
Hari ini Fadila dan yang lainnya akan kembali ke Indonesia. Dwi dan Sinta yang sudah di jemput kekasih mereka juga akan kembali. Apa lagi 3 hari lagi adalah resepsi pernikahan Fadila dan Arnan akan di gelar.
Di apartemen mewah milik Arnan, keluarga itu sedang bersiap untuk berangkat. Dan kehebohan terjadi karena Anan yang tidak mau diam dengan segala ucapan dan perbuatannya.
"Nanti di cana ada ciapa aja, Mi?" Tanya bocah itu menatap Fadila.
"Nanti di sana ada kakek, nenek, sama ... Banyak deh pokoknya," Fadila yang sedang sibuk mengepak pakaian menjawab seadanya.
"Belapa banyak, Mi?" Tanya Anan lagi.
Bocah itu duduk santai di kasur bersama Arnan yang sedang rebahan mengabari keluarganya.
"Hm ... Entahlah, mungkin lebih dari sepuluh orang," jawab Fadila. "Cepuluh olang lebih? Catu, dua, tiga ..." Anan yang sudah pandai berhitung mulai menggerakkan jari-jarinya.
Menghitung sampai 10 seperti yang di katakan Maminya.
"Cepuluh lebih, ada cebe ... Belapa, Mi yang cetelah cepuluh?" Tanya Anan belum hafal lebih dari 10. "Sebelas," sahut Fadila.
"Iya cebelas, pintel Mami." Anan bertepuk tangan senang dengan ucapan maminya.
Fadila yang barus elesai mengancingkan kopernya menoleh. Menatap heran pada Anan yang menatapnya juga.
Menghela napas pelan seraya tersenyum pada Anan. Berjalan mendekati bocah itu dan duduk di samping Anan.
"Buku gambal aku cama walna-walna jangan di tinggal ya, Mi?" Pinta Anan. "Iya, Mami tahu kok. Itu tasnya sudah di masukkan ke dalam koper Mami." Fadila menunjuk koper besar miliknya.
Anan mengikuti arah jari maminya. "itu punya, Mami? Punya Daddy yang mana?" Tanyanya.
"Punya Daddy yang itu." Tunjuk Fadila pada koper hitam di sebelah kopernya. "Yang dua lagi punya ciapa, Mi?" Tanya Anan saat mebdapati dua koper lainnya.
Yang satu besar seperti koper Fadila dan Arnan, satu lagi berukuran sedang dan berwarna pink.
"Punya kita juga, Nak. Ada oleh-oleh juga untuk Kakek, nenek di koper itu," ucap Fadila yang mmebuat Anan mengangguk.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang di belakang Fadila dan Anan yang membuat keduanya menoleh.
"Mana kakak ipar aku, Mas? Kata mama, kamu juga sudah punya baby boy yang gemesin."
Suara wanita itu membuat Fadila mengerutkan keningnya. Apa lagi suaranya terdengar begitu lembut mendayu.
Arnan duduk dari rebahannya lalu mendekati Fadila dan Anan. "Ini dia, kakak ipar kamu yang cantik dan baby boy kami yang gemesin."
__ADS_1
Fadila begitu kaget saat wajahnya di hadapkan dengan layar ponsel Arnan. Nampak seorang wanita dan pria di sana.
"Halo kakak ipar! Aku Zaki adik kandung Mas Arnan. Yang ini istriku, Siska." Pria di seberang sana menyapa Fadila yang maish diam saja dengan kedua mata yang terus berkedip.
"Halo, Mbak Fadila! Aku Siska." Wanita di samping Zaki ikutan menyapa.
"Iya, halo." Kaku Fadila menjawab.
Anan yang tadinya hanya nampak bagian ujung kepalanya saja, kini menaikkan kepalanya hingga terlihat oleh Zaki dan Siska.
"Ya ampun, gemesnya ... Apa dia Anan, Mbak?" Mata Siska nampak berbinar.
"Iya, ini Anan putra ..."
"Putra kami." Arnan menyela ucapan Fadila lebih dulu.
"Putla kami altinya apa, Daddy?" Anan mendongak menatap Arnan. "Artinya kamu anak kesayangan Daddy sama Mami," jawab Arnan yang membuat Anan tersenyum senang.
"Aku juga cayang Daddy cama Mami." Anan berdiri lalu memeluk tubuh kedua orang tuanya.
Ponsel Arnan terjatuh ke ranjang, Siska yang tak dapat melihat kelanjutan sikap menggemaskan Anan jadi kesal.
