Permaisuri Rebutan

Permaisuri Rebutan
Persidangan


__ADS_3

Sesampainya di depan bangunan kumuh, Kucing Putih itu mencakar-cakar pintu dengan kuku panjangnya hingga yang tadinya tertutup jadi terbuka.


Suara jangkrik dan katak berbunyi secara bersamaan di sekitar gubuk itu menambah suasana malam yang sunyi.


Kucing putih itu masuk dalam gubuk kecil, mata tajamnya melihat sekeliling dalam gubuk itu sambil melangkah lebih dalam mencari asal suara.


Isak tangis semakin terdengar lebih jelas saat kucing itu semakin melangkah lebih dekat mendekati sebuah peti besar yang berada paling belakang di antara tumpukan barang-barang rongsokan lainnya. Memang dalam gubuk itu banyak barang-barang yang sudah lama, berdebu kotor dan penuh sarang laba-laba.


"Meong." Kucing itu seakan mengeluarkan suara dan menyentuh gembok yang mengunci peti itu.


Seketika gembok itu terlepas sendiri dan isak tangis tadi berhenti. Tiba-tiba pintu yang menutup peti itu terbuka dan hal yang tak diduga seorang gadis berduduk memunculkan setengah tubuhnya dari dalam peti.


"Terima kasih," ucap gadis itu melihat ke sekelilingnya. Dia yang mengenakan pakaian pelayan dan wajah yang tampak memar merah, belum lagi di tambah dengan air mata membasahi pipinya menambah merah wajahnya.


Gadis itu heran melihat sekeliling tidak ada orang sama sekali, lalu siapa yang membukakan pintu peti?.


Kucing putih tadinya tiada lain ialah binatang spritual milik Fung Li yang sengaja memisahkan diri dari ketuanya karena ingin membantu juga.


Kucing itu melompat ke dalam peti, tepatnya di pangkuan gadis itu.


"Meong," ucap si putih sengaja mengundang agar gadis itu berbicara, dia merasa ada suatu janggal pada gadis itu.


'Mengapa gadis ini bisa ada dalam peti?' batin si putih.


"Syukurlah petinya sudah terbuka, hikss hikss. Aku tidak tahu bagaimanakah sekarang keadaan Selir Qian, jangan sampai terjadi sesuatu padanya karena wanita jahat itu." Gadis itu mengusap-usap lembut kucing dipangkuannya.


Si putih kaget mendengar lontaran gadis itu yang bisa dia mengerti. 'Siapa gadis ini? apa mungkin dia pelayan setia mendiang Selir Qian Yu?' batinnya.


"Tuhan terima kasih Engkau masih memberikan kesempatan hari ini, aku bisa bertahan selama setengah hari dalam peti ini semua berkatmu, sekarang aku harus menemui junjunganku." Gadis yang terlihat menyedihkan itu berdiri dengan tubuh yang tampak lesu dan lemas. Bagaimana tidak setengah hari dia terkurung dalam sebuah peti yang terkunci meski hanya sedikit ada celah angin yang bisa masuk. Itu adalah sebuah keburuntungan baginya masih bisa selamat.


Gadis itu beberapa kali terjatuh saat ingin melangkah keluar dari peti karena tubuhnya yang melemas. Sementera si putih dia sudah melompat dan berdiri tidak jauh menghadap peti itu.


Si putih menyalakan sinyal telepatinya dan terhubung pada Fung Li yang sedang berada dalam kamar mendiang Selir Qian Yu.


Fung Li yang berada dalam kamar mendiang Selir Qian Yu dengan seriusnya membaca titah yang dia temukan.


"Dulu aku memang wanita yang jahat dan haus akan cinta Raja Zha Wey, tapi perlahan-lahan aku mengerti suatu hal bahwa Raja Zha Wey hanya mencintai Permaisuri Yux Si dan menikahiku juga karena ingin memiliki anak yang teruntuk dirinya dan permaisuri. Apalah aku hanya seorang yang dijadikan percobaan rahim, mulai aku mengetahui hal ini, aku menerimanya, tapi aku tidak menyangka Permaisuri Yux Si wanita sejahat itu, dia bahkan lebih keji dari pada iblis."


"Setelah kehilangan buah hatiku adalah momen di mana aku memilih untuk melanjutkan hidup atau mati, tapi ada hal yang juga berharga yaitu diriku, aku tidak ingin menyia-nyiakan sebuah kehidupan ini. Meskipun aku telah kehilangan calon anakku, meskipun itu rasanya sangat menyakitkan. Setidaknya aku tidak akan melakukan hal menyakitkan pada diriku, segelap-gelapnya hitam menutupi sinarnya terang, aku ingin menemukan setitik cahaya yang membawaku ke arah terang itu."


"Setelah kehilangan calon anakku, kukira Permaisuri Yux Si adalah wanita yang baik. Setiap hari saat Raja Zha Wey tidak bersamaku, dia selalu melakukan hal yang membuatku tak bisa tenang. Aku menulis semua ini hanya untuk melampiaskan rasa sakitku pada wanita itu, bagaimanapun aku hanyalah wanita yang lemah dan mungkin tidak lama lagi aku akan meninggalkan kehi ...."


Fung Li merasa tersentuh membaca tulisan panjang di titah itu yang memang ditulis sendiri oleh orang yang sudah meninggalkan kehidupan itu.


"Kehidupan memang rahasia," gumam Fung Li.


