Permaisuri Rebutan

Permaisuri Rebutan
Kopi coklat susu


__ADS_3

Sudut bibir Fung Li terangkat membentuk senyum tipis. "Asal bicara saja kau ini, bagaimana bisa kera menyebalkan itu mirip ayahku?" elaknya memandang sosok ayahnya di lukisan.


'Memang sedikit mirip,' batin Fung Li.


"Ppfftt, lucu sekali Kak Fung li menyebut kaisar dengan sebutan kera, hahahaha," tawa Silli tak kuasa menahan tawanya.


"Itu cocok untuknya." Fung Li melanjutkan melukis kembali.


Silli berhenti tertawa dan tersenyum-senyum mendengar ucapan wanita yang asiknya melukis itu.


Tidak membutuhkan waktu lama, Fung Li selesai dengan lukisannya yang menampakan dirinya yang di gendong di punggung sang ayah dengan memegang senjata dan tersenyum manis. Tampak pemandangannya rumah mewah dengan pohon besar di sampingnya.


Fung Li meletakan kembali kuas di tangannya lalu memandang lukisan di hadapannya dengan lembut.


"Kak, mengapa hanya ada kakak dan paman, bibi tidak Kak Fung Li gambar juga? Saya ingin melihat bagaimana bibi pasti sangat cantik seperti Kak Fung Li," tanya Silli tersenyum binar.


"Tepat saat aku dilahirkan, ibu meninggalkanku dan tinggal semasa kecil bersama ayahku, itulah aku tidak pernah tau seperti apa dan bagaimana sosok ibuku, ayahku pun tidak pernah menunjukannya sedikit pun agar aku tidak bersedih." Fung Li menyentuh lukisan wajah ayahnya.


"Huwaaaaaa," rengek Silli membuat Fung Li jadi kaget.


"Kak Fung Li itu pasti masa sulit bagi Anda, Saya merasa sedih dan terharu mendengar cerita masa kecil Kak Fung Li, hikss hiksss," tangis Silli memekik di telinga Fung Li.


Fung Li berdiri dan menyingkirkan kursi. "Silli jangan menangis, dasar gadis cengeng hanya seperti itu sudah menangis," ejeknya bercanda. Kemudian menyentuh pipi mulus Silli.


Silli langsung memeluk tubuh Fung Li dengan tangis pecah, sedangkan Fung Li membalas pelukan Silli dengan wajah menahan rasa sedih.


***


...Malam harinya...


Di atas pohon samping bangunan kamar di Paviliun Yui. Tampak Fung Li yang sedang bersantai dengan duduk dan bersandar di batang pohon itu. Dia sedang asiknya menulis sesuatu dengan kuas yang ia arahkan pada halaman buku kosong.


Udara dingin, langit gelap dan bulan yang bersinar di langit seakan menjadi temannya dalam kesunyian malam.


"Selesai," gumamnya. Kemudian memandang tulisan di buku dengan senyum tipis.


"Hei," sapa orang yang tidak disadari kedatangannya.


Sontak Fung Li melirik asal suara, senyum tipis yang melekat seketika berubah jadi senyum menjengkelkan.


"Memang pantas aku memanggilmu monyet, lihat dirimu setelah pisah tempat dariku sering duduk di atas pohon," ledek Xiao Zhan. Melempar senyum remeh pada Fung Li.


Fung Li menghembuskan napas kasar. Dia menutup buku sambil bergumam kesal.


"Menganggu rencanaku saja," gumam Fung Li.


Fung Li turun dari atas pohon dengan buku yang masih dalam pegangannya.


Xiao Zhan mendekati Fung Li yang baru menginjak tanah dan bersamaan buku dipegangnya jatuh. Pria itupun berjongkok mengambil buku dan membersihkannya dari kotoran bekas jatuh.


"Ini." Xiao Zhan menyodorkan buku pada Fung Li yang berdiri di hadapannya.


"Terima kasih," sahut Fung Li. Setelah mengatakan itu dia mengambil buku kembali sambil menatap wajah Xiao Zhan.


