Permaisuri Rebutan

Permaisuri Rebutan
Pertemuan dengan kakak tiri dan mantan tunangan


__ADS_3

Siang hari


Cuaca terasa panas membuat para rakyat yang berlalu lalang melaksanakan aktivitas di jalan kota besar dibasahi keringat.


Ada yang mengangkut bakul berisi sebagainya, mendorong gerobak dan yang lainnya.


Sebuah bangunan yang berada di pinggir jalan besar itu yang bernama 'Rumah Bordir', tempat di mana para pria-pria kaya sedang menghibur diri.


Di dalamnya, tampak meja yang tersusun memenuhi halaman utama itu, terdapat juga beberapa ruangan sewa pribadi.


Di pintu utama, terlihat dua orang yang memakai cadar setengah wajah dan juga topi bundar menutupi kepala. Mereka berjalan sambil melihat sekitar tempat yang diramaikan para pria sedang menikmati minuman arak di cangkir dan masing-masing ditemani wanita cantik yang memakai pakaian kentat dan kurang bahan.


"Tetap bersamaku," ajak Xiao Zhan pada Fung Li. Dia menarik tangan Fung Li berjalan melewati meja-meja banyak.


Fung Li memperbaiki topi bundarnya yang ingin terlepas sambil mengikuti jalan pria yang menarik tangannya.


Dua orang yang memakai cadar dan topi itu berhenti tiba-tiba.


Fung Li ditabrak tubuh seorang pria yang memegang cangkir kecil yang berisi arak tertumpah mengenai pakaian depan Fung Li.


"Wohh, emm maaf," ucap pria itu melototkan matanya memandang depan dada Fung Li karena basah jadi tampak transparan atau sedikit tembus.


"Wow yang ini pasti sangat besar,"lontar pria itu terdengar ngawur. Matanya menceleng melototi depan dada Fung Li.


Fung Li menghempaskan tangan Xiao Zhan yang memegang tangannya. Matanya tampak menyala merah namun hanya sekejap.


Pria yang memegang cangkir itu memajukan tubuhnya pada Fung Li dan mengulurkan sebelah tangan kanan. "Biar aku membersihkannya gadis cantik," ucapnya ingin menyentuh depan dada Fung Li.


Atmosfer di sekitar jadi menekan, udara jadi terasa sesak tiba-tiba.


Saat tangan itu ingin mengenai Fung Li, tiba-tiba. Kraakkk, buuukkkk! suara retakan tulang dan pukulan kuat mengenai perut pria itu dari Fung Li sendiri.


Semua orang di sekitar meja jadi melirik ke arah suara itu dengan wajah kaget.


Tubuh pria itu jadi ambruk di lantai dengan mata tertutup rapat. Mulutnya keluar darah segar banyak.


Xiao Zhan melebarkan matanya melihat ulah Fung Lu yang membuatnya terkejut lalu melirik Fung Li yang sorot matanya sangat tajam.


Datang beberapa penjaga keamanan rumah bordir dengan wajah tampak panik. Mereka mendekati pria yang terkapar di lantai dan memeriksa keadaannya.


Xiao Zhan mendekati Fung Li dan merangkulnya. "Bereskan mayatnya," titahnya tampak santai.


Fung Li seketika melirik Xiao Zhan yang memerintah.


"Ayo, jangan membuat masalah dan ganti pakaianmu," bisik Xiao Zhan membawa Fung Li berjalan kembali melewati pria yang telah meninggal hanya terkena satu pukulan oleh Fung Li.


Semua orang jadi melirik Fung Li dengan wajah tampak masih terkejut. Mereka terkejut karena ulah Fung Li yang hanya memukul sudah membuat pria tidak bernyawa sangat membuat mereka penasaran.


Namanya juga rumah bordir, segala yang terjadi didalam situ tidak ada sangkutannya dengan dunia luar. Masalah yang terjadi dibereskan dalam sekejap begitu saja demi ketentraman para orang-orang yang bersenang-senang di situ.

__ADS_1


Xiao Zhan dan Fung Li masuk dalam salah satu ruang atau kamar pribadi di rumah bordir itu.


Dalam kamar itu, Xiao Zhan sedang berdiri dan menyandarkan punggung di dinding dekat pintu kamar mandi dengan melipat kedua tangannya.


"Kau sudah selesai?" tanya Xiao Zhan pada orang yang berada dalam kamar.


"Belum," jawab Fung Li dari dalam kamar.


"Baik, kau tetap di sini aku akan kembali mengurus sesuatu," pinta Xiao Zhan sambil tersenyum mengingat tingkah tidak terduga Fung Li tadi memukul pria langsung mati.


'Sungguh tidak kusangka membawanya ke sini malah membunuh seseorang, wanita pemberani macam apa dia? hanya memukul sudah mati, hari makin hari dia sangat berbeda dari rumor yang beredar' batin Xiao Zhan.


Xiao Zhan melangkah pergi dengan wajah berubah dingin. Dia keluar dari kamar dengan wajah tampak dendam.


'Siapkan kuburan mewah untuk si penyebar rumor sekarang di markas' batin Xiao Zhan mengirim telepati pada seseorang.


Kreekk, pintu kamar mandi terbuka.


Fung Li keluar dengan pakaian yang tampak rapi, hanfu sederhana bewarna biru muda dan cadar yang menutupi setengah wajahnya.