Fadila mengambil kembali ponsel suaminya dan menyerahkan pada Arnan. "Pegang saja, Mas susah di peluk Anan begini," ucap Arnan yang sedang di dekap erat oleh Anan.
"Demes apa sayang?" Tanya Zaki pada istrinya.
"Dedek gemes, Yank." Zaki geleng kepala mendengar jawaban istrinya.
Fadila tersenyum tipis mendengar interaksi pasangan adik iparnya.
"Ucap salam sama Om dan Tante, Nak." Fadila menatap Anan yang sudah duduk di pangkuan Arnan.
Ponsel Arnan sudah kembali di pegang yang punya. Karena tak ingin istrinya lelah memegangi ponselnya yang sedang melakukan panggilan video dengan adiknya.
"Celamat pagi, Om, Tante." Anan tersenyum lebar pada Zaki dan Siska.
"Selamat pagi juga anak ganteng. Astaga, meleleh adek bang lihat kegemesan kamu," ucap Siska dengan wajah yang benar-benar gemas.
"Meleleh? Kenapa Tante bica meleleh?" Tanya Anan dengan wajah polosnya pda Siska.
Semakin tak tahanlah Siska melihat wajah menggemaskan Anan. "Oh astaga, kenapa kamu jauh banget si? Kalau di sini sudah aku gigit." Gemas wanita hamil itu.
__ADS_1
"Enak saja kamu mau main gigit-gigit anak kami. Gigit saja itu Zaki kalau mau," ucap Arnan tak terima anaknya hendak di gigit.
"Sudah sering kalau dia, Mas. Tapi kalau anak kalian itu, bener-bener buat hatiku jedag jedug," kata Siska.
"Zaki!" Panggil Arnan. "Kenapa, Mas?" Zaki menatap Arnan.
"Urus tuh istrimu yang lebay," kata Arnan. "Bawaan bayi sepertinya, Mas. Biasanya gak seperti ini," ujar Zaki yang di cemberuti Siska.
Sementara ketiga orang itu terus saling bicara, dan Fadila sebagai pendengar yang sesekali ikut tersenyum. Anan malah masih berpikir keras tentang apa yang di dengarnya tadi.
"Mi! Kenapa hati bisa dedak deduk? Bukannya kata Buna, yang dedak deduk itu jantung? Apa pelut juga bica dedak deduk?"
Keempat orang dewasa itu melongo mendengarkan pertanyaan Anan. Tidak menyangka kalau bocah kecil yang sejak tadi diam itu bisa bertanya hal demi kian.
"Mi!" Fadila tersentak sejenak lalu tersenyum pada Anan.
"Hati sama perut gak bisa dedak deduk, Nak. Jantung yang bisa dedak deduk. Tapi beda halnya sama perut kalau Anan laper, perutnya bukan dedak deduk, tapi sakit kalau gak segera makan," ucap Fadila seserhana mungkin agar Anan mengerti.
Bocah itu mengangguk dan diam kembali. Arnan yang menangkap akan ada pertanyaan lain segera buka suara.
"Sudah dulu, Zak. Kami harus segera ke bandara, Jack sepertinya sudah datang."
Tanpa menunggu jawaban dari Zaki, pria itu segera memutuskan sambungan telponnya.
"Ayo kita berangkat sekarang, yang lain pasti sudah menunggu," ucap Arnan.
Fadila mengangguk dan segera berdiri dari duduknya. Membantu Anan turun dan keluar dari kamar. Sedangkan Arnan mengeluarkan koper mereka satu persatu yang di sambut Jack.
Ada dua orang keamanan apartemen yang datang membantu mereka membawakan koper ke mobil.
Fadila sendiri sedang mengajari Anan cara mengikat tali sepatunya. Setelah selesai semua, mereka turun menuju lobi.
"Anan, sayangnya Mama!" Dwi yang baru tiba bersama yang lainnya sudah melambaikan tangannya pada Anan.
"Mama! Buna!" Senang Anan yang malah memilih ikut dengan keduanya.
Fadila hanya bisa membiarkan Anan bersama mobil Dwi dan Sinta. Ia bersama suaminya dan Jack serta seorang supir.
Sampai di bandara, mereka langsung masuk. Karena naik pesawat pribadi, mereka tak perlu lagi beli tiket.
Anan tampak begitu senang naik pesawat, apa lagi dia berada di gendongan daddy nya yang mmebawanya melihat seluruh bagian dalam pesawat itu.
__ADS_1