Kau siapa?" tanya Fung Li membuka suara.


Selir Wei Wei pun berhenti memainkan rambutnya dan terkejut mendengar lontaran Fung Li yang seolah-olah tidak mendengar perkataan dirinya sedari tadi.


"Ini namanya ketidakhormatan secara langsung! bagaimana bisa permaisuri tidak mendengar perkataanku sedari tadi?" kesal Selir Wei Wei mengerutkan alisnya.


"Hahahaha," tawa tiba-tiba Fung Li.


Selir Wei Wei dan para pelayan yang sedang mengipas jadi heran sekaligus terkejut mendengar tawa wanita yang di kenal penakut itu.


"Kau lihat apa yang melekat di pergelangan tangan dan leherku? gelang emas," lontar Selir Wei Wei menunjukan tangan kirinya yang terdapat gelang emas mengkilat melekat.


"Wah." Para pelayan jadi kagum dengan wajah melongo memandang perhiasan emas banyak yang melekat di tubuh Selir Wei Wei, dil eher maupun tangan.

__ADS_1


Fung Li seketika menghentikan tawanya. "Lalu apa aku peduli?" lontarnya melirik Selir Wei Wei.


Selir Wei Wei menggertakan giginya. "Kau tidak tahu, ini pemberian hadiah dari Permaisuri Xiao Yu baru saja pagi tadi, sedangkan kau apa pernah diberi hadiah oleh permaisuri?" tanyanya geram.


Krekk, pintu tiba-tiba terbuka lebar.


Semua dalam kamar seketika melirik ke arah pintu dengan wajah kaget.


Kaisar Xiao Zhan melangkah masuk dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada.


"Aku ingin bicara pada Permaisuri Fung Si, tolong semua keluar," pinta Xiao Zhan melirik Selir Wei Wei dengan senyuman menggoda.


Fung Li memutar bola matanya malas mendengar ucapan Xiao Zhan.


Selir Wei Wei seketika berdiri. Dia pun membungkukan tubuh lalu beranjak pergi dari kamar besar itu diiringi para pelayan yang membawa kipas.


Kelompokan Selir Wei Wei itupun pergi, sedangkan Silli juga pergi entah kemana.


Dalam kamar ...


Xiao Zhan duduk di samping Fung Li dan keheningan pun terjadi. Seperti berada di tempat gua yang terasa begitu sunyi.


"Khemm," dehem Xiao Zhan.


Xiao Zhan melirik ke samping dan menatap Fung Li. "Apa hubunganmu dengan Huang Li? apa kau sering kirim terima surat darinya?' tanyanya akhirnya membuka suara.


Fung Li yang mendengar pertanyaan Xiao Zhan jadi menaikan sebelah alisnya merasa heran.


"Surat? aku tidak pernah surat menyurat dengan siapapun," jawab Fung Li. Menatap Xiao Zhan di sampingnya.


"Lupakanlah, aku ingin bercerita soal tulang naga." Xiao Zhan mengambil sesuatu dari dalam jubahnya.


"Emm." Fung Li menganggukan kepala dan menopang dagu dengan siku di atas meja dan pandangan menghadap ke arah Xiao Zhan.


"Tumben hari ini kau penurut," heran Xiao Zhan. Dia memicingkan kedua matanya menatap Fung Li tidak jadi mengambil sesuatu di dalam jubahnya.


"Bukan urusanmu," balas Fung Li menyunggingkan bibir seksinya.


Tiba-tiba Xiao Zhan menyodongkan tubuhnya. Tangan kanannya menyentuh pundak Fung Li. Dia mendekatkan wajahnya begitu dekat dengan wajah cantik Fung Li.


Mereka saling bertatapan dari dekat dengan wajah tampak menyimpan dendam.


"Kau ingat malam tadi? siapa sebenarnya yang melakukannya lebih dulu? kurasa itu bukan aku." Xiao Zhan menatap tajam manik mata Fung Li.


"Lalu kau pikir itu aku? untuk apa aku mencium kera jelek sepertimu," balas Fung Li dengan wajah datar.


"Apa, kera jelek? aku juga tidak ada niat mencium monyet bodoh sepertimu," ejek balik Xiao Zhan tersenyum sinis.


