Permaisuri Rebutan

Permaisuri Rebutan
Kembalinya Putri Xian


__ADS_3

Selir Wei Wei mengepalkan kedua tangannya menatap arah pintu kamar, dan tidak sengaja mendengar suara tawa wanita yang sudah bisa ditebaknya siapa.


'Dasar gadis ******! Dia pasti merayu Yang Mulia dengan tubuh sampahnya itu!' batin Selir Wei Wei.


'Kau pikir aku akan berdiam dan bertingkah bodoh seperti ini melihat Xiao Zhan ku bersamamu? Cihh!'


Tiba-tiba Selir Wei Wei menjatuhkan tubuhnya dan pingsan di tempat membuat Panglima Liu Te terkejut.


Pintu kamar terbuka, Xiao Zhan dan Fung Li barusan keluar dan melihat wanita yang pingsan di hadapan mereka dengan wajah agak terkejut. Namun tidak berlaku pada Fung Li, dia seketika terkekeh.


"Kenapa dia?" tanya Xiao Zhan menatap ke arah Panglima Liu Te.


Pingsannya cuman sandiwara Yang Mulia (telapati Liu Te)


Mendengar itu Xiao Zhan sontak mengalihkan pandangannya pada Fung Li. "Liu Te antarkan Selir Wei Wei ke kediamannya, jangan ada yang berani menganggu kebersamaanku dengan Permaisuri Fung Li."


Seketika wanita yang tadinya pura-pura pingsan tiba-tiba batuk.


"Uhukk uhukk, Yang Mulia apa Anda punya obat batuk? Uhukk uhukk. Tolong Yang Mulia ...." Selir Wei Wei dengan sandiwara tingkat tingginya berusaha berdiri sambil terbatuk-batuk terlihat begitu menyedihkan.


Dalam hati Fung Li tertawa melihat tingkah wanita itu. 'Aku heran kenapa di zaman kuno selalu ada saja wanita yang seperti ini?' batinnya.


Tak terduga, setelah berdiri Selir Wei Wei segera berlari dan langsung berhembur memeluk tubuh Kaisar Xiao Zhan dengan wajah melasnya.


Panglima Liu Te melototkan matanya melihat kaisarnya disentuh seperti itu, tepat di depan mata sang permaisuri. Takutnya terjadi hal yang tidak menyenangkan. Mungkin Liu Te mulai sudah merasakannya.


"Kau bisa panggil tabib bukan? apa pelayanan di istana ini kurang?" balas Xiao Zhan menjauhkan tubuhnya dengan wajah dingin.


Wajah Selir Wei Wei kian menggelap mendengar lontaran pria di hadapannya seakan tidak peduli tentangnya.


"Ppfftt." Fung Li menahan tawa kini melihat raut wajah Selir Wei Wei.


Sontak Xiao Zhan, Liu Te dan Selir Wei Wei melirik ke arah Fung Li.


"Suamiku, aku tunggu di dalam," ucap Fung Li. Dengan sengajanya dia melempar senyum pada Selir Wei Wei lalu sekilas menatap Xiao Zhan.


Wajah Selir Wei Wei semakin gelap, giginya menggeretak dan kedua tangan yang mengepal. Rasanya dia ingin sekali meluapkan marahnya dan mencabik-cabik muka Fung Li sekarang juga.


Fung Li segera membalikan tubuh dan masuk kembali dalam kamar.


Xiao Zhan pun melakukan hal sama, masuk kembali dalam kamar dan menutup pintunya dengan wajah begitu dingin.


"Biar anda saya antar ke kediaman Selir," lontar Liu Te mendekat pada Selir Wei Wei.


"Tidak perlu." Tanpa pamit hormat, wanita itu langsung berbalik dan pergi cepat.


Panglima Liu Te memandang kepergiaan Selir Wei Wei dengan wajah begitu dingin. "Menganggu sajakan."


 ***


Keesokan harinya, pertengahan kota Kekaisaran Langit keadaan di jalanan situ begitu ramai.


Bahkan di depan sebuah salah satu restoran pinggir jalan besar itu mengumpul para rakyat, bagai kumpulan semut beramai-ramai mendengarkan sesuatu.


"Berharap semua bisa mengikuti pameran kali ini, ini adalah kesempatan terbaik bagi para rakyat menunjukan potensi keunggulan karya mereka."


