Permaisuri Rebutan

Permaisuri Rebutan
Ciuman setengah sadar


__ADS_3

Xiao Zhan menelan salivanya dengan susah payah sambil menjauhkan wajahnya dan memandang Fung Li di bawahnya.


Fung Li mematung tak berkutik di bawah merasakan sentuhan tadi yang tak disengaja.


Deg deg deg, terdengar suara degupan jantung kencang diantara keduanya. Mereka sejenak menatap sesama dengan wajah kaget.


Tiba-tiba, "Pakkkkk!" Suara tamparan keras mengenai pipi kiri Xiao Zhan didaratkan oleh Fung Li.


"Dasar mesum dan menyebalkan!" bentak Fung Li. Kemudian langsung bangkit dan melepaskan rambutnya yang terkait di cincin yang melekat di jari Xiao Zhan.


Xiao Zhan pun langsung beranjak dari atas ranjang dan pergi keluar dari kamar dengan wajah tampak heboh.


Pintu masuk ditutup dengan kasar karena saking gugupnya.


Fung Li memandang pintu yang tertutup dengan wajah berubah syok mengingat kejadian barusan dan tadinya. Dia menyentuh bibirnya lalu leher dengan pejaman mata dan wajah masam.


'Ya ampun, kenapa aku juga bisa memimpikan berciuman dengan seseorang dan ternyata itu nyata' batin Fung Li.


Fung Li melepaskan selimutnya dan beranjak dari atas ranjang. Dia mondar-mandir di depan ranjang sambil menapak-napak dahi mengingat kejadian tadi.


"Gila, gila bagaimana bisa kau membalas ciu ... ahhhh." Fung Li merasa frustasi dengan kejadian tadi.


***


Di tengah lapangan kediaman itu.


Xioa Zhan berjalan dengan langkah cepat dan kepala menunduk menyembunyikan pipinya yang memerah mengingat apa yang dilakukan tadi.


Keadaan masih begitu sunyi karena orang-orang sibuk dengan tidurnya. Namun ada satu orang yang berbaring diatas atap disalah satu bangunan pinggir lapangan itu duduk bangkit melihat pria yang berjalan ditengah lapangan.


Tiba-tiba Xiao Zhan menghentikan langkah kakinya. "Aku akan kemana? lebih baik aku kembali kekamar," gumamnya membalikan tubuh kembali.


Xiao Zhan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Dia melangkahkan kaki dan kembali menuju kamar.


Sesampainya di hadapan pintu kamar, Xiao Zhan menutup matanya dengan rapat sambil menarik napas dalam-dalam.


Tangannya mendorong pintu hingga terbuka, pintu terbuka tidak terlalu lebar, dia pun masuk kedalam dan menutup pintu kembali.


Xiao Zhan membalikan tubuh. Dia berjalan mendekati ranjang dengan wajah tampak kesal.


Xiao Zhan berdiri di depan ranjang dengan wajah tadinya tampak gugup berubah kesal.


"Ta ... tadi telah melanggar peraturan nikah palsu kita, ja ... jadi kau harus bertanggung jawab monyet." Xiao Zhan melirik gadis yang duduk di pinggir ranjang.

__ADS_1


"Kau seharusnya yang bertanggung jawab kera bodoh, kau yang lebih dulu menciumku! bahkan kau ingat saat acara pertunangan dengan Pangeran Huang Li, kau yang men ...," omel Fung Li terpotong.


"Tapi aku membantumu ingin jatuh saat itu, itu tidak sengaja, seandainya adik perempuanku tidak ikut ke acara itu pasti tidak akan terjadi hal ini." Xiao Zhan melirik ke arah Fung Li.


Fung Li menghembuskan napasnya. Dia berdiri lalu membalikan tubuhnya dan melirik ke arah Xiao Zhan.


Mereka saling melirik dan menatap dari kejauhan.


"Uhukk ... uhukkk." Xiao Zhan tiba-tiba batuk dan memalingkan wajahnya.


'Bekas ciuman di leher itu masih membekas, mengapa dia tidak menghapusnya atau memang tidak tau?' batin Xiao Zhan.


"Hei, mulai besok aku tidak ingin sekamar lagi denganmu! cari saja selir banyak dan bawa ke kamarmu ini pria mesum," tegas Fung Li dengan wajah tampak marah.


Mendengar itu, Xiao Zhan berjalan kembali kesamping ranjang mendekati Fung Li.


Xiao Zhan berdiri di hadapan Fung Li, mereka berdua saling menatap sengit.


"Baik, aku akan mencari selir dan kita pisah kamar, jangan harap aku akan terus menemuimu," lontar Xiao Zhan. Tersenyum remeh pada Fung Li.


Fung Li mengangguk dengan wajah datar. "Itu bagus," balas Fung Li singkat. Setelah mengatakan itu dia langsung pergi dan keluar dari kamar.


