Permaisuri Rebutan

Permaisuri Rebutan
Marah dan kecewanya Zha Wey


__ADS_3

Kekaisaran Wexi


Hujan semakin melebat, bangunan di pinggir lapangan aula orang-orang mengumpul melihat dari jauh Yux Si yang tubuhnya diikat pada tiang. Tiang di panggung tengah lapangan itu, jadi pusat perhatian para saksi dipersidangan tadi.


Guyuran air hujan membasahinya. Rasanya begitu malu menjadi pusat perhatian sekarang dengan dirinya yang dicap pelaku kejahatan.


Dari jauh, tampak Raja Zha Wey yangl berjalan menuju panggung tempat Yux Si ditahan. Hanya sendiri, pria itu berjalan sembari memegang payung yang melindunginya dari guyuran air hujan.


Senyum senang seketika terbit di bibir Yux Si melihat pria yang kini sudah menapaki anak tangga menuju dirinya.


"Aku tahu kau pasti akan menolongku Zha Wey!" teriak Yux Si beradu dengan suara lebatnya hujan.


Dari jauh orang-orang yang berteduh di bangunan pinggir lapangan sedikit terkejut melihat Raja Zha Wey yang masih ingin menemui permaisurinya itu.


"Memang cinta itu bisa membuat orang bodoh," lontar Pangeran Hang Kang.


"Dulu aku mengira Yux Si adalah wanita yang paling terbaik di Kekaisaran ini, cantik dan juga berbakat. Namun sayangnya," balas Putra Mahkota Xu Kang.


"Uh tidak peduli siapa yang benar dan salah, Kakakku hanya akan mencintai permaisuri Yux Si dan aku yakin dia pasti akan mencari jalan keluar agar bisa membebaskan ataupun meringankan hukumannya," saut Putri Sian yang berdiri di samping Permaisuri Zhao Musi (ibunya) dengan melipat kedua tangannya di depan dada dan tatapan lurus.


"Semoga kakakmu tidak dibutakan akan cinta," tutur Permaisuri Zhao Musi yang memandang dari jauh putra dan menantunya itu.


"Seorang pemimpin tidak bisa mengutamakan cinta jika menyangkut sebuah hukuman, saya berharap Sang Raja bisa membedakan itu dengan baik," sambung Selir Kang Fei. Dia baru lewat di belakang Permaisuri Zhao Musi dengan diikuti para pelayan.


Setelah mengatakan itu, Selir Kang Fei berjalan kembali sembari memandang Yux Si dan Raja Zha Wey sepanjang jalan yang mengelilingi tengah lapangan itu.


Permaisuri Zhao Musi tersenyum simpul mendengar perkataan Selir Kang Fei. Di balik perkataannya itu seperti mengandung sindiran penuh arti.

__ADS_1


Tiba-tiba datang beberapa prajurit mendekati Permaisuri Zhao Musi. "Salam Permaisuri, Baginda Kaisar Wexi telah memanggil Anda untuk menemuinya di kamar." Dengan tubuh membungkuk dan menyatukan kedua tangan memberi salam secara serempak.


Permaisuri Zhao Musi membalikan badan, lalu menganggukan kepala pada para prajurit. "Kalian pergilah," titahnya.


Para prajurit langsung bergegas kembali setelah memberi tahu itu.


Sementara di tengah lapangan sana, Raja Zha Wey mendekat sangat dekat ke hadapan Yux Si sampai wanita itu tidak kena hujan lagi karena payung yang di bawanya.


Dua orang itu saling menatap mata sesama. Ada tersirat maksud yang sulit dijelaskan.


"Yux Si, maaf aku tidak bisa menyelamatkanmu," ucap Raja Zha Wey membuat Yux Si berbinar sedih.


"Zha Wey maafkanlah aku, aa aku aku memang melakukannya tapi itu semua untuk kebaikan hubungan kita Zha Wey. Hikss hikss." Tidak tahan, Yux Si menangis mengatakan yang sebenarnya yang dia rasakan.


Raja Zha Wey menyentuh dagu Yux Si dan menatapnya dengan sorot mata tajam. "Apa? untuk kebaikan hubungan kita?" tanyanya.


