
Lingkungan kotanya sama seperti hal biasanya namun di setiap jalan banyak terjadi hal yang tak senonoh. Pembunuhan di tempat, pemerkosaan, perjudian, pemberontakan sudah jadi kebiasaan mayoritas penduduk disitu setiap harinya.
Di bangunan besar, tinggi beberapa tingkat, tempat kediaman sebuah Raja pemimpin kota kecil itu.
Salah satu tempat yang terkesan sangat kuno di kediaman Raja itu, dindingnya yang dilapisi bebatuan, hampir semua tempat di kediaman pemimpin kota itu terbuat dari bebatuan.
Ruangan yang begitu gelap namun asli dalamnya begitu mewah banyak barang-barang , dalamnya terdapat sosok pria tampan yang duduk di dudukan mewahnya.
"Aku sudah kembali dan kini giliran saatnya pembalasan dendam," ucap pria itu duduk dengan gaya coolnya. Berpakaian seperti layaknya seorang raja dengan jubah panjang yang dihiasi sulaman emas.
Bola mata yang bewarna merah, hidung mancung, bibir tipis dan kulit putih, wajah pria itu bisa dibilang juga sangat tampan dan mempesona.
"Ketua, melapor orang yang kita kirim untuk mematai telah tewas di tangan musuh kita," ucap seorang pria paruh baya yang berdiri tidak jauh dari depan tempat ia duduk.
"Oh baguslah, itu adalah tanda dia mengetahuinya, kita hanya menunggu waktu yang tepat untuk penyerangan besar menghancurkan," tutur raja itu dengan wajah dinginnya.
Pria paruh baya yang berdiri hanya bisa menundukan kepala mendengar setiap perkataan pemimpinnya.
"Cari tau jati diri tentang istrinya, pasti ada sesuatu di balik pernikahan itu," titah Raja itu dengan menajamkan matanya.
"Siap Baginda Raja"
Dua hari kemudian ...
Setiap harinya Fung Li dan Kaisar Xiao Zhan selalu bersama kemanapun, Fung Li beperan begitu aktip layaknya seperti Permaisuri sungguhan yang sering menemani Yang Mulia Kaisar.
Hari makin hari mereka mulai sedikit akrab saling mengenal bahkan tidak jarang sering bertengkar di sela-sela pekerjaan.
Pagi hari yang cerah, burung-burung bertebangan di langit
Angin berhembus menerpa hanfu sosok dua pria yang sedang bertanding di tengah lapangan di bawah panasnya terik matahari.
Di pinggir lapangan terdapat para keluarga kerajaan beserta penghuni istana lainnya berteduh dibawah atap halaman depan, sedang menonton pertandingan dua Pria itu. Mereka duduk di bangku dan khusus sambil menikmati sajian makanan dan minuman yang disediakan.
"Lawan Kak Rei!" teriak Xiao Fei di tempat duduknya menyemangati sang kakak yang bertarung melawan Panglima Liu Te.
Mereka berdua bertarung saling beradu kekuatan peringan tubuh dan melukai secara tersembunyi. Para penonton hanya biasa mematung dengan mulut menganga melihatnya. Pikiran mereka seakan terhipnotis begitu saja melihat pertarungan tegang.
Tidak sama halnya dengan dua orang yang bukannya menonton mereka malah asik sibuk berbincang tentang hal lain dengan tubuh dekat karena duduk bersampingan.
"Apa? masa perjanjian kita sudah habis, kau harus memberitahu tentang lukamu!" Fung Li berbisik pelan mendekati wajahnya pada Xiao Zhan.
Xiao Zhan langsung membungkam bibir Fung Li dengan jari telunjuknya dari dekat. Orang di samping kanan dan kiri jadi melihat karena tempat duduk dua orang itu yang berada di pertengahan.
Krik ... krik ... krikk, keadaan seketika hening, semua mematung melihat Xiao Zhan dan Fung Li.
Para dayang-dayang yang berdiri di belakang dudukan Sang Kaisar dan Permaisuri jadi berhenti mengipasi dengan kipas besar yang dipegang mereka melihat penampakan di depan mata.
"Kau," geram Fung Li menggertakan gigi.
"Permaisuri jangan marah, di kamar nanti kita lanjutkan setelah pertarungan ini yah, aku berjanji akan lembut," lontar Xiao Zhan sediki keras dengan sengaja.
Mendengar itu, orang-orang di sekitar jadi melongo dengan wajah kaget, mereka bahkan menahan tawa senang mendengar lontaran Sang Kaisar itu tentu sudah bisa dimengerti maksudnya.
__ADS_1
Fung Li menyipitkan mata, ia memandang jari telunjuk Xiao Zhan yang masih menempel di bibirnya.
"Ppfftttt." Permaisuri Xiao Yu dan Ibu Suri Mia yang berada di tempat duduk samping kanan menahan tawa.
Xiao Zhan menyodongkan dekat tubuhnya pada Fung Li, mereka saling bertatapan dari dekat dengan tatapan sengit.
"Selesai ini kita akan bicara maksudku, jangan berpikiran mesum monyet," bisik Xiao Zhan tersenyum.
Fung Li seketika mendorong bidang dada Xiao Zhan dan duduk tegak.
