PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
IDE MAMI


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul Tujuh malam, Wafa dan sang mami mertua tengah sibuk berkutat di dapur untuk menyiapkan makan malam. Beberapa kali perempuan itu menoleh pada pintu utama yang memang terlihat dari area meja makan, ia tengah menanti kepulangan suaminya yang ketika ia tinggalkan siang tadi dalam keadaan marah.


“Kok Arsya tumben lembur sayang??” Tanya Karolina.


“Iya ma, lagi banyak pekerjaan. Tapi dia malah menyuruh aku pulang lebih dulu.”


“Mungkin gak mau kamu lelah sayang.”


“Iya mi..” Kata Wafa dengan lirih.


Karolina melihat itu, ia menghampiri Wafa kemudian mengusap bahunya. “Ada apa nak?? Apa kalian sedang bertengkar??”


Wafa menggelengkan kepalanya, tapi wajahnya menunjukan hal berbeda.


“Jangan bohong, katakana ada apa nak? Mungkin mami bisa ngasih kamu solusinya??”

__ADS_1


Wafa menghela nafas dalam, ia meraih tangan sang mami dan mengajaknya duduk di kursi meja makan. “Mas Arsya marah mi, aku yang membuatnya marah.”


Wafa pun menceritakan kejadian yang terjadi siang tadi pada sang mami, ia bahkan menangis menunjukan betapa ia sangat menyesal telah membuat Arsya marah dengan mau di ajak berbicara oleh Fahmi, apalagi Fahmi sampai berani menyentuhnya.


“Aku memang salah mi, mas Arsya marah karena itu. Aku hanya tidak mau jika Fahmi menyakiti Arini, tapi Fahmi justru memaksa ku dan memegang tangan ku. Saat itulah mas Arsya melihat dan memukul Fahmi. Aku menghentikannya, aku menahan mas Arsya, aku melakukan hal itu hanya karena aku gak mau jika mas Arsya terkena masalah karena dia memukuli Fahmi. Tapi mas Arsya salah faham mi, dia menganggap aku masih peduli sama Fahmi.”


Mami tersenyum, ia melihat ada cinta di mata Wafa untuk putranya, tapi sepertinya, menantunya itu belum menyadari perasaannya. Dan itu tugas baru untuknya, membuat putra dan menantunya saling menyadari perasaan mereka kemudian saling mengakuinya. Karena bukan hanya di mata Wafa saja ia melihat cinta, tapi juga di mata putranya. Senyum penuh arti timbul di wajahnya, ia meraih tangan Wafa kemudian berkata. “Sini sayang, mami tahu caranya supaya dia gak marah lagi, mami yakin ini ampuh.”


“Apa Mi? Apapun akan aku lakukan asal mas Arsya gak marah lagi.”


Karolina mendekat pada Wafa. Ia membisikan sesuatu yang merupakan rencananya untuk membuat Arsya tak marah lagi.


“Mami yakin sayang, seratus persen. Ah tidak tidak tidak, bukan seratus persen, tapi seribu persen sayang.” Ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya.


“Baiklah, akan aku lakukan asal mas Arsya gak marah lagi.”

__ADS_1


Karolina memekik kegirangan dalam hatinya. Senyum penuh arti terukir jelas dari bibirnya. “Ya sudah, kamu siap-siap sana, biar mami yang menyelesaikan ini.”


“Tapi mi, aku bantu mami dulu aja.”


“No no no, ada pelayan yang akan membantu mami, kamu harus siap-siap sebelum suami kamu pulang.”


“Beneran gak papa mi?”


“Iya, sudah sana.”


“Ada mbok Non, jangan khawatir..” Ucap salah satu pelayan untuk meyakinkan Wafa.


“Tuh, kamu denger kan? Sana siap-siap sebelum suami kamu pulang.”


Wafa mengangguk. “Iya mi..” Ia menoleh pada dua pelayan yang berdiri tak jauh darinya. “Mbok, tolong bantu mami yah. Maaf aku harus ke atas dulu.”

__ADS_1


“Beres Non, Non tenang saja.”


***


__ADS_2