"Lepaskan tanganmu," pinta Fung Li. Setelah itu melirik tangan Xiao Zhan yang memegang bahunya.


"Tidak!" tolak Xiao Zhan malah menarik kuat tubuh Fung Li lebih dekat padanya dan semakin memegang erat bahunya.


Sementara di tempat lain tengah lapangan paviliun itu. Tampak dua pria tinggi dan gagah berjalan secara berdampingan sambil bercakap-cakap serius.

__ADS_1


Mereka berjalan menuju kamar besar karena keadaan sunyi di paviliun indah itu jadi agak sedikit membuat dua pria itu heran saat memasukinya.


***


Dalam kamar utama milik Fung Li.


Xiao Zhan sama kerasnya masih memeluk tubuh Fung Li dari samping dengan sangat erat, sedangkan Fung Li menggertakan giginya dengan tangan mengepal erat.


"Lepaskan!" Fung Li menatap tajam manik mata Xiao Zhan yang bewarna biru muda.


"Katakan dulu, jika kau tidak menyukai Pangeran Huang Li!" pinta Xiao Zhan menatap tajam balik Fung Li.


"Ini keterlaluan!" bentak Fung Li tiba-tiba. Kemudian langsung memukul dan mendorong bidang dada Xiao Zhan dengan kuat.


"Akkhhhhh!" teriak kencang Xiao Zhan jadi menjatuhkan tubuhnya ke lantai bersamaan menarik tubuh Fung Li ikut jatuh.


Di depan kamar itu, dua pria tampan yang ingin membuka pintu jadi tertunda karena kaget sekaligus heran mendengar teriakan suara itu.


"Bukankah itu suara Kak Zhan?" tanya Pangeran Xiao Rei pada saudaranya Xiao Jei.


"Benar, ternyata memang benar kakak ipar pisah tempat," jawab Pangeran Xiao Jei.


Dalam kamar ...


Fung Li melebarkan matanya memandang Xiao Zhan di bawahnya yang memejamkan mata dengan rapat.


"Hei!"panggil Fung Li. Dia menepuk-nepuk sebelah pipi Xiao Zhan dengan pelan.


Anehnya, Xiao Zhan tidak membuka matanya sesudah berteriak kencang tadi.


"Hei bangunlah!" Fung Li menepuk lagi pipi Xiao Zhan bahkan juga menggoyangkan wajah tampan pria itu.


Tidak ada pergerakan lagi sama sekali, membuat Fung Li jadi merasa cemas.


"Ada apa dengannya? ohh ya ampun aku telah mendorongnya, upss," sadar Fung Li kaget.


Fung Li pun memandang wajah Xiao Zhan sejenak lalu dia beralih menempelkan wajahnya ke bidang dada Xiao Zhan bagian kiri dan mendekatkan telinga memeriksa denyut jantung pria yang tak kunjung sadar di bawahnya.


Kreekk, pintu masuk terbuka. Tampak Pangeran Xiao Fei dan Xiao Jei seketika terkejut melihat pemandangan tak terduga tepat di depan mata mereka.


Mata Xiao Zhan terbuka, dia melirik Fung Li yang begitu dekat padanya, tampak lucu dia lihat.


"Mengambil kesempatan dalam kesempitan," ucap Xiao Zhan yang membuat Fung Li seketika langsung menjauhkan kepalanya dengan wajah memerah marah.


Xiao Zhan melempar senyum nakal menatap FungLi yang belum beranjak dari atas tubuhnya.


"Kheeemm, kita nanti saja," lontar Pangeran Xiao Jei yang berdiri di tengah pintu masuk. Dia membalikan tubuh kembali dengan wajah canggung.


"Iya, ini mungkin salah tempat, kita kembali," saut Pangeran Xiao Jei. Setelah itu menutup pintu kembali. Namun terhenti mendengar suara yang berhasil menghentikan gerakannya.


"Kalian tetap di situ." Suara itu berasal dari Xiao Zhan yang perlahan bangkit dari baringannya.


Fung Li beranjak cepat dari atas tubuh Xiao Zhan. Dia berdiri lalu langsung berjalan pergi menuju ruang ganti dan masuk ke dalamnya kemudian menutup pintu dengan kasar sampai terdengar begitu keras di telinga Xiao Zhan.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2