Permaisuri Rebutan

Permaisuri Rebutan
Rencana Buruk


__ADS_3

"Iya ketua dan soal panah angin yang dilesatkan orangnya sudah berada dalam ruang dimensi dan pesuruhnya adalah Putri Sian, adik dari Raja Zha Wey," jelas Pria itu lagi dengan wajah datar.


Tiba-tiba Pria yang duduk di tepi ranjang sedang mengelap rambutnya tadi berdiri dan tersenyum memaksudkan sesuatu yang hanya orang tertentu akan mengerti.


***


Dalam ruang besar yang begitu luas, dinding dan atap yang kokoh, lantai yang mengkilat dan di dalamnya terdiri beberapa perabotan seperti meja dan kursi dalam satu ruangan.


Keadaan tidak terlalu gelap dalam ruangan itu karena diterangi oleh lilin maupun lentera di setiap dinding maupun sudutnya.


Di kursi berhadapan dengan meja besar tampak wanita dan pria paruh baya yang duduk secara berdampingan dengan tubuh tegak dan tatapan lurus tampak begitu anggun.


Di hadapan dua orang tua itu terdapat dua anak muda berlawanan jenis yang juga duduk di kursi.


"Ayah ibu perkenalkan dia adalah Putri Fung Si, calon istri yang telah kupilih," tutur Huang Li dengan lembut dan sopan di hadapan kedua orang tuanya.


Fung Li menyatukan kedua telapak tangannya kedepan memberi salam hormat, "salam Kaisar Li Zen, Permaisuri Li Su," tuturnya dengan sopan.


"Ahh, menantu tidak perlu memanggil permaisuri panggil saja dengan ibu." Permaisuri Li Su berdiri dari dudukannya dan mendekati Fung Li dengan senyuman hangat.


Fung Li tersenyum tipis saat Permaisuri Li Su menyentuh kedua bahunya.


Tiba-tiba Kaisar Li Zen berdiri dari dudukannya dengan wajah tampak menahan marah. Alisnya berkerut dan mata yang tajam menusuk orang yang melihatnya.


"Huang Li, ayah ingin bicara padamu di luar sebagai seorang Kaisar," ajaknya Kaisar Li Zen. Kemudian bergegas pergi meninggalkan ruangan itu.


Permaisuri Li Su, Fung Li dan Huang Li jadi menaikan sebelah alis mereka melihat raut wajah Pria paruh baya itu tampak marah pergi keluar dari ruangan.


***


Di halaman depan ruangan itu.


Pangeran Huang Li dan ayahnya tampak bicara begitu serius dengan posisi berdiri saling berhadapan. Terlihat dari raut wajah mereka yang saling bertatapan membicarakan hal yang tentu sangat penting.


"Ayah, aku bersiap menanggung resikonya, asalkan Fung Si menjadi istri di haremku," tutur Huang Li dengan wajah serius menatap manik mata ayahnya.


Ayahnya menganggukan kepala mendengarkan ucapan putra tunggalnya itu sambil memainkan ujung rambut kumisnya dengan sebelah tangan.


"Akan tetapi, kau harus menerima resiko yaitu setelah menikah harus memiliki lebih dari sepuluh Selir, kau setuju?" tanya Kaisar Li Zen pada pemuda di hadapannya.


Huang Li sejenak terdiam, dia berpikir dengan wajah tampak serius akan keputusan penting yang diajukan ayah padanya.


Kaisar Li Zen menyentuh kedua bahu Putranya karena tinggi sejajar, "semua ini demi kesejahteraan Kekaisaran Li, Kekaisaran ini putraku,".ucapnya menatap teduh wajah Putranya.


Huang Li menatap manik mata sang ayah sambil berpikir keras.


***

__ADS_1


Dalam ruangan tadi ...


Permaisuri Li Su duduk saling berdampingan dengan Fung Li. Permaisuri sedang asiknya menyeruput teh hangat dalam cangkir yang dia pegang sambil menatap Fung Li yang menatap sekitar ruangan.


Permaisuri Li Su meletakan cangkir kembali di atas meja sesudah minum. Dia menegakan tubuh kembali dan menoleh kesamping menatap gadis disampingnya yang wajahnya ditutupi setengah cadar.


"Mulai sekarang panggil saja aku ibu, kau tidak perlu semalu itu dengan ibu, kau tahu kau pasti akan menikah dengan putraku." Permaisuri Li Su mengulurkan tangannya menyapu puncak rambut Fung Li dengan senyuman hangat.


Fung Li jadi sedikit terkejut menerima perlakuan Permaisuri Li Su yang begitu baik padanya.


Tiba-tiba masuk kembali Huang Li dan ayahnya dengan wajah tampak serius. Mereka berjalan mendekati tempat duduk lalu duduk berdampingan dihadapan dua wanita yang sepertinya menyimpan pertanyaan.


Setelah duduk, Pangeran Huang Li melirik Fung Li yang duduk di hadapannya.


"Ayah sudah setuju Fung Si, kita akan bertunangan besok malam," jelas Huang Li dengan wajah serius menatap gadis di hadapannya.


Fung Li tersenyum tipis di balik cadarnya mendengar keputusan pertunangan secepat itu.


Lebih cepat, lebih baik, batin Fung Li.


"Apa kau keberatan Nak?" Permaisuri Li Su menarik tangannya kembali yang menyentuh puncak rambut Fung Li.


Fung Li menggeleng-geleng kepalanya pertanda tidak keberatan.


Huang Li tersenyum senang memandang Fung Li, tiba-tiba dia berdiri dari dudukannya.


