
Arsya kembali ke ruangannya, ia membutuhkan fikiran yang tenang untuk bisa menemukan dimana Wafa saat ini. Ia melangkah dengan tergesa-gesa, membuka pintu ruangannya dengan sedikit kencang hingga menimbulkan suara decitan dari benda persegi itu. Ia dudukan dirinya di sofa, matanya terpejam dengan wajah menengadah dan bersandar pada sandaran sofa.
“Kemana sih kamu Fa? Kenapa sedikit-sedikit kabur, shiitt!!!” Umpatnya.
Arsya kembali mengingat perdebatannya dengan Wafa dan Sisi di resto, ia berfikir, apakah ia salah? Tapi ia benar-benar berada di tempat yang serba salah. Dan bodohnya, ia meragukan istrinya sendiri, meski benar apa yang di katakan Sisi jika ia dan Wafa memang belum lama saling mengenal, tapi Arsya yakin betul jika Wafa juga bukanlah perempuan yang picik yang suka menghina orang lain. “Iya, aku memang salah. Seharusnya aku tidak meragukan istri ku sendiri.”
Arsya mengerang kesal, ia kesal pada dirinya sendiri yang lagi-lagi membuat kesalahan dan membuat Wafa pergi entah kemana. Andai saja Reno ada di sana, mungkin ia akan menjadikan pria itu sebagai sasaran kekesalannya untuk mencari Wafa sampai perempuan itu di temukan. Sayangnya, Reno sudah kembali ke Jakarta.
Merasa tak menemukan titik terang, ia memutuskan untuk beristirahat sejenak di ruangan pribadinya. Mungkin dengan ia memejamkan matanya sebentar, fikirannya akan kembali jernih dan ia bisa berfikir dengan benar.
Arsya membuka pintu ruangan pribadinya yang terletak di belakang kursi kebesarannya. Matanya membulat dengan sempurna saat mendapati Wafa tengah tertidur pulas di atas ranjangnya. “Wafa…” Gumamnya.
Arsya berjalan cepat, bahkan ia sampai lupa melepas sepatunya. Ia naik ke atas ranjang kemudian membaringkan dirinya di belakang Wafa, ia peluk wanita itu dari belakang dengan erat, ia tak perduli jika perempuan yang tengah tertidur dengan pulas situ akan terganggu olehnya kemudian terbangun. Satu hal yang saat ini ingin ia lakukan, yaitu melepas kecemasannya dengan memeluk Wafa sepuasnya, menghirup aroma tubuh istrinya dengan rakus dan menenggelamkan wajahnya di leher belakang perempuan itu. “Kenapa aku begitu cemas? Hingga kecemasan ku ini berubah menjadi rasa takut. Aku takut kehilangan mu.” Batinnya.
Wafa yang merasakan ada pergerakan di belakangnya perlahan membuka matanya, ia melenguh dan meregangkan otot-ototnya. Wafa menguap lebar, ia masih belum menyadari jika Arsya yang berada di belakangnya.
Arsya masih menahan diri, ia menahan dirinya untuk tak menerkam perempuan itu dan mengajaknya bertempur. Ia masih belum tahu jika Wafa masih marah padanya atau tidak. Ia tak mau merasa malu jika ia mendapat penolakan dari istri nakalnya itu.
“Ya tuhan, aku tertidur.” Gumam Wafa.
“Iya, dan kamu membuat ku pusing kesana kemari mencari mu. Ternyata kamu enak-enakan tidur.” Ucap Arsya dengan nada kesal, ia akan mencoba peruntungan untuk berpura-pura marah agar Wafa berbalik dan merasa bersalah padanya.
Wafa membulatkan matanya, ia berbalik dan mendapati Arsya tengah menatapnya dengan tajam. “Se..sejak kapan kamu disini??” Tanya Wafa.
“Sejam satu jam yang lalu.”
__ADS_1
“Apa?? Mana mungkin, kenapa kamu tidak membangunkan aku kalau kamu memang berada disini dari satu jam yang lalu??”
Arsya berdecak, ia merubah posisinya menjadi berbaring lurus menatap langit-langit ruangan itu. “Ck, aku sudah melakukan itu, tapi kamu gak bangun-bangun. Aku pusing nyari kamu kemana-mana, kaki aku pegel, aku juga keringetan gara-gara kelelahan, tapi yang aku cari ternyata sedang mimpi indah disini.”