"Apa yang kau tulis dalam buku itu sampai tersenyum tadi?" tanya Xiao Zhan pada Fung Li. Namun dengan mata yang memantau sekitar.


"Kau bodoh yah? bukankah aku sudah melarangmu jangan sering menemui ataupun mencampuri urusanku?" balas Fung Li malah bertanya balik.


Mata Xiao Zhan pun beralih menatap wanita di depannya dengan tersenyum menggoda.


Melihat senyuman itu, Fung Li jadi kesal sekaligus heran dengan respon pria di depannya biasanya akan langsung marah.


"Memang apa salahnya jika kaisar menemui permaisurinya sendiri?" tanya Xiao Zhan.


Xiao Zhan melangkah maju lebih dekat ke hadapan Fung Li sambil tersenyum. Fung Li memundurkan tubuh dan Xiao Zhan malah semakin maju begitu nakalnya sampai tubuh wanita itu tersandar di batang pohon.


Sebelah tangan Xiao Zhan terulur dengan telapak tangan menempel di batang pohon tepat di samping wajah Fung Li.


"Lagipula aku menemuimu bukan untuk melihatmu, hanya saja ingin menanyakan padamu apa kau akan ikut malam besoknya ke pertunangan Putra Mahkota Xu Kang di Kekaisaran Wexi?" Xiao Zhan menatap dari dekat wajah Fung Li.


Fung Li tiba-tiba mendorong bidang dada Xiao Zhan dan langsung berjalan cepat menuju kamar.


Xiao Zhan menaikan sebelah alisnya berbalik memandang Fung Li yang menaiki tangga pendek menghubungkan lantai dasar kamar.

__ADS_1


"Jawab pertanyaanku!" teriak Xiao


Zhan dari jauh.


"Tidak ikut!" teriak balik Fung Li menjawab.


Saat ingin menginjak lantai dasar dengan sebelah kaki kiri, kaki Fung Li tiba-tiba oleng. Alhasil tubuhnya jadi tidak seimbang dan terhuyung ke belakang.


Sontak Xiao Zhan berlari cekatan menaiki tangga pendek dan menahan punggung Fung Li dengan kedua tangan yang ingin terjatuh. Wajah mereka pun saling berdekatan, terasa lembut dari kulit pipi yang saling bersentuhan.


Mereka saling menatap dari dekat dengan wajah terkejut, deg ... deg ... deg terasa detakan jantung yang terdengar tidak beraturan.


"Terima kasih."


Fung Li tersadar langsung memperbaiki posisi tubuh dengan berdiri tegak dan langsung menginjak lantai dasar lalu berlari masuk dalam kamar.


Xiao Zhan seketika tersenyum. Dia juga berlari menginjak lantai dasar mengejar Fung Li.


Fung Li yang sudah masuk ingin menutup pintu kamar dari dalam. Namun terhenti melihat tangan kekar yang menahan pinggir pintu itu.


Xiao Zhan masuk dalam kamar dengan senyum nakal membuat Fung Li langsung menjauh dengan wajah kesal.


Pintu ditutup rapat oleh Xiao Zhan lalu dia berbalik mengejar Fung Li.


"Fung Li, aku sungguh ingin bersamamu saat ini, ada hal penting yang perlu kita bicarakan dalam waktu lama," lontar Xiao Zhan.


Fung Li menghentikan langkah kakinya. Dia membalikan tubuh dan menganggukan kepala pertanda membolehkan pria itu.


Xiao Zhan melempar senyum pada Fung Li yang memasang wajah datar.


***


...Di Paviliun Hui...


Dalam kamar milik Selir Wei Wei, terdengar suara tangisan pecah memekik telinga banyak orang dalam kamar itu.


Tampak Selir Wei Wei yang berbaring di atas ranjang dengan beberapa pelayan yang melayaninya di sekitar. Ada yang mengipas dari samping kanan dan kiri, ada yang memijat kedua tangannya dan satu tabib wanita sedang menyapu lembut punggung kaki selir itu yang terlihat mengerikan.