"Gadis keras kepala." Xiao Zhan melipat kedua tangannya di depan dada memandang pintu masuk kamar.


Fung Li menghentikan langkah kakinya ketika mengingat sesuatu. Dia membalikan tubuh kembali dan tiba-tiba dikejutkan dengan pintu yang terbuka.


"...?" Xiao Zhan berdiri di tengah pintu masuk dengan melempar tatapan bertanya pada Fung Li.


"Dimana tempat tinggal kosong di istana ini? aku akan menyewanya," tanya Fung Li dengan wajah datarnya.


Xiao Zhan tersenyum. "Hanya ada satu semua sudah penuh, ada Paviliun Yui yang berada di samping paviliunku ini," jawabnya melihat ke sekitar kediamannya.


"Baiklah Paviliun Yui." Setuju Fung Li mengangguk.


Fung Li pun membalikan tubuh kembali dan ingin melangkahkan kaki. Namun sebelah tangannya ditahan oleh Xiao Zhan.


"Apa lagi?" tanya Fung Li kesal. Menoleh ke belakang menatap wajah Xiao Zhan.


Xiao Zhan melepaskan tahanan tangannya, dia mengambil sesuatu dari selipan jubahnya lalu menyodorkannya pada Fung Li.


"Kunci kamar utamanya, kau tidak perlu menyewa ini gratis karena kau istriku, aku yang membiayai kebutuhanmu." Xiao Zhan menunjukan kunci pada Fung Li.


Fung Li mengambil kunci di tangan Xiao Zhan lalu melihat ke sekeliling yang tampak sunyi karena begitu dini hari.

__ADS_1


"Bersikaplah seperti biasa tidak terjadi apapun di antara kita karena tidak satu kamar, untuk ibu dan nenek kau tenang saja aku akan mencari alasan untuk menjawab pertanyaan mengenai dirimu nanti," tutur Xiao Zhan dengan suara pelan.


Fung Li menatap pria di hadapannya lalu membalikan tubuh. "Baik, tapi untuk tempat tinggal aku akan tetap menyewa padamu dan kau tidak perlu memenuhi kebutuhan layaknya seperti suami karena hubungan kita hanyalah palsu," balasnya. Kemudian melangkah pergi.


Xiao Zhan mendengus kesal. Dia memandang Fung Li dengan wajah rela tidak rela.


"Ck, monyet keras kepala awas saja kau," ocehnya.


***


Pagi harinya, hari yang begitu cerah.


Di tengah rerumputan halus yang hijau subur, tampak seorang gadis cantik dengan rambut dikuncir tinggi dan memakai hanfu putih polos.


Dia sedang bersiap melesatkan anak panah dengan tatapan lurus dan tajam membidik dari jauh satu buah apel diatas kepala gadis yang lebih kecil darinya.


Anak panah dilayangkan. "Crass." Satu buah apel di atas kepala gadis tadi terbelah dua karena anak panah yang menembuskan jauh dan menancap di batang pohon.


Satu apel tadi terjatuh lalu datang dua ekor hewan menggemaskan langsung berebut mengambilnya satu satu.


"Sebenarnya Kak Fung Li di masa depan adalah seorang apa?" tanya Silli. Lalu berjongkok dan mengelus-ngelus bulu kucing menggemaskan yang sedang mengigit apel.


"Ketua adalah seorang bos mafia yang kerjaannya membunuh dan memerintah untuk menghancurkan kelompok yang berbuat jahat, seperti pemerkosa dan kejahatan sebagainya," jawab Tutu yang terbang di sekitar Fung Li.


Fung Li menurunkan busur di tangannya. Dia tersenyum tipis. "Ssstt, kalian diam semua, ayo kita sarapan bersama," ajaknya.


"Ayo," seru Silli, Tutu, kucing dan rubah yang berdiri.


Mereka pergi masuk dalam dapur di paviliun itu yang agak lumayan besar. Duduk di kursi di hadapan meja bundar, keadaan agak sepi di paviliun baru yang Fung Li tempati itu karena hanya ada mereka yang menghuni.


Mereka menyantap makanan bersama yang diambil dari ruang dimensi sambil berbincang-bincang renyah.


"Bagaimana bisa Yang Mulia Kaisar Xiao Zhan akan memiliki selir? mengapa anda tidak keberatan?" tanya Silli yang sedang menuangkan air teh di teko ke dalam cangkir.


Fung Li melahap kue bulan di tangannya. Bola matanya berputar mengingat sesuatu.


"Uhukkk ... uhukk." Fung Li jadi batuk tiba-tiba teringat akan tadi malam.


Silli langsung menyuguhkan cangkir berisi teh pada Fung Li dan diminum langsung dalam satu tegukan.


...Bersambung......


Ksih semangat love love dong😳

__ADS_1


__ADS_2