Mata Zha Wey berkaca-kaca, dia mengalihkan pandangan ke lain sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Zha Wey kembali menatap Yux Si menahan air mata yang ingin keluar. "Tapi ini terlalu berlebihan Yux Si! kau percayakan pada cinta? lalu mengapa kau tidak percaya padaku?! pada cinta kita! kau sudah tahu kan bahwa aku sangat mencintaimu, kenapa kau harus melibatkan orang lain?" tanyanya dengan membentak.


"Hah! kau malah membunuh orang dan bahkan dari dulu kuanggap kau adalah wanita baik, tapi apa yang Fung Si katakan? kau diam-diam mencelakai di belakangku begitu juga dengan kematian Selir Qian Yu, ini sama halnya kau tidak percaya pada cintaku." Air mata pun tidak mampu dibendung Zha Wey lagi, mengalir menyapu pipi terasa hangat.


"Aku kecewa Yux Si! aku kecewa padamu! Selir Qian Yu meninggal juga karenamu! kita kehilangan anak kita juga karenamu!" bentak Zha Wey dengan menggertakan gigi karena merasa marah bercampur juga tangis karena begitu kecewa.


Yux Si terbungkam, dia tidak mampu berkata apapun dan tidak bisa juga bergerak dengan tubuhnya yang di lilit tali terikat pada tiang. Matanya terpejam dengan air mata terus membanjiri pipinya.


"Kau hanya kurang bersyukur Yux Si! aku mencintaimu dan kau tahu itu, aku rela berniat ingin mengurung adik tirimu Fung Si saat akan menikah dengannya, itu semua demi dirimu juga! kau tahu itukan?"

__ADS_1


"Tapi Zha Wey itu semua karena aku men ...," ucapan Yux Si terpotong.


Tiba-tiba Raja Zha Wey melempar jauh payung dengan wajah begitu marah. Yux Su jadi kaget langsung membuka matanya.


Zha Wey memengang bahu Yux Si sambil menangis tak bersuara saking merasa sesaknya.


"Mengapa kau melakukannya Yux Si? kau tidak bisa mengandung aku pun menerimamu dengan tulus karena aku sangat menyayangimu. Jika mengingat saat kecil kau menyelamatkanku di sumur, rasanya hari ini dan esoknya aku tidak tahu lagi harus bagaimana." Air mata yang berlinang terhapus oleh air hujan menyamarkan jika pria itu sedang menangis.


"Zha dengarkanlah aku, kau tidak mengerti perasaanku Zha! dari dulu aku hanya tidak ingin ada wanita lain yang menyukaimu, makanya aku melakukan ini, dan ...," lirik Yux Si terpotong.


"Cukup!" teriak keras Zha Wey. Lelaki itu memundurkan tubuhnya dengan perlahan sambil memandang Yux Si.


Raja Zha Wey pun membalikan tubuh. Dia sungguh tidak tahan melihat wanita itu, ada rasa sedih dan marah juga, sungguh sulit baginya menghadapi situasi sekarang.


"Zha Wey jangan tinggalkan aku!" Yux Si berusaha ingin lepas dari ikatan tali, tapi itu tidak akan bisa.


Zha Wey tidak menggubris panggilan wanita itu, dia terus berjalan menuruni tangga tanpa menolehkan kepala kebelakang sekalipun.


'Aku hanya kecewa kau berlaku seburuk itu di belakangku, bagaimanakah hari besok aku akan menghadapi orang-orang. Maaf Yux Si,' batin Zha Wey.


Yux Si terus berteriak menyebut nama Zha Wey. Namun tidak ada sautan sama sekali sampai pria itu sudah menghilang dari pandangannya.


Suara Yux Si semakin melemah, bibirnya bergetar kedinginan dengan tangis yang tidak berhentinya.


Orang-orang yang melihat dari jauh hanya bisa berdiam menonton dua orang tadi yang sepertinya sedang bertengkar serius. Mereka kira Raja Zha Wey akan menjaga Yux Si si permaisurinya dengan membawa payung, dan ternyata malah sebaliknya.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2