Tiba-tiba cincin yang melekat di jari tengah Fung Li bercahaya di bagian permatanya. Menandakan ada yang penting.


Fung Li menaikan sebelah alisnya, dan telepati dari si putih terhubung padanya.


^^^'Ketua, ada hal penting yang saya temukan. Sepertinya gadis ini adalah pelayan setia mendiang Selir Qian Yu yang sengaja dikurung oleh Permaisuri Yux Si, dan tidak ada yang mengetahuinya,' telepati dari Si Kucing Putih mengejutkan Fung Li.^^^

__ADS_1




Besok paginya



Suara burung-burung berkicauan di atas langit cerah, sinar mentari dengan setianya menerangi dunia.



Di dalam aula besar yang berada di Istana Kerajaan Wexi. Mengumpul para menteri, jenderal, kasim, pelayan, prajurit serta yang paling utama adalah keluarga istana itu sendiri.



Tampak Sang Kaisar Wezi duduk di singgasana bersama permaisurinya Zhao Musi, Namun ada juga di dudukan khusus baru berada di sana Kaisar Xiao Zhan dan Permaisuri Fung Li.



Kaisar Xiao Zhan dan Fung Li hanya mengenakan pakaian hanfu sederhana pada umumnya. Namun memang terlihat sederhana tapi kualitas dan harganya tak usah ditanyakan lagi.



Putra Mahkota Xu Kang, Pangeran Hang Kang, Putri Sian, Putri Xi Lusi, Raja Zha Wey dan Permaisurinya Yux Si duduk di tempat dudukan khusus yang berada di bawah. Berjejer di bagian pinggir sepanjang karpet merah.




Tong ... tong ... tong, suara kentongan terdengar dari sudut ruangan, menggema dalam aula itu meminta agar semua berdiam dan pokus karena persidangan akan segera dimulai.



Di tengah karpet merah, si perdana menteri hukum dan dua pengacara duduk di kursi yang telah disediakan khusus di tengah karpet panjang dan lebar itu.



"Perhatian-perhatian! salam hormat kepada Yang Mulia Kaisar Wexi, Yang Mulia Kaisar Xiao Zhan, Permaisuri Fung Si dan. " Seterusnya, perdana menteri hukum yang bernama Tian, pria paruh baya yang jadi hakim itu memberi hormat terlebih dahulu pada orang-orang penting.



Setelah pemberian hormat, kini saatnya persidangan.



"Kasus ini telah dibuka, hukum dan keadilan, utama ditegakan," lontar sang hakim itu.



"Silakan kepada pihak korban mengeluarkan bukti atas tuduhan dan menjelaskannya." Hakim itu mempersilahkan pengacara Raja Zha Wey yang duduk di sebelah kiri.

__ADS_1



Si pengacara Raja Zha Wey yang bernama Tuan besar Hu memperlihatkan barang yang jadi tersangka milik Fung Li pada semua orang. Barang yang berupa sebelah sepatu sandal milik Fung Li diperlihatkan pada semua orang.



"Berdasarkan bukti yang ditemukan dan penyelidikan oleh Panglima Zen dan orang suruhan telah menemukan sebelah sepatu sandal ini pada waktu menjelang sore di belakang kamar mendiang Selir Qian Yu, dan sepatu tiada lain adalah milik Permaisuri Fung Si," ungkap Tuan besar Hu itu dengan suara lantang.



Semua orang di aula tentu kaget melihat sebelah sepatu sandal itu dan mengamatinya dari jauh dengan serius.



"Kami sudah menyelidiki sepatu ini, dan di bawah alas sandal terdapat ukiran yang melambangkan Kekaisaran Langit. Bersamaan menemukan sepatu kami juga menemukan satu botol kecil kosong bekas menyimpan racun yang sama penyebab kematian Selir Qian Yu dalam sepatu sandal itu sendiri. Tabib masuklah," suruh Tuan Besar Hu.



Mendengar pernyataan itu, semua tentu kaget dan pandangan semua orang jadi tertuju pada Fung Li yang duduk di samping Xiao Zhan.



Xiao Zhan mengenggam telapak tangan Fung Li dan melempar senyum tipis meminta agar gadis itu tenang dan bisa menahan emosi.



'*Aku tidak akan membiarkan namamu tercap buruk, tenang saja kau tidak perlu takut aku ada membelamu karena aku percaya kau tidak akan pernah melakukan hal itu*,' batin Xiao Zhan.



Fung Li tak memedulikan orang-orang yang menatapnya dengan wajah ada yang menyimpan dendam, marah, dan lainnya. Dengan wajah datar dan santai menyaksikan lebih lanjut persidangan.



'*Tunggu saja, Yux Si kau sangat salah menarik ku untuk bermain kelicikanmu itu, cih*,' batin Fung Li.



Tiba-tiba Permaisuri Yux Si yang duduk bersama Raja Zha Wey berdiri mengundang perhatian seisi aula dan membuat orang-orang penasaran.



"Ini semua tidak benar, adikku Fung Si tidak bersalah dan tidak akan melakukan hal semacam itu. Segera hentikan saja sidang ini," lontar Yux Si dengan tampang muka menyedihkan membela buka-bukaan Fung Li di depan umum.



Fung Li jadi tersenyum tipis melihat drama yang sudah mulai dimainkan oleh Yux Si.



...*Bersambung* ......

__ADS_1


__ADS_2