
Fung Li mengepalkan kedua tangannya dengan wajah menahan marah mendengar Zha Wey. Dia melirik ke arah Yux Si yang langsung berhambur memeluk dirinya.
"Apa yang kau katakan Zha Wey?! adikku tidak akan melakukan ini! adikku Fung Si bukan gadis jahat seperti itu, kalian tega sekali menuduhnya. Hikkss hiksss." Yux Si memeluk Fung Li dari samping dengan air mata yang mengalir banyak dan menggeleng-geleng kepala.
Fung Li langsung mendorong tubuh Yux Si sampai wanita itu terjatuh di lantai mengejutkan semua orang. Merasa sudah sangat muak dengan drama wanita licik itu.
Semua bertambah syok melihat perlakuan Fung Li yang jadi buruk di mata orang. Orang semakin yakin jika Fung Li lah yang meracuni Selir Qian Yu, melihat perlakuannya barusan pada sang kakak yang coba membelanya malah di dorongnya.
"Ini semua tidak benar!" Raut wajah Fung Li seratus persen dari tadinya tampak polos kini begitu dingin, sorot mata tajam yang begitu menusuk seakan orang yang ditatapnya bergidik ngeri.
"Beraninya kau gadis bodoh mendorong kakakmu sendiri!" bentak Raja Zha Wey dengan wajah memerah padam.
Bukannya merasa takut dan terancam melihat kemarahan jelas di wajah Raja Zha Wey. Fung Li malah melangkah lebih dekat ke hadapan pria itu dengan anggun dan wajah dinginnya tampak berbeda.
"Itu lebih baik jika aku membunuhnya," lontar Fung Li dengan nada dingin yang membuat orang-orang sekitar jadi merinding merasakan hawa yang begitu dingin.
Keluar sudah sifat asli Fung Li, raut wajah dingin dan sorot matanya membuat orang yang melihatnya menyangka itu bukanlah sosok gadis bodoh dan penakut yang dirumorkan itu. Sangat jauh berbeda.
Apalagi mendengar perkataan Fung Li yang tidak ada takut sama sekali. Membuat Yux Si yang tersungkur di lantai agak kaget dengan respon gadis itu di luar dugaannya. Dia mengira Fung Li akan sangat takut dan menangis menyedihkan di depan semua orang.
Kasus kematian Selir Qian Yu, tuduhan terhadap Permaisuri dari Kekaisaran Langit itu kini dengan cepatnya menyebar di ketahui orang-orang. Ini adalah topik yang sangat menarik untuk di perbincangkan dan dipecahkan oleh publik masyakarat.
Sementara di tempat lain, Kaisar Xiao Zhan yang asyiknya menyeruput secangkir teh hangat dalam kamarnya dan Fung Li di Kediaman Jenderal Si Nian dikejutkan dengan kedatangan Liu Te.
Asyiknya membaca buku sambil menyeruput teh di meja makan yang berada di tengah ruangan jadi terganggu akan Liu Te yang muncul menghadapnya.
Sosok pria dengan topeng yang setia menutupi setengah wajahnya itu menyatukan kedua tangan memberi salam terlebih dahulu.
"Yang Mulia, saat ini nama Permaisuri Fung Si tercemar buruk di mata masyarakat Yang Mulia. Permaisuri telah dituduh tersangka meracuni Selir Qian Yu dan bukti telah ditemukan yang menyatakam jika itu benar," jelas Panglima Liu Te.
Xiao Zhan seketika menghentakan cangkir di atas meja dengan raut wajah tampak marah.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun Xiao Zhan meletakan buku kembali lalu memejamkan mata dan sekejap menghilang di tempat mengejutkan Panglima Liu Te.
"Semoga Yang Mulia bisa menahan marahnya. Jangan sampai terjadi keributan besar bisa hancur kekaisaran ini." Liu Te menghembuskan napas dengan kasar lalu menghilang di tempat kembali.
***
__ADS_1
Kini semua ujung pedang mengarah pada Fung Li oleh prajurit Raja Zha Wey. Meminta agar Fung Li tidak bergerak di tempatnya.
Yux Si yang tersungkur di lantai dibantu berdiri kembali oleh Raja Zha Wey.
"Kau baik-baik saja?" Raja Zha Wey merapikan rambut Yux Si dengan tatapan teduh pada wanita yang habis menangis itu.
"Jangan hukum adikku," lirih Yux Si membuat orang sekitar yang mendengarnya terharu. Meskipun di dorong oleh sang adik dia tetap membela adik itu, pemikiran orang-orang. Namun siapa sangka itu hanyalah tipuan.
Dalam hati sumpah serapah Yux Si katakan terhadap Fung Li. Awas saja kau gadis bodoh berani mendorongku! heh tapi tidak apa, sekarang namamu sudah tercemar buruk di masyarakat, hahaha. Sudah ku bilang jangan pernah berani melawan kakakmu ini sayang, ini resikonya. Mati saja kau,' batinnya.
Tiba-tiba hentakan kaki banyak terdengar, berlawanan dari arah bangunan penghormatan orang yang telah meninggal itu tampak gerombongan Kaisar Xiao Zhan yang diikuti prajuritnya berseragam hitam biru tua.
Berjalan menuju perkumpulan membuat perhatian teralihkan pada sosok pria tampan dengan jubah hitam bersulaman emas. Tiada lain Kaisar Xiao Zhan.
"Turunkan pedangnya," perintah Xiao Zhan dengan raut wajah dingin.
Sontak para prajurit Raja Zha Wey yang mengelilingi Fung Li menurunkan pedang yang di arahkannya pada wanita itu dengan serentak. Keadaan seakan jadi mencekam merasakan hawa yang semakin dingin akan kedatangan pria yang ditakuti itu.