Xiao Zhan tersenyum memperbaiki dudukannya. "Kalian dibelakang mengapa berhenti mengipas? lanjutkan"titahnya menegur dayang-dayang yang melongo sedari tadi.
Para dayang-dayang seketika langsung melanjutkan tugas.
Fung Li dan Xiao Zhan saling melirik lalu kembali menatap lurus melihat dari jauh dua pria hebat yang bertarung tidak ada kemajuan sama sekali.
Di tengah lapangan...
Pangeran Xiao Rei melompat tinggi lalu berputar cepat seperti kilatan, keluar cahaya merah menyala disekitarnya.
Panglima Liu Te tersenyum dari balik topeng yang dipakainya melihat Pangeran Xiao Rei mengembangkan serangan yang dinamakan lingkaran merah, sebuah serangan angin kuat yang digabungkan dengan elemen api khas milik Pangeran itu.
Pertarungan jadi tegang melihat serangan yang siap dilayangkan, ada yang merasa cemas takut serangan itu mengenai Panglima Liu Te dan itu kemungkinan sudah pasti.
Di tempat dudukan para keluarga kerajaan.
"Hentikan sekarang Zhan, nanti Panglima Liu Te terluka," ucap Pangeran Xiao Fei tampak cemas.
"Sudahlah," balas Xiao Zhan tampak santai dan biasa saja.
Melihat wajah santai Xiao Zhan seperti tidak peduli apa-apa jadi membuat Pangeran Xiao Fei penasaran.
Tiba-tiba langit jadi menggelap sangat gelap membuat semua orang yang menonton pertarungan jadi heran dan tegang.
Tampak sebuah api besar menyala keluar dari tubuh Pangeran Xiao Rei yang bersiap melemparkan serangan pada Panglima Liu Te. Sedangkan Panglima Liu Te hanya berdiri santai.
Asap tebal mulai menggumpal menutupi Pangeran Xiao Rei dan Panglima Liu Te yang saling berhadapan. Melihat itu keadaan jadi semakin tegang bercampur panik bahkan para pelayan langsung masuk dalam bangunan.
Tampak mata Fung Li yang begitu tajam dengan wajah seriusnya menonton apa yang akan terjadi di depan mata tanpa merasa terancam sama sekali.
Xiao Zhan melipat tangan di depan dada, ia merentangkan sebelah tangan dan memeluk Fung Li dari samping.
Fung Li jadi melebarkan mata. Dia ingin menjauhkan tangan Xiao Zhan. Namun dikunci habis-habisan oleh pria itu dan memberi tatapan peringatan.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras berasal dari tengah lapangan.
Secara bersamaan langit kembali cerah dalam sekejap dan asap tebal menghilang.
Semua mata terpusat ketengah lapangan menangkap Pangeran Xiao Rei yang berjongkok, sedangkan Panglima Liu Te yang masih berdiri santai dengan tersenyum tipis dan tangannya yang dilipat di depan dada.
Melihat itu semua orang jadi kaget setengah mati sekaligus heran.
Fung Li hanya memasang wajah santai melihat itu, Xiao Zhan pun menatap wajah cantik Fung Li dengan tatapan heran.
"Wow, kakak hebat!" Pangeran Xiao Rei berdiri tegak dan memperbaiki pakaiannya.
"Berhasil!" sambung Panglima Liu Te melirik dari jauh Xiao Zhan.
Xiao Zhan langsung berdiri dan berjalan ketengah lapangan, "hmm, apa kau baik-baik saja dik?" tanyanya pada Xiao Rei.
Xiao Rei menggelengkan kepala dengan tersenyum tipis.
Panglima Liu Te berlari dan berdiri di hadapan Xiao Zhan lalu menundukan kepala.
"Ketua, ternyata cincin ciptaan anda berhasil," ucap Panglima Liu Te. Dia memperlihatkan cincin perak yang melekat di jari telunjuknya.
Xiao Zhan menyentuh bahu Liu Te. "Terimakasih atas percobaannya, cincin ini berjumlah sebanyak ratusan ribu dan akan dibagikan pada ...," ucapnya terpotong.
Xiao Zhan menoleh ke belakang dan melirik tempat duduk Fung Li yang sudah tidak berpenghuni lagi.
Fung Li, permaisuri Xiao Yu, Ibu Suri Mia beserta para dayang-dayang sudah menghilang di tempat hanya tinggal dua pangeran.
"Rei, Fei, Jei dan Liu Te ayo kita berkumpul dan panggil para Jenderal juga berkumpul sekarang juga diruangan rapat," titah Xiao Zhan.
\*\*\*
Di lain tempat, Tengah kota. Di toko besar yang berada di pinggir jalan besar. Toko itu tampak sangat ramai di penuhi rakyat dari luar maupun dalamnya.
Di dalam toko itu, tampak manusia seperti ribuan semut yang bersesakan.
"Wah, aku penasaran bagaimana akhir cerita tentang Permaisuri dan Yang Mulia Kaisar."
"Katanya Yang Mulia Kaisar itu marah ketika membaca cerita itu"
Tampak sosok pria tinggi ditengah sesaknya dalam toko itu, memakai topi bundar dan cadar serba hitam terlihat begitu misterius menguping setiap ucapan-ucapan di sekitar.
...*Bersambung* ......
__ADS_1