Penuh luka bernanah kebiruan berbentuk gumpalan bulat di sekitaran kakinya, bukan hanya di kaki bahkan banyak juga di telapak kaki dan jari.


"Sudahlah, selir jangan menangis lagi, penyakit kulit ini pasti bisa sembuh," lontar tabib yang asiknya memakaikan salap di punggung kaki wanita yang terus menerus menangis itu.


"Bagaimana bisa aku tidak menangis? ini rasanya gatal, panas dan sakit, kau dan kalian tidak akan tahu, ini pasti karena wanita ja'lang itu! setelah berkunjung menemuinya aku jadi mengalami hal ini, aku yakin dia adalah pelakunya," omel Selir Wei Wei sambil mengelap pipinya yang basah dengan sapu tangan.


Para pelayan dan tabib yang sedang melayani pun menghentikan kegiatan dan sontak pandangan mereka tertuju pada Selir Wei Wei dengan wajah tampak terkejut sekaligus heran.


"Siapa wanita itu Selir Wei Wei?" tanya tabib.


Selir Wei Wei tiba-tiba tersenyum licik. "Rahasia, lihat saja, aku akan memberitahukan keburukan wanita itu pada Kaisar Xiao Zhan," jawabnya.


***


...Paviliun Yui...


Fung Li dan Xiao Zhan duduk di lantai secara berdampingan menghadap meja segi empat yang di atasnya tersaji dua cangkir yang berisi kopi coklat dan satu buah teko.


"Fung Li, mengapa kau terus memasang wajah dingin seperti itu jika bersamaku?" Xiao Zhan menatap dari samping wajah Fung Li.


"Aku memang sudah seperti itu dan itulah diriku," jawab Fung Li tanpa menatap pria yang bertanya padanya.


"Kau minumlah ini," pinta Fung Li. Dia menyuguhkan secangkir minuman pada Xiao Zhan tanpa menatap wajah pria itu.


Xiao Zhan tersenyum menerima cangkir itu kemudian mendekatkan ujung cangkir pada bibir dan menyeruput dalamnya yang berupa kopi hangat.


"Emmm." Xiao Zhan langsung meminum habis dalam sekali tegukan lalu meletakan kembali cangkir dengan senyuman girang kemudian meminum lagi cangkir kopi satunya dengan habis.


"Enak sekali, minuman apa ini?" tanyanya menatap Fung Li.


"Kopi coklat susu." Fung Li melirik ke atas meja dua cangkir yang kian mengosong.


"Siapa yang membuatnya? aku ingin dia mengantarkan kopi ini setiap hari untukku," tanya Xiao Zhan sambil mengelap bibirnya.


"Aku, hanya ada aku dan kau di sini siapa lagi yang membuatnya?" jawab Fung Li yang seketika membuat Xiao Zhan melebarkan matanya.

__ADS_1


"Baguslah."


Xiao Zhan tersenyum memandang sekitar kamar sambil jari tangan kirinya mengetuk-ngetuk atas meja.


'Bagus, aku akan bisa sering menemui gadis menyebalkan ini dengan alasan membuatkan kopi itu,' batin Xiao Zhan.


"Kenapa kau tertawa diam-diam seperti itu?" curiga Fung Li menyipitkan matanya menatap Xiao Zhan.


"Ehemm," dehem Xiao Zhan dengan raut wajah yang berubah serius menatap Fung Li di sampingnya.


"Jawablah pertanyaanku tadi, mengapa kau selalu menghindar? bukankah kau ingin membantuku mencapai tujuanku? mengapa kau malah menjauh? seharusnya kita selalu bersama Fung Li karena kau sudah berjanji akan membantuku bukan? di mana perkataanmu saat itu?" tanya Xiao Zhan.


Fung Li memalingkan wajah. "Kau begitu banyak mengajukan pertanyaan, aku tidak bisa menjawabnya, aku ingin bertanya padamu kapan rencanamu mencari tulang naga dimulai?" tanyanya balik.


"Saat memasuki musim semi Fung Li, baru kita bisa pergi," jawab Xiao Zhan terdengar lembut.