Semua orang bersujud kecuali empat orang itu, Zha Wey, Yux Si, Xiao Zhan dan Fung Li.
Xiao Zhan mendekati Fung Li lalu memeriksa setiap bagian tubuh bila ada luka.
Xiao Zhan menghembuskan napas kasar. Kemudian membalikan tubuh melirik Raja Zha Wey lalu Yux Si.
"Raja Zha Wey, tuduhan ini aku tidak terima. Aku percaya jika istriku tidak akan melakukan hal keji semacam itu. Namun karena kau telah menemukan bukti menyatakan itu, aku minta kasus ini disidangkan besok," lontar Xiao Zhan dengan wajah tegas dan sorot mata yang begitu tajam.
Xiao Zhan mengenggam tangan Fung Li dengan erat. "Dan jangan lebih dulu menyalahkan permaisuriku sebelum diselidiki lebih lanjut, pamit," lontarnya.
Xiao Zhan langsung menarik tangan Fung Li dan membawa pergi wanita itu di hadapan semua orang tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun lagi.
Kepergian Fung Li yang dibawa Xiao Zhan dibiarkan begitu saja karena tidak ada yang berani mencegat. Semua orang yang bersujud berdiri kembali.
***
Malam hari
Di atas atap bangunan tampak seseorang dengan ninja hitam menutupi seluruh tubuh terkecuali hanya sepasang mata cantiknya yang terlihat. Melompat dari atap ke atap lain lalu berhenti di salah satu bangunan kemudian meloncat turun dari atas atap. Dengan sigap bersembunyi di balik semak-semak di higa kamar lalu sembari melangkah menuju belakang sambil mengamati keadaan sekitar.
__ADS_1
Tanpa ragu, orang itu masuk dalam kamar melewati jendela yang berada di belakang. Membuka jendela tanpa terdengar suara seperti sudah ahli ia lakukan.
Saat sudah berhasil masuk, ia melepaskan sejenak cadar yang menutupi setengah wajahnya, kini terpampang wajah yang begitu cantik tiada lain adalah Fung Li. Kedatangannya menyelinap ke kamar mendiang Selir Qian Yu adalah untuk mencari bukti sekaligus menyelidiki dalam kamar itu yang sebenarnya di jaga beberapa prajurit di depan kamar.
"Dimana si putih itu?" gumam Fung Li mencari binatang spritual nya yang tak lain adalah kucing putih yang ia bawa bersamanya tadi menghilang tanpa disadari.
"Ahh sudahlah, aku harus cepat menemukan sesuatu penting dalam kamar ini, siapa tahu menemukan bukti." Fung Li tak ambil pusing melihat sekeliling kamar yang di terangi beberapa lentera yang mengantung di sudut dinding.
Dia melangkah pelan mendekati meja makan di ruang tengah, mengamati mejanya dari atas, samping, bawah meja lalu berpindah mengamati lagi ranjang. Memeriksa setiap perabotan dalam kamar itu sampai ke celah-celah.
Sudah lama Fung Li mencari tidak menemukan apapun. Dia mendekati lemari besar yang tersudut di dinding dekat jendela, lemari yang menghadap ke arah ranjang dari samping.
Fung Li membuka pintu lemari yang memiliki dua pintu, tiba-tiba suara barang terjatuh ke lantai dari atas lemari itu mengundang perhatian penjaga di luar kamar.
Segera Fung Li masuk dalam lemari yang lumayan besar itu dan menutupnya. Dia bersembunyi dari dalam lemari itu.
Masuk beberapa prajurit yang menjaga, bergegas mendekati lemari. Mereka berhenti di hadapan lemari melihat bola mainan alumunium yang tergeletak di lantai, tak hancur setelah jatuh dari atas lemari itu.
Salah satu mengambilnya dan menaruh kembali lagi di atas lemari kemudian kembali keluar kamar.
Fung Li menghembus napas lega sembari membuka lemari dan keluar. Dia kembali menutup pintu lemari. Namun saat ingin menutup sepenuhnya tiba-tiba mata Fung Li menangkap kuas dan tinta banyak yang tersusun dalam lemari.
Fung Li tidak jadi menutup pintu lemari itu, dia curiga melihat banyaknya kuas dan tinta hingga pandangan matanya menangkap sebuah petir kotak yang berada paling bawah.
Fung Li berjongkok mengambil kotak peti. Namun seketika dirinya dikejutkan dengan sebuah papan lemari yang terbuka sendiri tepatnya di bawah saat dia mengambil kotak peti.
Papan itu menunjukan sebuah titah bersampul hijau tua yang tergulung cantik dengan pita pink yang terikat rapi.
Segera Fung Li melepaskan kotak peti yang dipegangnya dan mengambil titah itu. Dia begitu penasaran akan titah itu seperti ada sesuatu yang menarik hatinya, mengambil titah itu dan membukanya.
Saat terbuka Fung Li sedikit terkejut melihat tulisan rapi dan banyaknya memenuhi titah. "Titah ini ...."
*
Sementara di tempat lain, tampak seekor kucing putih bertubuh kecil menyusuri jalan licak sampai tubuhnya kotor di bagian bawah.
Kucing putih itu menuju sebuah gubuk kumuh yang berada di tengah kesunyian di kelilingi pohon-pohon dan rumput-rumput panjang.
__ADS_1
Mata tajam biru kucing itu menyala di tengah gelapnya malam. Kedua telinga tajamnya mendengar suara isak tangisan seseorang yang membuatnya berlari lebih cepat menuju asal suara.
...Bersambung ......