"Yang Mulia Kaisar Xiao Zhan berharap kalian bisa menunjukan karya terbaik kalian dan membuat Yang Mulia tertarik di pameran nanti."


Para petugas dari istana menyampaikan himbauan kerajaan di tengah-tengah kota, bukan cuman di situ. Banyak petugas istana yang dibagi menyebar ke seluruh penjuru wilayah Dinasti Xing itu.

__ADS_1


Tidak jauh dari situ, tampak kereta kuda yang besar dan mewahnya terpacu cepat. Setiap lewat, orang-orang di pinggir jalan langsung membungkukan badan.


Alasan mereka membungkuk adalah tahu bahwa kereta khusus tersebut adalah kereta Sang Kaisar mereka, Kaisar Xiao Zhan. Tapi para rakyat heran melihat tujuan Kaisar ingin menuju mana sampai memakai kereta.


Dalam kereta, Kaisar Xiao Zhan sedari tadi pokus mengamati tingkah permaisurinya yang duduk di sebelahnya.


Fung Li sedang asiknya menuliskan sesuatu pada secarik kertas dengan menggunakan pulpen. Benda di tangan Fung Li itulah yang membuat Xiao Zhan sedari mengamatinya dengan wajah penasaran.


"Apa yang kau lakukan?" Tidak tahan dengan rasa penasaran, Xiao Zhan akhirnya bertanya.


Fung Li sontak menghentikan aktivitasnya menulis dan beralih menatap Xiao Zhan.


"Yah menulis, apa kau tidak lihat?"


"Lebih jelasnya, benda apa ini?" Xiao Zhan mengambil pulpen dari tangan Fung Li. Dia menatapnya dengan saksama pulpen itu.


"Namanya pulpen, ini adalah alat lain untuk menulis," jawab Fung Li.


"Aku baru pertama kali melihatnya." Xiao Zhan penasaran menarik tangan Fung Li, dan dia mencoba pulpen itu pada telapak tangan gadis itu.


"Kau!"


Xiao Zhan menulis namanya sendiri di tangan Fung Li membuat gadis itu mendengus kesal.


Xiao Zhan tersenyum ramah dan mengembalikan pulpen itu kembali.


"Kita akan kemana?" tanya Fung Li akhirnya bertanya. Karena penasaran mulai tadi sudah lama berkereta menyusuri perkotaan.


"Kamu bertanya?" balas Xiao Zhan santai.


"...."


Xiao Zhan tersenyum menang berhasil membuat Fung Li terdiam.


"Aku serius bertanya padamu sekarang, apa kau memang tidak punya kemampuan kultivasi?"


Fung Li terdiam mendengar pertanyaan Xiao Zhan barusan. Dia menatap mata Xiao Zhan dengan tatapan menelisik.


"Kau sudah tahukan seperti apa aku? Dari rumor kalangan para rakyat pun bilang aku sedari kecil sudah tidak berkemampuan seperti itu Zhan."


Fung Li berbohong akan itu, dia hanya tidak ingin ada yang tahu akan kekuatannya. Meski orang yang selalu bersamanya sekalipun.


"Hmm, lalu buku resep membuat pil obat yang pernah kau pinjam dariku untuk apa?" tanya Xiao Zhan dengan wajah santainya menatap Fung Li.


"Itu ...." Fung Li memutar bola matanya ke atas sedang berpikir akan menjawab apa. Dia bingung harus menjawab apa sekarang, berbohong pada pria di hadapannya ini juga tidak mudah.


"Itu?" Xiao Zhan tersenyum tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Fung Li.


Dengan wajah Xiao Zhan yang begitu dekat padanya, Fung Li jadi merasa seperti kepergok sekarang.


Tiba-tiba kereta kuda jadi berhenti karena seorang pangeran yang berkuda di samping kereta.


"Permaisuri Fung," panggil Pangeran yang menunggangi kuda itu.


Seketika Fung Li membuka tirai jendela dan mendapati Pangeran Huang Li yang kini melambaikan tangan padanya.


'Beruntunglah,' batin Fung Li.


Pandangan Xiao Zhan beralih melirik sosok pria di samping keretanya yang tentu sudah di ketahuinya. 'Mengapa kodok ini selalu ingin bertemu permaisuriku?' ocehnya dalam hati.