Fung Li menganggukan kepala. Tangannya terulur mengambil teko lalu menuangkan sisa kopi di dalamnya ke cangkir yang kosong secara bergantian. Sedangkan Xiao Zhan hanya terdiam memandang apa yang dilakukan wanita itu.


Selesai menuangkan minuman dalam cangkir, mereka secara bersamaan meminum kopi itu.


Xiao Zhan meletakan cangkir kembali selesai meminum habis kopi buatan Fung Li yang membuatnya merasa candu.


"Aku mengaku padamu, kau pembuat kopi terenak yang baru pernah aku temui, biasanya rasanya hanya pahit saja. Namun ini sangat nikmat, manis dan ..., " ungkap Xiao Zhan terpotong saat menatap Fung Li yang selesai minum.


Fung Li ingin meletakan cangkir tiba-tiba terhenti saat merasakan sentuhan jari lembut yang menyentuh bibir bawahnya.


Mata Fung Li mengekori jari tangan yang menyentuh bibirnya itu hingga sampai tertuju pada wajah orangnya.


Sontak Fung Li memalingkan wajahnya dan meletakan dengan kasar cangkir dipegangnya ke atas meja sampai terdengar keras.


Xiao Zhan pun memalingkan pandangan dengan pipi yang tampak merona malu dan bibir yang dikatup rapat.


'Mengapa aku jadi teringat momen malam itu?' batin Xiao Zhan.


Kini terasa keheningan disertai rasa canggung dua orang yang duduk bersampingan itu.


'Sialan! kenapa dia ini selalu saja tidak mudah ditebak dan selalu mengejutkan aku seperti saat ini' batin Fung Li merasa agak kesal.


"Huh, panas sekali," keluh Xiao Zhan. Dia mengibas-ngibaskan pakaian depannya sambil menatap sekeliling.


"Keluar saja jika panas," ketus Fung Li.


Xiao Zhan seketika menatap Fung Li. "sudah agak mendingan, tidak terlalu panas lagi," sahutnya.


"Cihh ... alasan," balas Fung Li.


"Sudahlah lupakan, aku ingin membicarakan tentang Yuwer yang berniat jahat padamu malam tadi," lontar Xiao Zhan mengalihkan topik.


"Tidak usah lagi bahas selirmu itu, yang lain saja," sahut Fung Li berwajah dingin.


"Baiklah," balas Xiao Zhan.


Xiao Zhan memutar bola matanya memikirkan sesuatu lalu menatap Fung Li kembali.


"Bisakah ceritakan padaku mengapa pernikahanmu jadi batal dengan Raja Zha Wey dan katanya kau dapat hukuman diasingkan ke Hutan Kematian mengapa?" tanya Xiao Zhan yang membuat Fung Li tersentak.


"Atas dasar apa kau ingin tau?" tanya balik Fung Li menatap Xiao Zhan di sampingnya.


"Kitakan adalah teman kerjasama, jadi aku harus tau bukan tentang dirimu? apa tidak boleh?" Xiao Zhan mengedipkan sebelah matanya pada Fung Li.


"Boleh, tapi sepertinya kau sudah tau ceritanyakan dari masyarakat yang bicarakan, jadi tidak perlu aku menceritakan lagi," jawab Fung Li. Dia ingin beranjak dari dudukan.


"Tapi aku ingin mendengarnya darimu," pinta Xiao Zhan sengaja menarik tangan Fung Li hingga tubuh gadis itu berada dalam dekapannya.


Deg ... deg ... deg


Terdengar suara detakan jantung di telinga Fung Li yang kepalanya menempel di bidang dada Xiao Zhan karena pria itu yang sengaja menyandarkannya.


Wajah Fung ali tampak memerah, dia menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. "Xiao Zhan brengsek!!!" teriaknya kencang sampai terdengar seluruh tempat di istana kerajaan itu.


Buukkkk! Suara pukulan yang terdengar keras.


...Bersambung ......

__ADS_1


Sampai jumpa lagi😙


__ADS_2