"Fung Si, ayo aku akan mengantarkanmu ketempat milikmu di sini"ajak Huang Li mengulurkan tangannya pada Fung Li.


Permaisuri Li Su dengan senyuman hangatnya memandang Putra dan calon tunangannya itu.


Fung Li pun berdiri dan menggelengkan kepalanya bersikap malu pura-pura seperti gadis muda pada umumnya.


Huang Li tersenyum langsung mendekat Ke Fung Li dan menarik tangan gadis itu membawanya berjalan. Mereka pun keluar dari ruangan.


Permaisuri Li Su tertawa renyah setelah kepergian Fung Li dan putranya, "hahaha, ternyata putra kita sudah dewasa, dia tidak memilih-milih bagaimana pasangannya," ucapnya dengan senyuman senang.


"Li Su, kau harus tau resikonya jika memilih istri pertama dari kalangan biasa bukan?" tanya Kaisar Li Zen pada istrinya.


Permaisuri Li su sejenak terdiam, "tapi aku tahu putra kita tidak akan mencintai gadis siapapun selain gadis itu, lihat saja tatapan putra kita padanya melebihi tatapan cintamu padaku," sindirnya pada suaminya sendiri.


Kaisar Li Zen merasa tersindir dengan ucapan istirnya, "kau saja yang sok jual mahal," sindirnya balik.


***


Malam yang begitu sunyi


Bulan dan bintang bersinar terang di langit menerangi seluruh alam.

__ADS_1


Kekaisaran Wexi, Paviliun bunga melati.


Di Paviliun itu terdengar suara barang-barang berjatuhan yang berasal dari salah satu kamar di tempat itu.


Brakkk!


Prangg ... prangg!


Suara berjatuhnya benda-benda yang sudah dapat terdengar satu langkah dari depan kamar itu.


"Tolong ... mmmm," teriak seseorang dari dalam kamar itu yang tersudut di dinding karena dibungkam oleh sosok orang di hadapannya.


"Ssstt ... diam Qian Yu gila!" geram Yux Si. Begitu tak berperasaan dia menyumpal mulut wanita di hadapannya dengan sapu tangan.


"Emmm," gumam Qian Yu berusaha memberontak kedua tangannya yang dicekal kuat oleh sebelah tangan wanita di hadapannya yang tampak begitu menyeramkan raut wajahnya.


"Kau ingat ini! jika saat pertunangan Pangeran Huang Li dan adikku akan berlangsung kau harus bisa memberitahu semua orang bahwa seseorang yang mendorongmu sampai jatuh di danau adalah Fung Si." Yux Si dengan senyuman liciknya menatap wanita di hadapannya yang tampak ketakutan.


Napas dan dada Qian Yu naik turun, air keringat bercucuran mengalir disekitar wajahnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda tidak setuju akan ucapan wanita di hadapannya.


"Eemmm." Qian Yu lagi yang berusaha melepas sumpalan sapu tangan yang Yux Si paksa masuk setengah mulutnya.


Yux Si jadi geram akan tingkah seseorang yang tidak mendengarkan perkataannya, tiba-tiba dia memejamkan mata dan muncul sesuatu yang terbang di sampingnya.


Tampak sebuah belati perak begitu tajam tepat di hadapan dada sasaran jantung Selir Qian Yu.


"Apa kau ingin mati beberapa detik lagi? atau kau memilih selamat. Namun harus menuruti perintahku?" ancam Yux Si dengan senyuman liciknya.


Tubuh Selir Qian Yu jadi bergetar hebat melihat belati yang semakin dekat pada tubuhnya.


"Jika bergerak sedikitpun maka belati ini akan menusuk jantungmu secara langsung atau kau setuju atas perintahku dan katakan iya, itu mudah sekali ayolah, hahaha," ancam Yux Si lagi pada wanita di hadapannya itu yang baru sembuh dari keguguran.


Dada Selir Qian Yu jadi naik-turun merasa kesusahan bernapas. Tubuhnya semakin bergetar dan isi pikiran di kepalanya bertengkar dengan hebat.


Merasa tidak ada pilihan lagi, Selir Qian Yu pun menganggukan kepalanya dengan memejamkan mata tak kuasa menahan air mata yang keluar akan keputusan yang dia pilih.


"Hmm bagus sekali, kau sudah setuju maka semuanya telah aman, hahaha," tawa pelan Yux Si tersenyum bahagia.


Yux Si melepaskan cekalan tangan dan juga sapu tangan yang setengah masuk dalam mulut wanita di hadapannya. Dia pun memejamkan mata kembali dan belati perak tadi menghilang dengan sekejap.


"Sampai jumpa besok." Yux Si sempat melempar senyum pada Selir Qian Yu lalu berlalu pergi dari dalam kamar itu melewati jendela kamar.


Setelah kepergian Yux Si, Selir Qian Yu jadi tersungkur di lantai dengan pandangan kosong.


"Apa yang sebenarnya Permaisuri Yux Si inginkan dari Putri Fung Si? gadis yang sederhana dan polos itu," lirihnya dengan wajah tampak putus asa.


Kehancuran, aku menginginkan Fung Si buruk di mata semua orang hahaha, batin Yux Si tersenyum sinis berjalan pergi dari belakang kamar Selir itu.

__ADS_1


Tidak sadar dari atas atap kamar Selir Qian Yu. Nampak sosok Pria yang memakai jubah biru tua duduk santai sambil mengamati wanita yang keluar dari kamar kini melompati pagar pembatas Kediaman dengan langkah hati-hati.


Bersambung ...


__ADS_2