__ADS_1


"Salam Yang Mulia Kaisar Xiao Zhan dan Permaisuri Fung Si, maaf menyela perjalanan kalian. Aku hanya ingin memberikan ini pada Permaisuri."


Pangeran Huang Li dengan senyum ramahnya mengulurkan tangan memberikan sebuah gulungan kertas yang terikat pita pada Fung Li.


Fung Li mengambilnya dengan tersenyum. "Terimakasih Huang, malam nanti aku akan menghubungimu," ucapnya yang membuat Xiao Zhan mengerutkan alisnya.


"Ck, prajurit segera lanjutkan jalannya cepat!" teriak Xiao Zhan tiba-tiba.


"Sama-sa ...."


Ucapan Huang Li jadi terpotong karena kaget akan teriakan Xiao Zhan.


Mendengar teriakan itu kereta langsung berjalan kembali dan meninggalkan Pangeran Huang Li yang terdiam di tempat memandang kepergiaan kereta itu.


'Maaf Yang Mulia, aku tidak berniat merusak hubungan Anda, hanya saja aku ingin tetap terjalin hubungan pertemanan dengan Permaisuri' batin Huang Li.


Dalam kereta yang berjalan, Xiao Zhan melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah nampak menahan kesal.


"Selama sebulan kita jarang bertemu, ternyata kau juga dekat dengan pria lain. Apa hubunganmu dengan Pangeran Huang Li?"


"Teman," jawab Fung Li singkat dengan tatapan lurus dan wajah dingin.


"Begitu?" lontar Xiao Zhan dengan wajah tidak suka kini menatap Fung Li di sampingnya.


"Dengarkan aku, jangan selalu berhubungan dengannya lagi, atau pria lain pun! Aku tidak menyukainya,"


Fung Li terkejut. "Apa urusannya denganmu aku dekat dengan pria lain?"


"Tidak apa," jawab singkat Xiao Zhan dengan raut wajahnya yang begitu datar.


Mendengar itu Fung Li hanya bisa menggelengkan kepalanya dan memilih diam agar perdebatan itu tidak berlangsung lagi.


Sesampainya di depan sebuah bangunan besar. Sebuah bangunan tempat anak-anak belajar semasa kecil, mulai dari belajar beladiri maupun peningkatan level kultivasi.


Fung Li dan Xiao Zhan turun dari kereta kuda, keadaan di depan bangunan agak terkesan ramai karena di situ para rakyat sedang menjemput kepulangan anak mereka dari perguruan.


Sang Kaisar dan Permaisuri itu tentu jadi pusat perhatian orang-orang di sekitar.


Tampak dari gerbang masuk perguruan itu, anak kecil yang begitu cantik berlari menuju Xiao Zhan dan Fung Li yang baru saja ingin menuju ke situ.


"Kaka Zhan! Kaka cantik! "


Suara itu tidak lain berasal dari anak kecil yang tidak lain adalah Putri Xian, adik Kaisar Xiao Zhan paling kecil yang pernah jadi penyebab terjadinya peristiwa yang tak terduga itu saat pertunangan Fung Li dan Pangeran Huang Li jadi terbatalkan.


Xiao Zhan berjongkok dan menerima pelukan adik perempuannya itu yang kini berhambur memeluk dirinya.


"Aku rindu kakak."


"Kakak juga merindukanmu Xian yang manis."


Fung Li ikut berjongkok dan menyapu lembut rambut Xian dengan tersenyum. Anak kecil itu sontak beralih memeluk Fung Li.


"Kaka cantik apa anda tahu teman-teman saya di perguruan ingin sekali bisa menjadi seperti anda besarnya, kakak sangat cantik, Kak Zhan beruntung memiliki anda." Ucapan Xian membuat Xiao Zhan dan Fung Li saling melempar pandang.


Fung Li tersenyum getir mendengarnya, mendengar Xian bilang sang kakaknya yang begitu menyebalkan dirinya itu, dibilang beruntung memilikinya. Andai anak kecil itu tahu, bahwa semua hanyalah palsu.


"Ayo kita segera pulang, dan lanjutkan cerita di istana," ajak Xiao Zhan.


Fung Li dan Xian setuju. Mereka pun kembali ke istana.

__ADS_1


                                        Bersambung


__ADS_2