Wafa menggigit bibir bawahnya, rasa bersalah mulai menghinggapinya. Kedua tangannya saling meremas, ia takut jika Arsya akan marah padanya. “Maaf..” Lirihnya dengan suara nyaris tak terdengar.
Arsya mulai merasa di atas angin, ia senang bukan main. Triknya ternyata tak buruk, ia akan berhasil membuat Wafa merasa bersalah padanya.
“Aku akan memaafkan mu kalau kamu memijat kaki ku, tangan ku dan pundak ku ini. Rasanya sangat lelah."
Wafa mengangguk dengan patuh, ia belum menyadari jika sebenarnya dia tengah merasa kesal pada suaminya itu.
“Kenapa kamu memakai sepatu ke atas ranjang? Masa iya selama satu jam di atas ranjang kamu tahan memakai sepatu? Itu akan sangat tidak nyaman bukan??” Kata Wafa seraya melepas kedua sepatu Arsya dan meletakkannya di bawah ranjang.
“Ap..apa?? Aku lupa tidak melepasnya.” Ucap Arsya.
“Kurang keras Fa, kerasan dikit.” Kata Arsya, dan Wafa mengangguk patuh.
Wafa terus memijat Arsya, selesai di kaki beralih ke tangan. Lama-lama Wafa mengingat jika dirinya tengah kesal pada Arsya, sepertinya, kesadarannya sudah terkumpul penuh. Tanpa berkata apapun, ia menghentikan pijatannya kemudian hendak beranjak dari ranjang. Namun Arsya menahannya kemudian menarik Wafa hingga perempuan itu jatuh ke atas tubuh Arsya.
Wafa mendnegus kesal, ia bergerak kesana kemari untuk melepaskan diri dari Arsya, namun Arsya semakin erat menahan pinggangnya.
“Mau kemana? Kamu belum selesai memijatku.”
“Aku tuh lagi kesal sama kamu, bisa-bisanya kamu menyuruh aku memijat mu. Lepas mas, minta pijat sama sahabat kesayangan kamu sana.” Kata Wafa dengan ketus.
__ADS_1
Arsya menahan senyumnya, Wafa tengah merajuk, tapi perempuan itu terlihat sangat menggemaskan. “Cemburu.” Ucapnya seraya lebih menarik Wafa hingga perempuan itu semakin menempel padanya. Hidung mancung mereka bahkan nyaris bersentuhan.
“Siapa yang cemburu? Mana ada aku cemburu, lagian kalau pun aku cemburu, itu wajar bukan? Aku istri kamu, tapi kamu lebih mempercayainya dari pada aku. Kamu memang belum cukup mengenalku mas.”
“Maaf…” Bisik Arsya.
Wafa menunduk diam, ia tak berani menatap mata sendu Arsya. Ia masih sangat kesal pada Arsya, tapi mendengar pria itu mencarinya kesana kemari, ia jadi merasa kasihan. Meski ia tahu, Arsya melebih-lebihkan ucapannya demi mendapatkan simpati darinya.
Melihat Wafa yang terus diam membuat Arsya kembali memanggil istrinya itu. “Sayang…”
Kali ini, Wafa mengangkat wajahnya menatap mata teduh pria yang selalu membuatnya berdebar-debar.
“Maafin aku, jangan marah lagi. Aku tahu aku salah, tapi jangan pergi seperti tadi lagi. Aku sangat mencemaskan mu.”
“Kenapa kamu cemas??” Tanya Wafa.
“Karena kamu istri aku lah.”
Meski itu memang kenyataanya, tapi entah mengapa Wafa kurang senang mendengar jawaban dari suaminya. Ia mengharapkan jawaban yang lain dari pria itu.
“Iya, kamu benar. Karena aku istri kamu.” Lirih Wafa dengan tatapan mata meredup.
Arsya mengusap pipi Wafa dengan lembut, kemudian mengusap bibir bawah Wafa dengan ibu jarinya. “Kenapa?? Kenapa kamu sedih??” Tanyanya.
Wafa menggelengkan kepalanya, “aku gak sedih.”
__ADS_1
“Terus kenapa cemberut itu??”
Wafa tak menjawab, ia hanya tersenyum tipis kemudian menyingkirkan tangan Arsya dari bibirnya. “Aku ke toilet sebentar.” Ucapnya. Dan tanpa menunggu jawaban dari Arsya, Wafa bangkit begitu saja dari atas tubuh pria itu.