"Apa sebenarnya tujuan dia ke tempat ini?" gumamnya sambil berpikir. Fung Li keluar dari kamar itu dan menutup pintu kamarnya dengan cepat dari luar.


Fung Li membalikan tubuh dan melihat ke sekitar, ia melihat banyak pria yang berjalan sempoyongan diikuti wanita-wanita cantik. Melihat itu Fung Li jadi bergidik geli.


Fung Li pun melangkah kaki berjalan menyusuri halaman perkamaran sambil mengamati sekitar.


Rumah bordir itu sangat luas, tidak terhitung berapa banyak buah ruangan. Fung Li melewati beberapa kamar yang semua pintunya tertutup.


'Raja Zha Wey dan wanita ular itu?' batin Fung Li.


Di depan pintu kamar itu, Raja Zha wey dan Yux Si menghentikan jalan mereka dan saling menatap.


"Sayang, ayo kita pulang ke kerajaan," ajak Yux Si. Lalu menyandarkan kepalanya di lengan tangan Raja Zha Wey.


"Nanti sayang, setelah kita menemukan saran maupun pil untuk menyembuhkan penyakit rahimmu yang tidak bisa mengandung." Raja Zha Wey memeluk pinggang Yux Si dari samping.


"Hemm, baik ...," ucap Yux Si terpotong.


Prokkk ... prokk, Fung Li bertepuk tangan mendekati dua orang itu.


Yux Si dan Raja Zha wey seketika melirik asal suara dengan wajah tampak marah.


"Siapa kau?" tanya Yux Si terdengar tidak suka melirik Fung Li dari atas sampai bawah.


Fung Li berdiri di hadapan Yux Si dan Zha Wey dengan wajah dingin dari balik cadarnya.


"Hei, gadis ini mungkin gila, kutanya tidak menjawab!" Yux Si melepaskan gandengan tangannya.


Fung Li melepaskan cadarnya dengan perlahan dan melirik pada Yux Si lalu Zha Wey.

__ADS_1


"Kak Yux Si," sebut Fung Li tersenyum menampakan wajah cantiknya.


Raja Zha Wey dan Yux Si seketika tersentak kaget melihat gadis di hadapan mereka.


"Fung Si," sebut Yux Si menutup bibirnya dengan rapat.


"Apa kabar kakakku yang cantik?" tanya Fung Li tersenyum.


Di lain kamar ...


Crasss ... crasss, suara sayatan bengis terdengar begitu mengerikan menusuk kuping yang mendengarnya. Orang yang disayat sudah terkapar di lantai tidak bernyawa, dilumuri banyak darah yang keluar dari tubuhnya.


"Liu Te, bereskan dia, sebenarnya dia dalang dibalik rumor tentangku dan Permaisuri ingin bercerai." Xiao Zhan dengan wajah dingin mengarahkan ujung pedangnya tepat di jantung pria tua yang terkapar di lantai.


Pedang itu menusuk sangat dalam ketubuh oria yang sudah terkapar tak bernyawa di lantai.


Liu Te yang sedang bersandar di dinding dengan kedua tangan dilipat dan wajah dinginnya menyunggingkan senyum tipis.


"Ketua cukuplah, Anda sangat tidak pantas membunuh manusia hina sepertinya, hamba akan mengurusnya dalam sekejap," ucap Liu Te tersenyum tipis.


Xiao Zhan meninggalkan pedang masih menancap, ia melirik Liu Te dengan wajah dingin.


"Tapi ketua hamba heran mengapa Anda harus membunuh manusia tidak ada apa-apanya seperti dia hanya karena sebuah rumor?" tanya Liu Te dengan sebelah alis dinaikan.


"Tidak ada apapun," jawab Xiao Zhan tersenyum lalu pergi dari situ.


Liu Te memicingkan matanya mengamati mayat yang terdampar di lantai. "Emm baru pertama kali ini aku melihat secara langsung ketua rela membunuh orang yang katanya tidak ada apapun, dasar," gerutunya diiringi senyum tipis.


.


.


.


Dalam kamar yang berada di rumah bordir itu. Tampak Fung Li yang duduk di lantai menghadap meja berlawanan dengan Yux Si dan Raja Zha Wey yang terus menatapnya tanpa henti.


"Bagaimana kabarmu selama menjadi menantu di Kerajaaan Langit?" tanya Yux Si melempar senyum pada Fung Li.


"Baik-baik saja, aku sangat senang," jawab Fung Li tersenyum membuat iri wanita di hadapannya.


"Syukurlah," lontar Yux Si tersenyum lega, ia menyuguhkan cangkir yang berisi teh pada Fung Li.


Fung Li menyambutnya lalu meletakannya di atas meja dengan anggun bak berperan seperti permaisuri sesungguhnya.


"Oh ya adik, apa orang di istana itu tidak menghinamu karena tidak memiliki kemampuan kultivasi dan juga Kaisar Xiao Zhan apa dia sudah tahu dan akan tetap menerimamu? aku hanya tidak ingin kau terluka," tanya Yux Si dengan sengaja menyindir dari balik kata-katanya.


"Aku tetap menerimanya bagaimanapun, dia adalah wanita yang sangat penting bagiku," jawab Xiao Zhan muncul dari pintu masuk dengan melipat kedua tangan didepan dada.


Yux Si dan Raja Zha Wey termasuk Fung Li seketika melirik asal suara.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2